
"Selamat pagi Bik Sum?" sapa Reyhan ramah.
"Pagi Den." Menjawab sapaan Reyhan sambil tersenyum.
"Apa menu sarapan hari ini?" tanya Reyhan.
"Tadi nyonya minta bubur ayam Den," jawab bik Sum.
"Dia sudah turun?" tanya Reyhan lagi.
"Iya, tapi naik lagi Den nyonya berpesan agar sarapannya dibawa ke atas." Menatap sedih.
"Oh, kalau begitu buatkan aku nasi goreng." Mengalihkan pembicaraan berpura-pura tidak peduli.
"Baik Den." Mengangguk mengerti.
Reyhan meraih ponselnya, lalu mulai memainkannya tampak beberapa pesan dari Lyra untuknya.
Terima kasih untuk bunganya, suratnya dibaca besok saja aku mulai lelah selamat malam dan semoga mimpi indah.
"Aku tidak membalas pesan darinya. Hah karena tadi malam aku disibukkan dengan masalah yang rumit." Mengusap kasar rambutnya.
Tiba-tiba kejadian tadi malam terbayang jelas di pikiran Reyhan yang semakin membuatnya merasa menyesal.
FLASH BACK
Setelah memastikan mobilnya di dalam bagasi, Reyhan yang sudah lelah membawa Lyra fitting gaun serta mencari cincin berencana membaringkan tubuhnya mengumpulkan tenaga untuk hari-hari selanjutnya. Akan tetapi, saat dia hendak melewati ruang tengah tiba-tiba...
"Reyhan." Suara khas Marta mengejutkan Reyhan.
"Ada apa?" tanya Reyhan.
"Boleh bicara sebentar. Ini nggak akan lama kok." Menunjuk ke arah sofa di hadapannya.
Tanpa ragu sedikitpun, Reyhan berjalan mendekat ke arah Marta dan duduk di sofa yang Marta tunjuk tadi.
"Hmmm, apa kamu baru mengunjungi Lyra?" tanya Marta pelan.
"Iya," jawab Reyhan singkat yang membuat Marta bahagia karena tidak ada lagi yang ia harapkan dari anak kulkasnya itu.
Sambil tersenyum Marta bertanya, "Apa kamu sudah makan?"
Reyhan menggelengkan kepalanya pertanda tidak.
Seperti kehabisan kalimat mulut Marta terkunci seketika, meski matanya terlihat santai tapi otaknya sedang berputar keras untuk pembicaraan selanjutnya. Karena dibandingkan ratusan klien yang ia temui Reyhan-lah pemecah rekor sebagai klien yang paling sulit untuk ia hadapi.
"Apa hanya itu yang mau dibicarakan?" tanya Reyhan membuat Marta berhenti berpikir.
Dia tidak memanggilku kata "Anda" lagi, apa dia sudah berubah menjadi Reyhanku yang dulu. Batin Marta merasa tersentuh.
"Jika tidak ada hal yang mau dibicarakan lagi, kalau begitu aku pamit dulu." Mulai bangkit.
"Bagaimana dengan pamannya Lyra, apa dia masih-"
Perkataan Marta terhenti setelah melihat tatapan tajam Reyhan. Seketika ia merasa bersalah mengingat hubungan yang tidak baik antara paman Lyra dengan putranya itu.
"Dia sudah setuju, terima kasih." Tetap dalam tatapan tajam.
"Terima kasih untuk apa?" Mengalihkan pandangannya, merasa malu begitu ia mendengar anak tampannya mengucapkan terima kasih.
"Saya tahu semuanya, berawal mendatangi keluarga paman Lyra dan mencoba menjelaskan yang sesungguhnya terjadi serta memohon restu untuk saya dan Lyra. Jadi, saya harap jangan pernah merahasiakan apapun, karena saya akan tahu."
Dan aku tahu juga tentang keadaan penyakitmu. Batin Reyhan.
"Maaf bukannya aku mau mencampuri-"
"Tidak perlu minta maaf, lakukan saja semua yang ada di benakmu. Aku sudah tidak peduli lagi." Bangkit dari duduknya lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Air mata Marta seketika jatuh, ia tidak bisa membendung kebahagiaannya setelah mendengar kalimat "tidak peduli" dari Reyhan yang bermaksud lain "Mendukungnya" ia tahu betul sifat anak tunggalnya itu.
KEMBALI KE DUNIA NYATA.
Aroma nasi goreng yang terletak di hadapannya menyeruak seolah menari-nari di hidungnya, menyadarkan lamunan tadi.
"Lho, buburnya biar saya saja yang bawa ke atas. Bibi istirahat saja pasti sudah capek, kan." Mencegah bik Sum yang hendak menaiki tangga menuju ke kamar Marta.
"Tapi, Den bibik masih kuat kok dan lagipula ini kerjaan bibik." Mencoba memancing ekspresi gengsinya Reyhan.
"Saya bilang, saya saja Bibi istirahat saja oke." Berjalan mendekati bik Sum dan mengambil nampan yang terdapat sepiring bubur ayam serta susu di atasnya.
"Itu nasi gorengnya bagaimana Den?" Menunjuk ke arah meja makan.
"Itu masalah gampang. Ingat untuk istirahat saya ke atas dulu." Tersenyum lalu menaiki anak tangga.
"Den-den gengsian mulu jadi orang," gumam bik Sum lalu beranjak pergi.
***
"Iya Jose, saya tahu tapi kebahagiaan anak saya lebih penting. Saya tidak mau dia tahu tentang penyakit saya. Kau tahu Jose dia akan menikah sebenarnya aku cemburu karena akan ada perempuan lain yang menggantikan posisiku di hatinya tapi ya sudahlah! Aku hanya bisa memberi restu dia perempuan yang baik dan sopan. Dia pantas menemani masa depan Reyhan yang akan datang dan mungkin disaat itu aku sudah tidak ada lagi di dunia ini." Memegang ponselnya yang terhubung dengan sekretarisnya dari Amerika.
"Baiklah Jose, kau aturlah pekerjaan di sana. Jika, masalah disini sudah selesai aku akan kembali ke sana, kalau masalah pengangkatan Reyhan sudah tidak aku pikirkan lagi. Dia tahu yang terbaik untuknya aku sudah melihat jelas Reyhan kecilku sekarang berubah menjadi dewasa dan hebat. Aku bangga, kalau begitu sudah dulu ya, sebentar lagi sarapanku akan tiba, bye." Memutuskan panggilan teleponnya. Lalu menyeka air matanya yang sedari tadi ia tahan untuk menyembunyikan kesedihannya.
Tok! Tok!
"Ya, silahkan masuk!" teriak Marta, karena kamarnya sedikit kedap suara, akhirnya ia memutuskan membukanya sendiri. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sosok Reyhan dengan nampan berisikan sarapan pagi pesanannya.
Marta segera merapikan rambut sebahunya yang terlihat acak sangat jauh berbeda dari biasanya.
"Rey, kenapa kamu yang bawa makanannya? Dimana bik Sum?" tanya Marta lembut.
"Bik Sum sudah tua. Di usia senjanya pasti tulangnya akan gampang remuk. Jadi, untuk selanjutnya maupun itu sarapan atau semua yang berhubungan dengan makan turunlah ke ruang makan meskipun kamar ini seluas restoran, ruang makan keluarga jauh lebih indah." Meletakkannya di atas meja makan yang tersedia di kamar Marta. Ya, kamar Marta memang sangat luas bahkan di luar balkonnya terdapat kolam pribadinya, itulah hasil desain dari Reygan Almirza, suami Marta, papanya Reyhan.
"Kemarilah," ujar Reyhan sambil duduk di kursi meja makan tersebut.
Marta yang terheran-heran dengan perilaku Reyhan terlihat bingung dimulai dari Reyhan mengantar sarapan serta menyuruhnya duduk di sana. Akan tetapi, ia mengikuti perintah anaknya itu, ia berjalan mendekati Reyhan yang sedang mengaduk-aduk sarapannya.
Marta yang masih terheran-heran pun duduk di hadapan Reyhan dengan mata yang tak berkedip seakan terhipnotis dengan perlakuan manis Reyhan.
Reyhan menggeserkan kursinya hingga begitu dekat di depan Marta.
"Makanlah." Menyodorkan sesendok bubur hangat yang sudah dihembusnya.
Marta pun membuka mulutnya, mempersilahkan sendok yang berisi bubur hangat itu masuk, matanya berkaca-kaca dengan perilaku Reyhan padanya.
"Minggu ini aku akan menikah aku tidak mau melihat tubuh kurusmu itu mengganggu di pemotretan nanti." Terus menyodorkan sesendok bubur lagi dan lagi.
"Apa aku terlihat sangat kurus? Dibandingkan aku, Lyra jauh lebih kurus." Tersenyum senang.
"Dia berbeda karena dia masih gadis, tapi kalau sudah melahirkan pasti akan berbeda." Memberikan Marta minum.
Marta berdehem. Ia begitu canggung.
"Rey apa maksud dari tingkah lakumu ini?" Mencoba bertanya serius.
"Tidak ada maksud apa-apa, bagiku ini wajar bagi seorang anak terhadap ibunya." Menghembus bubur yang berada pada sendok.
"Jadi maksud kamu, kamu mulai memaafkan aku atas semua perlakuanku?"
"Tidak secepat itu, tapi aku sedang berusaha. Jadi, mohon kerja samanya."
Marta tersenyum karena lagi-lagi sifat gengsi Reyhan membuatnya bahagia.
"Aku sudah pesankan Chang Hi untuk membawa jenis cincin desain Fatamorgana untuk pernikahan. Aku harap jam satu nanti turunlah. Tolong bantu aku memilihkan cincin, seingatku memilih perhiasan adalah keahlianmu." Menatap sendu.
"Iya, baiklah, tentu, dengan senang hati." Tertawa senang.
__ADS_1
"Karena sarapanmu sudah selesai istirahatlah aku akan keluar." Membawa nampan dengan piring serta gelas yang sudah kosong.
"Rey."
Reyhan berhenti lalu menoleh ke belakang.
"Terima kasih, sarapannya enak." Tersenyum senang.
Reyhan menganggukkan kepalanya sekali, lalu berjalan keluar.
"Ah kenapa aku seperti sedang berbunga-bunga kepada anakku sendiri ya. Ah ini sangat indah setelah sekian lama akhirnya sikap hangatnya kurasakan juga." Menyeka air matanya.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Ra, kenapa matamu memelotot seperti itu?" tanya Siska.
"Ini Sis, Reyhan menyuruhku datang ke rumahnya untuk memilih cincin mau temani aku tidak?" Mengerutkan dahinya merasa bingung.
"Nggak ah, aku malu Ra. Reyhan sudah dengar curhatan aku di radio tadi malam dan sekarang malah jumpa dengannya nggak kebayang aku Ra sama ekspresinya." Siska menggeleng menolak.
"Haah iya juga ya jadi dilema nih." Menghela napasnya .
"Lagian kenapa sih kamu takut. Seperti baru pertama kali kesana, kamu sudah pernah lho nginap di rumahnya ya. Meskipun nggak berbuat apa-apa sih." Melirik sambil tersenyum menyindir pada Lyra.
"Iyalah yang ciuman sama Redro, bangga banget kayaknya." Menyandarkan tubuhnya.
"Ah itu memalukan sekali tahu. Aku jadi ingat masalah radio tadi malam, huh sebal aku." Menepuk-nepuk bantal yang ada di tangannya.
"Heleh tapi senang kan? Saking senangnya pake curhat segala sama radio, keren memang kamu Sis." Tersenyum menyindir.
"Yah Lyra lagi-lagi cerita itu." Mengerutkan dahinya kesal Lyra yang terus-menerus mengejeknya.
Lyra memegang surat yang terdapat pada amplop lalu membukanya hendak membaca isi surat tersebut.
"Cie-cie surat dari Reyhan ya, sweet banget sih hari gini dapat surat!" seru Siska.
"Haah." Lyra menghela napasnya sebagai ekspresi wajahnya setelah membaca surat tersebut.
"Ada apa?" tanya Siska.
"Ini kamu baca sendiri." Memberikan surat tersebut.
Aku tidak bisa merangkai kata-kata romantis,
aku hanya mau mengucapkan selamat malam
mimpilah yang indah.
Reyhan.
"Hahaha! Kamu rela menunggu pagi hanya untuk membaca ini." Tertawa mengejek.
"Entahlah, untuk seorang Reyhan apalagi yang aku harapkan." Menahan kekesalan.
"Tapi Ra, Reyhan itu tipe yang tak banyak mengumbar kata-kata manis tapi banyak melakukan hal-hal manis bukannya yang seperti itu jauh lebih baik daripada kebanyakan menggombal." Mencoba meredamkan kekesalan Lyra yang sudah di ujung tanduk.
"Hmmm kamu benar Sis, dia memang lebih banyak bertindak manis untukku harusnya aku bersyukur bukan?" Tersenyum senang.
"Nah gitu dong, dewasa sedikit atuh Neng semenjak pacaran sama berondong, tingkat kedewasaanmu berkurang kalian ini seperti sedang bertukar jiwa hahaha." Mengejek Lyra.
"Dan kisah cintamu lebih membingungkan hahaha kamu terlalu agresif Siska." Tak mau kalah.
"Biarin, yang penting sekarang sudah aman." Tertawa bahagia.
BERSAMBUNG....
Terima kasih sudah baca, maaf up nya lama, reviewnya lama cuy. Luv u Readers jangan lupa hujatannya.
__ADS_1