
Natasha merasakan ketegangan yang luar biasa, dia hanya bisa tertunduk dengan meremas jemarinya yang saling bertautan. Rasa bersalah itu begitu membelenggu dirinya, dadanya terasa sesak dengan nafas yang terasa tercekat di tenggorokan. Sementara Yoga nampak terlihat lebih tenang menghadapi situasi seperti sekarang ini.
Yoga menarik nafas perlahan sebelum memberikan argumen yang tepat kepada orang tuanya, agar mereka bisa menerima alasan yang diberikan olehnya. " Maafkan Yoga, Pih, Mih. Yoga sama sekali nggak bermaksud bersikap lancang dengan tidak memberitahukan pernikahan kami ini, tapi saat itu keadaannya sangat mendadak dan sangat mendesak, sehingga Yoga nggak sempat memberi tahu dan meminta ijin kepada Papih dan Mamih."
" Mendadak? Mendesak?! Prayoga jangan kamu bilang kalau kalian sudah melakukan hal di luar batas, Yoga!" tuduh Mama Yoga dengan nada bicara sedikit lebih tinggi. " Mamih sama Papih menyekolahkan kamu tinggi-tinggi agar kamu menjadi orang yang sukses bisa membuat kami bangga sebagai orang tua, bukan untuk menikah secara diam-diam dengan wanita yang nggak jelas!"
Deg
Seketika Natasha mendongakkan kepala menoleh ke arah Mama Yoga yang sedang menghujaninya dengan sorot mata penuh amarah dan kebencian. Setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita yang melahirkan suaminya itu bagaikan sembilu yang mencabik-cabik hatinya. Dadanya bergemuruh, sakit terasa di hatinya mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Mama Yoga tadi. Wanita nggak jelas? Apa maksud dengan kata Wanita nggak jelas itu? Dia punya asal usul yang jelas, dia terlahir dari keluarga yang harmonis dengan penuh limpahan kasih sayang, setidaknya itulah yang selama ini dia rasakan dari kedua orang tuanya sampai saat ini. Dia juga wanita yang mandiri, punya usaha yang bisa memberi lapangan pekerjaan untuk puluhan orang. Lalu dari mana definisi kalimat wanita nggak jelas itu berasal?
Natasha menelan salivanya, gemuruh di dadanya kembali bergolak, rasa emosi mulai merayap ke hatinya, sejujurnya dia tidak bisa terima dengan tudingan sebagai wanita tidak jelas. Ingin dia membantah, tapi dia tidak mungkin melakukan hal itu, bagaimanapun juga wanita yang dipanggil dengan sebutan Mamih oleh Yoga adalah ibu dari suaminya. Dia datang kemari untuk meminta restu bukan untuk mengajak berdebat mertuanya, yang besar kemungkinan akan mempersulit restu itu didapat.
Sejatinya bukan hanya Natasha saja yang terkesiap dengan ucapan Mama Yoga, Yoga pun merasakan hal yang sama. Dia sama sekali tak menyangka, kalimat itu keluar dari mulut mamihnya, karena setahu Yoga selama ini mamihnya itu adalah seorang wanita yang ramah dan mempunyai tutur kata yang santun, tapi kenapa sekarang mamihnya berkata seperti itu.
Ekor mata Yoga lantas melirik ke arah wanita di sebelahnya, wanita yang kini telah berstatus istrinya. Dia menatap pergerakan jemari Natasha yang saling bertautan, dia bisa merasakan saat ini wanita itu sedang berada di tingkat ketegangan paling tinggi.
" Katakan pada Mamih, Prayoga. Apa wanita ini menjebakmu sampai kamu harus menikahinya? Apa dia memanfaatkan kamu karena dia tahu kalau kamu anak semata wayang yang akan mewarisi semua kekayaan kami?"
__ADS_1
" Mih ...!" suara Papih Prasetya dan Yoga berbarengan.
" Mih, Natasha nggak seperti yang Mamih tuduhkan, Yoga menikahi dia bukan karena dia menjebak dan memanfaatkan Yoga, Mih. Yoga secara sadar menikahi dia..." Yoga menjeda kalimatnya seraya menoleh ke arah Natasha yang saat ini wajahnya terlihat memucat dengan mata yang berkaca-kaca siap menghasilkan buliran-buliran yang akan membasahi pipinya. Yoga lalu meraih jemari tangan Natasha dan langsung menggenggamnya erat. " Yoga secara sadar menikahi dia bukan karena keterpaksaan." Yoga menyudahi kalimatnya dengan tegas.
Sementara Natasha, sudah tidak bisa dilukiskan bagaimana suasana hatinya saat ini. Setiap kalimat yang berkonotasi hinaan ini bagaikan suatu tamparan untuknya. Dia berpikir, apakah ini karma untuknya? Bagaimana dirinya dulu dengan mudahnya melontarkan cacian dan makian kepada beberapa orang yang membuatnya tidak suka. Apakah ini balasan atas semua sikap dan sifat buruknya selama ini? Kalau jawabannya iya, sungguh balasan yang dia dapat saat ini sangat menyakitkan, karena dia dapat dari seseorang yang mestinya menerima keberadaannya dan menyayangi sebagai seorang menantu.
" Tidak terpaksa bagaimana, Prayoga? Kamu sendiri yang mengatakan jika pernikahan kalian ini terjadi mendesak dan mendadak. Apa kamu punya hutang budi kepada wanita ini sehingga kamu harus membalasnya dengan menikahinya? Apa yang sudah dia perbuat sehingga kamu mengacuhkan keberadaan Papih dan Mamih mu ini, Prayoga?!" Emosi Mamih Ellena semakin tak kendali, dia terus menerus memberi tekanan pertanyaan-pertanyaan kepada Yoga tapi isinya tetap kalimat-kalimat yang menyudutkan Natasha.
" Mih, sekali lagi Yoga minta maaf atas kelalaian Yoga nggak memberitahukan soal pernikahan itu. Tapi Natasha sama sekali tidak berbuat seperti yang Mamih pikirkan, Natasha wanita yang baik, Mih. Jika dia bukan wanita yang baik nggak mungkin Yoga akan menikahinya." Yoga terus berusaha memberikan pembelaan terhadap istrinya.
" Wanita baik? Kamu lihat saja dari cara dia berpakaian!" Mama Yoga memperhatikan penampilan Natasha yang saat ini menggunakan mini dress di atas lutut, sehingga memperlihatkan betis indahnya yang putih mulus. " Wanita baik itu yang seperti Azahra, berpenampilan sopan dan menutup auratnya, bukan yang mengumbar auratnya ke mana-mana untuk dipertontonkan kepada banyak pria!"
Deg
" Maaf, Tante. Sebelumnya saya minta maaf kalau saya lancang. Yoga sama sekali tidak bersalah dalam hal ini, sayalah yang sepenuhnya bersalah ..."
" Ta ..." Yoga memotong ucapan Natasha, dia meminta agar istrinya itu tidak mengatakan masalahnya secara mendetail termasuk tawaran sebagai pacar pura-pura yang membawanya masuk dalam ikatan pernikahan dengan wanita itu.
__ADS_1
Natasha tidak menggubris Yoga. " Saya yang meminta Yoga menemani saya pulang saat itu menemui papa saya yang sedang sakit keras, dan Almarhum papa saya yang meminta Yoga menikahi saya, karena papa saya ingin melihat saya menikah sebelum beliau meninggal." Natasha gagal menahan buliran air matanya untuk tidak jatuh saat dia terkenang tentang papanya, dia buru-buru menyeka buliran itu yang mulai membuat pipinya terasa lembab.
" Saya salah, seharusnya saya bisa menolak permintaan papa saya untuk menikah dengan Yoga, karena saat itu dialah teman pria yang saya bawa menemui papa di Rumah Sakit. Saya minta maaf untuk itu, tapi saya tidak bisa menerima tuduhkan Tante terhadap diri saya, saya tidak pernah menjebak Yoga, Tante. Saya juga tidak memanfaatkan Yoga, bahkan saya sendiri tidak mengetahui Yoga itu anak siapa? Saya tidak mengetahui status ekonomi keluarga Yoga itu bagaimana? Masalah penampilan saya, apa alasan Tante menilai saya bukan wanita baik hanya karena pakaian saya seperti ini? Apakah kebaikan seseorang wanita hanya dinilai dari penampilan luar saja, Tante? Apakah karena penampilan saya seperti ini lalu Tante menilai saya ini seperti wanita nakal sehingga menganggap saya menjebak Yoga? Apa karena penampilan saya seperti ini sehingga Tante menganggap saya tidak layak mendampingi anak Tante?! Jika itu penilaian Tante terhadap saya, Tante salah besar. Saya wanita baik-baik, Tante. Saya berasal dan dilahirkan dari keluarga baik-baik juga, saya juga bisa menjaga diri saya dari pergaulan bebas, bahkan sampai saat ini pun saya masih bisa menjaga kesucian saya sebagai seorang wanita."
Deg
Semua orang yang ada di sana terkesiap mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Natasha.
*
*
*
Author POV : Neng Tata, Neng Tata...kenapa mesti buka kartu gitu, sih? Kasian dong Kang Ojol ketahuan sudah menikah tapi belum jebol gawang.๐๐
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading๐