
Reyhan menatap roti tawarnya yang gosong, sementara itu, Lyra sedang memperhatikannya dengan tatapan tajam.
"Tunggu apa lagi? Cepat dimakan. Sebentar lagi, Redro akan tiba. Kamu enggak mau 'kan dia lihat bos angkuhnya ini sedang makan roti gosong," ujar Lyra.
Reyhan hanya bisa diam, ia tidak bisa berbuat apapun karena itu ulah dia sendiri.
Flash Back/ Beberapa menit yang lalu.
"Ah benar-benar kosong, karena kehebohan di mall kemarin kami tidak bisa belanja apapun," gumam Lyra sambil menatap kulkas yang tak berpenghuni.
Ia pun menoleh ke arah meja makan yang di atasnya ada 3 lembar roti tawar.
"Panggang pakai teflon, rasanya lumayanlah. Daripada perut kosong." Dengan segera Lyra menghidupkan kompor listrik, diambilnya 3 roti tersebut lalu dipanggangnya dengan menggunakan teflon.
"Ah, Rey kamu mengagetkanku!" teriak Lyra kepada Reyhan yang memeluknya dengan tiba-tiba dari belakang.
Reyhan mencium sela-sela leher Lyra tanpa berpikir bahwa istrinya itu sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya.
"Sayang, pergi mandi sana habis itu sarapan ya," ujar Lyra lembut berharap Reyhan segera menyingkirkan serangannya dari leher Lyra.
Bukannya bergegas, Reyhan semakin agresif kepada tubuh mungil Lyra. Kali ini semakin menjadi-jadi, tangan Reyhan mulai menjalar ke bukit kembar Lyra membuat wanita itu mengerang hebat, terkejut sekaligus merasa geli.
Lyra segera membalikan tubuhnya hingga membuat wajahnya bertemu dengan wajah bantal Reyhan.
"Sayang, mandi dulu ya. Walaupun kamu bos-nya usahakan datang tepat waktu karena-"
Belum selesai Lyra bicara, bibir Reyhan langsung menyerang bibirnya membuat wanita itu bungkam seketika. Tak tahan dengan sikap agresif Reyhan terhadap bibirnya, Lyra pun menggigit pelan bibir suaminya itu.
"Ah! Lyra kamu-"
"Sudah gosong!" teriak Lyra sambil menunjukkan 3 buah roti bakar di atas teflon.
FLASH BACK OFF
Reyhan menatap sendu pada Lyra yang sedari tadi memelotot kesal ke arahnya. Kesal dan marah tak bisa Lyra bendung, bagaimana tidak matahari baru saja terbit Reyhan sudah menyerang tubuhnya yang masih perlu tenaga 100 persen itu.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Lyra sambil melipat kedua tangannya.
"Enggak enak," jawab Reyhan singkat.
Lyra tertawa pelan melihat suaminya bertingkah seperti anak kecil.
"Kenapa jadi terlihat imut sih," ujar Lyra merasa enggak tega.
"Boleh enggak sarapannya diganti saja? Aku butuh perbaikan gizi," jawab Reyhan sambil menjauhkan roti gosong tersebut dari hadapannya.
Lyra terlihat kebingungan memikirkan permintaan Reyhan yang meminta mengganti sarapannya sedangkan mereka hanya memiliki stok roti di kulkas dan itu pun sudah tidak layak dimakan.
"Sayang, kamu mau minta apa? Kulkas itu tidak memiliki apa-apa untuk dimakan jadi-"
"Aku butuh tubuhmu," jawab Reyhan spontan.
Lyra terdiam matanya memelotot seakan tersentak dengan jawaban Reyhan barusan.
__ADS_1
"Bisakah kamu memberikannya?" tanya Reyhan dengan tatapan polos.
"Tapi, Rey kita hampir tiap jam melakukannya. Dan ini masih pagi, kalau kamu minta lagi apa enggak aneh maksudku kamu seperti hypersex," jawab Lyra.
"Aku, hypersex?" tanya Reyhan.
"Aku bilang seperti, tapi kalau terlalu sering aku rasa kamu-"
"Lyra, mungkin aku yang terlalu membutuhkanmu jadi kamu beranggapan aku berlebihan dalam batin. Akan tetapi perlu kamu ketahui aku selalu merasa bernafsu bertemu denganmu merasa ingin selalu menyatu denganmu. Tidak disangka kamu justru tersiksa. Maafkan aku, selalu memaksamu. Aku akan memeriksanya ke dokter kalau perlu untuk menghilangkan nafsu birahiku selamanya," jawab Reyhan sambil beranjak pergi.
Dan dia pun marah. Ah! Bukannya senang membujuk suami kecilku ini. Lyra kali ini kau harus benar-benar bekerja keras. Batin Lyra sambil mengejar Reyhan yang sudah berada di dalam kamar.
Reyhan menanggalkan piyama yang sedari tadi melekat di tubuhnya, lalu menghidupkan shower menikmati percikan air yang membasahi tubuhnya.
Lyra, pernikahan ini. Apa kamu benar-benar menghendakinya dengan tulus atau hanya karena aku Reyhan Almirza yang tampan dan kaya. Aku begitu mencintaimu tapi bagaimana denganmu? Batin Reyhan bergumam.
Beberapa menit kemudian, Reyhan pun keluar. Ia melihat Lyra yang sedari tadi menunggunya.
Apakah ini tulus atau palsu? Tidak, kali ini aku tidak akan terkecoh. Batin Reyhan yang langsung membuka lemari mengeluarkan setelan jas untuk ia kenakan.
"Sayang, aku-"
"Maaf saya sedang sibuk," jawab Reyhan dengan sinis dan bahasa formal.
Lyra tersenyum, ia memperhatikan wajah Reyhan yang mengeluarkan kerutan-kerutan halus, wajah kesal namun terlihat imut di mata Lyra.
"Sini aku pakaikan," ujar Lyra hendak menyentuh dasi Reyhan.
"Saya bisa sendiri," jawab Reyhan sambil menepis tangan Lyra.
Di sinetron-sinetron biasanya pengusaha itu akan mengaku lembur padahal selingkuh kalau enggak akan pergi ke klub malam sambil ditemani perempuan panggilan. Tapi Reyhan sepertinya tidak akan..., kenapa aku jadi ragu! Batin Lyra.
Reyhan beranjak keluar dari kamar dan segera Lyra mengejarnya.
"Bolekah aku ikut menginap di sana?" tanya Lyra sambil memeluk Reyhan dari belakang.
"Untuk apa? Maaf saya butuh sendiri dulu." Reyhan melepaskan tangan Lyra.
"Apa kamu akan berdua dengan wanita lain?" tanya Lyra.
Reyhan menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Lyra dengan wajah memelas.
"Sepertinya itu ide bagus, aku ingin tahu mencoba melatih diriku agar tidak bergantung kepada satu wanita saja. Karena aku tidak ingin menyiksa wanita itu. Terlebih lagi aku masih muda dan kaya perjalananku masih panjang jika hanya mengandalkanmu, bukankah aku yang rugi? Uang banyak tapi tidak dipergunakan," ujar Reyhan sambil tersenyum sinis.
"Aku tahu kamu marah, aku bukannya bermaksud menolakmu tapi aku hanya menasehatimu agar kamu-"
"Sudah jangan dibahas lagi, itu sudah tidak penting. Masih banyak yang harus aku urus," jawab Reyhan.
"Reyhan Almirza, pernikahan kita baru seumur jagung haruskah aku mengajukan cerai untuk yang kedua kalinya?" Lyra benar-benar menyerah hingga tidak sadar membahas hal yang sangat ingin ia hindari itu.
Pikirannya benar-benar buntu kalau sudah beradu mulut dengan suami kecilnya itu.
Reyhan tersenyum, ia pun berjalan ke arah Lyra. Pandangannya kali ini terlihat teduh.
__ADS_1
"Apa aku berharga bagimu? Aku hanya ingin menyentuhmu, tapi kamu menuduhku hypersex. Aku ingin dekat dengan wanita lain tapi kamu mengancamku dengan kata perceraian. Tatap aku Lyra, apa aku tidak benar ada di hatimu? Atau kamu melakukan semua ini karena aku kaya baru kamu menyukaiku?" tanya Reyhan.
Lyra tidak menjawab, ia berjalan menuju dapur. Reyhan menjatuhkan tubuhnya tidak percaya dengan sikap Lyra yang memilih mengabaikannya.
Hah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia tidak menyukai aku. Aku tidak pernah ada di hatinya. Reyhan kau sangat menyedihkan. Batin Reyhan sambil menyandarkan tubuhnya ke sudut dinding.
Lyra kembali dengan sebilah pisau di tangannya membuat Reyhan segera bangkit dari duduknya menatap istrinya yang nekat.
"Aku bukanlah tipe orang yang suka berkoar-koar mengatakan bahwa aku mencintaimu, tapi bukan berarti aku tidak mencintaimu. Kamu pernah bilang kalau pertemuan kita ini adalah pertanda kita jodoh. Tapi apa yang membuatmu ragu?" tanya Lyra.
"Disekap dan dicambuk Feronica, hampir diperkosa Fero dan dipaksa menikah oleh Fardan. Pernakah kamu berpikir kenapa aku masih bisa bertahan dari perlakuan kejam mereka Rey. Karena Tuhan menginginkan kita yang berakhir bahagia. Kamu yang selalu memaksaku menikah muda tapi kamu juga yang selalu memaksaku mengucap kata pisah. Kalau berpisah membuat kamu bahagia tanpa aku baik akan aku kabulkan. Aku akan pergi selamanya agar kamu bahagia selamanya. Bahagialah Rey, tidak ada lagi yang menyiksamu dan selamat tinggal." Lyra menusuk pisau tersebut ke perutnya dengan segera Reyhan menyingkirkannya.
"Kamu, apa kamu sudah gila!" teriak Reyhan.
Lyra terdiam, ia menatap tangan Reyhan yang sudah mengeluarkan darah karena merebut pisau tersebut dari tangannya. Darah tersebut mulai berceran di lantai segera Lyra mengambil perban dan betadine.
Lyra menarik Reyhan untuk duduk di atas lantai lalu membalut luka Reyhan dengan pelan. Reyhan memperhatikan Lyra dengan dalam, ia tidak menyangka masalah kecil tadi berakhir hebat seperti ini.
"Apa masih sakit?" tanya Lyra lembut.
Reyhan mengangguk pelan.
"Sabar itu akan segera sembuh," jawab Lyra.
Reyhan meraih tangan Lyra lalu meletakkannya di bagian luar hatinya.
"Ini sakit, sangat sakit karena pemiliknya sudah menyakiti orang yang ia cintai," ujar Reyhan membuat Lyra terdiam.
"Bisakah kamu mengobatinya dengan kata maaf. Tolong ini sangat menyiksaku," ujar Reyhan lagi, memasang tatapan dalam.
Lyra mengangguk pelan membuat Reyhan segera memeluknya.
"Maafkan aku yang terlalu kekanakan selalu memaksamu mengatakan cinta padaku meskipun aku tahu kalau kamu mencintaiku. Maafkan aku yang selalu memaksamu untuk melayaniku yang terobsesi dengan tubuhmu." Reyhan melontarkan berbagai kata maaf yang menurutnya telah menyiksa Lyra.
Lyra melepaskan pelukannya dengan segera ia mengecup kening suaminya itu. Membuat warna blush muncul di kedua pipi suami tampannya itu.
"Sudah jam berapa ini? Kenapa Redro tidak datang juga," ujar Reyhan sambil mengalihkan pandangannya. Ya, bocah 18 tahun itu sedang malu.
"Dia sedang ada urusan jadi untuk hari ini dia cuti. Tadi waktu kamu mandi, dia mengirim email," jawab Lyra.
"Kenapa kamu enggak bilang dari tadi? Sengaja ya," ujar Reyhan.
"Tadi aku lupa jadi hari ini kamu juga enggak usah kerja. Kerja denganku saja," jawab Lyra.
"Kerja denganmu?"
"Iya, ayo! Bukankah kamu sudah mandi. Sekarang juga layani aku sudah tidak bisa menahannya." Mulai membuka kancing kemeja Reyhan.
"Tidak! Maksudku jangan disini. Lyra berhenti jangan buka celanaku!" teriak Reyhan.
Dan waktu itu tepat pukul 08.50. Setelah menghadapi kisah dramatis yang cukup panjang akhirnya berakhir manis di atas ranjang sebagai pemecah masalah.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca maaf akhir-akhir ini jarang up karena banyak kerjaan yang menumpuk šš