MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Tidak Pandai Memasak


__ADS_3

Hampir jam lima Yoga dan Natasha sampai ke rumah orang tua Yoga, setelah melewatkan aktivitas siang di Villa mereka memilih beristirahat terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan.


Terlihat beberapa mobil mewah berjejer di halaman rumah orang tua Yoga yang luas.


" Aku kok deg-degan ya, Ga," ucap Natasha tiba-tiba kembali diserang kecemasan.


" Deg-degan karena mau ketemu Mamih?" Yoga meledek.


" Bukan hanya itu, tapi karena akan bertemu dengan keluarga besar orang tua kamu."


" Apa saat kamu dikenalkan dengan kerabat dari orang tua calon tunanganmu kamu nervous seperti ini?"


Natasha menatap suaminya, kemudian menggeleng. " Aku tak perdulikan yang lain saat itu, karena aku hanya lebih fokus ke Andra."


" Kalau begitu lakukan hal yang sama, hanya fokus ke aku, tak perlu pikirkan yang lain." Yoga langsung menggenggam tangan Natasha dan membawanya menemui keluarganya.


" Assalamualaikum ..." Yoga mengucapkan salam kepada beberapa orang yang terlihat asyik bercanda dan berbincang di ruang keluarga.


" Waalaikumsalam ..." jawab semua yang ada di ruangan itu bersamaan.


" Nah, itu Prayoga ..." seru Mama Yoga melihat kedatangan Yoga. Yoga pun akhirnya menyalami saudara dari Mamihnya, disusul dengan Natasha.


" Jadi ini istrinya Yoga?" tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat lebih muda dari Mama Yoga.


" Iya, Tan. Ini istri Yoga, Natasha ..." Yoga menyahuti. " Ta, kenalkan ini Tante Aline, adik kandung Mamih sama itu suaminya Om Angga. Kalau yang itu Tante Jihan, adik sepupu Mamih, sama suaminya Om Ryan." Yoga memperkenalkan satu-satu keluarga dari Mamihnya, karena Teh Lily adalah anak dari Kakak dari Mamihnya, jadi yang datang berkumpul saat ini adalah keluarga dari Mama Yoga.


" Cantik, Ga. Piter kamu carinya ..." Tante Aline berkomentar.


" Pastilah, Tan. Pilihan Yoga pasti begini 👍." Yoga mengacungkan jempolnya seraya terkekeh.


" Teman kuliah juga, Ga?" Tante Jihan ikut bertanya.


" Bukan, Tan. Dia mah wanita karir, punya bisnis sendiri."


" Punya bisnis apa, Natasha?" tanya Tante Jihan lagi.


" Dia punya butik di beberapa tempat di Jakarta, Tan."


" Yang ditanya istri kamu, kenapa kamu yang dari tadi menjawab, memangnya dia nggak bisa bicara?" sindir Mama Yoga tiba-tiba.

__ADS_1


Natasha langsung menunduk, belum apa-apa ibu mertuanya sudah menyerangnya seperti itu.


" Bukannya Tata nggak mau jawab, Mih. Tapi Mamih liat Tata gitu banget, jadi bikin Tata takut," celetuk Yoga asal membuat Mama Yoga melengos.


" Natasha takut sama Mamih kamu, Ga? Kenapa?" selidik Tante Aline.


" Biasalah, Tan. Mamih kan punya calon menantu idamannya sendiri." Yoga melirik Mamihnya yang terlihat menekuk wajahnya.


" Oh, gadis yang berhijab itu, ya? Siapa itu namanya?" tanya Tante Aline lagi.


" Azahra, dia itu calon istri yang sholehah, lebih cocok kalau Yoga sama Rara." Mama Yoga langsung menyerobot.


" Mih, masih saja bahas itu. Sekarang Yoga itu sudah menikah dengan Tata, masa masih saja bahas soal Rara." Papa Yoga langsung menasehati istrinya.


" Iya, Mbak. Mantunya cantik gini kok nggak diterima, kalau Mbak nggak mau buat aku saja, buat Gilang." Tante Jihan ikut mengompori.


" Jangan dong, Tan. Ini sudah mutlak punya Yoga, nggak bisa diganggu gugat." Yoga langsung melingkarkan tangan kanannya di pundak Natasha sementara tangan kirinya mengelus perut Natasha. " Apalagi di sini, siapa tahu sudah muncul Yoga junior, karena sering ditanami benih punya Yoga." Senyum bangga terlihat di bibirnya.


" Wah, mulai getol ya, moga cepet jadi ya, Ga." sahut Om Angga.


" Aamiin ... makasih, Om."


" Oh ya, kamu punya butik di Jakarta? Apa namanya, nanti Tante main-main deh ke tempat kamu, Nat." Tante Jihan mencoba mengalihkan pembicaraan karena melihat kakak sepupunya tersudut.


" Alexa Butique, Tante," Akhirnya Natasha mengeluarkan suaranya.


" Alexa Butique? Itu sih butik langganan aku, lho." Tante Aline kemudian berjalan mendekati Natasha. " Kok kita nggak pernah bertemu, ya?"


" Aku di butik yang pusat, Tante."


Sambil menganggukkan kepala Tante Aline menyahuti. " Tante langganan yang cabang di Jakarta Timur. Nanti kapan waktu bolehlah Tante main ke tempat kamu ya, Nat." Tante Aline terlihat antusias.


" Tante juga nanti mampir deh ke butik kamu, Nat." Tante Jihan tak mau kalah.


" Iya kamu mesti datang ke butik itu, Han. Bagus-bagus gaunnya, apalagi yang gaun pesta, nggak kalah sama rancangan desainer kondang. Ternyata itu butik punya kamu." Tak henti-henti Tante Aline memuji Natasha.


" Hmmm ... wanita kalau sudah bahas masalah fashion gini kita nyerah," Om Ryan suami dari Tante Jihan mengangkat kedua telapak tangannya setinggi kepala, mengomentari sikap para istri yang telihat antusias jika membicarakan perihal butik milik Natasha.


Angga tergelak mendengar ucapan Ryan. " Benar, Yan. Kalau urusan seperti ini, istri-istri kita semangatnya langsung berkobar-kobar."

__ADS_1


Dan akhirnya gelak tawa dan canda yang akhirnya terdengar menghiasai setiap sudut ruangan yang cukup luas itu. Hal itu justru sedikit mengurangi kegelisahan hati Natasha. Bayangan tentang keluarga orang tua Yoga yang akan bersikap seperti ibu mertuanya ternyata tak terbukti. Semua terlihat bahagia dan tersenyum, hanya satu orang yang terlihat tidak menikmati kehangatan keluarga saat itu. Seseorang yang sedari tadi hanya menekuk wajahnya, apalagi saat diketahui ternyata para adiknya terlihat akrab dan bisa menerima Natasha dengan baik.


***


Natasha menghampiri Mama Yoga yang terlihat sibuk di dapur mengatur asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam.


" Masak apa, Mih?" tanya Natasha santun.


Mama Yoga terlihat melirik sebentar kemudian


fokus memberi perintah kepada ART nya.


" Ada yang bisa Tata bantu nggak, Mih?" Natasha terus mencoba mengakrabkan diri.


Mama Berdecak. " Kenapa ke sini? Sudah sana jangan dekat-dekat sini. Kamu kan nggak bisa masak, nanti malah nggak karauan rasa masakannya." ucap Mama Yoga bernada ketus.


Natasha menghela nafas perlahan, memang mesti bersabar menghadapi ibu mertuanya ini. " Tata kan bisa sekalian belajar, Mih. Belajar masak makanan kesukaan Yoga, jadi nanti Tata bisa masakin buat dia. Yoga kan senang sekali makan masakan Mamih, masakan yang dibuat Mamih."


Mama Yoga langsung menatap Natasha. " Kamu nggak usah cari muka ya di depan saya, nggak usah mengarang cerita. Mana ada Prayoga suka masakan saya. Saya saja tidak pandai memasak, gimana ceritanya Yoga mau suka masakan saya?!" ungkap Mama Yoga ketus


Natasha langsung ternganga mendengarkan semua penuturan tentang fakta yang sebenarnya ternyata ibu mertuanya itu sama-sama tidak menguasai dapur seperti dirinya.


" J-jadi Mamih nggak bisa masak juga?" Dengan polos pertanyaan itu lolos dari mulut Natasha.


Mama Yoga mendengus kesal. " Iya, makanya saya ingin punya menantu seperti Azahra yang pandai memasak, jadi saya bisa sekalian belajar sama dia."


Natasha tersenyum geli melihat ekspresi kesal Mamih Ellena.


" Kenapa senyum-senyum begitu? Kamu mengejek saya, ya?"


" Ah ... ng-nggak kok, Mih. Mana ada saya mengejek Mamih. Mamih kan orang tua Yoga, nggak mungkin Tata berani berbuat seperti itu, Mih." Natasha cepat menyangkal.


" Yoga ... yoga, kamu itu nggak sopan panggil suami pakai nama saja. Walaupun usia kalian sama, tapi dia itu suami kamu, jangan cuma panggil namanya saja. Nggak enak terdengar sama orang lain, dianggapnya kamu itu nggak menghormati suami kamu!"


" I-iya, Mih. Maaf ..." ucap Natasha. Entah kenapa walaupun yang dikatakan Mama Yoga saat ini terdengar sebuah protes juga terkesan cerewet dan jutek, tapi Natasha merasa jika ibu mertuanya itu sudah tidak mempermasalahkan status dia sebagai istri Yoga. Dia berharap lambat laun Mama Yoga bisa menerima dengan baik keberadaannya sebagai seorang menantu dari keluarga Atmajaya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2