MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Lyra VS Reyhan....


__ADS_3

"Kak Reyhan, ini hasil gambarku bagus nggak?" tanya seorang anak seketika membuyarkan lamunan Reyhan.


Reyhan berjalan mendekati anak tersebut, ia memperhatikan detail gambar anak tersebut. Reyhan menyunggingkan senyumannya hingga membuat Lyra dan orang-orang disana berdecak kagum melihat visualnya yang semakin terpancar.


"Kenapa mataharinya menjadi warna hitam dan jalanannya warna coklat dan kuning?" tanya Reyhan keheranan.


"Kan sudah malam Kak, jalannya kena banjir makanya ini air kayak es krim Kak," jawab anak itu dengan polos.


Semua yang berada disana tertawa mendengar jawaban lucu dari anak laki-laki tersebut.


"Kamu benar, tapi kalau malam harusnya matahari digantikan oleh bulan dan juga gambarlah jalanan yang indah ada bunga atau pohon," jawab Reyhan dengan lembut.


"Oh iya lupa ada bulan Kak tapi banjir itu sudah bawa baju-baju kami pergi hanyut Kak," jawab polos anak tersebut mengingatkan orang-orang yang berada disana akan kejadian beberapa tahun yang lalu terutama Lyra karena itulah pertama kali membawanya beserta teman-teman sekampusnya menggalang dana dan melakukan bakti sosial.


"Tidak perlu dikenang lagi, yang penting sekarang sudah dapat gantinya yang lebih bagus dan nyaman," ujar Reyhan.


"Iya Kak bajunya bagus aku suka!" serunya.


"Memangnya berapa yang kamu dapat?" tanya Reyhan lagi.


"Sepuluh Kak, celananya juga sepuluh ada selimut juga ada buku ini dan pensil warna aku suka Kak!" Berbicara kencang membuat orang tersenyum mendengarnya.


"Hmmm jadi harus...."


"Bersyukur!" Anak-anak tersebut bersorak serempak.


"Pintar, baiklah ada lagi yang sudah selesai gambarnya?" tanya Reyhan.


"Belum Kak," jawab mereka serempak.


"Itu PR kalian sekarang, besok akan diperiksa," ujar Reyhan.


"Besok Kakak datang lagi ya."


"Besok kita belajar bareng lagi kan Kak."


"Besok datangnya jangan lama-lama ya, biar waktunya panjang Kak."


Reyhan terdiam, ia memandangi wajah polos mereka yang berharap Reyhan menjawab iya. Tapi ia tidak tega membohongi mereka.


"Besok kak Reyhan tidak bisa datang tapi kakak yang akan datang," jawab Lyra berjalan mendekati Reyhan.


"Yaaaa, kenapa Kak?" Mengerutkan dahi merasa sedih.


"Karena kak Reyhan punya kepentingan lain, jadi sementara besok akan ditemani oleh kakak ya, kakak akan ajak kak Siska juga."


"Kalau kak Fardan bagaimana?" tanya seorang anak laki-laki yang berada di kursi depan.


"Hush kak Fardan enggak baik dia sering menghukum kita kalau tidak bisa main bola," jawab anak laki-laki tersebut.


"Iya kak Reyhan baik dan ganteng lagi. Kak Fardan jahat." Seorang anak perempuan menambah jawaban temannya tersebut.


"Baiklah sekarang kelas bubar dan ingat besok PR nya akan dikumpul dan dinilai."


"Karena kalian sudah mau belajar di luar sana ada es krim yang sudah menanti kalian jadi sekarang pergi cepat sebelum kehabisan," ujar Reyhan membuat anak-anak bahkan bu Ardasih beserta orang dewasa lainnya menyerbu keluar dan tinggallah Reyhan dan Lyra.


Lyra tersenyum simpul pada Reyhan namun lagi-lagi Reyhan mengabaikannya. Ia ingin melihat seberapa jauh Lyra akan membujuknya. Ia pun berjalan keluar dari ruangan tapi tetap diikuti oleh Lyra.


Merekapun pamit kepada bu Ardasih selaku pengurus panti asuhan.

__ADS_1


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Dia bahkan tidak memasangkan sabuk pengamanku, dia begitu marah padaku, hah salahku juga sih sudah marah-marah tanpa tahu alasannya. Batin Lyra.


Tidak ada percakapan bahkan sepintas suara pun tak terdengar selama di sepanjang jalan. Mereka hanya diam hening bashkan Reyhan yang biasanya mengalah tetap dalam pendiriannya berusaha cuek terhadap istrinya itu.


Tak cukup memakan waktu lama mereka pun sampai, setelah memakirkan mobilnya Reyhan langsung turun dan memberikan kunci mobil kepada pak Mat. Ia langsung masuk ke dalam rumah.


Lyra menghela napas panjang, ia berusaha setenang mungkin, ia pun turun berjalan masuk ke dalam rumah menghampiri Reyhan takut tingkahnya semakin menjadi-jadi.


Akan tetapi sesampainya di dalam kamar, Lyra tidak menemui sosok Reyhan. Ia pun turun kemudian menanyakannya kepada para bibi yang sibuk menyiapkan makan malam.


"Tadi bibi lihat den Reyhan bersama Redro masuk di ruang kerja almarhum tuan Reygan Non," jawab bik Na.


"Terima kasih Bik," ucap Lyra lalu beranjak naik ke lantai 2. Dan benar saja Reyhan dan Redro memang berada disana.


"Aku baru mendapati kalau panti asuhan Cinta dan Kasih terdaftar di Badan Bakti Sosial. Jadi kau tahu artinya itukan." Terdengar suara Reyhan dari dalam.


"Iya Den."


"Redro, kau tahu jelas aku selalu bangga padamu. Tapi apa ini? Kenapa semua jadi begini? Kinerjamu kenapa harus ada celah seperti ini?" tanya Reyhan.


"Saya akan berusaha lagi Den," jawab Redro.


"Apa kau menyesal?" tanya Reyhan.


"Iya Den."


"Putuskan Siska."


Apa? Dia bahkan menyuruh Redro memutuskan Siska. Ini kan masalah sepele tapi kenapa jadi panjang. Dan kenapa harus menyangkut pautkannya dengan Siska?


Batin Lyra bertanya-tanya.


Den Reyhan kau sangat kekanakan mengerjai nona Lyra istrimu sendiri seperti itu. Batin Redro.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Lyra melahap makanannya dan berusaha berpura-pura tenang. Sesekali ia melirik Reyhan yang berada jauh di hadapannya. Tiba-tiba Reyhan bangkit dan berjalan meninggalkan meja makan.


"Hah? Aku hampir mati menahan napasku," ujar Lyra sambil menghela napas panjangnya. Ia pun bangkit dari duduknya hendak menghampiri Reyhan.


"Dia ini kemana lagi sih?" tanyanya pada diri sendiri.


Lyra mencari Reyhan di kamar mandi tapi tetap saja tidak ketemu ia pun menuju kolam dan benar saja, Reyhan berada disana sambil memegangi berkas-berkas perusahaan yang harus ia pelajari.


Meskipun sedikit ragu, Lyra berjalan mendekati Reyhan dan duduk di sampingnya.


"Rey, boleh bicara sebentar?" tanya Lyra.


"Bicaralah," jawab Reyhan singkat sambil membolak-balikan berkas tersebut.


"Masalah hari ini, bisa tidak kita selesaikan saja dengan kepala dingin," jawab Lyra pelan.


"Maksudmu?"


"Ya, para pengawal itu tidak bersalah, masalahmu itu ada padaku bukan mereka jadi tolong lepaskan mereka terutama Redro jangan sangkut pautkan Siska dalam masalah ini." Menatap sendu.


"Oh jadi tadi kamu menguping pembicaraan kami." Tersenyum sinis.

__ADS_1


"Maaf bukannya aku bermaksud menguping tapi-"


"Aku hanya berusaha mendisiplinkan mereka, ini tidak ada urusannya denganmu dan lagipula aku tidak berbuat begitu hanya karena wanita sepertimu," jawab Reyhan spontan.


"I-iya aku tahu, tapi bukan begitu caranya mendisiplinkan mereka ada cara yang lain kok, misalnya-"


"Mereka bawahanku bukan bawahanmu. Memangnya apa hakmu mengaturku mereka hidup dengan uang yang aku berikan jadi terserah apa yang akan aku lakukan kepada mereka, ini tidak ada urusannya denganmu."


Lyra memelotot terkejut air matanya seketika jatuh, ia pun bangkit dari duduknya.


"Baiklah, kalau begitu selamat malam," ucapnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar.


Hanya sebatas begitu saja, kenapa tidak merayuku dasar Lyra memang tidak peka saat ini aku butuh apa?Ya sudahlah biarkan saja pasti dia akan kembali lagi. Batin Reyhan lalu membaca kembali berkas-berkas tersebut.


BRUKKK


"Suara apa itu? Lyra!" teriaknya sambil berlari.


Di dalam kamar terlihat Lyra menyiapkan kopernya dan memasukkan pakaian miliknya.


"A-apa yang kamu lakukan? Mau pergi kemana kamu?" tanya Reyhan memelototkan matanya.


Lyra tidak menjawab, ia terus mengambil pakaiannya hingga Reyhan menghalanginya di depan lemari.


"Bukankah sudah jelas aku tidak diperlukan disini? Untuk apa kamu menghalangiku, minggirlah Rey. Sedari awal harusnya kita memang tidak cocok." Duduk di tepian tempat tidur.


"Selagi kita belum punya anak ayo kita berpisah saja," ujar Lyra sambil mengusap air matanya yang tidak bisa ia bendung.


"Kamu-"


"Aku menyangimu Rey, sangat menyayangimu tapi jika kamu bersikap seperti ini ada baiknya kita berpisah. Aku tidak mau mengubahmu menjadi monster yang kejam, karena dimataku kamu adalah suami terbaik yang aku temui dan aku sangat mencintaimu, tapi sekarang hari ini kamu-"


Reyhan mengecup bibir Lyra membuat wanita itu berhenti berbicara. Tak lama kemudian Reyhan melepaskan ciumannya, napas mereka yang tadinya tertahan pun tersenggal-senggal.


"Maafkan aku, sebenarnya aku hanya ingin melihat reaksimu saja, bukannya membujukku kamu malah memilih melakukan ini." Menjatuhkan tubuhnya ke lantai.


"Maksud kamu?" Lyra tidak mengerti.


"Iya sebenarnya awalnya aku terlalu marah pada diriku sendiri karena sudah membuatmu bicara kasar. Seketika keberanianku untuk membujukmu menghilang jadi aku berpikir keras agar kamu yang mengajakku bicara duluan. Tapi tidak disangka mulutku ini malah mengataimu dengan kejam hingga membuatmu menangis dan bahkan mengajakku pisah." Memasang raut wajah yang sedih.


"Bagaimana dengan perilakumu terhadap para pengawal itu? Mereka tidak bersalah Rey."


"Itu hanya bagian skenario untuk menakutimu saja," jawab Reyhan gugup.


"Apa? Dasar nakal kamu ya, mengerjai istrimu sendiri." Memukul pundak Reyhan.


"Jadi, kamu masih marah?" tanya Reyhan.


"Marah? Tentu saja tidak suamiku ini sangat polos," jawab Lyra sambil duduk kembali di atas ranjang.


"Aku sudah dewasa, aku ini suamimu kita sudah menikah." Menatap sinis.


"Benarkah? Apa buktinya kalau kamu sudah dewasa?" tanya Lyra.


"Tunggu tetap duduk disana akan ku tunjukkan bahwa aku sudah sangat dewasa." Tidak mau kalah.


Dan Mereka pun melakukannya (hubungan suami-istri) yang ke sekian kalinya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca jangan lupa like, hujat n votenya Readers tercintaku. Tetaplah setia mendukung novel ini karena aku sebagai author akan berusaha keras melakukan yang terbaik. šŸ˜šŸ˜šŸ˜



__ADS_2