MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Menantu Versus Mertua


__ADS_3

Natasha membuka pintu kamarnya, kemudian beranjak keluar saat tak didengar lagi suara Yoga yang memanggil namanya.


" Mas, Mas Yoga ..." Natasha sedikit berlari menuruni anak tangga.


" Eh ... eh ...eh, kamu jangan lari-lari, Ta." Mama Yoga yang melihat gerakan Natasha di tangga langsung bangkit menyambut menantunya, dia khawatir jika benar menantunya itu hamil akan berbahaya untuk janin yang dikandungnya.


" Mih, Mas Yoga mana?" tanya Natasha kepada Mama Yoga.


" Yoga sedang ke apotek," sahut Mama Yoga.


" Sudah pergi?"


" Sudah ...."


" Tuh, kan. Aku ditinggal ... Orang aku bilang mau ikut juga, hiks ... hiks ..." Natasha langsung terisak.


" Sebentar kok, Ta. Yoga bilang dekat apoteknya."


" Aku kan tadi sudah bilang mau ikut, kenapa ditinggal, sih." Natasha terus tersedu dengan tangan sibuk menyeka air matanya.


Mama Yoga terlihat bingung melihat menantunya merajuk, apalagi awalnya mereka tidak terlalu dekat, karena dia merasa Natasha bukanlah menantu yang diidamkannya. Tapi melihat keakraban menantunya dengan Melly, sahabatnya dulu membuat dia merasa cemburu.


" Mas Yoga pasti mau godain wanita malam, mau lihatin paha mulus sama dada montok mereka pasti ini, tuh, nggak mau ajak aku. Memang punya aku kurang, apa? sampai mau lihat yang lain. Huhuhuuuu ...."


" Prayoga nggak begitu, Ta. Nggak mungkin Yoga melakukan hal seperti itu."


" Nggak mungkin apanya? Mamih nggak tahu saja kelakuan anak Mamih itu gimana selama ini."


" Memangnya kelakuan Yoga itu bagaimana?" Mama Yoga dibuat penasaran dengan tuduhan yang dialamatkan kepada putranya.


" Dia itu berani pegang-pegang wanita lain depan umum." Natasha mengingat kejadian saat melihat Yoga dan Adelia di cafe beberapa waktu lalu.


" Nggak mungkin Yoga seperti itu!" Mama Yoga membantah.


" Iiiihh ... Mamih nuduh Tata pembohong?"


" Mamih nggak nuduh kamu pembohong."


" Tapi tadi Mamih bilang nggak mungkin Mas Yoga seperti itu, artinya kan Mamih nuduh aku bohong, hiks ..." Natasha kembali terisak.


" Duh, Gusti nu Agung, kumaha iyeu teh? Mamih nggak bilang kamu itu bohong, Ta." Mama Yoga tetap menyangkal.


" Pokoknya tadi Mamih nuduh Tata bohong, biar nanti aku adukan ke Mas Yoga, biar nanti Mamih dapat hukuman dari Mas Yoga." Natasha menaikkan dagunya seakan menantang mertuanya itu.

__ADS_1


" Mana mungkin Prayoga berani menghukum Mamih. Mau Mamih kutuk jadi kodok apa berani menghukum orang tua?!" hardik Mama Yoga tak terima diancam Natasha seperti itu.


" Apa Mamih bilang? Mau kutuk suami aku? Mamih mau jadi orang tua durhaka? Mamih ingin aku jadi janda muda, ya?!" geram Natasha.


" Aaiiihh ... sembarangan kamu bicara! Nggak ada yang namanya orang tua durhaka, yang ada itu menantu durhaka karena melawan mertua!" sanggah Mama Yoga balik menyerang Natasha.


" Aku nggak durhaka sama Mamih, Mamih yang jahat sama aku!" Saling bantah dan saling serang terjadi antara mertua dan menantu saat itu juga.


" Duh Gusti, dosa apa saya punya menantu seperti kamu," sesal Mama Yoga.


" Ya Allah, mimpi apa Tata punya mertua seperti Mamih, mending punya mertua seperti Tante Melly, yang sayang sama aku." Natasha tak ingin kalah.


" Kamu membandingkan Mamih sama dia lagi? Apa sih hebatnya Si Melly itu?" Mama Yoga terlihat kesal dibandingkan dengan teman lamanya itu.


" Yang pasti Tante Melly nggak pernah membenci Tata, nggak pernah bersikap buruk ke Tata, nggak pernah galak sama Tata! Nggak seperti Mamih yang selalu membenci Tata! Hiks ... hiks ...."


" Ada apa ini? Kamu kenapa, Sayang? Kok, kamu nangis begini?" Yoga yang tiba-tiba muncul langsung menghampiri istrinya yang menangis tersedu.


" Mas ..." Natasha langsung bergelayut manja pada tubuh suaminya. " Mamih jahat sama aku, Mamih bilang aku pembohong, hiks ... Mamih bilang juga mau kutuk kamu jadi kodok, hiks ...."


" Ppfftt ..." Yoga menahan senyumnya demi mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Natasha. " Masa, sih, Mamih bilang seperti itu? Benar memang, Mih?" Yoga melirik Mamihnya yang terlihat hanya mendengus melihat kelakuan menantunya.


Natasha mengurai pelukannya. " Kamu juga nggak percaya sama aku? Kamu juga pikir aku pembohong, gitu?!" Natasha kembali merajuk.


" Bukan begitu, Yank. Ini pasti salah paham." Yoga kembali merengkuh tubuh istrinya yang tadi sempat menjauh.


" Nggak gitu, Yank." Yoga mengelak tuduhan sang istri.


" Awas, lepaskan ...!!" Natasha mendorong tubuh suaminya kemudian berlari menaiki anak tangga.


" Sayang, hati-hati ...!"


" Ta, jangan lari-lari ...!"


Yoga dan Mamihnya langsung berteriak saat melihat Natasha berlari.


" Kenapa dia jadi aneh banget, ya?" Yoga menggelengkan kepala mendapati sikap childish dari istrinya itu.


" Mamih pikir, sih, Tata beneran hamil, deh, Ga."


" Aamiin, mudah-mudahan, ya, Mih. Soalnya nggak biasa-biasanya dia bersikap kekanakan seperti itu." Yoga mengembangkan sedikit senyuman di bibirnya.


" Ya sudah, susul istrimu, sana." Mama Yoga menyuruh anaknya kembali ke kamar.

__ADS_1


" Test pack ini gimana, Mih?" tanya Yoga.


" Besok saja pagi-pagi kamu suruh istri kamu test, pas buang air kecil. Biasanya hasil urine saat bangun pagi lebih akurat hasilnya."


" Iya, Mi. Mamih mau roti bakar? Tata tadi minta dibelikan ini." Tangan Yoga menunjukkan bungkusan yang dibawanya.


" Mamih sudah kenyang, sana kamu kasih ke Tata saja."


" Ya sudah, Yoga ke atas dulu, ya, Mih." Pamit Yoga kemudian bergegas menghampiri kamarnya.


Yoga memutar knop pintu kamarnya, dia mendapati istrinya sedang duduk bersandar di punggung tempat tidur menikmati potato chips dengan menonton televisi. Yoga mengeryitkan keningnya, bukankah tadi istrinya itu menangis saat berlari ke kamar ini, kini istrinya itu tak terlihat sedang bersedih.


" Makan apa, sih? Kelihatannya asyik banget." Yoga menaruh kardus roti bakar dan bungkusan yang dia beli dari apotek di atas nakas.


" Mau apa kemari?!" tanya Natasha jutek. " Sudah puas lihat paha seksi sama dada montoknya?"


Yoga terkekeh mendapat jawaban dari istrinya kemudian merebahkan diri dengan posisi miring, bertopang pada sikunya. Tangan satunya ikut mengambil makanan ringan yang Natasha pegang.


" Jangan ambil punyaku!" Natasha menjauhkan kemasan potato chips di tangannya dari jangkauan Yoga.


" Minta dikit saja, pelit amat." Yoga pura-pura mencebik.


" Biarin ..." sahut Natasha dengan santainya.


" Oya, katanya kamu mau roti bakar, aku sudah belikan, coklat strawberry kesukaan kamu. Mau dimakan sekarang?"


" Nggak mau, makan saja sendiri." Natasha kemudian mendonggakan kepala dan mendekatkan mulutnya ke bungkus makanan ringan itu, sehingga seluruh sisa isi makanan itu berpindah ke mulutnya tanpa menggunakan tangan. Yoga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Natasha.


" Ambilkan tissue basahnya." Natasha memerintah.


Bukannya menuruti perintah Natasha, Yoga malah mengangkat tubuh Natasha hingga membuat istrinya itu memekik.


" Mau apa kamu, Mas?" tanya Natasha saat Yoga membawanya ke arah bathroom. " Mas, kamu jangan gila, ya! Ini sudah malam, aku nggak mau bercinta di kamar mandi!" tolak Natasha cepat.


Yoga menurunkan Natasha di dekat wastafel. " Aku cuma bawa kamu untuk cuci tangan, kenapa pikiran kamu sejauh itu, sih? Atau jangan-jangan kamu memang menginginkan kita bercinta di sini, hemm?" Yoga berbisik sambil mengigit cuping telingga Natasha hingga membuat darahnya berdesir.


Natasha menatap pantulan wajah suaminya yang sedang mengembangkan seringai tipis di bibirnya, membuat dirinya menahan salivanya, kesalahan kata yang diucapkannya tadi tanpa sengaja telah membangunkan macan tidur yang sedang terlelap.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Reading😘


__ADS_2