
" Cuma begini saja koleksi bajunya? Biasa saja, nggak ada yang kelihatan istimewa," keluh seorang wanita paruh baya pada Vita, pegawai Alexa Butique.
" Ini koleksi terbaik kami, Nyonya. Banyak orang yang suka dengan koleksi kami ini." Vita mencoba menjelaskan.
" Saya heran, teman-teman saya bilang katanya koleksi di sini bagus-bagus ternyata biasa saja," ucap wanita itu lagi.
" Ma, kalau memang nggak suka koleksi di sini ya sudah, nggak usah ngomong begitu," ujar pria yang sepertinya anak dari wanita paruh baya itu merasa tak enak hati.
" Ck, sebentar dong, Dit. Mama itu penasaran, teman-teman Mama bilang di sini koleksinya bagus makanya Mama penasaran, ternyata begini-begini saja." Wanita paruh baya itu terus mencari-cari baju di display yang dia rasa cocok dengan seleranya.
" Baju begini doang harganya mahal amat,
Kalau di mall bisa dapat tiga potong ini," keluh wanita itu lagi.
" Itu memang sudah sesuai dengan kualitasnya, Nyonya." Vita dengan sabar menghadapi.
" Paling juga kalau dicuci luntur ini." Tak henti Ibu itu mencemooh.
" Kualitas semua baju di butik kami terjamin, Nyonya. Kalau Nyonya tidak percaya boleh Nyonya beli, jika ternyata tidak sesuai dengan harapan, Nyonya bisa datang ke sini dan uang pasti kembali." Vita tetap meyakinkan Ibu itu.
" Ah, itu sih akal-akalan pedagang saja, sudah biasa dengar seperti itu." Ibu itu mengibas tangannya.
" Ma, kalau Mama nggak cocok sama koleksi di sini, sudah dong, Ma. Jangan bicara yang macam-macam. Nggak enak didengarnya." Anak dari Ibu itu meminta ibunya untuk berhenti mengomentari yang tidak-tidak. " Maafkan, Ibu saya ya, Mbak." lanjutnya pada Vita.
" Nggak apa-apa, Mas." Vita menyahuti.
" Ayo, Ma. Radit mesti melatih karate ini." Pria yang ternyata adalah Raditya menoleh arloji di tangannya.
" Sabar sebentar, dong. Lagipula perguruan karate ini 'kan milik kamu sendiri. Banyak anak buahmu yang bisa melatih, kan? Nggak mesti kamu yang turun."
" Iya Mih. Insya Allah kalau Mas Yoga nggak repot kami liburan ke sana, kok." ucap Natasha yang berjalan menuruni anak tangga seraya menjawab telepon dari Mamih Ellena.
" Anak-anak juga kangen banget sama neneknya, Mih. Apalagi Azkia, kepingin banget liburan ke nenek sama kakek bilangnya. Mih."
Raditya langsung menoleh ke arah Natasha saat mendengar nama Azkia disebut. Dia langsung memicingkan matanya saat mendapati wanita cantik yang dia temui beberapa hari lalu di tempat karatenya itu sekarang kembali ada di hadapannya.
" Ya sudah, Mih. Tata tutup dulu ya, Aku mau pulang ini, Mih. Assalamualaikum ..."
" Natasha?? Hai ...."
Natasha yang sedang memasukan ponsel ke tote bag nya langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
__ADS_1
" Maaf, siapa, ya?" Natasha mengeryitkan keningnya.
" Saya Raditya, pelatih Karate Alden dan Azkia, ingat?" ujar Raditya.
" Oh, i-iya ... saya ingat. Bapak ada di sini? Mengantar istri??" tanya Natasha.
" Oh, bukan ... bukan istri. Saya mengantar mama saya," ucap Raditya.
" Oh, begitu ..." Natasha menganggukkan kepala.
" Siapa ini, Dit?" Mama Raditya yang melihat anaknya berbincang dengan wanita langsung menghampiri.
" Ini, Ma. Ini Natasha ... Natasha kenalkan ini mama saya." Raditya memperkenalkan Natasha pada mamanya.
" Halo, Ibu ..." Natasha menyalami Mama Raditya.
" Mama saya ini sedang mencari koleksi gaun di butik ini." Raditya menerangkan.
" Oh ya? Silahkan dilihat-lihat koleksinya, Bu. Untuk Ibu karena Pak Raditya ini guru karate anak saya, saya kasih discount sepuluh persen, Bu."
" Cih, kamu pikir saya orang susah pakai dikasih discount segala?!"
Natasha terkesiap mendengar ucapan Mama Raditya itu.
" Maaf, Bu. Bukan maksud saya seperti itu." Natasha langsung membantah anggapan Mama Raditya. " Saya biasa memberikan discount kepada pelanggan tetap di sini, Bu. Sama sekali saya tidak menyangsikan kemampuan finansial Ibu, kok." Natasha berusaha tersenyum, menghadapi pelanggan seperti Mama Raditya bukanlah hal baru baginya dan dia mulai terbiasa menghadapi segala macam karakter pelanggan yang datang ke butiknya.
" Kamu kerja di sini?" tanya Raditya tak perdulikan protes mamanya.
" Saya yang punya butik ini, Pak Raditya."
" Oh ... panggil saja saya Radit, nggak usah pakai embel-embel Pak," pinta Raditya.
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel Natasha kembali berbunyi, Natasha langsung merogoh ponsel dalam tasnya dan menerima panggilan telepon yang ternyata dari sang suami tercintanya.
" Halo, Assalamualaikum, Mas ...."
" Waalaikumsalam, Yank aku udah masuk parkiran butik kamu ini." sahut Yoga.
" Oh ya sudah, ini aku bentar lagi keluar, ya." Natasha kemudian mematikan sambungan ponselnya.
__ADS_1
" Maaf, Bu, Pak Raditya. Saya permisi dulu. Silahkan dilihat-lihat koleksi terbaik di butik saya. Permisi ..." Natasha kemudian melangkah keluar butiknya meninggalkan Raditya dan mamanya.
" Kamu suka wanita itu? Sepertinya bukan gadis, ya? Janda?"
" Ma ...!" Raditya langsung melirik ke arah Vita yang masih setia melayani mereka.
" Kamu kalau mau cari pasangan hidup mesti kelihatan yang jelas bibit bebet bobot nya dong, Dit. Mama nggak mau kamu dapat bekas pakai orang." Mama Raditya kemudian langsung berjalan ke arah pintu keluar. " Cepat pulang." lanjutnya seraya menoleh ke arah Raditya yang masih bengong mendengar ucapan mamanya.
***
" Ada apa kok manyun gitu bibirnya? Kode minta dicium, nih?" Yoga mengacak rambut istrinya.
" Kesel aku sama pengunjung yang barusan datang ke butik tadi," keluh Natasha
" Memang kenapa dengan pengunjung itu? Marah-marah?"
" Aku bilang akan kasih discount ke dia, eh dia malah bilang ' Cih, kamu pikir saya orang susah pakai dikasih discount segala?' gitu. Sayang dia orang tua, kalau dia masih muda seusiaku saja sudah aku ajak tarung deh."
Yoga tergelak mendengar umpatan-umpatan Natasha.
" Kalau kalian bertarung, aku jagoin istriku, dong! Caiyo, Tata ...!" Yoga meraih tangan Natasha lalu mengangkatnya ke atas.
" Iissshh, kamu ini ... istri mau berbuat bar-bar malah didukung bukan dilerai." Natasha mencebik.
" Hahaha ..." Yoga tergelak. " Kita makan dulu, yuk. Laper banget belum sempat makan siang tadi."
" Ya ampun, Mas. Sudah hampir jam empat lho ini. Jangan dibiasain telat makan dong, Mas. Nanti kalau kamu sakit gimana?"
" Ya jangan doain aku sakit dong, Yank."
" Siapa juga yang doain? Aku tuh nggak mau lihat kamu sakit terus terjadi sesuatu sama kamu, Mas. Aku nggak sanggup kalau kamu ninggalin aku. Aku nggak mau sendirian. Kalau di antara kita ada yang pergi dulu, aku berharap aku saja yang duluan pergi. Karena aku nggak akan bisa bertahan tanpa kamu, Mas." Natasha sampai berkaca-kaca mengucapkan hal itu.
Yoga langsung menepikan kendaraannya. Lalu dia menangkup wajah sang istri.
" Sssttt ... kamu jangan bicara yang macam-macam, Yank. Aku nggak suka dengar itu. Kamu pikir aku juga akan sanggup tanpa kamu di sampingku? Nggak, Yank. Aku juga nggak akan bisa hidup tanpa kamu. Kita sudah berjanji bersama membesarkan anak-anak kita sampai dewasa. Kita sudah berjanji untuk menua bersama. Jadi jangan pernah lagi mengatakan hal-hal yang buruk seperti tadi. Oke?" Yoga Menghapus air mata yang akhirnya menetes di pipi Natasha lalu dia mengecup lembut kening istrinya dengan penuh kehangatan dan rasa kasih sayang.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️