MY BERONDONG

MY BERONDONG
MABUK BERAT....


__ADS_3

Pagi pun tiba, seperti biasa Bik Na yang bertugas khusus membersihkan kamar Reyhan pun memulai tugasnya.


Ia memandangi wajah teduh Reyhan yang masih lelap dalam tidurnya tampak begitu tenang.


Den Reyhan memang tampan tapi sayang kisah hidupnya penuh lika-liku andaikan aku punya anak seperti den Reyhan pasti akan ku jaga walau apapun yang terjadi. Batin Bik Na.


Bik Na pun berpindah tempat ke sisi tempat tidur Reyhan yang satu lagi.


"Kok gulingnya kayak bernafas ya." Bik Na melihat sesuatu yang bergerak kembang kempis yang ditutupi selimut.


Karena sudah terlanjur penasaran, bik Na pun membuka selimut tersebut dengan pelan, Dan...


"Ahk!" teriak Bik Na.


"Ada apa Bik?" tanya Reyhan yang terbangun dari tidurnya.


"I-itu Den gulingnya bernafas eh guling bernafas." Menunjuk sesuatu yang bergerak kembang kempis dari balik selimut.


Reyhan memelotot kaget dengan segera ia membuka selimut tersebut dan betapa terkejutnya dia setelah mengetahui apa yang di balik selimut.


"Eh neng Lyra Den." Memelotot kaget.


"Bik, tinggalkan kami dan tolong jangan bilang siapa-siapa," ujar Reyhan.


Bik Na mengangguk, ia pun pergi dengan mata yang berbinar-binar.


Reyhan memperhatikan tiap sudut wajah Lyra dengan lekat, ia tersenyum lalu mendekatinya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi semalam tapi yang jelas saat ini aku sangat bahagia." Mengelus rambut Lyra.


"Ah Siska sudah aku bilang berapa kali jangan pernah mengganggu aku tidur." Mengerutkan dahi.


Reyhan semakin gemas melihat tingkah Lyra yang sedang kesal.


Namun tiba-tiba Lyra menarik tangan Reyhan tepat berhadapan dengan wajahnya.


"Hah Siska kenapa hari ini kamu terlihat seperti Reyhan, pagi-pagi sudah terbayang saja sama wajahnya." Memengangi sisi wajah Reyhan dengan kedua tangannya.


"Aku ini memang Reyhan." Tak tahan melihat pakaian tidur Lyra yang minim.


"Hehehe jangan berbohong otakku ini masih waras kok, mataku saja yang masih tidak bekerja dengan baik, entahlah sepertinya efek minuman tadi malam." Melepaskan wajah Reyhan.


"Apa? Maksud kamu tadi malam kamu mabuk, aku tidak menyangka kamu mau menyentuh benda itu." Mulai kesal.


"Nggak Sis, aku hanya kehausan saja waktu aku melihat kulkas hanya ada minuman tersebut, aku kira itu fanta atau sejenis lainnya-


"Kemana kamu tadi malam?" Mencoba menyelidiki.


"Tante Marta itu mabuk berat, eh waktu aku membawanya pulang dia malah menyuruhku menginap coba kamu bayangkan apa yang akan aku lakukan jika tiba-tiba bertemu Reyhan?"


"Jadi menurutmu sekarang kamu berada dimana?"


"Ya tentu saja di rumah ki-"


Lyra menghentikan perkataannya, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dengan perlahan ia membuka matanya dan benar saja senyuman Reyhan yang pertama terlihat di pelupuk matanya.


"Reyhan." Memelotot tak percaya.

__ADS_1


"Ya ini aku." Mulai mendekat.


"Ja-jangan mendekat." Menutupi pakaiannya dengan selimut.


"Lyra cepatlah turun, aku menunggumu, kejadian tadi malam jelaskan padaku." Menjauh lalu keluar kamar.


"Apa? Aduh sakit sekali, rasanya kepalaku mau pecah." Memegangi kepalanya.


Lyra memakai pakaiannya, ia pun beranjak pergi menghampiri Reyhan.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Tatapan itu, apa dia sangat marah padaku siapapun disana tolong gantikan aku di posisi saat ini. Batin Lyra dengan mimik wajah salah tingkah.


"Den, buburnya sudah siap." Memberikan baskom yang berukuran sedang pada Reyhan.


Reyhan pun berjalan mendekati Lyra.


Apa dia akan menyiramku dengan bubur itu, kenapa dia gusar padaku apa karena tante Marta?


Reyhan duduk di depan Lyra, meletakkan bubur di atas meja, ia pun mengambil sesendok bubur yangmasih panas tersebut lalu menghembuskannya agar menjadi hangat. Kemudian ia mengarahkan sendok yang berisikan bubur hangat tersebut ke mulut Lyra.


Lyra yang biasanya menolak keras disuapi oleh Reyhan pun tak berkutik. Kali ini dia terlihat antusias menerima suapan-suapan bubur hangat dari Reyhan.


Dari kejauhan di balik tangga tampak Marta sedang mengintip adegan tersebut, Tatapannya terlihat sendu.


"Sepertinya aku memang tidak bisa memisahkan mereka, perlakuan Reyhan pada Lyra sangat bertolak belakang dengan sifatnya, tak bisa ku bayangkan jika mereka berpisah, ya sudahlah apa lagi yang ku harapkan sebagai seorang ibu melihat anaknya bahagia itu adalah hal paling berharga." Tersenyum tipis lalu beranjak ke atas.


Para ART hanya bisa menatap mereka dengan mata yang berbinar-binar terlihat jelas mereka sangat bahagia melihat pemandangan tersebut. Suasana hening bercampur romantis itu pun berjalan lancar di pagi hari tersebut.


"Pil apa ini?" Memelotot bingung.


"Menurutmu, ini untuk berjaga-jaga karena kejadian tadi malam aku tidak bisa jamin." Tersenyum tipis.


"Apa? Maksud kamu kita me-


"Ya kamu menggodaku dengan pakaian seperti itu, awalnya aku menolak tapi melihat rengekanmu itu dengan terpaksa aku melakukannya, Lyra kamu sangat beruntung mendapatkan benih itu." Meraih susu coklat yang berada di depannya lalu meneguknya.


"Tidak mungkin, jadi ini untuk apa?"


"Tenang aku hanya memberimu vitamin penyubur kandungan sebagai calon ayah baru, aku harus siaga, bukan?" Tersenyum senang.


"A-apa i-itu tidak mungkin, aku nggak mungkin seperti itu." Mengacak-acak rambutnya kasar, merasa frustasi.


"Minumlah, ingat di dalam situ ada darah dagingku, kamu nggak bisa lari lagi, Lyra kita benar-benar sudah menyatu, jagalah dia." Menunjuk ke arah perut Lyra.


Apa yang aku lakukan tadi malam kenapa aku tidak ingat sama sekali, rasanya nggak mungkin sekali aku melakukan itu dan berdasarkan pemikiranku nggak mungkin juga Reyhan yang aku kenal menerimanya dengan sukarela, tapi kadang sifat orang kan bisa berubah, jadi kalau itu benar anak ini.... Gumam Lyra.


Lyra meminum pil tersebut, terlihat jelas wajahnya sedang berpikir seperti orang linglung.


"Lyra."


"Ada apa?"


"Kamu tahu itu pil apa?"


"Ini pil, bukankah kamu bilang penyubur kandungan?"

__ADS_1


"Sebenarnya tidak."


"Apa? Atau jangan-jangan ini pil penggugur kandungan." Memelotot tidak jelas.


"Apa dimatamu aku sekejam itu?"


"Aku hanya tahu 2 pil itu saja saat ini, jadi katakan pil apa ini?"


"Kamu kebanyakan nonton sinetron Azab, makanya otakmu dipenuhi 2 pil itu saja."


"Aku saja tidak tahu sinetron itu, sudah jangan mengulur waktu, jawab pil apa ini?"


"Itu hanya pil pereda sakit kepala." Tersenyum bangga karna berhasil mengelabui Lyra.


"Apa? Kamu ini benar-benar jail sekali ya, jantungku rasanya mau copot tadi huh dasar menyebalkan!" teriak Lyra.


"Apa kamu kecewa kita tidak melakukannya." Tertawa senang.


Lyra tidak menjawab matanya memelotot sinis pada Reyhan, rasa marah, kesal dan jengkel bersarang di dala hatinya.


"Tadi malam kamu mabuk berat, oh ya ku dengar kamu bertemu dengan wanita itu, bisakah aku mendengar hal apa saja yang kalian lakukan tadi malam?"


Lura memelotot kaget, mulutnya terkunci rapat sejenak dari raut wajahnya tampak bingung.


"Kenapa? Apa kamu sedang berpikir dari mana aku tahu peristiwa tadi malam bukan."


"Itu, a-aku hanya mengobrol biasa saja tidak ada obrolan yang berlebihan kok." Berusaja tenang.


"Bik Sum, tolong tinggalkan kami berdua."


Sesuai perintah Reyhan bik Sum beserta ART lainnya pun meninggalkan ruang makan dan tinggallah Reyhan dan Lyra. Yang 1 menatap dengan sinis bagai singa yang siap menerkam dan yang 1 lagi bergetar kaku ibarat kelinci yang bertemu hewan buas. Keadaan itu benar-benar terasa mencekam.


"Lyra aku suka semua yang ada pada dirimu, tapi bisa tidak jangan terlalu baik apalagi dengan wanita seperti itu," ujar Reyhan berusaha tenang.


"Rey, bolekah aku bertanya sesuatu?" Mencoba memberanikan diri.


"Hmmm." Menjawab singkat.


"Dibandingkan aku dengan dia rasa sayangmu lebih besar pada siapa?"


"Apa? Pertanyaan bodoh seperti apa itu." Menatap tidak suka.


"Hah, Rey kamu menyayanginya kan, melebihi aku bersikaplah jujur Rey, jangan bohongi perasaanmu sendiri." Menghela napas.


"Lyra, sepertinya aku salah menduga kamu berlagak seperti peramal tapi kamu salah menebakku, aku sama sekali tidak menyayangi dia." Mulai mengeluarkan amarah.


"Tidak Rey, aku bukannya berlagak menjadi peramal kita sudah saling kenal lumayan lama jadi semua gerak-gerik dan sorotan matamu perlahan tapi pasti terbaca olehku." Berjalan mendekat.


"Sepertinya aku terlalu baik padamu, jangan salahkan aku jika-"


"Lakukan saja."


Lyra berjalan mendekati Reyhan namun dikarenakan lantai terlalu licin Lyra yang kepalanya masih pusing pun oleng Dan...


BERSAMBUNG.....


__ADS_1


__ADS_2