MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Memberi Hukuman


__ADS_3

Tiga orang yang kini berada di ruang keluarga itu seketika terkesiap mendengar penuturan Natasha, terlebih Yoga yang sampai memejamkan matanya dan menelan salivanya, menanggapi kepolosan istrinya itu menceritakan masalah rumah tangga yang semestinya bukan menjadi konsumsi publik, meskipun itu orang tua dia sendiri.


" Apa maksud semua ini, Prayoga? Bukankah kalian sudah menikah? Kenapa istri kamu bicara seperti itu?" Papa Yoga sedari tadi hanya menyaksikan anak, istri dan menantunya terlibat adu argumen akhirnya turut mengeluarkan suara.


" Kamu lihat sendiri kan, Prayoga? Istri kamu sampai membuka rahasia rumah tangga kalian? Untung hanya Mamih dan Papih yang mendengar, bagaimana kalau sampai dia cerita orang lain? Kamu justru yang akan dipermalukan, Nak!" Mama Yoga terus menyerang Natasha dengan kata-kata.


" Mih, masalah itu kita sudah sepakat untuk menjalankan kewajiban suami istri sebagaimana mestinya setelah Papih dan Mamih merestui pernikahan kami," tutur Yoga dengan bahasa yang sangat santun.


Tangan Mama Yoga mengibas ke udara. " Tidak ada aturan seperti itu, Prayoga! Ketika sudah memasuki gerbang pernikahan, ketika sudah berjanji di depan penghulu, tidak ada alasan untuk kalian menunda melaksanakan kewajiban suami istri, Ini pasti istri kamu yang meminta, kan? Dan kamu menurutinya? Kamu mau dikendalikan oleh dia?! Lama-lama dia bisa mempengaruhi kamu melakukan apa yang dia mau tapi bertentangan dengan hati kamu, Yoga! Bisa jadi nantinya dia juga menyuruh kamu menentang kami, dan menyuruh kamu tidak menghargai kami dan melupakan kami sebagai orang tua kamu. Banyak kejadian istri yang bikin suami lupa sama keluarga dan orang tuanya sendiri, bahkan ada istri yang membuat suaminya menjadi durhaka kepada orang tuanya. Mamih nggak ingin kamu seperti itu, Yoga! Mamih ingin kamu menjadi anak yang patuh, makanya Mamih sudah memilihkan perempuan yang baik untuk kamu, yang akan menjadi istri solehah, bukan seperti perempuan yang kamu bawa ini!"


" Mih ...!" sergah Yoga sedikit meninggikan suaranya. Dia pun rasanya sudah jengah mendengarkan cacian mamihnya yang ditujukan kepada Natasha, istrinya. Dia saja yang mendengar merasa kesal apalagi Natasha. Dia sudah mulai paham sikap istrinya itu walaupun belum genap sebulan tinggal seatap dengannya.


" Mih, cukup ...!" Disaat yang bersamaan Papa Yoga juga meminta istrinya untuk berhenti bicara.


" Kamu lihat sekarang? Bahkan suami dan anak saya berbicara dengan nada tinggi terhadap saya gara-gara kamu ...!!" Mata Mama Yoga terarah ke Natasha dengan sorot mata yang tajam penuh rasa kebencian, sehingga Natasha tak berani beradu pandang dengannya.


" Mih, Yoga nggak bermaksud membentak Mamih ..." Yoga mengungkapkan rasa penyesalannya.


" Mamih kecewa sama kamu, Yoga! Karena itu selamanya Mamih nggak akan pernah merestui kalian!" Mama Yoga lalu bangkit berjalan meninggalkan ketiga orang di sana, bahkan panggilan Yoga dan suaminya pun tak digubrisnya.


" Pih ..." Yoga mencoba menahan papihnya yang juga bangkit dan hendak menyusul istrinya.


" Kamu bawalah istrimu istirahat, selepas isya, temui Papih di ruang kerja Papih," ucap Papa Yoga bersahaja.

__ADS_1


" Maafkan saya Om, karena kekacauan ini." Natasha menunjukkan penyesalannya, walaupun hatinya tersayat-sayat dengan ucapan Mama Yoga,


" Sekarang ini kamu istri Prayoga, dan Prayoga adalah anak saya, panggil saya seperti Yoga memanggil saya."


Natasha langsung mendongakkan kepalanya saat mendengarkan ucapan Papa Yoga, ibarat Oase di gurun Sahara, kalimat yang keluar dari mulut Papa Yoga itu sedikit menyejukkan hatinya yg sedang teramat gelisah. Ternyata seperti yang dirasakan sejak awal kedatangannya, sambutan Papa Yoga berbanding terbalik dengan Mama Yoga yang menentangnya.


***


Natasha terduduk di tepi tempat tidur kamar Yoga yang besarnya dua kali lipat kamar apartemennya. Kamar bernuansa maskulin dengan perpaduan warna dark grey, putih dan hitam itu terlihat rapih, bersih dan beraroma wangi khas pria. Siapa sangka kalau penghuni kamar ini sehari-harinya tak segan tidur di kamar sempit dengan kasur yang hanya cukup untuk satu orang saja.


Natasha benar-benar tidak pernah menyangka jika ternyata Yoga berasal dari keluarga yang lebih dari berkecukupan. Selama ini pria yang pernah ditawari uang sejumlah empat puluh juta oleh dirinya, tidak pernah menunjukkan sama sekali jati dirinya. Suaminya itu seolah nyaman berada di balik jaket hijau yang biasa dia pakai di jalanan, Suaminya itu seolah tanpa beban harus tinggal di kontrakan, Suaminya itu seakan enjoy menikmati pekerjaan, harus ke sana ke mari memberikan bimbel.


Jika suasana hati Natasha sedang tenang rasanya dia ingin memutari kamar suaminya itu. Menyusuri sudut demi sudut ruangan pribadi Yoga, mungkin bisa sedikit mengorek tentang kehidupan pribadi pria itu, masa lalunya, dan mungkin kisah cintanya. Tapi dengan suasana hati seperti sekarang ini, jangankan untuk memutari, melangkah saja rasanya tak berselera dan tak punya tenaga.


Natasha menoleh ke arah pintu kamar Yoga saat terlihat pintu itu dibuka seseorang. Dia melihat Yoga berjalan menghampirinya. Setelah mengantar Natasha ke kamarnya, Yoga memang keluar entah kemana, dan baru kembali setelah sepuluh menit berlalu.


Natasha mendongakkan kepalanya saat Yoga berdiri menjulang di hadapannya. " Maaf ..." lirihnya dengan nada penyesalan, kemudian kembali menundukkan kepalanya, walaupun dia merasa kesal atas penghinaan-penghinaan yang diucapkan oleh Mama Yoga, tapi dia sadar bahwa situasi saat ini sangatlah sulit untuk suaminya itu.


" It's OK ..." Tangannya terulur membelai kepala Natasha yang duduk di tepi tempat tidur di hadapannya. " Nanti aku bicara lagi sama orang tua aku. Jangan diambil hati ucapan mamih, mamih itu sebenarnya orangnya baik, mungkin karena dia belum mengenal kamu lebih jauh." Yoga mencoba menenangkan istrinya.


Tangan Natasha langsung melingkar erat pinggang Yoga dan menyandarkan kepalanya tepat di perut Yoga karena posisi dia yang duduk dan Yoga yang berdiri. Isak tangis nya pun akhirnya pecah hingga membuat tubuhnya terguncang.


" Kamu sengaja godain aku ya?? Kamu gerak-gerak gitu, dada kamu posisinya pas banget itu dekat rudalku, Ini bisa bikin rudalku siap tempur, loh!

__ADS_1


Natasha langsung mengurai pelukannya, menjauhkan tubuhnya dari tubuh Yoga saat mendengar suaminya berbicara seperti tadi, dan sebuah pukulan pun dia layangkan ke pinggang suaminya itu.


" Kamu tuh, bisa-bisanya aku lagi sedih mikirnya itu terus ..." Natasha mencebik seraya menghapus air matanya.


" Biar kamu nggak jadi sedih, nggak nangis terus ..." Yoga terkekeh kemudian mengacak rambut istrinya itu. Sesaat kemudian dia mendorong tubuh istrinya itu hingga terhempas dan terlentang di atas ranjang berukuran besar. Tak lama dia pun kemudian mengurung istrinya dengan tubuh kokohnya.


" Yoga, kamu mau apa??" Natasha terkesiap melihat gerakan tubuh Yoga yang mulai mengungkungnya, apalagi saat tangan kokoh pria itu sudah menggerayangi kedua bongkahannya.


" Aku akan menghukum mu!"


" Memang aku salah ap ... mmmppptt ..." Bibir Yoga langsung menyergap bibir manis nan ranum milik Natasha dan tak memberikan kesempatan istrinya untuk menyelesaikan kata-katanya.


” Kamu sudah buat kesalahan tadi, dan aku akan memberimu hukumannya," ucap Yoga saat mereka menjeda berpagutan untuk menghirup oksigen.


*


*


*


Author POV : Ga, Ga...sempet²nya gitu ya curi kesempatan. Bini lagi sedih juga🙄


Bersambung...

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2