
"Menikah? Hal seperti itu tidak akan terjadi Rey kamu dan aku-
Tiba-tiba ucapan Lyra terhenti. Reyhan dengan gampangnya meraih tubuh Lyra lalu menggendongnya.
"Lepaskan aku, Rey!" teriak Lyra serta memberontak.
"Selama aku hidup aku tidak akan pernah memutuskanmu dan selama aku hidup hanya aku, Reyhan Almirza yang akan selalu bersamamu. Aku tidak tahu apa yang dikatakan wanita itu hingga membuat Lyra yang aku kenal sangat kuat ini harus menangis. Semakin kamu lemah, semakin senang dia menghancurkanmu dan itu hanya membuat kamu rugi karena dia yang akan jadi pemenangnya." Reyhan berjalan lebih cepat Lyra yang tadinya gontai pun perlahan membisu.
"Apa kamu masih mengatakan kata putus lagi?" tanya Reyhan sambil menghentikan langkahnya.
Lyra tidak menjawab, ia terlalu lelah sedari tadi berdebat dengan hal yang menguras emosi dan tenaga. Reyhan mencium kening Lyra, tampak Lyra mulai tenang menerima perlakuan manis Reyhan.
"Turunkan aku, Rey aku ini berat," ujar Lyra pelan.
"Siapa bilang kamu berat? Jangan sok tahu." Mengabaikan permintaan Lyra.
"Tapi bukankah kamu bilang aku ini mirip sapi bunting?" Memelotot kesal.
"Hmmm beda lagi, itu kalau kamu sedang tidur, Akan tetapi untuk situasi sekarang kamu Lyra si putri cantik kesayangan Reyhan." Menatap dalam pada Lyra.
"Tapi bagaimana kamu akan menghadapi mama kamu yang keras kepala itu? Ingat Rey biar bagaimanapun dia itu ibu yang melahirkan kamu," tanya Lyra.
"Itu gampang aku atasi yang penting sekarang jangan pernah lagi terucap kata putus atau kata pisah lainnya. Lyra ingatlah berpikir jernih itu perlu, aku tak butuh kamu harus ini-itu tapi tolong jadilah seseorang yang pantas diperjuangkan." Menurunkan Lyra.
Mereka pun berjalan menyibak gelapnya malam, Lyra melihat tubuh Reyhan yang masih dengan tegapnya berjalan meski sudah mengangkat tubuhnya lama.
Benar kata mama Reyhan, dibandingkan dengan apapun kami tidaklah sejajar cih, tapi untuk apa dengan semua itu jika lelaki berhargaku masih mengandalkan ketulusan dari orang yang mengasihinya. Kamu benar Rey, aku harus bersikap seolah-olah pantas untuk diperjuangkan, mulai sekarang akan aku buktikan pada mamamu, cintaku lebih berharga daripada takaran harta yang dia miliki, perlahan tapi pasti akan aku hancurkan ego yang dia miliki sebelum dia menggoyahkan cinta yang sudah begitu dalam ini. Batin Lyra, lalu menyentuh pelan punggung tangan Reyhan, kemudian menggenggamnya lembut.
"Tunggu sebentar aku ambil mobil dulu," ujar Reyhan.
"Ah Rey, aku pulang pakai motor saja kamu perlu bicara dengan mamamu. Lagipula aku tidak mau orang lain yang membawa motorku pulang, itu terlalu sering, Rey." Menarik tangan Reyhan sambil memelas.
"Tapi Lyra aku khawa-
"Enggak ada tapi-tapian, aku pergi dulu ya ingat bicara dengan kepala dingin usahakanlah jangan menyakitinya. Aku pergi dulu." Berlari pergi lalu memakai helmnya kemudian melajukan motor scoopy berwarna hitam miliknya.
Aku mengerti maksud kamu bicara dengan kepala dingin tapi orang itu bahkan dengan kepala panas saja takkan merubah tabiat buruknya itu, maaf Lyra kali ini aku tidak bisa mendengarkanmu. Batin Reyhan sambil berjalan masuk ke area dalam rumahnya.
Reyhan menyusuri ruang tengah yang terhubung dengan ruang keluarga ia terus berjalan menuju kamarnya namun saat dia mulai menginjakkan kaki di anak tangga mewah yang bercorak berwarna putih susu itu.
"Reyhan, berhentilah aku ingin bicara," ujar Marta yang bediri di depan kamarnya yang berada di lantai tiga dengan memakai setelan piyama berwarna putih.
Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, ia memilih untuk mengabaikan Marta dan melanjutkan langkah menuju kamarnya.
"Putuskan wanita itu, dia tidak baik untukmu. Seleramu terhadap wanita sangat rendah. Haruskah aku membuka biro jodoh untukmu?"
Reyhan tetap memilih diam, dia hanya akan membuang-buang waktu mengoceh dengan wanita yang tidak berperasaan seperti Marta.
Brakkk!
Reyhan membanting pintunya berhasil membuat Marta terkejut dan memilih untuk berhenti bicara dan masuk ke dalam kamarnya.
Malam itu pun berakhir dengan cukup mencekam rumah yang tadinya terasa nyaman dan damai kini berubah bagai diselimuti lapisan lahar yang terasa begitu panas dan menakutkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Drrrrrrrrrt Drrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrt
"Halo." Lyra mengangkat telepon dari seberang.
"Lyra, bangunlah aku sudah di depan rumah. Aku membawa seragam yang kamu cari."
__ADS_1
"Benarkah? Tunggu sebentar aku akan keluar." Dengan sekuat tenaga Lyra bangkit dari tidurnya, ia pun berlari ke depan rumahnya.
Ia pun membuka pintu, tampak Reyhan sedang membawa bingkisan berisi seragam.
"Wah, ini masih pagi sekali. Hoammmm...," Lyra menutup mulutnya lalu mengangkat kedua tangannya.
"Kamu."
"Kenapa denganku?" tanya Lyra lalu menggerakkan tangannya ke kanan-kiri.
"Apakah pakaian tidurmu selalu seperti ini?" tanya Reyhan.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Lyra balik.
"Bukankah terlalu rendah. I-itu kelihatan." Dengan ragu menunjuk ke arah belahan dada Lyra yang kebetulan tidak memakai bra.
"Hah...,tidaaaaak!" teriak Lyra yang begitu heboh membuat orang-orang yang berlalu lalang terkejut.
Huh, ternyata dia tidak sadar, aku kira dia sengaja. Batin Reyhan sambil menepuk-nepuk dadanya tampak wajahnya memerah.
Beberapa menit kemudian Lyra pun kembali dengan memakai setelan training.
"Maaf ya, tadi aku enggak sadar. Terima kasih sudah mengantarnya, apa kamu mau sekalian mampir atau-
"Jangan sampai aku melihat pakaian seperti itu lagi. Melihatmu berpakaian seperti sekarang, aku jadi ingin mengajakmu berolahraga, apa kamu senggang?" tanya Reyhan.
Aku juga mana sadar memakai baju yang itu. Batin Lyra.
"Bagaimana kamu, mau tidak?" tanya Reyhan lagi.
"Oh tentu saja, aku juga merasa semakin lama tulangku sudah seperti nenek-nenek saja gampang remuk. Ayo kita pergi." Lyra melemparkan bingkisan tersebut tepat di atas kursi yang berada di ruang tengah.
Dari jauh Reyhan melihat orang suruhan Redro yang menjaga Lyra dan Siska. Reyhan menggerakkan tangannya seperti memberi kode yang mereka balas dengan anggukan.
Apa perlu aku tanya hubungannya dengan ibunya. Ah sudahlah saat ini mending santai sejenak lupakan urusan yang tidak penting karena sekarang saatnya menenangkan diri. Batin Lyra.
"Lyra, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Reyhan.
"Tanya saja selama aku bisa jawab aku akan menjawabnya." Tersenyum bangga karena memakai kalimat yang sering Reyhan ucapkan dikala Lyra menanyakan sesuatu padanya.
"Ehm sepertinya saat ini ada kemajuan." Melirik ke arah Lyra.
"Bukankah kita ini satu Rey, hahaha." Tertawa bangga.
"Apa kamu mengenal keluarga Fardan dengan dekat?" Menatap Lyra dengan serius.
"Kenapa jadi bahas kak Fardan sih? Bisa tidak kamu itu enggak usah membahas orang lain dalam hubungan kita? Aku capek Rey." Menatap kesal.
Reyhan terdiam menyadari kesalahannya yang sudah dibutakan rasa cemburu kepada Fardan.
"Aku tidak terlalu mengenalnya dengan dekat, hanya saja aku pernah bertemu ayahnya pak Handoko, lupa sih nama awalnya. Ayahnya baik dan ramah dulu kami sering bertemu. Akan tetapi ada berita yang mengatakan pak Handoko telah melakukan Penyelewengan Satwa Ilegal, dia difitnah Rey, kak Fardan saat itu sangat frustasi ibunya masuk RSJ dan adiknya bunuh diri," jelas Lyra.
"Dari mana kamu tahu semua cerita itu?" tanya Reyhan serius.
"Waktu itu kak Fardan sendiri yang cerita kasihan banget kan? Aku benci sama yang si tukang fitnah itu gara-gara dia keluarga kak Fardan hancur. Namun sekarang kak Fardan sepertinya sudah bisa menerimanya dengan lapang dada, dulu dia sangat frustasi Rey dia sering mabuk-mabukan dan juga sering memukul orang di kampus, hingga akhirnya ia dibawa ke psikiater."
"Dan kamu yang menemaninya kesana?" Bicara pelan.
Kenapa pas banget sih dijawab tidak ya, jawab salah nggak dijawab pasti lebih salah lagi. Batin Lyra.
"Aku hanya bercanda." Tersenyum melihat ekspresi Lyra yang merasa disudutkan.
__ADS_1
"Rey, sebentar lagi kamu akan lulus mau nyambung kuliah kemana?" Melirik Reyhan.
"Bukankah sudah ku bilang berulang kali kalau aku akan menikahimu." Menatap Lyra.
"Rey, kamu benar-benar nggak bisa gitu berubah pikiran?" tanya Lyra.
"Lyra, apa yang membuat kamu sebegitu tidak inginnya menikah denganku? Apa aku ini terlalu buruk untukmu? Atau-
"Baiklah kita akan menikah, cepat-cepatlah lulus dan jadikan aku istrimu dan kita akan bahagia selamanya." Mencoba meredam emosi Reyhan.
"Lyra kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggumu termasuk wanita itu-
"Rey, apa susahnya sih kamu memanggilnya dengan sebutan mama? Biar bagaimanapun kamu terlahir dari rahim dari wanita yang kamu benci itu Rey." Menatap tajam pada Reyhan.
"Dulu aku selalu menginginkan dia ada sampingku, bahkan aku sengaja membuat diriku dalam kecelakaan yang termasuk parah. Dengan kekuasaan yang dia miliki dia dengan sombongnya menuduh para ART, satpam dan pengawal lainnya tidak becus. Aku pernah menenggelamkan diriku di dasar laut, aku sudah pernah mati berkali-kali tapi sosok ibu yang aku butuhkan pelukannya itu tak kunjung datang, senyum teduhnya yang paling aku rindukan itu tak kujumpai, hingga aku bertemu denganmu." Menghentikan mobilnya.
Lyra terdiam matanya mulai berkaca-kaca mendengar cerita masa lalu Reyhan yang mengaku sangat merindukan sosok ibu yang ia anggap sebagai penenangnya.
"Sudah sampai, ayo turun." Reyhan memakirkan mobilnya di parkiran yang telah disediakan.
"Wah sudah lama banget nggak kesini, kita mulai dengan apa nih." Lyra melihat ke kanan-kiri.
"Kita pemanasan dulu," jawab Reyhan sambil berlari kecil.
"Hahaha Rey orang pakai celana olahraga kamu malah pakai celana jeans," ejek Lyra.
"Karena tujuan utamaku hanya menemani seorang wanita tua yang tulangnya gampang remuk." Tak mau kalah.
"Kamu menyindirku ya, awas akan aku hajar kamu!" teriak Lyra sambil mengejar Reyhan.
10 Menit kemudian.
"Huh ca-pek banget Rey, hah rasanya napasku sudah habis." Dengan napas tersenggal-senggal Lyra langsung merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau yang tertanam rapi.
"Lyra. kamu benar-benar sudah tua ternyata, baru beberapa menit napasmu sudah seperti orang yang mau sakaratul maut saja." Meminum mineral.
"Lalu kalau aku sudah tua memangnya kenapa? Dengar ya biar bagaimanapun aku masih bisa membuat Reyhan Almirza lelaki tampan, berani dan kaya tergila-gila padaku," jawab Lyra tak mau kalah.
Reyhan tersenyum, dia pun mulai membaringkan tubuhnya tepat di samping Lyra menatap indahnya langit biru serta awan yang putih bersih.
Lyra menganggakat kedua tangannya diikuti oleh Reyhan.
"Kamu putih banget sih kayak cewek aja, iri tau," ujar Lyra dengan suara memelas.
"Hmm baiklah nanti aku suntik hitam saja," jawab Reyhan singkat.
"Jangan deh, putih saja biar kelihatan bersih suntik-suntik itu tidak bagus lho hehehe." Tawa yang dibuat-buat Lyra berhasil membuat Reyhan merasa lucu ia pun ikut tertawa.
"Rey suara tawamu itu kedengarannya sangat aneh, serius." Menatap Reyhan bingung.
"Aku sudah lama tidak merasa tenang seperti ini, apa aku perlu ke psikiater untuk terapi tawa?"
"Eits tidak perlu pekerjaan mulia seperti ini cukup aku, Lyra yang baik hati ini yang akan membantumu." Menggenggam erat tangan Reyhan.
"Lyra...." Terdengar jelas suara seseorang yang sangat familiar.
Reyhan dan Lyra terkejut dan langsung bangkit.
BERSAMBUNG
Terima kasih sudah baca jangan lupa Like, Komen dan Vote ya klo ada poinnya . Tangkiyuuuuuuuu
__ADS_1