MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Lama Tak Berjumpa


__ADS_3

" Ibu-ibu, biar nanti karyawan lain saja yang pasang di manekinnya, Ibu tunggu di ruangan Ibu Nat saja." Sinta langsung mengambil patung manekin yang sedang dipegang Mama Nabilla. Mama Nabilla memang berniat memajang dress terbaru yang baru saja datang kemarin sore.


" Sudah nggak apa-apa, yang lain kan sedang sibuk melayani pelanggan, biar saya saja yang pasang, kamu kembali saja sana ke mejamu!" perintah Mama Nabilla mengambil kembali manekinnya.


" Kalau begitu biar Sinta saja yang ganti, Ibu istirahat saja, nanti saya bisa kena marah ibu boss kalau tahu Ibu angkat-angkat begini sendiri." Sinta kembali menarik pantung manekin itu tapi Mama Nabilla mempertahankannya.


" Ibu, Ibu jangan bandel, dong! Ibu senang ya lihat saya dipecat sama Ibu Natasha?" Sinta mencebik.


" Nggak usah lebay deh, Sin! Masa cuma karena saya yang ganti dress di manekin saja sampai bikin Tata pecat kamu." Mama Nabilla memutar bola matanya.


" Ibu nggak tahu saja kelakuan anak Ibu di sini."


" Memang kelakuan Tata seperti apa?" Mama Nabilla tiba-tiba tertarik untuk mengetahui sifat anaknya itu seperti apa dalam memimpin anak buahnya.


" Cerewet, kadang suka galak juga, senangnya merintah, senangnya berbuat mesum ...."


Mata Mama Nabilla membulat mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Sinta. " Sin, sepertinya Tata benar-benar akan pecat kamu, deh ...."


Kali ini mata Sinta yang membulat mendengar pernyataan dari Mama Boss nya itu. " Ibu jangan takut-takutin saya dong, Bu ...."


" Sepertinya Tata akan pecat kamu kalau dia tahu kamu sedang ghibahin dia saat ini," sindir Mama Nabilla melirik ke arah Sinta yang seketika memucat.


Sinta langsung menutup mulut sejurus kemudian memukul mulutnya sendiri karena keceplosan menggunjingkan boss nya di hadapan ibu dari boss nya itu.


" Aduh, maaf, Bu. Ibu jangan bilang soal ini ke Ibu Nat ya, Bu! Please ..." Sinta memohon


Mama Nabilla terkekeh melihat Sinta ketakutan. " Memang kamu pernah lihat Tata berbuat mesum di sini?" tanya Mama Nabilla dengan nada berbisik.


" Pernah, Bu ..." Sinta kembali menutup mulutnya.


" Dengan siapa?" Mama Nabilla menyelidik.


" Dengan Mas Yoga pastinya, Bu."


" Sudah lama kamu melihatnya?"


" Beberapa hari lalu.."


Mama Natasha menganggukkan kepala dengan senyum tipis mengembang di sudut bibirnya.


" Sebelumnya kamu pernah melihat Tata berbuat hal seperti itu dengan pria lain?"


" Maksud Ibu??"

__ADS_1


" Hmmm ... maksud saya, sebelum sama Yoga kamu pernah lihat Natasha dekat dengan pria lain dan melakukan hal-hal yang tidak pantas?"


Sinta berpikir sejenak. " Ibu Boss memang pernah dekat dengan Pak Andra, tapi seingat Sinta nggak pernah Ibu Nat berbuat seperti itu, Bu."


Mama Nabilla menarik nafas lega mendengar penjelasan Sinta. " Oh ya, soal Andra, seberapa dekat hubungan mereka? Karena saya kira Tata sedang berpacaran dengan Andra, karena dia selalu bercerita tentang Andra. Dan saya kaget saat pulang ke Bandung justru bukan Andra yang dibawanya.


" Saya juga baru tahu belakangan ini kalau Ibu Nat sama Pak Andra itu putus, padahal Ibu Nat itu cinta banget sama Pak Andra. Tapi dasar bukan jodohnya kali ya, Bu. Tapi sekarang Ibu Nat sudah dapat pengganti yang nggak kalah ganteng dari Pak Andra, baik pula orangnya. Seandainya Mas Yoga bukan suami Ibu Natasha, rasanya Sinta ingin menjadi pacarnya," ucap Sinta memegang dadanya mendramatisir.


" Kamu mau jadi pelakor di rumah tangga anak saya?!"


Sinta terkesiap, dia langsung tersenyum kaku sambil mengelus tengkuknya. " Maaf, Bu. Cuma bercanda..."


" Ya sudah, kembali bekerja sana!" perintah Mama Nabilla kemudian dia berjalan menghampiri pengunjung yang baru datang di butik milik anaknya..


Mama Nabilla mendapati seseorang pria tampan masih berdiri di dekat pintu masuk.


" Selamat datang di Alexa Butique, ada yang bisa kami bantu, Tuan?" sapa Mama Nabilla ramah pada pria yang berpenampilan perlente itu.


Pria yang disapa Mama Nabilla itu langsung menoleh ke arah suara yang menyapanya. Seketika pria itu tertegun menatap Mama Nabilla, tiba-tiba tubuhnya terasa melayang, jantungnya berdebar kencang. " Ta-Tante Nabilla?" ucap pria itu dengan suara tercekat.


Mama Nabila membelalakkan matanya saat pria muda berwajah tampan itu menyapanya. " Maaf, Anda mengenal saya?" tanya Mama Nabilla bingung, menatap pria yang saat ini terlihat bola matanya sudah berembun.


Pria itu bukannya menjawab pertanyaan Mama Nabilla, tapi malah langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan isak tangis, membuat Mama Nabilla semakin kebingungan, apalagi pria yang sedang memeluknya ini tidak mengatakan apapun selain tangisan yang terdengar.


" Tu-tuan, Anda siapa? Dan kenapa Anda memeluk saya?" Mama Nabilla masih berdiri kaku dalam pelukan pria itu.


Mama Nabilla terperanjat mengetahui fakta tentang pria muda di hadapannya ini adalah keponakannya yang telah lama hilang tak pernah ada kabarnya selama puluhan tahun.


" Ga-Gavin?? Ka-kamu benar Gavin, Nak?" Kali ini giliran Mama Natasha yang menangkup wajah Gavin.


Gavin mengangguk seraya meraih jemari tangan Mama Nabilla lalu mengecupnya dengan lembut. " Iya Tante. Ini aku, aku Gavin keponakan Tante."


Mama Nabilla langsung menarik tangannya dari genggaman Gavin kemudian dia merengkuh tubuh tegap pria itu memeluknya erat dibarengi tangisan tersedu Mama Nabilla di dada Gavin.


" Gavin, hiks .. hiks ..." Mama Nabilla terus menangis haru dalam dekapan Gavin. Beberapa detik adegan itu berlangsung, hingga membuat beberapa orang yang ada di dalam butik itu terharu bahkan ada yang sampai meneteskan air mata.


" Tante apa kabar selama ini? Gavin selalu berusaha mencari kalian tapi tidak pernah ketemu," ujar Gavin saat pelukan mereka terurai.


" Kita duduk di sana ngobrolnya." Mama Nabilla menunjuk sofa tunggu yang terletak di sebelah kanan arah pintu masuk.


" Kamu selama ini ke mana saja? Kamu dan Mommy kamulah yang seperti hilang ditelan bumi," ucap Mama Nabilla setelah mereka duduk di sofa.


" Mommy selama ini membawa aku berpindah tempat, sampai akhirnya kami menetap lama di Jerman, dan baru sekitar tiga tahunan kami kembali ke Indonesia," jawab Gavin.

__ADS_1


" Mommy kamu gimana kabarnya? Sekarang kalian tinggal di mana?"


Gavin tertunduk sebelum akhirnya mengambil nafas pelan-pelan. " Mommy meninggal setahun yang lalu, Tante ..." ungkap Gavin dengan ekpresi penuh kesedihan.


Mama Nabilla menutup mulut dengan telapak tangannya, air matanya kembali berderai. " Innalillahi wainnaillaihi rojiuun Mbak Manda ...."


Gavin mengusap punggung Mama Nabilla. " Mommy meninggal karena ada kerusakan di hatinya karena terlalu banyak menkonsumsi alkohol." Gavin mendengus nafasnya kasar. " Oh ya, kabar Tante sekeluarga gimana? Lama kita tak berjumpa, Om Farhan sehat, Tante? Alexa gimana kabarnya? Dia pasti sekarang sudah menjadi wanita yang cantik ya, Tan?"


" Om kamu juga sudah meninggal dua minggu lalu, Gavin," ucap Mama Nabilla lirih.


" Ya Allah, Innalillahi wainnaillaihi rojiuun ... berarti belum lama ini, Tante?"


Mama Nabilla mengangguk. " Tante yang sabar, ya." Gavin langsung memeluk kembali tubuh adik mommy nya itu.


" Oh ya, Tante kok ada di sini? Tante sedang apa di sini? Apa Tante bekerja di sini? Tapi kenapa kemarin-kemarin Gavin nggak pernah lihat Tante?" tanya Gavin terheran.


Mama Nabilla menggelengkan kepalanya, " Tante nggak bekerja di sini, Tante kemari justru ingin menemui adik Alexamu, Vin."


Deg


Seketika tubuh Gavin menegang, pikirannya langsung tertuju pada sosok wanita yang belakangan ini disukainya.


" Ta-Tante, apakah Alexa yang Tante maksud adalah Alexa pemilik butik ini?" suara Gavin kembali tercekat, tiba-tiba dadanya bergemuruh, jantungnya berdebar kencang.


" Lho, kamu sudah ketemu dengan Alexa?!"










Bersambung..

__ADS_1


Oya, aku mau tau dong pendapat kalian tentang novel "Mengejar Suami Impian" ini bagaimana? Soalnya ini kan novel perdana, baru pertama kali berani nulis cerita yang di publish. Jadi harap maklum kalo masih acak-acakan kata-katanya. Kalo respon kalian baik tuh semakin bikin aku semangat nulisnya.


Happy Reading😘


__ADS_2