
"Tante Marta sakit, Rey." Menatap sedih pada Reyhan.
"Sakit?" Memelotot bingung.
Lyra menganggukan kepalanya disertai tatapan lesu seolah merasa prihatin pada Reyhan.
"Cih, Lyra mengapa kamu begitu polos, jika dia bilang dia gila kamu juga bakalan percaya begitu saja." Tersenyum menatap Lyra remeh.
"Aku percaya Rey, bukan karena aku ini polos atau apalah itu terserah kamu mau bilang apa. Akan tetapi yang pasti itu kenyataannya Rey, tante Marta mengidap kanker paru-paru stadium akhir."
"Aku tidak akan percaya sama sekali selama apapun yang dia katakan itu hanya kebohongan belaka aku lebih-
"Kamu! Kenapa begitu egois sih? Daripada tidak percaya mending kamu cek kebenarannya saja jangan mengambil keputusan secepat itu." Mulai kesal.
Reyhan menghentikan mobilnya.
"Hah, sebenarnya apa sih yang membuatmu membela wanita itu?" Menghela napas.
Lyra mendekatkan wajahnya pada Reyhan sorot matanya yang kali ini terlihat lebih tajam dibandingkan dengan Reyhan.
"Bisa tidak jangan egois Rey!" teriak Lyra.
Bukannya langsung menjawab Reyhan justru terlihat panik karena bayangan kejadian tadi pagi tiba-tiba muncul.
"Kenapa kamu diam saja hah, baru kali ini lihat aku marah!" Teriakan Lyra pun membuyarkan bayangan yang di pikiran Reyhan.
Dengan pelan Reyhan menganggukan kepalanya sorot matanya terlihat sayu ibarat kucing yang tidak diberi makan selama 4 hari.
"Baiklah tapi kamu minggirlah dulu, aku tidak bisa bernafas." Reyhan pun membuka suara meski terdengar sedikit tersendat-sendat.
Lyra pun akhirnya kembali duduk di kursinya semula barulah Reyhan bernapas lega dari kegerahan dan pikiran yang membuatnya panik.
"Maafkan aku."
"Kamu sadar juga telah mengasariku tadi." Mulai mengemudikan mobil kembali.
"Kamu yang mancing jadi-
Reyhan meraih ponsel yang ia letakkan di depannya lalu menelepon Redro yang di seberang.
"Redro selidiki penyakit yang diidap oleh wanita itu, aku minta hasilnya besok." Ia pun memutuskan panggilan tersebut.
Dia lumayan cepat juga meski keras kepala paling tidak dia sudah mau mencari kebenarannya. Batin Lyra sambil tersenyum.
"Rey."
"Ya."
"Terima kasih sudah mendengarkanku, sekali lagi maaf bukannya mau mencampuri masalah kehidupanmu. Tapi sebagai seseorang yang menyayangimu, aku ingin kamu hidup bahagia tanpa penyesalan apapun di kemudian hari." Menatap Reyhan.
"Apa kamu menyayangiku dengan tulus?" Menatap Lyra.
"Melebihi ketulusan apapun." Tersenyum.
"Jadi kamu benaran setuju meni-
"Ya begitu hasil ujianmu keluar kita akan menikah." Mengusap-usap kepala Reyhan.
Reyhan tersenyum senang, suasana yang tadinya tegang kini mencair kembali.
Drrrrrrrrrt Drrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrt
"Hmm halo Sis, oh iya terima kasih sudah mengingatkanku." Lyra memutuskan sambungan telepon tersebut
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat panik seperti itu?"
"Ehm Rey, aku boleh tidak pinjam laptopmu, laptopku rusak besok aku harus mengirim laporan hasil tugasku." Berbicara sedikit memelas.
"Tidak perlu pinjam, kita beli yang baru saja."
"Untuk apa yang baru, aku mau laptop yang kamu pakai saja soalnya punyaku sudah di service kok jadi gak perlu beli yang baru, buang-buang duit saja."
__ADS_1
Setelah berdebat panjang akhirnya seperti biasa Lyra lah pemenangnya dan seperti biasa juga Reyhan hanya akan membuang tenaganya dengan sia-sia. Karena apapun alasannya ia akan kalah kalau sudah berhadapan dengan Lyra sebab Lyra satu-satunya kelemahan yang dia punya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Wah laptopnya Reyhan bagus punya Ra!" seru Siska sambil memelotot tiap sudut laptop tersebut.
"Hmmm ini juga susah payah aku dapatkan Sis."
"Kenapa? Kenapa dia berubah menjadi pelit begitu?"
"Nggak gitu sih, dia mau beli yang baru, untuk apa coba? Aku kan sudah punya laptop sendiri jadi untuk apa yang baru lagi mubazir, kan."
"Ah Lyra kenapa nggak terima saja sih. Kalau aku jadi kamu pasti dengan senang hati aku akan memerimanya." Tersenyum bangga.
"Itulah makanya kamu hidup sebagai Siska bukan Lyra, bukankah itu adil Sis?" Membalas senyuman Siska.
"Iya deh iya, aku kalah."
Tiba-tiba sebuah video kiriman dari Erick pun masuk lewat email laptop milik Reyhan pribadi.
"Buka dong, Ra."
"Eh nggak boleh sembarangan gitu Sis itu privasi mereka tau." Menatap Siska dengan kesal.
"Bodo amat." Memencet link video tersebut.
"Gila video apa ini?" Memelotot pada layar laptop sambil menutup mulutnya.
"Diamlah, aku lagi fokus ini."
"Siska kamu gila ya nonton yang beginian." Memukul pelan kepala Siska.
"Ra, anggap saja ini pelajaran baru kelak kamu akan menikah jadi kamu bisa membahagiakan suami kamu. Apalagi dia itu Reyhan harus benar-benar dijaga tahu, ingat pelakor ada dimana-mana." Menatap Lyra tajam.
Dan pada akhirnya mereka pun menonton video yang dikirim oleh Erick. Ya, video porno yang berdurasi 12.00 menit itu berhasil membuat ekspresi mereka ngeri, ngilu dan membuat nafas mereka tersenggal-senggal karena ikut larut di setiap adegan yang ditampilkan dalam video tersebut.
Malam pun berakhir dengan cahaya bulan yang menerangi langit serta bintang-bintang yang bertebaran seolah menutupi perbuatan dua sahabat tersebut.
"Kenapa kantung matamu terlihat lebih besar dari biasanya?" tanya Reyhan sambil membukakan minuman untuk Lyra.
"Hoammm..., aku ngantuk banget Rey," jawab Lyra sambil meminum mineral dari Reyhan.
"Tidur jam berapa tadi malam?" tanya Reyhan.
"Jam tengah 12 sih."
"Itu kan sudah larut, apa tugasmu begitu berat? Sini biar aku saja yang mengerjakan."
"Ah sudah hampir selesai juga. Oh ya, nanti bangunkan aku ya kalau sudah sampai." Menyandarkan tubuh ke sisi kursi mobil.
"Apa perlu istirahat saja di rumah kamu kelihatannya sangat mengan-
"Aku bilang tidak perlu, lagipula tinggal menghitung hari saja kok." jawab Lyra dengan matanya yang sudah tertutup rapat.
15 Menit kemudian.
"Lyra bangunlah kita sudah sampai." Menatap Lyra yang sudah terlelap.
Tugas apa yang begitu membuatnya lelah seperti ini, ah sepertinya profesor Hasa sudah bosan hidup rupanya. Batin Reyhan sambil mengusap-usap kepala Lyra.
"Hah sudah sampai ya. Hoammm kalau begitu aku pergi dulu." Membuka pintu mobil lalu beranjak keluar.
"Dadah!" seru Lyra sambil melambaikan tangannya lalu berjalan pelan akan tetapi langkahnya terhenti ia menoleh ke belakang terlihat mobil Reyhan yang masih terparkir. Ia pun berjalan kembali menghampiri mobil Reyhan. Reyhan membuka pintu mobilnya dengan cepat Lyra masuk ke dalamnya dan langsung menyambar tubuh Reyhan.
"Aku hanya ingin melihat wajah tampanmu yang menjadi vitaminku ini. Baik-baiklah di rumah selama aku kerja jangan nakal-nakal dan nanti jemput aku tepat waktu jangan sampai telat lho. Jangan biarkan aku terlalu merindukanmu oke." Lyra memangku wajah Reyhan dengan kedua tangannya.
Reyhan tersenyum dengan perlakuan manis Lyra, ia pun mengangguk. Namun ia tiba-tiba dikejutkan oleh serangan Lyra yang mengecup dahi serta kedua pipinya. Sontak membuat wajahnya memerah untuk ke sekian kalinya matanya yang tadinya terlihat sendu pun kini memelotot kaget.
"Reyhan aku pergi dulu, dadah." Beranjak keluar dan berlari kecil menuju ke sekolah.
Kenapa dia tiba-tiba seperti itu, jujur aku suka tapi kenapa napasku malah terasa sangat sesak. Batin Reyhan sambil menepuk-nepuk dadanya.
__ADS_1
"Pagi Adik-adik," sapa Lyra ketika memasuki ruangan kelas 1 A.
"Pagi Kak." Mereka membalas sapaan Lyra.
Di dalam kelas tampak Vanes yang tersenyum memperhatikan Lyra yang sedang mengajar, ia dibuat kagum pada kecerdasan Lyra.
Kakakku memang yang paling terbaik, aku bangga. Batinnya.
Setelah memberikan tugas, Lyra duduk dia memperhatikan kembali tugas yang diberikan pihak kampus untuknya.
Ah kenapa harus pakai bekerja sama dengan kak Fardan sih, bikin canggung saja kenapa nggak Siska kan lebih seru. Batin Lyra.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Vanes \=> Cie-cie yang punya laptop mahal mau dong.
Lyra menatap Vanes yang berada di bangku paling belakang.
Lyra \=> Keren ya bisa main hp di kelas.
Vanes \=> Hahaha iya nih kan gurunya kakak tercinta.
Lyra \=> Belajar yang rajin masalah laptop aman tuh.
Vanes \=> Ok deh makasih Kakakku, i luv u. š
Lyra tersenyum melihat pesan dari Vanes yang cukup terbilang hangat yang sekian lama tidak ia rasakan.
"Baiklah adik-adik tugasnya akan kakak bagi besok dan pelajaran kita sampai disini. Tetaplah duduk yang rapi ya karena ada guru lain yang akan masuk. terima kasih dan selamat siang." Tersenyum sambil menenteng buku-buku tugas para murid.
"Selamat siang Kak," balas mereka ramah.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Sebenarnya, aku malas banget Sis, kalau disuruh bekerjasama dengan kak Fardan." Mengaduk minumannya.
"Semenjak Reyhan dan Erick libur kantin ini seperti tak bernyawa saja. Sepi banget ya." Melihat ke sekeliling kantin.
"Kamu dengar nggak sih aku bilang apa." Menatap Siska dengan kesal.
"Hahaha iya-iya tapi ya mau bagaimana lagi kan profesor Hasa sudah bicara seperti itu memangnya kamu punya daya apa untuk menentangnya." Tersenyum tipis.
"Iya sih, eh sebentar ya kamu jaga dulu barang-barangku. Aku mau cari kak Fardan dulu lebih cepat lebih baik." Berdiri dan mulai memakai jaketnya.
"Moga cepat ketemu ya!" teriak Siska setelah Lyra berjalan cepat perlahan meninggalkan kantin.
Lyra berjalan menyusuri ruang-ruang kelas namun sosok Fardan tidak ia temukan.
"Halo, bagaimana hasil penyelidikanmu hari ini?" tanya Fardan pada seseorang melalui telepon genggamnya.
Lyra pun mendekati pintu asal dari suara tersebut lalu mengayunkan tangannya hendak mengetuk.
"Aku bilang hajar Reyhan sampai mati di kesempatan apapun. Jangan biarkan dia lolos, aku mau dia lenyap dari muka bumi ini ngerti?" tegas Fardan.
Apa? Reyhan? di-dia mau bunuh Reyhan a-aku harus bagaimana. Batin Lyra dengan terbata-bata.
Saat Lyra hendak kabur tiba-tiba dari belakang seorang pria yang memakai seragam petugas kebersihan menahan tangannya.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Lyra.
Fardan keluar dari ruangan tersebut.
"Lyra."
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR MAAF KARNA PEKERJAAN NUMPUK JADI JARANG UP DEH SEMOGA NGGAK BOSAN-BOSAN YA
Seperti biasa jangan lupa like, komen dan vote kalau ada poinnya luv u readers
__ADS_1