
Natasha menatap haru saat pengucapan ikrar janji suci ijab qobul yang diucapkan dengan lantang oleh A' Budi, yang kini telah sah menjadi suami Teh Lily. Natasha bisa melihat aura bahagia dari kedua mempelai itu, berbeda jauh saat dia dulu melakukan ijab qobul dengan Yoga. Ada cairan yang mengembun di bola matanya, jika saja saat itu dia sudah mempunyai cinta seperti sekarang ini pada pria yang menjadi suaminya ini, mungkin saat itu dia juga merasakan hal yang sama dengan Teh Lily sekarang ini.
Natasha sedikit tersentak saat tangan Yoga menggenggam jemarinya. Tanpa dia sadari ternyata suaminya itu sudah memperhatikannya sedari tadi.
" Kamu ingin kita mengulang moment seperti ini lagi?" bisik Yoga lembut di telinga Natasha.
Natasha mengeryitkan keningnya. " Memang bisa?"
" Setahu aku sih bisa, kalau kamu mau nanti sekalian mengadakan resepsi."
" Kamu mau kita adakan resepsi?"
" Ini perlu untuk keluarga besar Atmajaya, apalagi aku anak tunggal, Papih Mamih pasti ingin mengumumkan pernikahan kita ini ke semua kerabat dan relasi bisnisnya. Sedang untuk aku pribadi, aku ingin menunjukkan pada semua orang bawah wanita cantik ini adalah istriku tercinta, Nyonya Prayoga Atmajaya," tegas Yoga.
" Memangnya kamu sendiri nggak ingin kita mengadakan resepsi? Apa kamu tak ingin statusmu diketahui penggemar-penggemar pria mu, hemm?" lanjut Yoga lagi.
" Penggemar apaan, sih? Memangnya aku artis pakai punya penggemar segala." Natasha mencebik.
" Kamu bukan artis saja, penggemarnya ganteng-ganteng, apalagi kalau kamu jadi artis, Yang."
" Tapi nggak ada yang sehebat suamiku ini." Natasha mencubit gemas pipi Yoga.
" Sudah pasti nggak ada yang mengalahkan tingkat kemesuman suamimu ini, kan?" Yoga mengedipkan matanya.
" Iiissshhh ... mesum kok bangga." Natasha mencibir.
" Bangga dong, artinya bisa memuaskan istri." Yoga menyeringai.
" Sudah ih, nggak usah bahas itu, nanti kedengaran orang, malu ...."
Yoga terkekeh, melihat istrinya sudah mulai mengerucutkan bibir, kalau saja dia tidak ingat saat ini ada di tempat umum, ingin rasakan dia mengecup bibir itu.
***
Malam harinya, resepsi pernikahan A' Budi dan Teh Lily diadakan di hotel tempat A' Budi bekerja, tamu undangan pun sudah mulai berdatangan. Suara penyanyi yang menghibur acara resepsi terdengar menyanyikan lagu-lagu romantis dalam negeri dan mancanegara.
" Next, kita yang akan punya acara seperti ini," bisik Yoga sementara tangannya langsung membelit pinggang Natasha.
" Aku ngikut kamu saja, Yang." Natasha menyahuti. " Teh Lily manggil kita, tuh." Natasha melihat Teh Lily yang sedang berbincang dengan seseorang sementara tangannya melambaikan memanggil Natasha dan Yoga untuk mendekat.
" Kita ke sana." Yoga membawa Natasha mendekat ke sepasang pengantin yang terlihat sangat bahagia.
" Yoga, Tata ... kenalkan ini Boss-nya A' Budi." Teh Lily mengenalkan seorang pria yang membelakanginya. Dan saat pria itu membalikkan badannya betapa terkejutnya Natasha, Yoga dan si pria itu juga.
" Kak Gavin?"
" Alexa?"
Gavin dan Natasha yang sama-sama terkesiap spontan menyebut nama orang yang dilihatnya.
" Kamu ada di sini, Alexa?" tanya Gavin terlihat surprise
__ADS_1
Sementara Yoga yang mengetahui pria yang berbincang dengan kakak sepupunya adalah Gavin, ia semakin mengencangkan pelukannya di pinggang Natasha.
" Lho, kalian sudah saling kenal?"
" Pak Gavin kenal, Natasha?"
Teh Lily dan suaminya sama-sama bertanya.
" Iya, Alexa ini adik sepupu saya." Gavin menyahuti.
" Alexa?" Kening Teh Lily berkerut.
" Iya, Teh. Kak Gavin sejak kecil memang memanggil aku dengan nama Alexa." Natasha menjelaskan.
" Wah, ternyata dunia ini sempit, ya?" A' Budi terkekeh.
" Berarti Pak Gavin ini sudah kenal dengan adik sepupu saya ini, Yoga?"
" I-iya tentu saja, Bu Lily. Kami sudah saling kenal, saya bahkan menitipkan adik saya ini kepadanya," ucap Gavin melirik Yoga yang sepertinya masih menganggapnya sebagai pesaing. " Anda lihat saja, Bu Lily ... adik sepupu Anda itu seakan enggan melepas pelukannya pada tubuh adik kesayanganku." Gavin menyindir sikap Yoga.
" Sudah bucin dia ..." Teh Lily tergelak yang diikuti tawa mereka berempat kecuali Yoga
" Pak Gavin, maaf sekali kami tinggal dulu, kami mau menyapa tamu yang lain," pamit A' Budi pada Gavin.
" Silahkan Pak Budi." Gavin mempersilahkan A' Budi dan Teh Lily meninggalkan mereka bertiga.
" Kak Gavin, benar akan pindah ke Bali?" tanya Natasha penasaran dengan cerita Teh Lily.
" Dari Teh Lily, semalam cerita katanya akan pindah ke Bali karena suaminya di pindah tugasnya ke Bali untuk membantu Boss barunya, jadi Kak Gavin, Boss baru nya itu." Natasha menjelaskan apa yang dia tahu.
" Iya, Dad David menyuruh Kakak untuk menghandle hotelnya yang ada di Bali," ucap Gavin melirik ke arah Yoga. " Aku minta maaf, aku mengerti jika kau masih tak menyukaiku, tapi percayalah, sejak aku mengetahui Alexa adalah adik sepupuku, aku sudah mengubur dalam-dalam keinginan untuk memilikinya. Jadi aku harap kau tak perlu lagi menganggap aku seperti rivalmu. Dan sebagai seorang Kakak, aku titipkan Alexa kepadamu, jangan sampai kau menyakitinya, karena jika itu terjadi, aku yang akan langsung mengambilnya darimu, dan aku akan membantunya mencarikan pria yang lebih baik darimu untuknya," tegas Gavin dengan nada penuh penekanan.
" Kau tak perlu sangsikan itu, tanpa kau minta pun, aku akan menjaga dia." Yoga membalas dengan kata-kata yang sama tegasnya.
" Tuan Gavin, maaf ... Tuan David sudah datang, beliau mencari Tuan." Tiba-tiba seseorang memanggil Gavin memberikan sebuah kabar.
" Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu, Alexa, Yoga." Gavin pun akhirnya berjalan menjauh dari sepasang suami itu.
" Kamu dengar tadi? Kamu nggak usah pasang wajah masam seperti itu pada kakakku." Natasha mencibir sambil menjulurkan lidahnya.
" Aku mesti waspada pada siapapun pria yang menginginkan istri nakalku ini." Yoga menarik tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan dengan lengan Yoga yang masih membelit pinggang ramping Natasha.
" Istri nakal? Enak saja kamu bilang nakal, aku wanita baik-baik, ya." Natasha protes.
" Kalau istri baik-baik mana tega meninggalkan suaminya sendirian saat berada di puncak. Kamu dengar ya, aku sudah menyiapkan hukuman balasan atas ulahmu mengerjai ku semalam."
Natasha tergelak tapi dengan suara yang tidak terlalu kencang.
" Bagaimana rasanya semalam, hemm?" Natasha melingkarkan tangannya ke leher Yoga.
" Setengah gila aku rasanya, mestinya rudalku masuk ke sarangnya, ini malah ditinggal pergi." Yoga menggerutu.
__ADS_1
" Aku masih ingat wajahmu semalam." Natasha terkekeh kemudian tangannya merangkum wajah suaminya itu. " Aku siap menerima hukuman darimu Tuan Prayoga Atmajaya," bisik Natasha dengan suara mendesah di telinga Yoga, membuat darah Yoga langsung berdesir menerima godaan dari istrinya saat ini
" Kamu yakin akan menerima hukuman dariku, hemm?" Natasha menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Yoga.
" Aku menginginkan seperti yang kamu lakukan semalam, tapi kita benar-benar harus melakukannya. Aku ingin kamu yang memimpin permainan, aku ingin kau yang agresif, aku ingin kau yang menyerangku, dan aku ingin kau menjadi binal hanya untukku, hanya di depanku. Apa kau mau menjalankan hukuman dariku itu?"
" Will be my pleasure, Sir ..." desis Natasha membuka sedikit bibirnya, membuat Yoga tertantang untuk menyergapnya, dan dengan cepat Yoga merasakan bibir ranum Natasha, hingga membuat Natasha sedikit memekik.
" Sayang kita di tempat umum."
" Aku nggak tahan melihat godaan mu, Sayang." Yoga ingin kembali menyergap bibir Natasha, tapi tangan Natasha menahannya.
" Tuan muda Atmajaya, jaga sikapmu! Banyak orang yang akan melihat kita."
" Kalau begitu kita pergi dari pesta ini, kita booking kamar saja di sini."
" Kamu gila Yoga, mana mungkin kita pergi, bagaimana jika ada mencari?"
" Kita bukan orang penting, tak akan ada yang mencari."
" Ini sudah malam, lagipula kita nggak tahu masih ada kamar kosong atau tidak."
" Kamu adalah sepupu pemilik hotel ini, mintalah dia menyediakan kamar untuk kita."
" Astaga, Yoga ... aku nggak mau, aku malu bilang ke Kak Gavin nya."
" Kalau begitu berikan HP mu, biar aku yang bicara dengannya." Yoga kemudian meraih clutch milik Natasha untuk mengambil benda pipih itu. Setelah mencari nama Gavin di ponsel milik istrinya itu, dia kemudian menyambungkan nomer Gavin.
" Hallo, Alexa ... ada apa?"
" Bisa kau siapkan satu kamar untuk kami sekarang?" Nada perintah terdengar dari mulut Yoga.
" Baiklah aku akan siapkan, kau tunggulah di pintu masuk ballroom, nanti aku akan atur Bellboy mengantar kalian ke kamar."
" Thank's." Yoga langsung mematikan sambungan teleponnya.
" Sayang, kamu benar-benar gila." Natasha menggelengkan kepala mengahadapi kelakuan suaminya.
" Aku memang gila, aku tergila-gila padamu, Nyonya Prayoga Atmajaya." Yoga mengecup singkat bibir Natasha, layaknya orang yang dimabuk cinta Yoga sama sekali tidak perdulikan banyak mata beredar memperhatikannya. Ada yang menggelengkan kepala, ada yang tersenyum-senyum, tapi ada juga sepasang mata yang menatap pemandangan itu dengan hati yang hancur, pemandangan yang membuat hatinya sakit, membuat langit seakan runtuh menimpanya.
***
Tebak-tebakan, yuk. Siapakah dia?? Satu orang yang jawab benar pertama di komentar, aku kasih pulsa @50K ya😁 jawabannya akan aku kasih tau besok di bab berikutnya. Selamat menebak.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading😘