MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Reyhan VS Redro....


__ADS_3

Tok-tok


Seseorang mengetuk pintu rumah dari luar, Siska yang mengenakan celemek langsung berjalan ke arah pintu.


"Siapa yang bertamu di pagi hari begini?" tanya Siska keheranan lalu membuka pintu.


"Siska!" teriak Lyra.


Siska yang terkejut memegangi arah jantungnya.


"Astagfirullah, Ra kalau aku jantungan bagaimana?" tanya Siska dengan kesal.


"Hmmm aku akan dibunuh oleh Redro pastinya," jawab Lyra.


"Sebelum itu dia akan mati terlebih dahulu ditangan Reyhan." Siska berjalan masuk diikuti oleh Lyra dari belakang.


Mereka pun langsung menuju dapur di sana terlihat masakan Siska mulai matang yang masih terletak di atas kompor. Siska pun membubuhkan penyedap rasa. Sementara itu Lyra hanya memandanginya sambil tersenyum.


"Kenapa berdiri di situ, bantuin apa kek," ujar Siska sambil menghembus sedikit kuah pada sendok makan, ia mencoba rasa masakannya.


"Beberapa hari kutinggal kamu cukup berubah, Sis. Ya...,mulai disiplin. Bangun pagi-pagi dan langsung masak. Padahal sebelumnya aku cukup khawatir aku takut kamu amburadul kalau sendiri karena itu sangat tidak baik untuk kesehatan." Mencuci piring kotor pada wastafel.


"Ya, biar bagaimanapun aku memang harus berubah Ra, aku sadar kalau selama ini sudah membebanimu dan diwaktu aku melihatmu menikah aku mulai berpikir bagaimana kehidupanku selanjutnya setelah ditinggal olehmu. Hal itu selalu aku pertimbangkan bahkan hingga sekarang aku masih terpikir pada kehidupanku di masa mendatang," jawab Siska lalu merapikan piring pada raknya.


"Jangan dipikirkan lagi oke, sudah ada Redro yang akan siap menemanimu di masa yang akan datang." Tersenyum berusaha menyemangati Siska.


"Oh ya Reyhan mana? Kok ditinggal," tanya Siska.


"Kamu menanyakan Reyhan atau pengawalnya?" tanya Lyra melirik menggoda Siska.


"Aku serius lho Ra, tentu nanyain Reyhan lah kalau Redro mah sudah ketemu kemarin," jawab Siska mulai kesal melihat Lyra mulai menggodanya.


"Hahaha, cie-cie yang sering di apelin Redro, pantas mulai rajin juga ya, ternyata bebeb Redro mantau terus." Terkekeh melihat ekspresi Siska.


"Kenapa kamu membully aku ini." Mengerutkan dahinya.


"Entah! Mungkin ini bisa dibilang karma karena kamu sering mengejekku juga kali ya," jawab Lyra sambil mengangkat dagunya.

__ADS_1


TLAKKK


"Tapi kenapa aku merasa temanku ini dendam ya?" tanya Siska setelah menyentil dahi Lyra.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Ini salinan persentase yang Jose kirim hari ini, Den bisa mempelajarinya sekarang," ujar Redro sambil memberi tumpukan kertas yang dirangkai menjadi satu.


"Apa hanya begini?" tanya Reyhan lalu mengacak-acak tumpukan kertas kemudian memberikannya kembali pada Redro.


"Iya Den, tapi ini hanya sebagian, oh ya tadi malam Jose sempat berpesan secepatnya Den terbang ke Amerika karena para petuah pemilik saham lainnya mulai curiga pada penyakit nyonya Marta." Merapikan salinan tersebut kembali.


"Aku sudah menduganya cepat atau lambat peristiwa ini akan terjadi, pasti masing-masing dari mereka akan menunjuk pilihan sendiri-sendiri ya bisa saja itu anak mereka atau kerabat lainnya untuk mengganti posisi wanita itu," jawab Reyhan lalu menyenderkan tubuhnya.


"Kemungkinan memang akan ada kejadian seperti itu Den, hanya saja Jose pernah mengatakan pada saya kalau nyonya Marta hanya bisa pasrah mengingat Aden yang sudah menikah itu cukup membuatnya lega. Namun Jose menyayangkan untuk pemimpin perusahaan itu bukankah memang harus berasal dari keturunan Almirza orang lain tidak berhak masuk. Karena selain nyonya Marta masih ada Aden, dan dikarnakan Aden menolak mereka menggunakan kesempatan ini untuk berusaha menjadi pemimpin grup Almirza." Mengeluarkan beberapa dokumen lainnya terdapat poto para petuah yang Redro maksud.


"Aku tahu kau sedang menyindirku berharap aku masuk bukan, kau tenang saja itu hal mudah bagiku tapi masalahnya aku yang baru menikah haruskah melakukan bulan madu dengan mengurusi mereka. Bukankah itu tidak adil?" Menatap wajah-wajah yang tertuang di dalam lembaran kertas.


"Bulan madu? Menurut saya Aden bisa melakukannya di manapun jika Aden mau, karena bagi saya kemanapun dan dalam keadaan apapun asalkan berdua itu bisa disebut bulan madu." Mengeluarkan dokumen lainnya.


"Ada apa Den?" tanya Redro.


"Hah? Wajah ini sangat tidak asing, aku sering melihatnya beberapa kali tapi aku lupa dimana? Apa kau mengenalnya?" tanya Reyhan menunjukkan poto yang ia maksud.


"Dia mantan suami dokter Fiona Den, memang dia sudah lumayan lama ikut tergabung dalam grup Almirza," jawab Redro.


"Tapi siapa yang dia rekomendasikan? Seingatku dia hanya punya 1 putri yaitu Vica tapi apa mungkin dia merekomendasikannya?" tanya Reyhan mulai bingung.


"Menurut informasi yang saya dapat nona Vica mulai belajar bisnis dari dia SMP dan banyak orang yang salut akan kepintarannya tapi dikarenakan dia seorang wanita mereka akan mengesampingkannya. Mereka takut kalau dia tiba-tiba berumah tangga dan melahirkan seorang anak pasti pembagian waktunya harus ekstra." Menjelaskan tentang Vica.


"Aku tahu mereka sekalian menyindir wanita itu (Marta) karena bolak-balik mengurusi aku bukan?" Menatap tajam.


"Bisa dikatakan seperti itu Den, oleh karena itu nona Vica pilihan terakhir dan setelah penyaringan kemampuan sisa tinggal empat kandidat saja dan minggu ini kemungkinan penggeseran posisi akan dilaksanakan," jelas Redro.


"Dan sekarang aku baru tahu hal ini, perempuan yang kuanggap sebagai sahabatku itu diam-diam menikungku dari belakang. Aku mau lihat seberapa hebatnya dia, bukankah dia sakit? Dan itu alasannya menolak Fero." Mengerutkan dahinya mengingat masa lalu Vica.


"Untuk masalah nona Vica saya tidak tahu banyak Den, hanya informasi itu yang saya dapat." Menyusun kembali dokumen tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, karena penggeseran posisi dilakukan minggu ini bukankah sangat bagus, lebih cepat lebih baik," ujar Reyhan sambil menyunggingkan senyumannya.


"Apakah Aden tetap tidak ingin bergabung di dalam grup Almirza?" tanya Redro.


"Kau akan lihat nanti, terkadang hal tak terduga akan terjadi begitu waktunya tiba." Memandangi langit-langit ruangan.


Redro mengerti maksud perkataan Reyhan barusan, karena dia sudah mengenalnya selama bertahun-tahun lamanya, dia yang sudah sangat setia menemani masa remaja Reyhan. Hanya satu yang sangat ia tidak ketahui kenapa kekuatan Reyhan lebih besar darinya? Padahal ia mengikuti pelatihan di Amerika sedangkan Reyhan tidak pernah sama sekali.


Tapi darimana kekuatan itu? Itu hanya tinggal pertanyaan yang jawabannya masih misteri.


"Kau melamun lebih dari 80 detik, apa yang kau pikirkan?" tanya Reyhan membuyarkan lamunan Redro tentang tuannya itu.


"Tidak ada Den, apa Aden mau pergi menjemput nona Lyra?" tanya Redro.


"Hmmm tentu saja, bagaimana denganmu apa kau juga akan berjumpa kak Siska hari ini?" Meminum minumannya yang sedari tadi tidak ia sentuh.


"Ya rencananya juga Den, saya sudah mendatanginya kemarin saya takut dia merasa bosan melihat saya," jawab Redro.


"Justru dia akan bosan kalau kau jarang melihatnya dia akan berpikir kalau kau tidak serius padanya. Terutama kak Siska dulu kau begitu dingin padanya hingga pada akhirnya dia selalu menghindarimu, apakah itu kurang bagimu sebagai bukti bahwa dia membutuhkanmu? Dan ingatlah minggu ini kita akan pergi kau harus berpisah dengannya dan entah berapa lama." Memainkan ponselnya.


"Saya mengerti Den," jawab Redro singkat.


"Baiklah kalau begitu, ayo antar aku melihat mereka." Bangkit dari tempat duduknya.


"Maksud Aden saya yang akan jadi supir?" tanya Redro.


"Hmmm dari cara bicaramu aku mengerti, baiklah aku akan membawa mobilku sendiri." Berjalan pelan sambil tersenyum tipis.


Sebentar lagi mereka akan berpisah ya mungkin saja Redro ingin melakukan sesuatu yang berkesan sekilas aku melihat wajahnya memerah segitu malunya kah dia, apa aku pernah terlihat seperti itu juga ya? Batin Reyhan lalu berjalan keluar.


Reyhan menuruni anak tangga diikuti oleh Redro dari belakang, Reyhan pun menoleh ke belakang lalu naik beberapa langkah membuat Redro juga mundur beberapa langkah.


"Berhenti di sana, sampai kapan kau menjaga jarak dariku. Dari dulu hingga sekarang setiap berada di atas tangga kau selalu membuat jarak sebanyak enam anak tangga." Mengerutkan dahinya.


"Saya merasa tidak pantas Den, saya-"


"Dan selalu itu yang jadi jawabanmu, aku lumayan bosan dengan itu ada baiknya aku tidak menanyakannya," Berbalik kemudian kembali berjalan dengan tempo cepat begitu juga dengan Redro tapi tetap saja selalu ada jarak diantara mereka yaitu enam anak tangga.

__ADS_1


__ADS_2