
" Ma, Kia saja yang bawa bolunya, boleh, nggak?" pinta Azkia saat Natasha memegang bolu ulang tahun untuk suaminya.
" Jangan, nanti tumpah bolunya."Alden yang menjawab pertanyaan Azkia.
" Nanti aku bawanya pelan-pelan kok, Kak." Azkia bersikukuh ingin membawa bolu ulang tahun Yoga.
" Sssttt ... kalian jangan berisik, nanti papa keburu bangun. Biar Mama saja yang bawa bolunya, kalian cepat buka pintu kamarnya." Natasha menyuruh anak-anaknya untuk membuka pintu kamar tidurnya.
" Happy Birthday Papa ..." seru Natasha dan ketiga anaknya membangunkan Yoga yang masih terlelap, membuat Yoga mengerjapkan mata saat istri dan anak-anaknya kini menyanyikan lagu Happy Birthday yang dilanjut dengan lagu Tiup Lilinnya.
" Ayo, Pa. Ditiup lilinnya," perintah Azkia bersemangat.
" Make a wish dulu tapi, Pa." Abhi menimpali.
Yoga pun menuruti apa yang diperintahkan kedua anaknya lalu meniup lilin angka tiga puluh lima yang tertancap di bolu ulang tahun.
" Yeeeaaahh, selamat ulang tahun Papa." Natasha mengecup pipi suami tercintanya kemudian bergantian Alden, Azkia dan Abhi yang mengucapkan.
" Adik Aulia mana?" tanya Yoga saat tidak mendapati anak bungsunya itu.
" Aulia masih tidur." Natasha menyahuti.
" Ini kado dari kami berempat, Pa." Alden menyodorkan kado yang dia pegang ke papanya.
" Terima kasih, Sayang." Yoga menerima kado dari tangan Alden.
" Mama kok nggak kasih kado buat Papa?" tanya Azkia karena melihat mamanya tak memberikan kado.
" Kado Mama nanti menyusul ya, Pa?" Natasha tersenyum ke arah suaminya.
" Kita nanti jalan-jalan ya, Pa." Abhi langsung duduk di pangkuan papanya.
" Makan-makan juga 'kan, Pa? Nanti ajak Fa nggak, Pa?" tanya Azkia tak mau kalah.
" Kenapa mesti ajak Fa? Fa itu 'kan bukan anak Papa." Alden dengan cepat memprotes.
" Memangnya kalau bukan anak Papa nggak boleh diajak ya, Kak?" Azkia yang menimpali. " Waktu Tante Rania kemarin ulang tahun, Kia, Kak Alden sama Abhi 'kan diundang juga, padahal kita itu bukan anaknya Tante Rania sama Om Dirga."
" Kia mau ajak Fa, ya?" tanya Natasha kepada putrinya yang sangat cerewet seperti dirinya.
" Iya, Ma." Azkia menyahuti.
" Gimana, Pa? Nanti boleh ajak Falisha?" Natasha bertanya pada suaminya.
" Iya sudah, ajak saja Falisha nya." sahut Yoga menyetujui.
" Hore ..."
" Yess ..."
Azkia dan Abhi bersorak bersamaan tapi yang lebih menarik perhatian adalah Abhi yang ikut antusias mengetahui Falisha akan diajak mereka.
" Abhi kok senang banget Falisha mau kita ajak?" tanya Yoga kepada anaknya yang sedang berada dalam pangkuannya.
__ADS_1
" Pasti Abhi mau godain Fa itu, Pa ..." celetuk Azkia.
" Abhi jangan suka godain Fa, Sayang." Natasha menasehati anaknya.
" Habisnya Fa cengeng, Ma." Abhi menyahuti.
Natasha lalu melirik ke arah Alden yang tak banyak bereaksi. " Kak Alden, kalau lihat Abhi nakal sama Fa, Kakak Alden tegur Abhi ya, Sayang." Alden hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
***
Sebuah mobil sport keluaran pabrikan asal Jerman memasuki halaman parkir Alexa Butique. Tak berapa lama seorang pria bertubuh atletis turun dari mobil itu dan berjalan ke bangunan butik milik Natasha itu.
" Selamat siang, Pak. Saya mau bertemu Natasha ada?" ujar pria itu bertanya pada Pak Joko, satpam yang berjaga.
" Maaf, Mas. Ibu Natasha tidak ada di tempat." Pak Joko menjawab.
" Oh, dia sedang keluar butik?" tanya pria itu lagi.
" Bukan, Mas. Ibu Natasha sudah jarang datang kemari, karena sekarang sudah diganti oleh Ibu Amara, adik dari Ibu Natasha." Pak Joko menjelaskan.
" Amara??" Pria itu nampak tertarik mendengar tentang Amara.
" Benar, Mas."
" Hmmm, bisa saya bertemu dengan Amara?"
" Maaf, Mas ini siapa, ya?"
" Oh, guru karatenya Den Alden sama Non Kia, ya? Masuk dulu kalau begitu, Mas. Nanti saya sampaikan ke Mbak Sinta, sekretarisnya Ibu Amara," ujar Pak Joko.
" Baik, Pak. Terima kasih ..." Raditya pun masuk ke dalam ruangan butik dan duduk di sofa tunggu.
Sementara itu di lantai atas ...
" Mbak, ada tamu mau bertemu dengan Mbak Amara." Sinta memberitahukan wanita yang kini menjabat sebagai bosnya itu.
" Siapa, Mbak Sin?" tanya Amara mengerutkan keningnya, karena dia merasa tak punya janji dengan siapapun.
" Kata Pak Joko guru karatenya Alden sama Kia," jawab Sinta.
" Dia?? Mau apa lagi itu orang? Masih kurang apa tonjokkan aku kemarin?" gumam Amara.
" Guru karatenya Alden dan Azkia yang suka sama Ibu Natasha bukan sih, Mbak Amara?" tanya Sinta yang ingat peristiwa buket mawar.
" Iya benar, Mbak Sin. Ada urusan apa lagi coba orang itu kemari? Nggak kapok juga itu orang." Amara mengumpat kesal.
" Jadi gimana, Mbak? Mau diterima atau tidak?" tanya Sinta kembali.
" Okelah, suruh tunggu biar aku saja yang ke bawah." Amara kemudian dengan langkah lebar keluar dari ruangannya menuju lantai bawah menemui Raditya yang menunggunya.
" Ada perlu apa lagi Anda kemari? Masih kurang paham apa yang saya katakan kemarin?" geram Amara seraya melipat tangannya di dada saat sudah berdiri di hadapan Raditya yang duduk sembari membaca surat kabar.
Raditya melirik pada wanita yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
" Hai, Nona Amara ... senang bisa bertemu Anda lagi." Raditya melipat surat kabar itu dan mengembalikan ke raknya kemudian berdiri mendekati Amara.
" Cepat katakan mau apa lagi Anda kemari? Apa masih nekat menganggu kakak saya?!" Kalimat Amara kali ini sukses membuat beberapa karyawan dan pengunjung mengarahkan pandangan kepada mereka berdua.
" Maaf, Nona. Apa Anda tidak malu dilihat pelanggan butik Anda jika Anda berbicara dengan nada kasar seperti ini? Apa Anda tidak takut pelanggan Anda akan lari dari butik ini, Nona?" sindir Raditya membuat Amara menoleh ke sekelilingnya.
" Katakan apa tujuanmu kemari?" Amara menurunkan nada bicaranya tapi tetap dengan nada ketus.
" Hmmm, bagaimana kalau saya traktir Nona makan siang di luar?" Raditya memberikan penawaran. " Saya ingin mengenal lebih dekat Anda, Nona Amara."
Ajakan Raditya spontan membuat Amara membulatkan matanya.
" Maaf, saya sibuk. Lagipula saya nggak berminat berdamai dengan orang yang berusaha merusak rumah tangga kakak saya." Amara berkata ketus.
Raditya tersenyum mendengar sindiran Amara. " Saya minta maaf jika sikap saya terlalu lancang terhadap kakak Anda, Nona."
" Kita anggap urusan kita selesai. Silahkan Anda pergi dari sini, dan jangan menginjakkan kaki di butik ini lagi jika tujuan Anda hanya untuk mengusik rumah tangga Mbak Natasha!" ancam Amara.
" Kalau tujuan saya ingin bertemu dengan Anda, Anda merasa keberatan juga, Nona?" Raditya mengulum senyuman tak perduli sikap ketus Amara.
Amara mendengus kesal. " Maaf, saya masih ada pekerjaan. Silahkan Anda keluar jika sudah selesai, permisi." Amara membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali menaiki anak tangga untuk menuju ruang kerjanya meninggalkan Raditya sendiri.
Selepas ditinggal Amara, Raditya pun melangkah keluar butik. Dia menghentikan langkahnya saat sampai di meja satpam.
" Pak, maaf ... kalau boleh tahu Amara itu masih single atau sudah menikah?" tanya Raditya pada Pak Joko.
" Ibu Amara? Selentingan yang saya dengar dari pegawai sini sih katanya baru berpisah sama suaminya, Mas."
" Divorced?" Raditya menautkan kedua alisnya.
" Apa, Mas?" tanya Pak Joko tak mengerti.
" Maksud saya, bercerai?"
" Iya, Mas. Janda muda anak satu," bisik Pak Joko terkekeh.
" Oke, Pak. Terima kasih untuk informasinya. Permisi ..." pamit Raditya kemudian memasang kacamatanya dan berjalan ke arah mobilnya seraya mengembangkan senyuman di bibirnya.
*
*
*
Bersambung ...
Visual Amara
Visual Raditya
__ADS_1