
Lyra merapikan pakaian-pakaian milik Reyhan, sementara suaminya itu sibuk di ruang kerja. Untuk membuang rasa suntuknya, Lyra menyalakan TV.
Betapa terkejutnya dia, ketika sebuah siaran membahas tentang kejadian viral. Bukan tanpa alasan, siaran tersebut mengambil sepenggal cuplikan dari aplikasi tik-tik. Wajah Reyhan yang tengah disoroti seseorang pengguna akun tik-tik tersebut.
Bukan hanya itu, bahkan pengguna sosmed yang lainnya justru memberi komentar yang menyatakan lebih banyak yang memiliki rekaman tentang Reyhan. Dimulai dari sekolah tempat Reyhan dulu, dikaitkan dengan berita viral Reyhan di Amerika dan yang terakhir rekaman Reyhan yang sedang membeli obat.
Cuplikan-cuplikan video tersebut dijadikan satu. Lyra segera menghampiri Reyhan. Wanita itu tampak begitu antusias.
"Sayang," panggilnya dengan napas terengah-engah.
Reyhan panik bukan kepalang, ditepuknya pelan pundak Lyra lalu memberi segelas minuman miliknya.
"Kamu, kamu viral," kata Lyra seraya menormalkan napasnya.
Reyhan mengeryit, "kamu bicara apa?"
Lyra menyalakan televisi yang terletak di ruang kerja. Dan berita tentang Reyhan masih dibahas di siaran tersebut.
"Tuh liat, ada yang cari kamu," ujar Lyra.
Reyhan menatap tidak suka. Ia segera menghubungi Redro.
"Star Tv, suruh mereka menghapus berita tentangku. Kalau mereka menolak, ratakan semua!" Setelah mengatakan itu, Reyhan memutuskan panggilan.
"Sayang, kok kamu malah bersikap seperti itu? Kasihan sama mereka-"
"Kamu mau aku bagaimana? Datang dan bilang aku orang yang kau cari, begitukah? Setelah itu aku diundang di siaran sana dan sini kemudian terkenal. Lalu, kamu menjauhiku dengan alasan kita tidak cocok, begitukah mau mu?"
Kedua mata Lyra membola sempurna, seketika ia menunduk. Ia menatap Reyhan yang tengah duduk dengan raut wajah kesalnya.
"Boleh, aku duduk?" tanya Lyra sembari menepuk-nepuk kedua paha Reyhan.
"Hmmm," jawab Reyhan acuh.
Lyra tersenyum, dielusnya pelipis Reyhan yang lebih putih dibandingkan jemarinya.
"Akh! Melihatmu begini, jadi pengen punya anak. Hmmm 2 kayaknya seru deh. Kita main bareng terus kejar-kejaran deh hehehe...." Ucapan Lyra tak digubris Reyhan, wajahnya masih kusut.
Lyra masih belum menyerah hingga mood suaminya itu kembali manja lagi, seperti biasa. Dan tentu saja wanita itu punya seribu cara.
"Ehm, aku akan menceritakan sebuah dongeng hingga kita semua terlelap," lanjut Lyra.
"Apa? Maksud kamu kita tidur dengan mereka?" tanya Reyhan dengan pandangan serius.
Lyra tersenyum licik, Reyhan mulai terpancing. Wajah polos yang semula mengerucut itu mulai emosional.
"Ya, tentu saja. Aku akan menemani mereka tidur, makan dan mandi bersama," jawab Lyra.
Reyhan menghela napasnya, dapat Lyra rasakan aroma mint yang menyeruak membuatnya semakin nyaman.
"Mandi dan tidur bersama?" tanya Reyhan dengan wajah yang lebih serius lagi.
"Yups dengan bak mandi dan ranjang yang sama." Raut kemenangan terpancar di wajah Lyra. Ya, menang karena suaminya yang cemburuan itu benar-benar terpancing sekarang.
"Tidak! Aku tidak setuju," jawab Reyhan.
"Lho, kenapa?" Lyra berpura-pura menanggapi serius.
"Ya, terasa aneh kalau kita mandi dan tidur di bak mandi dan ranjang bersama. Mereka akan kubuat kan kamar serta kamar mandi pribadi. Bahkan akan kubuat mereka tinggal terpisah dari kita."
Cup! Kecupan Lyra mendarat di dahi Reyhan. Wajah lelaki itu memerah membuat Lyra tertawa.
"Kenapa dengan ekspresimu?" tanya Lyra.
"Tidak apa-apa!" jawab Reyhan menahan malu.
"Hei lihat aku dulu," ujar Lyra menarik dagu Reyhan yang beralih pandang darinya.
"Ada apa?" tanya Reyhan salah tingkah.
"Aku mencintaimu," ucap Lyra membuat kedua mata Reyhan berbinar-binar.
"Hahaha...kok aku malu ya bilangnya," ujar Lyra.
Reyhan berdehem, "lakukan apa yang membuatmu nyaman."
***
Hari itu, Lyra dan Reyhan baru saja kembali dari rumah sakit memeriksa kesehatan. Keinginan punya keturunan membuat Lyra mengajak Reyhan memeriksa kesehatan secara rutin.
Mobil pun melaju hingga tibalah mereka di rumah. Di garasi terlihat mobil Erick yang sudah terparkir. Reyhan dan Lyra keheranan.
"Untuk apa bocah itu kemari," ujar Reyhan.
Lyra mengeryit, "mengatakan orang lain bocah, tanpa sadar diri sendiri," bisiknya.
"Levelku berbeda dengannya," timpal Reyhan.
Lyra menggeleng-gelengkan kepalanya, ia memilih segera beranjak daripada melawan perkataan Reyhan.
"Kak, Lyra." Seorang perempuan langsung menyambar wanita itu.
Betapa terkejutnya Lyra setelah mendapati Rania di hadapannya.
"Kemana saja?" tanya Lyra seraya menepuk pundak Rania.
"Hahaha...aku sibuk Kak. Maaf enggak sempat datang ke pernikahan Kakak. Biasa jaga nenek ke rumah sakit," jelas Rania.
Reyhan pun masuk dan tentu saja langsung disambut oleh Erick yang sangat merindukannya. "Lu semakin unyu-unyu," ujarnya seraya melemparkan senyumannya.
__ADS_1
Marta tampak senang melihat keakraban Lyra dan Rania.
"Oh, ya Ma. Lyra boleh minta tolong nggak?" tanya Lyra merasa sedikit malu.
"Tentu saja, Sayang," jawab Marta lembut.
Lyra menggaruk kepalanya, merasa tidak enak. "Itu, anu Ma, boleh nggak Rania tinggal di sini tapi kalau nggak boleh nggak apa-apa kok Ma. Hehehe...."
Marta dan Erick langsung tertawa melihat tingkah Lyra yang seperti ketakutan.
"Mama sudah tahu kok maksud dan tujuan kamu," ujar Marta.
"Benarkah? Apa Reyhan yang memberitahu Mama?" tanya Lyra yang langsung dijawab Marta dengan gelengan kepalanya.
"Nggak lah, Erick yang ngasih tahu. Waktu kita pulang dari Amerika kemarin, kan mama dan Erick duduknya barengan. Jadi, Erick cerita setelah mama pikir-pikir niat kamu boleh juga. Baru deh mama suruh Erick cari Rania," jawab Marta.
Reyhan terus memperhatikan dekapan Rania dengan Lyra terlihat begitu akrab. Tetapi, bukan itu masalahnya lelaki itu melihatnya bukan karena ia senang melainkan karena cemburu.
"Aku ke kamar dulu," ucap Reyhan seraya meninggalkan ruangan.
"Hei kok lu begitu sih dan lu-"
"Diam atau kutendang kau keluar." Ucapan Reyhan membuat Erick langsung membekap mulutnya sendiri.
Reyhan berlalu pergi, mereka kembali bercengkerama.
Di kamar, Reyhan merebahkan tubuhnya. Berulang kali, ia melangkah keluar, mengintip kedatangan Lyra. Namun, wanita itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya dan tentu saja lelaki itu kesal.
Bosan menunggu, akhirnya Reyhan memutuskan untuk berenang. Baru saja ia menceburkan diri ke kolam, Lyra pun menampakkan diri. Ia mengerti, suaminya itu sedang kesal sekarang.
"Hai sayang," ujar Lyra seraya mengibas-ngibaskan kakinya.
Reyhan langsung menghampirinya kemudian ikut duduk ke tepian kolam.
"Bolekah aku bertanya?" tanya Reyhan.
"Ya, selama aku bisa menjawabnya," jawab Lyra sambil tertawa.
Reyhan merasa malu, karena kalimat itu yang keluar dari mulutnya setiap Lyra hendak bertanya.
"Pernakah kamu merasa cemburu padaku?" tanya Reyhan lagi.
Lyra tersenyum, ia tahu maksud pertanyaan itu. "Aku selalu merasa cemburu setiap hari padamu," jawabnya.
Reyhan menatap Lyra, seolah mencari kebenaran akan jawaban istrinya itu. "Kamu tahu nggak bagaimana rasanya menghadapi kecemasan setiap saat? Aku selalu di posisi itu cemas kamu dekat dengan orang lain, cemas jika kamu tergoda. Tetapi, Rey aku berpegang teguh pada diriku sendiri. Selain setia bukankah kepercayaan harusnya diutamakan juga?"
"Begitu ya? Aku jadi lega," jawab Reyhan.
Lyra terkekeh, "Sayang aku tahu kok kamu sedang cemburu kan tadi. Tapi, aku senang kok. Entahlah kenapa aku merasa semakin kamu cemburu semakin aku jatuh cinta."
Reyhan menarik Lyra ke pelukannya. Membuat wanita itu nyaman dengan belaian lembut darinya. "Ceritakan tentang Vica dong."
"Apa?"
Reyhan mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat.
"Kamu menyukainya ya?" tanya Lyra.
"Apa? Sembarangan kalau bicara. Aku tidak pernah melihat wanita lain sebelum bertemu denganmu," jelas Reyhan.
"Ya, kalau begitu kenapa nggak cerita? Aku saja sudah cerita semua tentang kak Fardan." Lyra terus memaksa Reyhan yang berusaha bungkam.
Reyhan mengendus pelan, "baiklah aku akan menceritakannya."
FLASH BACK
Reyhan berniat mendatangi Erick ke kelasnya. Waktu itu mereka masih SMP. Tiba-tiba Vero datang dan menepuk pundaknya.
"Mengagetkanku saja."
Vero tertawa puas, "padahal aku pelan lho," jawabnya sambil terus menepuk pundak Reyhan, saking lucunya.
Saat itu, Vero adalah murid yang periang dan dia terkenal paling baik meskipun otaknya pas-pasan. Namun, berkat keramahannya dia dipilih menjadi ketua kelas bahkan ketua osis.
Dan terlebih lagi ia dikenal di kalangan para seisi sekolah dikarenakan ia sahabat Reyhan. Ya, Reyhan yang sedari dulu memiliki sifat dingin dapat mencair ketika berada di dekat Vero. Reyhan lebih dekat dengan Vero dibandingkan dengan Erick sahabat dari kecilnya dikarenakan Reyhan sekelas dengan Vero.
Mengingat sekolah mereka yang terbilang elit. Kelas Erick cukup terpisah jauh dari mereka. Akan tetapi, sebagai teman mereka selalu mendatangi Erick di kelasnya.
Tiba-tiba langkah Reyhan terhenti. "Kenapa? Kok berhenti?" tanya Vero.
Reyhan tak menjawab, ia berjalan mendekati gudang dan diikuti oleh Vero tentunya.
Vero terlihat kebingungan pada Reyhan yang terus melangkah masuk dan merasa kengerian yang luar biasa. "Rey, kata orang gudang ini seram. Kita balik, yuk," bisik Vero.
Tetapi, Reyhan yang keras kepala tetap berjalan masuk dan terpaksa Vero mengikutinya.
Brakkk!
Barulah Vero mendengar sesuatu ketika sebuah benda jatuh ke lantai. Mereka mendekati arahnya dan ketika tiba mereka mendapati seorang siswi sedang diikat dan mulutnya disumpel dengan lakban. Tanpa basa-basi Reyhan dan Vero membuka ikatan tersebut.
Dia lah Vica dan itu pertemuan pertama antara Vica dan Vero. Sedangkan Reyhan secara pribadi sudah lebih dulu mengenalnya.
Kini mereka sudah berada di UKS. Sebenarnya, Reyhan ingin kembali ke kelas namun mengingat kedekatan kedua orang tuanya dengan Vica dengan terpaksa Reyhan menemaninya.
"Rey," panggil Vica dengan suara serak.
Reyhan menutup bukunya, "bagaimana keadaanmu?" tanya nya seraya mengambil minuman.
Vica tersenyum ketika Reyhan membantunya untuk minum. "Ya, tentu saja sekolah. Apa perlu bertanya?"
__ADS_1
Reyhan kembali diam tiba-tiba Erick dan Vero datang.
"Lu nggak apa-apa Vic?" tanya Erick sambil mengecek keadaan Vica.
Vica tertawa geli, "iya nih Rick. Baru masuk sudah dikeroyok. Hahaha...."
"Siapa orangnya?" tanya Vero.
"Entahlah, aku nggak lihat, tiba-tiba kedua mataku ditutup lalu dibawa ke tempat itu. Oh, ya makasih sudah ikut menolongku. Kenalin namaku Vica teman Reyhan dan Erick," jawab Vica sembari mengulurkan tangannya.
"Aku, Vero." Membalas uluran tangan Vica.
Singkat cerita, akhirnya Vica ditempatkan di kelas Reyhan karena itu permintaan khusus darinya. Jadi kemana pun Reyhan dan Vero pergi Vica mengikuti. Hingga tibalah hari itu. Ya, kesalahpahaman antara Reyhan dan Vero tiba.
Saat itu, mereka memasuki semester dua. Vero yang sudah sangat menyukai Vica pun menyampaikan perasaannya. Vica membutuhkan waktu untuk menjawabnya dan Vero menyanggupi untuk menunggu.
Di perpustakaan, tampak Reyhan sedang membaca sebuah buku. "Hai, Rey," ujar Vica.
Reyhan menoleh dan kembali membaca bukunya.
"Aku boleh duduk nggak?" tanya Vica.
"Hemmm...." Hanya itu yang keluar dari mulut Reyhan.
Vica pun duduk, kedua matanya terlihat berbinar-binar memandang kagum pada Reyhan yang sedang fokus pada buku tersebut.
"Hari ini, Vero menembakku."
Tak ada jawaban dari Reyhan, lelaki itu masih fokus pada buku yang di hadapannya.
"Aku bingung, Rey. Kuakui dia adalah lelaki yang baik dan juga ramah. Tapi...aku menyukai orang lain." Vica menarik napasnya. "Dan orang itu adalah kamu."
"Apa?" Tampak Vero dan dua es krim di tangannya tepat di belakang mereka.
Vero yang merasa sakit hati pun beranjak pergi dikejar oleh Reyhan. Hingga di aula sekolah.
"Aku nggak nyangka kamu tega menusukku dari belakang!" teriak Vero hingga memancing para siswa dan siswi.
Reyhan masih diam, ia hanya tidak mengerti di mana letak kesalahannya.
"Kamu puas kan, setelah tahu Vica menyukaimu! Kenapa? Mau mengejekku karena ditolak? Sudahlah, Rey kamu terlalu munafik untuk dijadikan teman."
"Katakan, apa salahku?" tanya Reyhan yang masih belum mengerti.
"Alah...jangan sok bodoh deh, bilang saja kalau kamu itu mau mentertawakan aku. Iya, kan? Dasar kau belagu." Vero melayangkan pukulan pertamanya hingga membuat Reyhan terperanjak jatuh.
"Ayo bangun! Tunjukkan padaku seberapa hebatnya dirimu!" teriak Vero.
Reyhan bangkit dan dengan sigap Vero melayangkan pukulannya membuat Reyhan kembali terperanjak.
"Lihatlah, dirimu Rey. Kau memang lebih pantas hidup sendiri karena kau anak sial. Aku nggak heran jika ayahmu meninggalkanmu."
"Apa? Beraninya dia-" Erick yang baru tiba, hendak menghampiri Vero namun sudah lebih dulu Reyhan membuat Vero tersungkur hanya dengan satu pukulan.
Reyhan mendekati Vero, hendak memukulnya. Namun, tubuh Vero yang sudah tak bisa bangkit lagi, dilepaskannya kembali. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Reyhan. Ia berlalu begitu saja.
"Kakak!" Veronica segera membantu Vero untuk bangkit.
Setelah bubar, tampak Vica yang berdiri menyaksikan Vero yang lemah. Kedua mata Vero sendu ketika Vica berbalik pergi tanpa membantunya.
Setelah berkali-kali dapat panggilan dari kantor Vero menolak berdamai dengan Reyhan dan memilih pindah sekolah. Dan inilah awal mereka terpisah.
Veronica yang sejak awal menyukai Reyhan, mulai membuli Vica. Dan Reyhan tak mempedulikan perempuan itu lagi. Bahkan Reyhan menutup diri tanpa siapapun termasuk Erick.
Hingga suatu hari ayah Erick menemuinya dan bersimpuh agar Reyhan mau berteman dengan anaknya lagi.
Vica yang sudah menyerah karena terus-terusan dibuli akhirnya menyerah dan dengan mulut manisnya ia bercerita pada Reyhan bahwa dirinya mengidap kanker dan Reyhan sedikit bersimpati padanya dan terus berkomunikasi dengannya.
Hingga waktu menjawab semua tentang tipuan Vica. Namun, Reyhan masih berbaik hati menerima Vica bekerja dikarenakan kedua orang tuanya berhutang budi pada orang tua Vica.
Tetapi bukan Reyhan namanya jika tidak memiliki maksud dari semua itu. Ya, Reyhan sedang menyelidiki tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan pribadinya melalui Vica. Tinggal menunggu waktu, semua akan segera terjawab.
FLASH BACK ON ...
Lyra mengusap-usap dada Reyhan menatap simpati pada suaminya itu. Reyhan tersenyum tipis lalu menghembus napas merasa lega karena sudah menceritakan semuanya.
"Sudahlah...sekarang ada aku. Aku janji nggak akan meninggalkanmu," ucap Lyra membuat Reyhan terkekeh.
"Tapi...aku nggak nyangka kalau dulu Vero adalah siswa yang manis," lanjut Lyra membuat wajah Reyhan seketika masam.
"Hahaha...tapi tetap saja mending suamiku ini meskipun tatapan dan ucapannya datar dia aslinya romantis. Apalagi di ranjang. Ups!" Lyra yang keceplosan langsung menutup mulutnya.
Reyhan tersenyum nakal, dan Lyra yang mengerti langsung beranjak lari. Tinggallah Reyhan yang tertawa riang melihat istrinya yang kabur ke dalam.
"Ya, kamu benar Vero memang baik. Tapi, aku yakin dia masih sama seperti yang dulu. Aku tak berharap hidup baik seperti yang kami lewati dulu, karena dengan adanya dirimu aku mulai merasa hidupku begitu berarti dan kuharap Vero bisa menemukan jalan hidup yang lebih baik lagi," gumam Reyhan.
Reyhan pun beranjak masuk dan mulai melancarkan aksinya yaitu menjaili Lyra. Tahulah para readers apa yang akan dilakukan si berondong ituπ€£π€£π€£ Tetttewwww....
BERSAMBUNG...
Hai Semua Terima Kasih Sudah Membaca. Jangan Lupa Like dan Komen Ya... Di sini aku sengaja mengulik kisah Reyhan dan Vica karena ada yang komen tentang itu.
Berhubung, otakku yang memang nggak berfungsi dengan baik karena penyakitku jadi ya masih stay. Padahal harusnya tinggal 2 episode lagi mau tamat. Hadehhh...jadi makin panjang deh.
Semoga ceritanya tidak membosankan ya saudari-saudari. Jangan lupa makan sebelum membacanya paling tidak tenaga kalian nggak terkuras karena ESMOSI..
See u again Guys...Saranghaeyoπππ
__ADS_1