
Natasha benar-benar dibuat kelelahan pagi ini oleh suaminya, setelah semalam selepas pergumulan panas dia langsung terlelap, kali ini pun Yoga benar-benar tanpa ampun 'menghajarnya'. Natasha sendiri tak mengerti kenapa stamina suaminya itu seolah tak kenal kata lelah. Selepas membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat Shubuh, Yoga kembali menggiring tubuh istrinya ke atas tempat tidur, dan kembali melakukan penyatuan yang kini mulai menjadi candu untuknya.
Natasha terkulai dengan posisi tubuh tengkurap, dengan berbalut selimut hingga menutupi tengkuknya. Tubuhnya serasa tak bertulang, hingga membuatnya lebih memilih beristirahat di tempat tidur, dan tak memperdulikan saat ini suaminya itu ada di mana? Karena saat ini rasanya menjauh dari suaminya adalah hal terbaik.
Yoga yang baru masuk dari luar kamar tidurnya terlihat membawa nampan berisikan semangkuk bubur sup dan secangkir minuman teh hijau hangat. Dia menaruh nampan itu di atas nakas, lalu beranjak menghampiri istrinya yang masih tergolek di atas ranjang empuk miliknya, hanya rambutnya saja yang terlihat.
" Ta, ayo bangun, sarapan dulu, sudah hampir jam sembilan. tuh." Yoga mengelus lembut kepala Natasha, dia tahu jika istrinya itu kelelahan karena perbuatannya, karena itu dia sengaja membawa sarapan untuk Natasha ke kamar.
" Iihhh sanaaa ..." suara Natasha terdengar manja mencoba menghalau suaminya itu agar menjauh darinya.
Yoga terkekeh melihat tingkah manja istrinya. " Ayo buruan sarapan dulu, kalau nggak ... kamu yang aku jadikan sarapanku." Yoga memberikan ancaman kepada istrinya.
Natasha langsung beringsut dan menutup rapat semua tubuhnya hingga kepala.
" Ta, ayo cepat bangun, apa mesti mamih yang datang kemari membangunkan kamu?!" ucapan Yoga kali ini sukses membuat Natasha membuka selimutnya.
" Ini semua gara-gara kamu! Badanku sakit semua ..." Natasha mencebik.
" Besok-besok minum vitamin atau jamu, nanti tanya sama Mpok Ida, ya." Yoga terkekeh membuat Natasha kesal. Natasha pun teringat perkataan Mpok Ida yang pernah mengatakan jika dilihat dari postur tubuh Yoga yang besar, nafsunya juga besar dan kata-kata itu benar-benar telah terbukti sekarang.
Tok tok tok
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Dan Yoga segera berjalan ke arah pintu dan membukanya
" Punten den, Mamih Den Yoga miwarang bibi nyauran aden, piwarang lungsur ka handap." ( Maaf, Den, Mamih Den Yoga suruh bibi panggil Den Yoga suruh turun ke bawah.)" ucap Bi Enjum yang ternyata tadi mengetuk pintu kamar Yoga.
" Muhun, Bi. Engke abdi kaditu ..." (Baik, Bi. Nanti saya ke sana)" Yoga menyahuti.
Setelah bi Enjum pergi, Yoga pun kembali ke masuk ke kamarnya. " Ta, cepat ayo dimakan buburnya setelah itu kita turun ke bawah menemui mamih." perintah Yoga membantu menyuapi Natasha dan bersiap untuk menemui panggilan mamihnya itu.
***
__ADS_1
Sekitar lima belas menit berselang Yoga turun bersama Natasha. Yoga mencari keberadaan mamihnya yang ternyata saat itu berada di ruangan dry kitchen.
" Nah itu dia Prayoga!" seru Mama Yoga saat melihat kemunculan Yoga di sana. " Kasep kadieu, iyeu aya numilarian, saur na sono lami teu patepang. (Ganteng ayo kesini, ini ada yang mencari, katanya kangen lama nggak ketemu)"
" Rara?" sapa Yoga pada seorang gadis cantik berhijab yang berdiri di samping mamihnya.
" Kang Yoga, kumaha damang?" sapa gadis cantik itu berjalan ke arah Yoga lalu meraih punggung tangan Yoga dan mendekatkannya ke hidung gadis cantik itu.
Pemandangan tadi sontak membuat Natasha yang berjalan di belakang Yoga terkesiap. Dia menatap tajam wanita cantik yang terlihat akrab dengan Yoga itu, Siapa wanita itu? Dan apa-apaan tadi wanita itu mencium tangan suaminya, Dia saja yang istrinya melakukan hal itu cuma sekali, selepas ijab qobul. Seketika ketenangan hati Natasha terusik, apalagi saat melihat Mama Yoga terlihat akrab dengan wanita itu, mengingatkan keakrabannya dengan Tante Melly.
" Yoga, ini Rara bawakan nasi liwet kesukaan kamu, dia yang masak sendiri, loh. Enak masakan Rara ini, Mamih sering cobain, semua masakan Rara enak-enak, benar-benar calon menantu idaman, sudah cantik, baik, pinter masak, solehah ... kamu beruntung Prayoga kalau menikah dengan Azzahra," ucapan Mama Yoga membuat wajah gadis bernama Azzahra itu merona malu.
Sedangkan untuk Natasha ucapan Mama Yoga tadi ibarat belati yang mengoyak hatinya. Begitu teganya ibu dari suaminya itu memuji-muji wanita lain dihadapannya, Natasha benar-benar tidak dianggap menantu olehnya.
" Kamu apa kabar, Ra? Umi sama abi kamu sehat?" pertanyaan Yoga membuat mata Natasha membulat, dia merasa jika suaminya ini sama saja tidak memperdulikan perasaannya dan malah bersikap manis pada wanita itu.
" Alhamdulillah baik, Kang, abi sama umi juga sehat juga, alhamdulillah," tutur Azzahra dengan santun seraya mengembangkan senyuman manisnya.
Deg
Seketika wajah Azzahra memucat mendengar kata-kata Yoga yang mengenalkan seorang wanita cantik sebagai istrinya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan sakit, bola matanya seketika mengembun. Dia seakan tak percaya dengan kenyataan yang dihadapinya. Selama ini dia selalu menjaga hatinya hanya untuk pria yang ada di hadapannya, dan ternyata kini pria itu telah memilih wanita lain sebagai pendamping hidupnya. Tiba-tiba tubuh Azzahra terasa lemas.
" Natasha ..." Natasha mengulurkan tangannya.
" Azzahra ..." Dengan suara tercekat Azzahra menerima uluran tangan Natasha hingga kini saling berjabat tangan.
Mama Yoga yang melihat perubahan ekspresi pada diri Azzahra langsung bersuara. " Dia itu hanya istri siri, Ra. Jangan dianggap serius," ucap Mama Yoga sembari mengusap punggung Azzahra menenangkan.
Deg
Kali ini Natasha yang memucat, dia tak habis pikir salah apa dia terhadap ibu mertuanya itu sehingga begitu membencinya? Lagipula pernikahan dia dan Yoga juga bukanlah atas kemauannya.
__ADS_1
" Hmmm, kalau begitu Rara pamit dulu, Mih, Kang ..." Azzahra memutuskan untuk meninggalkan rumah orang tua Yoga karena dia tidak cukup sanggup untuk berlama-lama berada di sana.
" Loh, Kok buru-buru, Ra? Baru juga datang, katanya kangen sama Yoga. Kamu belum banyak ngobrol sama Yoga."
" Hmmm ... iya, Mih, Rara lupa tadi disuruh umi ke rumah Uwa Entin ..." ujar Azzahra beralasan.
" Iya sudah, kamu diantar sama Yoga saja pulangnya." Mama Yoga menyarankan Yoga untuk mengantar Azzahra pulang, sudah pasti Mama Yoga memberikan ruang agar Yoga bisa bersama Azzahra.
" Nggak usah, Mih. Biar Rara pulang sendiri saja." Azzahra menolak dengan halus.
" Sudah nggak apa-apa, kamu 'kan tadi ke sini ditinggal sama Mang Ucup, biar Yoga saja yang antar. Prayoga, cepat kamu antar Rara pulang!" perintah Mama Yoga tak ingin dibantah.
" Baik, Mih ..." Yoga menyetujui permintaan mamihnya membuat Natasha mendengus kesal. " Aku antar Rara dulu ya, Ta ..." pamit Yoga seraya mengecup lembut kening Natasha.
Perlakuan Yoga terhadap Natasha itu membuat Mama Yoga memalingkan wajahnya, sementara Azzahra wajahnya terlihat semakin menegang.
" Ayo, Ra..."
" I-iya, Kang .."
Azzahra pun berjalan mengekori Yoga yang berjalan di depannya dengan wajah menunduk, meninggalkan Natasha dan Mama Yoga berdua di sana.
*
*
*
Author POV : Mak² lebih penasaran ke siapa nih? Yang terjadi dengan Yoga-Azahra atau Natasha-Mamih Ellena?😁
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading😘