
Di pertengahan malam dengan lampu yang sudah menyala dan hujan yang telah mereda perlahan tapi pasti Lyra membuka matanya, ia melihat dengan jelas dada Reyhan yang berada tepat di depan wajahnya. Ya, Reyhan masih memeluknya erat.
Oh ya ampun pemandangan apa ini, aku yang sebelumnya ilfil melihat dada laki-laki saat menonton ajang tinju tapi kali ini aku serasa mendapat durian runtuh dada bidang dan putih ini seolah menguji imanku yang tak seberapa ini, Ya Tuhan jauhkan aku dari situasi ini jangan buat aku lemah di dekatnya. Batin Lyra.
Tepat di atas kepalanya tampak dagu lancip milik Reyhan yang sedari tadi menemaninya tidur dengan pelan Lyra menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari pelukan Reyhan namun saat akan bangkit dengan cepat tangan Reyhan menarik tangannya.
"Ah, Rey kamu sudah bangun ya. Tolong lepaskan aku!" teriak Lyra.
"Sampai pagi begini saja, bisakah kamu menolongku saat ini?" tanya Reyhan dengan mata yang masih terpejam.
Ha berarti dia sedang...Menahan nafsu aku kira hanya aku seorang ternyata dia juga merasakannya. Gumam Lyra.
Reyhan melihat wajah Lyra yang matanya sudah terbuka, dengan lembut Reyhan kembali mencium kening Lyra tak lupa Reyhan mengelus rambut halusnya.
"Rey, lampu sudah menyala aku sudah enggak takut lagi dan juga kita-"
"Sampai fajar terbit tolong jangan lepaskan pelukanmu." Menepuk lembut punggung Lyra.
"Tapi ini terlalu intim, Rey aku merasa risih." Mencoba untuk memisahkan diri dari Reyhan.
Reyhan membuka matanya dan mereka pun saling berpandangan. Tiba-tiba Reyhan tersadar bahwa yang dipakai Lyra sebuah jas mandi dan yang lebih mengejutkan Reyhan lagi belahan dada Lyra sangat terlihat jelas.
"Hmm maaf aku akan tidur di ruang tengah, kamu lanjutkanlah tidurmu." Bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang tengah.
"Dia itu kenapa sih? Cepat banget berubah pikirannya." Mengerutkan dahi merasa heran dengan sifat Reyhan.
Sementara itu, Reyhan menepuk dadanya berulang-ulang yang sesak dengan pemandangan yang tadi ia lihat di dalam kamar.
Kenapa aku merasa sangat mesum, huh mungkin karena perkataan Erick kemarin. Hah aku menyesal memintanya mengajariku, ini sangat menyiksa. Reyhan mengusap rambutnya dengan kasar.
---------------------------------------------------------------
Lyra membuka matanya perlahan, kepalanya pusing dan terasa berat untuk bangun dari tempat tidur.
"Tempat tidurnya sangat empuk, aku seperti orang mati dibuatnya." Duduk lalu menggerakkan kepalanya ke kanan-kiri.
Lyra berjalan ke luar menuju ruang tengah mencari Reyhan.
"Bukannya dia bilang ingin tidur di ruang tengah, tapi kenapa dia tidak ada?"
"Selamat pagi Nona," sapa salah satu pengawal Reyhan dengan bingkisan di tangannya.
"Eh ternyata Bapak, hampir copot jantung saya Pak." Memelotot kaget.
"Maaf Nona, saya kemari disuruh untuk memberikan ini untuk Nona pakai dan ini peralatan untuk Nona mandi." Memberikan bingkisan yang di tangannya pada Lyra.
"Terima kasih Pak, Reyhannya kemana ya?" Menggaruk pelan kepalanya.
"Den Reyhan sedang berada di belakang villa, dia sedang menunggu Nona."
"Begitu ya, baiklah saya ingin bersiap-siap dulu, permisi." Berjalan masuk ke kamar.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Ini semua salahmu!" teriak Reyhan yang sedang video call dengan Erick melalui laptopnya.
"Ya elah Rey, kan udah gua bilang gak usah, lu nya ngancem gua dengan tatapan pembunuh lu itu." Erick membela diri.
"Kenapa kau tidak menghentikan aku, biar bagaimanapun ini tetap salahmu, kau ingat 'kan peraturan berteman denganku." Menatap tajam.
"Tapi kan lu yang-
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian, tunggu saja aku akan mengulitimu dengan cara mengerikan." Tidak mau kalah.
"Iya-iya gua yang salah dan lu selalu benar, hah sekarang masalahnya sudah kelar' kan. Kalian enggak ngapa-ngapaikan tadi malam." Tersenyum berpura-pura tenang.
Reyhan memutuskan obrolan mereka, ia pun melihat Lyra yang berjalan ke arahnya dengan gaun putih yang ia berikan.
"Rey, gaunnya cantik sekali terima kasih." Menatap Reyhan dengan lembut.
"Kamu lebih cantik dari gaun itu."
"Haha kamu selalu buat aku malu Rey. Tapi beneran ini gaunnya lembut banget, aku sangat menyukainya." Memegang gaun yang ia pakai.
"Apa kamu akan lebih menyukai gaun itu daripada aku?" Menatap dalam pada Lyra.
"Ha, maksud kamu apa? Jangan bilang kamu cemburu pada gaun ini, Rey kamu ini ada-ada saja."
"Jangan menyukai apapun selain aku, semua rasa sukamu hanya aku yang boleh mendapatkannya." Mendekati Lyra.
"Kamu mau apa?" Berjalan mundur merasa ketakutan.
"Duduklah, sebentar lagi sarapan pagi akan tiba." Reyhan menggeser kursi ke belakang untuk di duduki Lyra.
Ah ku kira dia tadi ... Ah sudahlah Reyhan kamu selalu membuat aku salah paham. Batin Lyra.
Dua pelayan wanita yang dikirim dari restoran langganan Reyhan pun tiba dan mulai menyajikan pesanan Reyhan di atas meja, tak henti-hentinya Lyra menelan ludah.
"Apa aku boleh makan sekarang?" tanya Lyra sambil menggenggam sendok dan garpu di kedua tangannya.
"Tentu saja, nikmatilah sarapan pagimu," jawab Reyhan.
Lyra melirik kedua pelayan yang menatap ilfil padanya.
"Baik Tuan." Menundukkan kepala lalu beranjak pergi.
Baru saja 2 orang pelayan itu berbalik Lyra dengan kecepatannya mulai menyantap makanan yang berada di depannya.
"Pelan-pelan makannya, lagipula makanan itu juga enggak akan lari," ujar Reyhan.
"Ah ini enak sekali Rey, aku hampir saja menangis." Tertawa kecil dan sedikit canggung.
"Apa perlu aku menyuapimu lagi, Lyra dengan senang hati aku akan melakukannya," jawab Reyhan sambil tersenyum sedikit nakal.
"Kamu ini ada-ada saja aku cuma terharu dengan rasanya kok bukan karena ingin kamu suapi." Mencoba mengelak.
"Hmm baiklah, kalau begitu apa yang akan kita lakukan hari ini, jalan-jalan atau-
"Pulang, iya kita pulang saja oke!" Memotong ucapan Reyhan.
Tidak mau terjebak yang kedua kali secara dramatis seperti tadi malam, membayangkannya saja aku masih ketakutan memaksa Reyhan memelukku karena mati lampu, ah aku seperti anak TK saja. Gumam Lyra.
"Aku rasa untuk hari ini jangan tergesa-gesa mau pulang dulu, aku ingin mengajakmu kencan layaknya pasangan kekasih biasa, bagaimana?" Reyhan mendekati Lyra yang masih disibukkan berperang dengan makanannya.
"Tapi kita-
Perkataan Lyra terpotong karena tangan Reyhan tiba-tiba menyentuh bagian pinggir bibirnya.
"Sudah ku bilang makannya pelan-pelan haruskah aku mengulanginya terus, aku tidak menyangka pacarku ini seperti anak TK ternyata." Tersenyum memperhatikan mimik wajah Lyra yang bengong.
Ya Tuhan senyumannya seperti ini seakan menggodaku. Batin Lyra.
Tanpa sadar tangan Lyra menyentuh pipi Reyhan dengan sangat lembut, Reyhan hanya terdiam dengan perlakuan Lyra terhadapnya.
__ADS_1
"Maaf apakah sarapannya sudah selesai." Tiba-tiba kedua pelayan tadi kembali.
Reyhan dan Lyra yang hanyut dengan pandangan mereka tidak menoleh atau menjawab sedikitpun mereka disibukkan oleh perasaan mereka yang sama.
Pengawal Reyhan menyuruh kedua pelayan itu pergi, dengan sedikit kesal mereka hanya bisa menurutinya lalu mereka pun pergi.
Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrrrt
Dan akhirnya ponsel Lyra lah yang menyadarkan mereka dari perasaan yang sedikit dramatis tadi.
"Ehm kamu angkatlah dulu," ujar Reyhan sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.
Lyra pun menjawab telepon dari seberang yang ternyata dari Siska yang sedang mengkhawatirkannya.
"Halo, iya Sis maaf aku lupa mengabarinya, iya-iya aku bersama Reyhan kok. Iya aku tahu kami sedang sarapan apa mau berbicara dengannya sepertinya itu tidak perlu, aku beneran tidak kenapa-napa, baiklah bye." Memutuskan panggilan.
"Sepertinya dia mengomelimu." Menebak ekspresi Lyra yang cemberut.
Ah kamu tidak tahu Rey dia hampir saja membuat jantungku copot, tapi begitu aku menyebut namamu emosinya yang tadi memuncak berubah lembut seketika. Batin Lyra.
"Oh ya hari ini kamu mau mengajakku kemana lagi?" Meminum susu yang ada di depannya.
"Melihat mood mu yang semangat aku ingin cepat-cepat membawamu, bersiaplah kita akan pergi nonton bioskop." Tersenyum kembali.
"Hahaha aku tidak pernah nonton bioskop sebelumnya, aku jadi bertambah semangat." Tertawa senang mendengar ajakan Reyhan.
"Baiklah akan aku pesankan 1 ruang bioskop untuk kita pribadi." Mengambil ponsel ingin menghubungi seseorang.
"Aku rasa tidak perlu, bukankah kamu bilang ingin kencan layaknya sepasang kekasih biasa jadi kita nontonnya seperti umum saja bercampur dengan orang lain, oke! Mengacungkan jempolnya dengan semangat.
Reyhan mengangguk lalu tersenyum, Lyra pun melanjutkan makannya kembali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Rey, kita mau nonton apa?" tanya Lyra.
"Kamu sukanya nonton apa?" tanya Reyhan balik.
Kalau aku bilang drama yang berbau romantis bukankah aku terlihat seperti perempuan penggila adegan yang ada di drama. Ah enggak bisa ku bayangkan kalau tiba-tiba ada adegan ciumannya. Batin Lyra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa tidak jawab?" Reyhan menyadarkan Lyra dari gumaman batinnya.
"Ah aku pecinta horor Rey. Apa kamu mau nonton horor?" Menodongkan pertanyaan pada Reyhan.
"Hmmm kebetulan itu yang aku suka." Tersenyum senang.
"Aku mau ke toilet sebentar, kamu tunggulah dulu," ujar Lyra sambil beranjak pergi.
"Apakah setiap wanita akan melakukan hal ini di tengah-tengah kencan?" Menatap Lyra yang sudah melangkah jauh darinya.
10 menit pun berlalu, Lyra kembali menemui Reyhan namun dengan kondisi mall yang begitu padat pengunjung ia dibuat kesulitan.
Lyra terus mencari mengingat pakaian Reyhan yang berwarna putih garis, ia terus mendongak ke kiri dan kanan tapi yang jadi masalahnya hampir tiap orang memakai warna yang sama hanya saja dengan brand yang berbeda.
Lyra pun berbalik berjalan pelan ke depan namun tiba-tiba batinnya seperti sudah melewatkan Reyhan, ia kembali lagi ke belakang dan benar saja tampak Reyhan yang menyandarkan tubuhnya pada sisi dinding serta sedang memperhatikan layar ponselnya.
Kenapa situasi seperti ini pun kamu terlihat begitu mempesona, Rey kenapa? Gumam hati Lyra.
BERSAMBUNG......
__ADS_1