MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Bermain Ke Pantai...


__ADS_3

Reyhan terus berdiri memperhatikan Lyra yang sedang duduk di sudut tempat tidur. Masing-masing dari mereka memilih diam, akan tetapi Reyhan yang terlanjur malu bungkamnya lebih parah dibandingkan dengan Lyra.


"Sayang, kemarilah," panggil Lyra.


Reyhan masih diam dan tetap berdiri di belakang pintu.


"Tidak apa-apa sayang, kemarilah." Melambaikan tangannya.


Reyhan pun berjalan pelan ke arah Lyra dan duduk ke tepian ranjang, wajahnya menunduk. Ia masih malu menatap wajah istrinya itu terlebih lagi jejak keganasannya yang terletak di leher Lyra.


Lyra mengerti dengan ekspresi suami kecilnya itu, segera ia tarik tubuh Reyhan dan memeluknya di atas dadanya.


"Tidak apa-apa. Jangan malu, ini wajar kok. Namanya juga suami-istri 'kan." Mengelus pelan kepala Reyhan.


"Apa itu sakit?" tanya Reyhan.


"Hmmm, agak perih sih. Tapi enggak parah kok," jawab Lyra.


"Apa masih bisa aku-"


"Bisa kok, asalkan jangan separah ini lagi ya, soalnya akan menyebabkan penyakit serius," jawab Lyra memotong perkataan Reyhan.


Reyhan tersenyum, ia pun bangkit dari pelukan Lyra lalu mengecup kening istrinya itu.


"Kamu cantik," ujar Reyhan.


"Apa sih? Enggak jelas." Wajah Lyra memerah menahan malu.


Reyhan mencium kening Lyra lagi.


"Kamu sexy," bisik Reyhan.


"Apa? Sudah pergi mandi sana. Otakmu benar-benar eror." Melemparkan bantal ke arah Reyhan yang sudah berlari ke arah kamar mandi.


***


Siska menatap layar ponselnya, tatapannya benar-benar serius membuat Redro yang sedari tadi menunggu ocehannya itu merasa tidak dipedulikan.


"Hari ini aku tidak ke perusahaan," tutur Redro.


"Oh." Jawaban singkat Siska membuat Redro terkejut.


"Oh? Hanya itu?" Memelotot kaget.


Siska tidak menanggapinya dan tetap fokus pada ponselnya. Redro yang sedang duduk di hadapannya menatap dengan kesal.


"Aku disini bukan disitu," ujar Redro lagi.


"Iya aku tahu," jawab Siska santai.


"Apa?" Redro menatap tajam.


Siska langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menyimpulkan senyumannya yang canggung.


"Eh Beb, enggak kerja?" tanya Siska mulai panik dengan tatapan tajam Redro.


"Sepertinya ponselmu lebih berharga dibandingkan denganku," jawab Redro sambil memakan rotinya.


"Enggak kok Beb, tadi aku main game kalah mulu. Hehehe." Tersenyum kaku.


Jawaban Siska membuat Redro bertambah kesal, ia mempercepat mengunyah rotinya lalu beranjak dari ruang makan secepatnya.


"Beb, mau kemana?" tanya Siska namun tidak dijawab oleh Redro.


"Bodo ah. Mending main game," gumam Siska kembali mengotak-atik ponselnya.


Sementara itu, Redro yang duduk di sofa ruang tengah sesekali menatap ke arah dapur memperhatikan Siska yang tak kunjung menghampirinya.


Apa game itu lebih menarik perhatiannya dibandingkan aku. Padahal aku sangat senang menghabiskan libur bersamanya. Tapi dia bahkan tidak memperhatikan aku. Batin Redro.

__ADS_1


Tak lama kemudian datanglah Siska membawa nampan dengan piring berisi sosis dan kentang goreng beserta teh hangat. Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja, ditatapnya Redro yang tidak menggubrisnya.


"Beb, mau ini enggak? Enak lho," ujar Siska memberikan garpu yang ditancapkan ke sosis.


"Tidak," jawab Redro singkat.


Siska tersenyum, ia mendekati Redro lalu menangkap wajah pria itu dengan kedua tangannya membuat Redro memelotot kaget.


Cup!!!


Satu kecupan Siska mendarat ke kening Redro. Membuat wajahnya memerah malu.


"Maafin aku Beb, tapi game-nya sudah aku hapus kok. Lihat enggak ada lagi 'kan," ujar Siska sambil menunjukkan layar ponsel tersebut.


Diam-diam Redro tersenyum simpul, namun segera ia merubah ekspresi wajahnya.


"Beb, jangan ngambek lagi dong. Bisa gila aku," ujar Siska.


"Siapa yang ngambek?" Redro sambil mengambil sosis tersebut lalu mengunyahnya sontak membuat Siska tersenyum senang.


"Beb, kok imut sekali sih." Mencubit pelan kedua pipi Redro.


****


Reyhan menggandeng tangan Lyra, mereka memasuki pusat perbelanjaan besar yang terletak di Washington DC. Lagi-lagi Lyra dibuat dilema karena semua mata tertuju pada mereka lebih tepatnya kepada Reyhan.


"Sayang aku tidak-


"Ssht aku disini. Abaikan mereka aku hanya milikmu seorang. Sombonglah sedikit," jawab Reyhan semakin mengeratkan gandengannya.


Lyra tersenyum ia menatap Reyhan dengan teduh, mereka pun berjalan membelah kerumunan para pengunjung yang sudah heboh dengan visual Reyhan.


"Hey boy! You're handsome!" teriak seorang gadis dengan rambut yang berwarna emas.


Reyhan pun menoleh ke arah wanita itu membuat orang-orang semakin meleleh.



Para pengunjung pun menjerit heboh, Lyra menatap Reyhan lalu tersenyum tidak menentu dan sesekali hanya bisa menunduk malu.



Setiap hari, setiap waktu dan setiap tempat rasanya mungkin akan sama. Kamu selalu membuatku merasa takjub padamu. Batin Lyra.


"Kamu bisa kok menciumku disini," bisik Reyhan nakal.


"Apa?" Memelotot kaget.


"Kita berada di negara yang budayanya sedikit lebih bebas, kamu bisa kok mengecupku disini," jawab Reyhan.


Lyra berhenti, sontak membuat langkah Reyhan ikut berhenti. Lyra berjinjit mencium pipi Reyhan membuat suaminya itu tersenyum senang dengan keberaniannya. Para pengunjung bertambah heboh dan langsung beramai-ramai memotret mereka.


Kejadian siang itu pun sontak menjadi viral, mereka beramai-ramai menggugah potret Lyra dan Reyhan dengan hastag #HandsomeBoy_With_LuckyGirl.


***


Reyhan menatap Lyra yang sedang memperhatikan potret dirinya yang sedang mencium pipi Reyhan.


"Aku tidak menyangka kamu seberani itu," ujar Reyhan menggoda Lyra.


"Jangan dibahas lagi dong, aku malu ini," jawab Lyra malu.


Reyhan meminggirkan mobilnya lalu menghentikannya.


"Ah bagaimana ini? Kita gagal belanja dan pulang dengan tangan kosong. Apa kamu punya saran tempat lain." Meneguk mineral yang terletak di hadapannya.


"Bagaimana kalau ke pantai. Ah jangan deh, disana banyak penampakan. Kesenangan kamunya nanti," jawab Lyra.


"Kamu cemburu?" tanya Reyhan.

__ADS_1


"Terserah deh." Mengalihkan pandangannya.


"Baiklah! Ayo kita ke pantai!" seru Reyhan lalu melajukan mobilnya kembali.


***


Lyra memperhatikan suasana pantai yang hanya ada mereka berdua beserta penginapan mewah.


"Ayo kemarilah," ajak Reyhan sambil membuka pakaiannya berjalan menuju ke pantai yang airnya sangat jernih.


Kulitnya yang putih seakan terlihat mengkilat. Reyhan kau benar-benar sangat indah. Batin Lyra sambil duduk di bawah tenda yang sudah disediakan air kelapa beserta berbagai jenis biskuit.


Melihat Reyhan yang menikmati indahnya pantai membuat Lyra ingin ikut mandi. Ia pun membuka gaun yang membalut di tubuhnya. Lalu berjalan mendekati Reyhan.


"Reyhan," panggil Lyra.


Reyhan terkejut dengan penampilan Lyra.


"Kenapa bengong? Ada yang aneh ya?" tanya Lyra.


"Kamu sedang menggodaku ya?" tanya Reyhan dengan senyuman nakal.


"Tidak! Aku tidak punya baju untuk renang jadi pakai yang ini," jawan Lyra sambil menghentikan langkahnya.


"Kemarilah." Menepuk-nepuk di depan sela kedua pahanya.


Lyra pun berlari mendekatinya, lalu duduk di depan Reyhan. Merekapun menikmati indahnya pantai di hari yang mulai sore itu.


"Masih sakit?" tanya Reyhan sambil menunjuk bekas di leher Lyra.


"Enggak kok salep yang diberikan dokter Sherin tadi dingin banget jadi adem deh," jawab Lyra sambil tersenyum.


Reyhan pun tersenyum ia mencium bagian kepala Lyra, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya itu.


"Auw!" teriak Lyra begitu ombak datang membasahi pasir yang mereka duduki.


"Apa kamu bahagia?" tanya Reyhan.


"Iya, terima kasih sayang." Menyenderkan tubuhnya ke dada Reyhan yang berada di belakangnya.


"Suatu hari nanti kita akan kemari bersama putra dan putri kita. Mereka akan berlari kesana-kemari dengan langkah kecil yang lucu seperti penguin," ujar Reyhan membuat Lyra tertawa geli.


"Anak kita pasti sangat tampan sepertimu Rey, dia akan bicara sedingin kamu juga hahaha!" Tawa Lyra pecah membayangkan Reyhan junior nanti.


"Dan putri kita akan cengeng sepertimu, yang menyukai es krim dengan rakusnya," ujar Reyhan tidak mau kalah.


"Kapan ya pemandangan itu menjadi nyata? Aku sangat tidak sabar."


"Bulananmu baru dua hari, jadi pasti akan lama," jawab Reyhan.


"Hahaha, kamu benar. Sabar ya sayang." Mengelus kedua tangan Reyhan yang memeluknya.


"Tiga putra tiga putri," ujar Reyhan.


"Apa? Bukannya tadi sepasang saja?" tanya Lyra.


"Melihat tubuhmu yang sehat membuatku semakin semangat." Mencium pundak mulus Lyra.


"Sayang, kamu ini selalu saja berubah-ubah. Tidak bisa ku bayangkan ada tiga copy dirimu dengan sifat dingin yang sama. Aaah bisa heboh dunia Rey."


Reyhan tersenyum ia segera bangkit dan menyeburkan dirinya ke pantai.



Tak lama kemudia ia kembali lagi menarik Lyra untuk ikut dengannya membasahi tubuh di pantai. Lyra dan Reyhan pun saling berpelukan lalu perlahan menyatukan bibir mereka di atas genangan air yang indah itu.


BERSAMBUNG....


Terima kasih sudah membaca jangan lupa like, komen dan vote. Luv u Readers.

__ADS_1




__ADS_2