
Setelah memakan waktu panjang, akhirnya pesawat yang ditumpangi Lyra, Erick dan Siska mendarat di bandara John F Kennedy yang terletak di kota New York.
"Kak Siska ayo bangun kita sudah sampai," ujar Erick pelan.
"Aku lapar, ingin makan ayam goreng." Bukannya bangun, Siska justru mengigau lalu menjulurkan lidahnya menjilat tangan Erick.
"Iiih kak Siska jorok banget." Melepaskan tangannya dari genggaman Siska.
"Asin, wekkk!" Siska mengganti posisi tidurnya menjadi berbalik memunggungi Erick. Lyra terkekeh melihat tingkah dua orang tersebut.
"Siska bangun kita sudah sampai," ujar Lyra sambil menggoyang-goyangkan tubuh Siska. Namun tak kunjung direspon oleh Siska.
"Siska, Redro datang," ujar Lyra dan benar saja begitu mendengar nama Redro, Siska langsung terbangun dan segera bangkit dari tidurnya.
"Dimana Redro?" tanya Siska sambil merapikan rambutnya yang acak.
"Sudah! Sekarang bersiaplah sebentar lagi kita akan mendarat. Kita sudah berada di Amerika tahu," ujar Lyra.
Setelah mendengar aba-aba dari pramugari yang menggunakan bahasa inggris meskipun tidak tahu artinya tapi mereka mengerti dengan perkataan yang dimaksud oleh sang pramugari. Erick, Lyra dan Siska duduk sejenak menunggu jemputan sambil memegangi koper masing-masing.
Tiba-tiba Redro berlari menghampiri mereka. Ya, beberapa jam yang lalu, Erick diam-diam menghubungi Redro. Berniat memberikan kejutan kepada Siska.
"Siska!" teriak Redro.
Siska yang semula menyenderkan tubuhnya di kursi sambil menutup kedua matanya karena mengantuk pun terkejut dan bingung.
"Kenapa? Kamu-"
"Dasar bodoh. Kenapa tidak menghubungiku? Apa kamu lelah." Memeluk tubuh Siska hingga terperojok ke kursi. Erick dan Lyra sontak langsung tersenyum melihat adegan tersebut.
"Ehmmm, Beb bisa lepaskan pelukanmu aku tidak bernapas ini," ujar Siska.
"Oh maaf aku terlalu senang sekarang." Melepaskan pelukannya.
"Redro, pertama-tama kita antar kak Lyra ke apartemen Reyhan lalu antar aku ke hotel dan untuk kak Siska terserahmu saja. Itu bukan urusanku lagi," ujar Erick.
"Baik Tuan," jawab Redro sambil menundukkan kepalanya.
"Hei Erick perkataanmu sungguh kasar sekali. Kedengarannya kau seperti membuangku." Siska memelotot kesal.
"Sudah jangan bertengkar lagi ayo kita jalan," ujar Lyra sambil berjalan membawa kopernya.
****
"Wah ini apartemennya Reyhan ya? Mewah sekali." Siska menatap takjub.
"Permisi Nona, dikarenakan jam tamu sudah tutup. Saya hanya bisa mengantar Nona sampai di sini. Selanjutnya tugas mereka mengantar Nona. Bawalah ini dan pin kamarnya 3638," bisik Redro sambil memberikan sebuah kartu pengenal.
Lyra mengerti, para pegawai apartemen membawa Lyra masuk serta membawa kopernya. Dari awal masuk, Lyra dibuat takjub dengan ornamen-ornamen serta corak mewah yang terdapat di setiap sudut apartemen. Hingga tibalah mereka di depan apartemen pribadi Reyhan.
"Excuse me, sorry we just can get you here," ujar pegawai tersebut.
"I'ts okay. Thank you so much for helping me," ucap Lyra.
"No need to be so reluctant. That's our job," jawab pegawai tersebut lalu berjalan pergi.
__ADS_1
"Baiklah pertama-tama tunjukkan id card lalu masukkan pinnya dan...."
Tring!!!
Pintu terbuka dengan segera Lyra masuk serta memboyong kopernya.
"Wah besar sekali." Lagi-lagi Lyra dibuat takjub dengan ornamen-oramen beserta dinding yang bercorak Eropa klasik.
"Kamar Reyhan dimana ya?" berjalan masuk mulai menjajari setiap ruangan mencari kamar Reyhan.
"Dari semua ruangan hanya ini yang terkunci, sepertinya ini kamar Reyhan dan sepertinya aku harus tidur di ruang tamu. Kalau aku bangunkan kasihan dia nya pasti sangat lelah belum lagi besok dia sudah harus bekerja. Baiklah Lyra! Ayo kita tidur." Berbaring di atas sofa panjang yang berwarna cream.
****
Pagi pun tiba, Reyhan terbangun dari tidurnya. Dengan segera ia bangkit dari tidurnya dan langsung mengecek ponselnya yang akhirnya membuatnya kecewa karena tidak ada tanda-tanda Lyra menghubunginya.
Dengan perasaan galau ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan sangat lesu. Beberapa menit kemudian ia pun keluar dari kamar dengan handuk di bahunya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin.
"Lyra benar, dalam segi apapun aku memang terlihat tampan. Tapi sekarang itu tidak penting. Karena tampan tidaknya seseorang, bagi Lyra aku tidak terlalu spesial hanya aku yang terlalu tergila-gila padanya," gumam Reyhan lalu meletakkan kembali handuknya ke tempat semula.
Sebenarnya hari ini adalah hari liburnya namun Reyhan tidak memiliki alasan lain untuk berdiam diri di dalam apartemen besar yang tidak berpenghuni. Oleh karena itu, ia memilih pergi ke perusahaan dan mengadakan rapat dadakan.
Reyhan pun memakai setelan kemeja serta merapikan rambut. Tak lupa ia menyemprotkan sedikit parfume yang membuat penampilannya semakin sempurna.
Kruk!!!
Gemuruh yang berasal dari perut Reyhan menandakan bahwa ia sedang lapar.
"Aah lumayan sakit sekali. Karena larut memikirkan Lyra aku bahkan tidak memakan apapun. Reyhan kau benar-benar gila," gumamnya lalu keluar dari kamar.
Tiba-tiba suara benda jatuh mengagetkannya.
Apa itu? Bukankah bik Na sudah berada di tempat mama? Apa itu Redro atau.... Batin Reyhan sambil berjalan ke dapur arah suara itu berasal.
Sesampainya di dapur alangkah terkejutnya Reyhan mendapati Lyra pontang-panting bertempur dengan masakannya. Sejenak ia berpikir itu hanya ilusi, karena tidak mungkin Lyra mendatanginya.
Akan tetapi, ia tetap melangkahkan kakinya mendekati Lyra.
"Ah terkejut aku, sayang kamu sudah bangun," ujar Lyra memelotot kaget. Bukannya menjawab Reyhan justru menyentuh pelan pipi Lyra.
"Apa yang kamu lakukan, kamu pasti lapar. Duduklah dulu, sarapannya sebentar lagi akan masak. Aku membuatkanmu nasi goreng," ujar Lyra sambil tersenyum.
"Ka-kamu Ly-ra kenapa....?" Terdiam memandang sendu seolah tidak percaya.
Tiba-tiba aroma bawang putih menyeruak ke hidung Reyhan membuatnya tersadar bahwa Lyra yang berada di depannya memang nyata adanya.
"Hmmm harumnya." Lyra berjalan mengambil nasi goreng dan meletakkannya di atas piring.
Tiba-tiba Reyhan menahan tubuhnya memeluknya dari belakang. Mereka berdua seketika membatu.
"Ka-kamu kenapa?" tanya Reyhan dengan suara serak serta terbata-bata.
__ADS_1
"Sayang maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu linglung aku hanya ingin memberimu kejutan. Sebenarnya aku memang tidak hebat dalam hal ini tapi aku tetap melakukannya. Dasar bodohnya aku," kata Lyra sambil tersenyum malu.
"Tidak, kamu berhasil aku sangat terkejut." Membalikkan tubuh Lyra ke arahnya.
"Benarkah terima kasih!" Tersenyum senang.
Reyhan mendekatkan wajahnya dan meraih bibir Lyra mengulumnya dengan cukup ganas. Dia sangat agresif dan Lyra mengerti itu dan menerima permainan dari suaminya.
Reyhan menggendong tubuh Lyra dan meletakkan tubuh wanita itu di atas ranjangnya dan melanjutkan permainannya. Kali ini ciuman itu beralih ke leher Lyra sementara itu istrinya hanya bisa pasrah dan sesekali mengeluarkan suara erangan dari bibirnya menikmati setiap kecupan yang Reyhan lakukan pada tubuhnya.
Namun tiba-tiba...
Kruk!!!
Suara gemuruh yang berasal dari perut Reyhan pun muncul kembali sontak membuat Lyra tertawa merasa lucu belum lagi ekspresi Reyhan yang malu.
"Sayang kita sarapan dulu yuk. Nanti kita lanjutkan lagi waktu masih panjang." Menatap Reyhan lalu mengecup kening suami kecilnya itu.
***
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Lyra merasa risih dengan tatapan Reyhan kepadanya.
"Kemarin kamu mengabaikan aku? Apa alasanmu?" tanya Reyhan tanpa mengedipkan matanya sedetik pun.
"Kamu yang mengabaikan aku duluan. Aku hubungi tidak diangkat, kirim pesan tidak dibalas. Sampai segitu marahnya padaku." Menatap Reyhan dengan tajam.
"Aku merasa kamu lebih mementingkan orang lain dibandingkan aku. Penampilanmu sangat luar biasa jauh berbeda saat denganku." Mengalihkan pandangannya.
"Makanya aku kemari untuk menyerahkan diri untukmu. Berilah aku hukuman yang asal itu bisa menghapus kemarahanmu terhadapku," jawab Lyra sambil mengunyah makanannya.
"Foto yang kamu kirim kemarin itu, apa kamu memakainya di luar kamar?" tanya Reyhan.
"Kalau aku bilang "iya" apa kamu percaya?" tanya Lyra.
"Aku tidak tahu."
"Sayang, aku bukan orang yang seperti itu memamerkan setiap lekuk tubuhku. Karena selain aku, kamu sudah menjadi pemiliknya."
"Benarkah? Jadi aku bisa melakukan apapun padamu." Memasang tatapan nakal.
"Bukankah kamu sudah sering melakukannya." Mengalihkan pandangannya.
"Kita lihat saja nanti." Tersenyum senang.
"Tapi tunggu dulu aku sangat penasaran dengan 15, sebenarnya apa maksudnya?" tanya Lyra menatap serius.
"Itu...."
BERSAMBUNG....
Terima Kasih Sudah membaca. Jangan lupa like, komen ya. Maaf up nya lama dan terima kasih karena telah menjadi readers setia. Hug for you guys.
__ADS_1