
" Assalamualaikum, Uwa Tata."
Natasha menoleh ke arah pintu ruang kerjanya saat terdengar suara yang amat dia kenal muncul di dekat pintu ruang kerjanya.
* Waalaikumsalam, Amara?" Natasha langsung bangkit dan menghampiri adiknya yang sedang menggendong Haikal, bayi berusia setahun, anak Amara. " Hai, Sayang ... sini Uwa gendong." Natasha langsung menghujani ciuman ke pipi chubby keponakannya itu.
" Kamu kemari kok nggak kasih kabar dulu, Ra?" tanyanya kemudian.
" Iya, Mbak. Aku butuh penyegaran otak karena proses sidang perceraian kemarin," keluh Amara berjalan ke arah Sofa dan duduk melipat satu kakinya di sofa.
" Kamu yang sabar, ya. Semua itu 'kan kamu yang menginginkan. Mbak, Mas Yoga, Kak Gavin, mama, semua sudah memberikan nasehat sebelum kamu mengambil keputusan untuk berpisah." Natasha mencoba menyemangati adik semata wayangnya itu.
" Mbak, aku mau ikut tinggal di Jakarta boleh nggak? Cari suasana baru," ujar Amara dengan suara nampak penat.
" Ya sudah, kamu pakai apartemen Mbak saja, kamu ke sini sama siapa?" Natasha menyahuti.
" Sama Sus Maya. Dia nunggu di luar kayanya."
" Kamu bujuk mama juga biar mau nemenin kamu pindah ke Jakarta. Nanti kamu yang lanjutin pegang butik ini. Mbak sudah lama disuruh Mas Yoga berhenti urus butik."
" Aku nggak paham soal urus butik."
" Nanti Mbak ajari kamu, kok. Biar kamu nggak kepikiran soal kegagalan rumah tangga kamu, Ra." Natasha ingin memberikan kesibukan karena adiknya itu baru saja mengalami kegagalan dalam berumah tangga saat usia pernikahannya belum genap tiga tahun.
" Memang Mbak mau ngapain kalau nggak urus butik?" tanya Amara meraih Haikal yang mulai merengek minta ASI.
" Fokus urus suami dan anak dong, Ra. Mau mikir apa lagi?"
" Mbak Tata beruntung, biarpun waktu menikah tanpa cinta tapi langgeng dan bahagia. Kak Yoga kelihatan sayang banget sama Mbak Tata. Sedang aku yang nikahnya di awali pacaran empat tahun, gagal membina rumah tangga yang samawa," lirih Amara.
" Kamu yang sabar ya, Ra." Natasha menepuk bahu Amara mencoba memberi kekuatan kepada adiknya itu untuk tetap bersemangat dengan permasalahan hidup yang sedang dihadapinya.
Memang rumah tangga Natasha dan Amara seperti berbanding terbalik. Jika Natasha dan Yoga sampai sembilan tahun pernikahannya itu selalu berselimutkan kebahagiaan, sementara pernikahan adiknya bisa dibilang selalu penuh dengan konflik sejak suaminya diketahui mempunyai wanita idaman lain, membuat akhirnya rumah tangga nya berantakan hingga akhirnya Amara memilih berpisah daripada merasa tersakiti.
Tok tok tok
" Masuk ..." perintah Natasha saat mendengar pintu ruangan diketuk.
" Maaf, Bu ... ada kiriman bunga lagi untuk ibu." ucap Anto, pegawai pria di butik milik Natasha.
" Oh Astaga, kamu buang saja buketnya, To. Kalau ada kiriman seperti itu langsung buang saja nggak usah kasih ke aku lagi."
" Memang buket dari siapa sih, Mbak?" tanya Amara penasaran seraya mendekati pegawai kakaknya itu dan mengambil buket itu dari tangan Anto.
" Iiissshh, ngapain diambil, sudah buang saja." Natasha memprotes Amara yang terlihat penasaran dengan buket itu.
__ADS_1
" Sus ...!!" teriak Amara memanggil pengasuh anaknya. Tak lama seorang wanita berusia sekitar dua puluh tahunan masuk ke ruangan Natasha.
" Iya Bu?" tanya Sus Maya.
" Pegang ini." Amara menyerahkan Haikal ke pangasuhnya, lalu dia membuka kartu di buket itu.
" Raditya? Siapa Raditya, Mbak?" tanya Amara menyelidik.
" Nggak perlu diladenin sudah buang saja. Orang gendeng itu yang kirim." Natasha mengibaskan tangannya.
" Mbak kenal dari mana orang ini?" selidik Amara lagi.
" Dia guru karate Alden sama Azkia. Sepertinya dia suka sama Mbak. Sudah deh, Ra ... buang saja bunganya terus kamu jangan sampai bilang Mas Yoga soal buket ini, ya!" pinta Natasha.
" Kalau guru karate Alden dan Azkia berarti dia tahu dong Mbak ini sudah menikah?"
" Iya pasti, dong."
" Lalu kenapa masih nekat suka sama Mbak?"
Natasha mengedikkan bahunya. " Mana Mbak tahu ...."
" Ini nggak bisa dibiarkan begitu saja. Biar aku datangi orangnya. Maunya apa sih itu orang?!" Amara menggulung lengan bajunya hingga sebatas siku.
" Kasih pelajaran sama Raditya itu. Mumpung emosiku lagi butuh disalurkan, nih. Mbak kasih tahu di mana alamat tempat karatenya?"
" Kamu jangan macam-macam, Amara!" larang Natasha.
" Sudah, Mbak nggak usah khawatir. Aku nggak mau rumah tangga Mbak berantakan seperti aku karena adanya orang ketiga. Baik itu dari pihak Mbak ataupun dari pihak Kak Yoga," tegas Amara.
" Mbak takut dia macam-macam sama kamu, Ra. Aku takut dia itu psycho." Natasha menyampaikan kecemasannya.
" Makanya harus segera diurus masalah ini. Cepat kasih tahu aku alamatnya, Mbak," desak Amara.
Natasha mendengus kasar, seperti agak susah melarang adiknya itu.
" Perguruan karate Elang Putih, yang dekat arah ke apartemen Mbak."
Amara berpikir sejenak. " Oh iya aku paham. Ya sudah, aku ke sana sekarang. Aku titip Haykal ya, Mbak. Aku mau urus pengganggu di rumah tangga Mbak dan Kak Yoga." Selepas mengucapkan kalimat itu Amara langsung bergegas pergi tanpa menunggu persetujuan dari kakaknya.
***
Mobil yang dikendarai Amara memasukin pekarangan luas perguruan karate Elang Putih. Setelah memarkirkan mobilnya dengan segera dia melepas seat belt dan mengambil buket yang dikirimkan Raditya untuk kakaknya kemudian bergegas turun dari mobil dan berjalan memasuki bangunan padepokan karate itu.
" Cari siapa, Mbak?" tanya seorang wanita menyapa Amara saat melewati pintu depan yang terbuka lebar.
__ADS_1
" Saya cari yang namanya Raditya. Dia ada?" tanya Amara tegas.
" Bang Radit? Maaf, ada keperluan apa ya, Mbak? Nanti saya sampaikan." tanya wanita itu memperhatikan buket yang ada dalam genggaman Amara.
" Saya ingin bicara sama dia, bilang saja orang tua Alden dan Azkia ingin bicara."
" Oh, baik Mbak. Maaf, soalnya sering ada cewek-cewek yang modus ingin bertemu dengan Bang Radit, makanya Bang Radit meminta saya selektif kalau terima tamu yang ingin bertemu dengan dia. Silahkan, Mbak tunggu dulu, akan saya sampaikan ke Bang Radit ada yang ingin bertemu dengannya." Wanita itu pun beranjak masuk ke dalam bangunan padepokan meninggalkan Amara sendirian.
Tak berapa lama kemudian Raditya berjalan ke arah luar gedung menghampiri Amara yang sedang menunggunya.
" Natasha?" sapa pria itu menyapa Amara yang duduk membelakanginya.
Amara yang disapa nama kakaknya pun langsung menoleh. Dia mendapati seorang pria bertubuh tinggi atletis berwajah lumayan tampan sedikit terkejut melihatnya. Sesaat Amara tertegun dengan penampilan pria yang dia duga Raditya itu, namun dia cepat mengontrol dirinya dan langsung bangkit meraih buket kiriman pria itu untuk kakaknya.
" Jadi Anda yang bernama Raditya?" tanya Amara lugas.
Tak beda dengan Amara, Raditya pun sempat sedikit terpana mendapati wanita cantik yang dia temui ternyata bukan Natasha.
" Oh iya, betul. Maaf, Nona ini siapa?" tanya Raditya memandang buket di tangan Amara.
" Saya adik dari Natasha, wanita yang Anda kirimi ini." Amara mendorong buket ini ke arah dada Raditya dengan kasar.
Bugghh
Sebuah pukulan melayang di pipi Raditya, hingga Raditya memegangi pipinya.
" Saya peringatkan kepada Anda, Tuan Raditya! Jangan sekali-sekali mengganggu rumah tangga kakak saya! Dia sudah punya keluarga yang bahagia, dia mempunyai suami yang sangat mencintai dia, dan dia pun mencintainya. Jadi saya harap, Anda jangan pernah dekati kakak saya lagi! Punya malulah sedikit, jangan rebut sesuatu yang sudah menjadi hak milik orang lain! Saya tidak mau dengar ada kiriman dalam bentuk apapun untuk kakak saya! Jika Anda masih berani melakukan hal itu, Anda akan berurusan dengan saya! Camkan itu!" ancam Amara dengan nada tegas dan lantang seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah wajah Raditya dengan aura wajah yang merah padam menahan amarah.
Selesai menyelesaikan ucapannya Amara kemudian berjalan pergi meninggalkan Raditya, yang masih tertegun memandangi punggung Amara yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Tak lama seringai tipis tercetak di sudut bibir Raditya.
" Kakak adik ... sama-sama menarik," gumamnya seraya melirik buket yang ada dalam genggamannya dan mengusap pipinya yang tidak terlalu sakit akibat tinju dari Amara.
.
*
*
*
Bersambung ...
Mohon maaf untuk RTB hari ini ga bisa up ya, karena masih kurang fit. Bab ini juga sebenarnya aku nulis dari kemarin tp baru bisa selesai sore iniš
Happy Readingā¤ļø
__ADS_1