
Yoga mengerjapkan matanya, dia berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dia berusaha menghapus pikiran-pikiran mesum yang tadi sempat menguasai akal sehatnya.
" Sepertinya kamu memang nyaman dalam pelukanku, ya?" Suara Yoga terdengar parau, dia susah payah menetralisir serbuan gairah yang menyerangnya.
Natasha yang mendengar suara Yoga berusaha bangkit dari atas tubuh Yoga. " Ih, lepas ... lepas ...!" Natasha memukul-mukul lengan kiri Yoga yang merengkuhnya. " Kamu sengaja, kan, bikin aku terjatuh?!"
" Otak kamu itu, kalau nggak nuduh orang rasanya nggak enak, ya? Kalau nggak ada aku kamu tadi pasti akan mencium lantai. Daripada cium lantai, mending sini, cium suami sendiri." Yoga kembali merengkuh tubuh Natasha yang berusaha lepas darinya.
" Otak kamu ini, nih yang kebanyakan mikir mesum!" Natasha meraup wajah Yoga dengan telapak tangannya kemudian meremasnya dengan kesal.
Yoga yang merasakan serangan bar bar Natasha langsung mencengkram tangan Natasha dan dengan cepat dia membalikkan posisi tubuhnya hingga saat ini Natasha-lah yang sekarang berada dalam kungkungannya. Dia mengunci kedua tangan Natasha di atas kepala, " Kamu makin lama makin kurang ajar ya sama suami, mesti diberi hukuman."
" Kamu mau apa??" Natasha terkesiap saat dilihatnya wajah Yoga yang mulai mendekat ke arahnya.
" Aku cuma kasih hukuman kamu, karena selalu melawan suami," ujar Yoga, dan...
Cup..
Sebuah kecupan mendarat di kening Natasha." Itu hukuman untuk mendorongku tadi ..."
Cup..
Sebuah kecupan kembali mendarat di pipi kanan Natasha. " Itu hukuman untuk memukulku ...."
Cup..
Satu kecupan lagi di pipi kiri Natasha. " Itu untuk hukuman kamu mencubitku ...."
" Aawww ..." pekik Natasha saat Yoga menggigit hidungnya
" Itu hukuman untuk mengatakan otakku mesum ...."
Cup..
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Natasha. " Dan ini hukuman untukmu karena sudah menganiaya wajahku ...."
Natasha tertegun sesaat, matanya seakan terhipnotis terus menatap manik mata milik Yoga.
Yoga yang mendapati Natasha tak bereaksi bahkan tak ada perlawanan atas perbuatannya tadi membuatnya ingin kembali merasakan bibir manis Natasha. Tanpa memikirkan apa reaksi yang akan istrinya itu berikan, kembali Yoga mencium bibir Natasha dengan lembut, Saat dia melihat Natasha memejamkan matanya, membuatnya berani melu*mat bibir Natasha. Apalagi setelah Natasha mulai membuka mulutnya, lidah Yoga dengan sergapnya mengecap bagian dalam mulut Natasha.
Natasha seakan terbuai permainan lidah dan bibir Yoga, perlahan dia pun mulai membalasnya, dia bahkan sangat menikmati setiap sentuhan bibir dan lidah Yoga. Bibir mereka saling bertautan seakan enggan untuk melepaskan kenikmatan yang baru mereka rasakan. Dia bahkan tak pernah merasakan kenikmatan ini, meskipun dari orang yang dicintainya. Mengingat seseorang yang dicintainya tiba-tiba bayangan Andra yang begitu brutal malam itu melintas di benaknya. Seketika kesadarannya mulai datang,
Saat menyadari bibir Yoga masih asyik mengeksplor bibirnya dengan cepat dia menggigit bibir Yoga, hingga membuat pria itu memekik kaget apalagi saat Natasha mendorong tubuh Yoga untuk menjauh darinya.
" Lepaskan ...!" Natasha memukul tubuh Yoga yang masih belum beranjak dari atas tubuhnya.
" Nggak seru banget, sih. Lagi asyik-asyiknya malah dipotong. Ayo lanjut di ranjang saja," ledek Yoga saat melihat rona merah di wajah istrinya.
__ADS_1
" Jangan macam-macam kamu ...!!"
" Aduh, galaknya nggak hilang-hilang, sih ...."
" Awas bangun, aku mau mandi."
" Mau aku mandiin?" Yoga menaik turunkan alisnya berulang-ulang.
" Yogaaa ...!!"
" Iya, sayang...?"
" Yogaaaaaa ...!!" bentak Natasha sambil memperlihatkan bola matanya yang membulat sempurna.
" Iya ... iya ..." Akhirnya Yoga pun menjauhkan dirinya. " Mau aku panaskan air hangat?"
" Iya."
" Astaga, kamu alergi? kamu habis makan apa, sih? Wajah kamu kenapa?" Yoga mengernyitkan keningnya memperhatikan wajah Natasha. Seketika Natasha langsung menyentuh wajahnya.
" Coba deh, lihat wajah kamu di cermin," Yoga mendorong tubuh Natasha menuntunnya ke arah cermin. " Lihat, tuh ... wajah kamu sudah seperti kepiting rebus, merah merona. Cup ..." Yoga sempat mengecup sebelah pipi Natasha sebelum akhirnya dia berlari keluar kamar dengan gelak tawa.
" Yogaaa ...!" Teriak Natasha kesal karena dirinya berhasil dikerjai suaminya itu.
Dia kembali menatap wajahnya di cermin, memang rona merah pipinya tampak jelas terlihat di wajah putihnya. Ini pasti karena aktivitas pagi tadi yang membuat wajahnya seperti ini.
" Kenapa dipegang terus? Masih mau lagi??" Wajah Yoga yang tersembul dari pintu membuatnya terperanjat. Dengan cepat dia meraih sisir yang kebetulan dilihatnya dan langsung melemparnya ke arah Yoga tapi Yoga dengan sergapnya menghindar membuat Natasha semakin kesal.
***
" Ibuuuu, aku kangen ..." Sinta berhambur ke arah Natasha saat dilihat Boss nya itu muncul di hadapannya. " Bu, aku turut berduka ya atas meninggalnya Pak Farhan." Sinta memeluk tubuh Natasha.
" Terima kasih, Sin. Gimana butik selama aku tinggal?" tanya Natasha sambil melangkahkan kaki memasuki ruangannya yang diikuti Sinta.
" Butik ramai seperti biasa, Bu ...."
" Apa ada yang mencari aku, selama aku di Bandung?"
" Banyaklah, Bu. Kebanyakan cowok-cowok, sih, diantaranya Pak Andra sama Tuan Gavin."
" Andra??" Kening Natasha berkerut. " Mau apa lagi dia kemari?" gumamnya.
" Iya, Pak Andra dua hari lalu datang kemari. Memang Pak Andra nggak tahu Pa Farhan meninggal, Bu? Soalnya waktu Sinta bilang Ibu sedang pulang ke Bandung karena Papa Ibu meninggal, Pak Andra seperti orang yang kaget gitu, deh."
" Iya, aku memang nggak kasih tahu dia, Sin ...."
Natasha berpikir untuk apa juga dia harus memberitahukan kondisi keluarganya.
__ADS_1
" Terus Tuan Gavin, dia hampir tiap hari kemari loh, Bu."
" Benarkah?"
Sinta menganggukkan kepala. " Kadang aku rasanya ingin bertukar tempat sama Ibu. Sudah cantik, banyak duit, banyak cowok yang naksir, ah ... senangnya aku ..." Sinta memegang dadanya mendramatisir.
Natasha tersenyum melihat Sinta, dia memang sudah menganggap sekretarisnya itu seperti adiknya sendiri, karena sifatnya yang hampir setipe dengan Amara.
" Oh iya, Tuan Gavin, ada apa dia kemari? Bukankah urusan kerjasama kita sementara ini sudah beres ya, Sin?" tanya Natasha heran.
" Urusan kerjasama memang sudah beres, urusan hati yang masih menggantung." Sinta terkekeh.
" Maksudnya?"
" Memang Ibu nggak merasa, ya? Kalau Tuan Gavin itu sepertinya ada hati sama Ibu? Duh, Ibu bikin aku envy saja, deh ...."
" Kamu jangan bikin gosip gitu deh, Sin."
" Iihh ... masa Ibu nggak merasa gitu, kalau Tuan Gavin itu suka sama Ibu? Sekarang ibu bayangin saja, buat apa dia bolak-balik kemari cari ibu padahal kan memang nggak ada jadwal pertemuan sama dia Minggu ini. Terus dia minta alamat Ibu di Bandung ke aku, buat apa coba dia minta, kalau bukan untuk nyusul Ibu ke sana?"
" Dia sudah punya istri loh, Sin ...."
" Nah, itu juga yang bikin aku heran, Kok, Tuan Gavin mau menikah dengan wanita yang lebih dewasa darinya, ya?
" Iya, Dia itu kalau nggak salah seumuran Andra. Kamu tahu, Sin. Ternyata Dia sama Andra itu sepupuan.."
" Hahh?? Serius, Bu?" Sinta terkesiap.
" He-eh ...."
" Wah, bakal ada perang saudara, dong." Sinta tergelak. " Tapi Ibu tetap pilih Pak Andra, kan?"
Natasha menggeleng
" Kok? Memang sekarang Ibu lagi ada masalah ya, sama Pak Andra?"
" Dari awal juga hubungan aku sama Andra memang bermasalah, Sin ...."
"
*
*
Bersambung...
Happy readingš
__ADS_1