MY BERONDONG

MY BERONDONG
MENCARI LYRA (2).....


__ADS_3

"Redro, kemarikan alat deteksi signal rendah,"


perintah Reyhan.


Lelaki yang bernama Redro pun maju dengan badan tegap dan postur tubuh yang lebih tinggi dibandingkan


dengan Reyhan memakai kacamata serta memakai setelan jas hitam yang rapi.


Alamak tampannya, yang kayak gini kenapa enggak jadi artis saja sih pasti banyak fansnya. Batin Siska dengan mata terbelalak tak berkedip.


"Lu punya temuan baru kagak bilang-bilang ke gua Rey, parah lu," ucap Erick.


"Hmm, ini tuh beda sama cewek tahu enggak. Bahkan aku jelasin 100 kali pun kamu enggak bakal mengerti," jawab Reyhan.


"Ah cewek juga pasti begitu kali, termasuk Lyra eh kak Lyra maksud gua," ledek Erick.


"Dia berbeda dengan yang lain hanya saja aku yang masih kurang mengerti dia," jawab Reyhan.


Ah si Lyra beruntung banget dapetin ini berondong terharu aku kalau sudah ketemu nanti akan ku ceritakan. Jadi enggak sabar sama ekspresinya. Batin Siska.


Reyhan menghidupkan alat pendeteksi signal tersebut ketika ia memencetnya alat pendeteksi mengeluarkan bunyi pelan.


"Pertanda apa Rey kok kayak suara ponsel yang kehabisan batrai gitu?" tanya Erick.


"Tandanya lokasinya samar-samar karena tempat itu sangat terpencil," jelas Reyhan sambil memencet kembali alat tersebut.


"Bagaimana kalau lapor polisi saja biar cepat prosesnya?" tanya Siska.


"Itu tidaklah mudah karena mereka akan bungkam juga akhirnya," jawab Erick.


"Jadi menurut kalian ini ulah Feronica itu ya?" tanya Siska.


"Kami hanya sekedar berpendapat sepertinya ini ulahnya jujur kami baru turun tangan sekarang karena ini menyangkut nyawa kak Lyra," jawab Erick lagi.


"Jadi maksud kamu sebelumnya kalian tidak pernah peduli dengan apa yang dialami korban lain sebelumnya?" tanya Siska dengan pandangan serius.


"Karena Reyhan masih menganggap Fero kakaknya Feronica sebagai sahabatnya jadi dia pura-pura tidak peduli," jawab Erick.


"Sempat ketemu sama si Feronica itu akan ku cabik-cabik dia," kata Siska.


Tit! Tit! Tit!


Alat pendeteksi tersebut mengeluarkan suara keras.


"Kenapa? Sudah ketemu lokasinya ya?" tanya Erick dengan wajah yang penasaran.


"Hmmm lokasinya lumayan cukup jauh dari sini. Perkiraan butuh 2 jam baru bisa sampai, tapi karena ini sangat terpencil aku hanya bisa menebak lokasinya saja," jawab Reyhan.


"Jadi gimana dong? Lyra cepat ketemu dong aku kangen," kata Siska dengan suara memelas.


"Jadi menurut lu lokasinya dimana?" tanya Erick.


Reyhan terdiam berusaha memaksa ingatannya.


"Kau ingat Desa yang dulu pernah kita datangi untuk berpetualang dengan Fero dulu?" tanya Reyhan pada Erick.

__ADS_1


"Apa iya itu sudah lama banget gua mana ingatlah," jawab Erick.


"Maaf Den itu Desa Margamulya," jawab Redro.


"Ya tepat sekali kok lu bisa ingat?" tanya Erick.


"Karena saya yang menemukan kalian terkurung disana," jawab Redro.


"Basa-basinya nanti saja kita berangkat sekarang sebelum terlambat!" teriak Reyhan.


***


"Sudah jam segini mereka tidak bangun juga, apa obatnya sangat keras?" tanya Feronica.


"Kami tidak tahu Non, kami juga membiusnya cuma setetes obat bius saja," jawab pria berambut gondrong.


"Kalian berdua ambilkan air sebaskom siram mereka!" perintah Feronica.


"Baik Non," jawab Mereka sambil mengambil air dengan baskom.


Hmm kalau Mereka mati, ini tidak akan seru siapa suruh berani mengambil Reyhanku. Batin Feronica dengan senyum sipis di wajahnya.


Kedua pria itu pun kembali dengan membawa baskom yang berisikan air.


Byurrrrrr!!!


Guyuran air membasahi tubuh Lyra dan Vanes dan itu membuat mereka terbangun dalam keadaan tubuh yang terikat di atas kursi.


"Hahaha sudah bangun rupanya? Mimpi indahnya sudah berakhir ya uuh kacian," ledek Feronica.


"Hai kau belum kenal aku ya? Aku Feronica tentu kau sudah sering mendengar namaku iya kan," ucap Feronica.


Lyra hanya terdiam tenang dan itu membuat Feronica semakin kesal.


"Kau tahu kan Reyhan itu hanya aku yang boleh menjadi kekasihnya tidak dengan orang lain termasuk kamu. Kenapa diam saja ayo jawab!" teriak Feronica.


"Ah itu Non, mulutnya kan tertutup isolasi bagaimana dia mau bicara? Apa perlu saya buka?" tanya salah satu pria suruhan Feronica.


"Ya dibuka pakai nanya lagi!" teriak Feronica.


Mereka pun membuka isolasi yang menutupi mulut Lyra dan Vanes.


"Hmmm bagaimana menurutmu kalau sudah begini kau baru menyesal bukan?" tanya Feronica.


"Hei Feronica, kau berani menipuku aku mambawanya untukmu kau malah mengurungku, apa salahku!" teriak Vanes.


"Saudaramu saja kau tipu apalagi aku," jawab Feronica santai.


"Maksud kamu apa? Siapa yang saudaraku dia tidak ada kaitannya denganku," jawab Vanes.


"Kau pikir aku bodoh dia sepupu kandungmu sendiri, aku tidak mau ikut campur hubungan keluarga kalian tapi yang pasti karena kalian saudara selain dia kau juga termasuk musuhku!" teriak Feronica.


"Hah bodoh sekali." Jawaban pertama yang keluar dari mulut Lyra yang sedari tadi bungkam.


"Apa kau bilang? Siapa yang bodoh?" tanya Feronica.

__ADS_1


"Siapa lagi? Tentu saja kau," jawab Lyra tenang.


"Beraninya mengatakan nona kami bodoh, sudah bosan hidup lu ya!" teriak Pria gondrong.


"Stop! Biarkan saja, apa maksud kamu mengatakan aku bodoh?" tanya Feronica berusaha meredam amarahnya.


"Kau bodoh, jahat dan wajahmu pas-pasan tentu saja Reyhan tidak menyukaimu. Kalau aku jadi dia pasti aku akan memakimu seperti itu ketika kau menyatakan cintamu. Tapi sayang sekali dia tidak sejahat itu," jawab Lyra tenang.


Vanes terkejut mendengar ucapan kasar dari Lyra tersebut.


"Coba kau ulangi sekali lagi!" teriak Feronica.


"Kau terkenal kaya tapi siapa sangka kau tidak mampu membeli korek kuping yang hanya 3 ribu rupiah saja," jawab Lyra.


"Dia berani mengatakan non Feronica budeg Kum," bisik si pria gondrong pada temannya.


"Iya Kim tapi memang benar non Feronica itu budeg banget," jawab Akim teman si gondrong.


"Akum, Akim berikan cambuk itu padaku. Aku mau lihat apa dia masih bisa berkutik!" perinta Feronica.


"Ini Non, cambuknya," jawab Akim (pria gondrong) sambil memberikan cambuk itu pada Feronica.


"Coba kau ulangi sekali lagi apa yang kau katakan mengenai aku," ujar Feronica.


"Hah kau mengancamku dengan cambukanmu itu kau memang benar-benar bodoh," jawab Lyra dengan tenang.


Tak!!!


Cambukan pertama mendarat di punggung Lyra.


"Coba ulangi sekali lagi," ujar Feronica.


"Kau gadis kotor korek telingamu yang mulai membusuk itu," jawab Lyra.


Tak!!!


Satu cambukkan lagi mendarat di punggung Lyra lagi.


Feronica melihat ke arah Vanes dan mulai menghampiringa, Vanes semakin gontai.


"Aku rasa saudaramu perlu merasakannya juga nikmatnya cambukkan ini, iyakan Vanes," ujar Feronica.


Vanes semakin ketakutan dia mulai menangis sesenggukkan.


"Kau kesal terhadapku lalu melampiaskannya pada orang lain sifatmu memang sangat rendah!" teriak Lyra.


"Apa kau bilang!" Amarah Feronica semakin memuncak.


Brak!!!


Pintu gudang terbuka terlihat seorang laki-laki masuk dan beberapa orang lainnya.


Dan dia adalah ........?


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2