
"Ya, jadi gua deh yang datang kemari dasar si Reyhan lembek amat. Menurut pak Mat sih ini alamatnya. Gua ketuk dulu kali ya, semoga saja enggak salah AAMIN." Erick mengusap wajahnya.
Tok! Tok!
"Erick, ada apa malam-malam datang kemari?" tanya Siska setelah membuka pintu.
"Ini Kak, Lyranya ada nggak?" tanya Erick balik.
"Kamu masuk saja dulu, enggak baik mengobrol di depan pintu." Berjalan masuk diikuti Erick dari belakang.
"Oh oke Kak," jawab Erick sambil tersenyum canggung.
"Mau minum apa Rick?" tanya Siska.
"Enggak usah repot-repot Kak tapi kalau ada teh es aja Kak." Tersenyum malu.
"Hahaha kamu ini lucu banget. Oke tunggu sebentar! Aku ambilkan dulu." Berjalan menuju dapur.
Erick melihat suasana rumah yang ditinggali Lyra dan Siska tersebut.
Rey-Rey banyak yang suka sama lu tapi lu malah jatuh cinta sama Lyra , padahal mereka anak dari orang terpandang lagi malah lu tolak dan Lyra yang hidupnya biasa-biasa aja lu kejar sampai mati, tapi ya sudahlah sebagai sobat lu yang paling ganteng gua akan bantu lu sampai titik darah penghabisan. Batin Erick.
"Ini minumannya maaf Rick lama. Es nya susah banget dipisah sama cetakannya." Tersenyum sambil menyuguhkan minuman.
"Hahaha tidak apa-apa Kak maaf ngerepotin," jawab Erick.
"Oh ya sebenarnya. Ada apa kamu mencari Lyra?" tanya Siska bingung.
"Begini Kak, sebenarnya saya datang kemari mau mewakili Reyhan untuk membicarakan masalah tadi pagi." Meminum teh yang disuguhkan Siska.
"Masalah tadi pagi? Masalah apa ya kok aku enggak tahu." Memelotot bingung.
"Kakak enggak tahu ya kalau tadi pagi waktu Reyhan membicarakan keinginannya melamar kak Lyra. Akan tetapi, dia malah ditolak mentah-mentah sama pamannya kak Lyra."
"Apa? Lho kok bisa, memangnya ada masalah apa lagi sih?" Mulai penasaran.
"Anu Kak, Reyhan yang menabrak mobil kedua orang tua kak Lyra." Sedikit gugup.
"Apa? kecelakaan parah itu ya." Memelotot terkejut.
Erick mengangguk, mengiyakan perkataan Siska.
"Kok bisa ya, jujur ini kayaknya enggak masuk akal. Kecelakaan di masa lalu berbuah manis di masa depan, mereka benar-benar berjodoh."
"Harusnya begitu Kak, tapi karena ditentang begini gimana mau-"
"Kamu tenang saja, aku akan membuat Lyra balik lagi dengan Reyhan." Mencoba meyakinkan Erick.
"Terima kasih atas kerja samanya mari kita satukan dua sejoli aneh itu." Mengulurkan tangannya.
"Ayo!" seru Siska lalu membalas uluran tangan Erick.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Rey, boleh mama bicara sebentar?" tanya Marta lalu duduk di kursi sebelah Reyhan.
Hanya anggukan yang terlihat dari gelagat Reyhan. Pikirannya kacau mengingat kenangannya dengan Lyra.
"Maafkan mama. Mama begitu egois, saat kecelakaan itu terjadi pikiran mama terganggu. Melihatmu terbaring tak berdaya dan melihat papamu yang sudah tak bernyawa. Saat itu mama memang menyuap polisi untuk tutup mulut, itu mama lakukan karena enggak mau kamu merasakan hidup sengsara di balik jeruji dan menjadi bahan ejekan oleh orang lain." Bulir bening membasahi pipi Marta.
"Tapi sekarang aku malah seperti ini." tersenyum tipis.
"Mama akan bicarakan hal ini dengan keluarga Lyra, dan juga-"
__ADS_1
"Tidak perlu jangan lakukan hal apapun lagi. Tolong jangan mencampuri urusanku." Berjalan pergi meninggalkan Marta.
Marta hanya bisa menghapus air matanya yang semakin menderasi pipinya.
________________________________
Satu hari berlalu, kedua sejoli tersebut malah semakin hanyut dalam kesedihan memikirkan takdir yang tak berpihak kepada mereka.
"Kak Lyra, boleh Vanes masuk?" tanya Vanes.
Lyra mengangguk, mengiyakan.
Vanes melirik sesuatu yang dipegang Lyra tampaklah potret Reyhan yang terbingkai rapi. Dengan segera Lyra menyembunyikan poto tersebut.
"Tenang Kak aku enggak akan aduin ke ayah kok." Tersenyum.
"Maaf Nes, enggak ada maksud berpikiran buruk sama kamu." Membalas senyuman Vanes dengan canggung.
"Tidak apa-apa Kak. Oh ya Kak kapan Kakak menikahnya aku enggak sabar menjadi penggiring Kakak. Nanti aku akan dirias secantik mungkin menjadi penerima tamu pun nggak apa-apa Kak, atau biduan. Vanes akan bernyanyi semaksimal mungkin kalau orang kabur enggak apa-apa. Toh bukan kita yang rugi tapi mereka karena enggak dapat jatah makanan gratis secara gitu pernikahan Kakak 'kan mewah dan megah yang dimana semua orang akan mengabadikan potret raja dan ratu yang tampan dan cantik. Ih pasti seru enggak sabar banget aku Kak." Mencoba menghibur Lyra.
Tanpa sadar air mata Lyra pun jatuh, tampak deras dan semakin deras.
"Kak, menangis bukanlah alat untuk mengatasi masalah. Meskipun terkadang itu dibutuhkan sih, sedih dan bahagia memang pasti ada saja momen dimana air mata akan jatuh. Akan tetapi, yang Kakak alami ini berbeda dari itu. Kalau Kakak cinta jangan ditahan kecelakaan masa lalu itu tak seorang pun yang patut disalahkan. Kak Reyhan belajar naik motor dan ayahnya berusaha menjadi guru yang baik untuk anaknya. Kedua orang tua Kakak kebetulan melaju juga dan terjadilah kecelakaan maut yang melayangkan tiga nyawa sekaligus, dan kak Reyhan yang disalahkan. Apakah itu adil? Apa Kakak bisa jamin dia yang menabrak mobil atau jangan-jangan justru kedua orang tua Kakak yang melaju dengan kekuatan tinggi. Kurangnya bukti enggak menjamin apa-apa Kak. Intinya berhenti menyalahkan kak Reyhan, dia orang terbaik yang pernah aku temui Kakak harusnya bersyukur bertemu dia." Mengelus punggung Lyra.
Lyra menghapus air matanya yang perlahan berkurang sedikit demi sedikit. Ia tertegun mendengar setiap kalimat yang dilontarkan Vanes.
"Sekarang Kakak hubungi kak Reyhan dan temuilah dia. Ingat kalau jodoh sudah datang jangan diundur lagi rugi Kak hahaha." Terkekeh.
Lyra tersenyum segera diraihnya ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Ia pandangi ponselnya dan tampak kebingungan di wajahnya.
"Ada apa? Kakak enggak punya paket ya?" tanya Vanes heran.
"Bukan itu, seharian dia enggak ada kabar masa aku yang hubungi duluan kan harusnya dia." Meletakkan kembali ponselnya.
Drrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrrt
"Siapa Nes?" tanya Lyra memelotot kaget.
"Kak Reyhan." Tersenyum senang.
"Benarkah?" Menggigit jari.
"Ini angkatlah." Memberikan kembali ponsel Lyra.
"Enggak ah kamu aja deh." Menolak.
"Vanes matiin ya Kak, gengsi aja terus." Memasang mimik wajah emosi.
Lyra menarik napas yang tadi beradu kencang berusaha setenang mungkin.
"Baiklah berikan ponselnya padaku." Mengulur tangannya.
Sambil tersenyum Vanes pun memberikan kembali ponsel Lyra. Alangkah terkejutnya Lyra melihat nama kontak yang tertera pada layar ponsel tersebut, yang semula mengira Reyhan yang menghubunginya ternyata Siska.
"Vanes, enggak lucu tahu bohong-bohong gitu." Menatap kesal pada Vanes.
Vanes hanya tertawa puas melihat Lyra yang cemberut.
"Halo, Sis ada apa telepon malam-malam." ujar Lyra pada ponsel yang di genggamnya.
"Ra, Reyhan Ra." Suara Siska terdengar panik dari seberang.
"Reyhan? Kenapa dengan Reyhan?" Memelotot kaget.
__ADS_1
"Reyhan masuk rumah sakit."
"Apa? Di rumah sakit mana, Sis?" Tangannya mulai bergetar.
"Intinya kamu datangi saja Pasar Malam jalur 20 Meruya kami akan lewat sana nanti." Siska menjelaskan dari seberang.
Lyra bangkit dari duduknya terlukis kecemasan di wajah polosnya. Sementara itu, Vanes hanya terdiam kebingungan melihat tingkah Lyra.
"Kak, jangan lupa bawa ini." Melemparkan jaket ke arah Lyra.
Lyra pun berlalu.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Lyra terus berjalan modar mandir sambil mendongakkan kepalanya ke kanan dan kiri.
"Siska kemana sih sudah 25 menit enggak datang-datang juga." Melirik jam yang tertera pada ponselnya.
"Atau kuhubungi saja dulu kali ya." Menghubungi ponsel Siska.
"Lho kok nggak aktif sih. Jangan-jangan Siska bohong lagi. Ah enggak mungkin. Dia tahu kalau aku paling benci dibohongi tapi kok belum datang-datang juga sih." Melihat ke sekeliling.
"Permisi Mbak, daripada bengong disini lebih baik masuk ke dalam pasar malam saja," ujar seorang pria paruh baya si penjaga pasar malam, lalu menunjuk ke arah pasar malam yang tampak wahana bianglala dengan lampu kelap-kelip berputar pelan.
"Maaf Pak saya sedang menunggu teman dan juga saya-"
"Tenang saja ini gratis kok Mbak. Ayolah Mbak seharian ini tidak ada yang mau masuk. Kasihanilah kami." Memohon agar Lyra bersedia masuk.
Karena merasa iba, Lyra pun mengiyakan ia berjalan masuk mengikuti bapak penjaga malam.
"Mau naik apa Mbak?" tanya si penjaga malam.
"Hmmm bingung nih Pak." Melihat ke sekeliling.
Tiba-tiba seluruh lampu mati dan tentu Lyra kelabakan setengah mati. Karena ia takutyang namanya kegelapan.
"Bapak kok lampunya mati?" tanya Lyra lirih berusaha menahan teriakannya.
Namun si penjaga pasar malam tak kunjung memberikan jawaban. Membuat Lyra semakin ketakutan. Tak lama kemudian lampu pun hidup tapi tetap saja ketakutan Lyra tidak hilang. Ia melihat area pasar malam yang tadinya ramai tiba-tiba berubah menjadi sepi melenting. Ya, tak ada seorang pun yang terlihat di dalam pasar malam kecuali dirinya sendiri.
"Kemana semua orang?" Berusaha setenang mungkin.
Ia mengelilingi pasar malam tersebut berharap berjumpa seseorang dan menunjukkan jalan keluar. Namun, ia tetap gagal tak ada seorang pun yang ia temui.
Lyra berulang kali menghubungi Siska namun ponselnya tak kunjung aktif. Ia melirik nomor kontak pamannya akan tetapi ia urungkan karena takut pamannya gusar padanya yang keluar rumah secara sembunyi-sembunyi.
"Hah, haruskah aku menghubunginya? Tidak aku tidak ingin merepotkannya mengingat kejadian tadi pagi dia dikasari oleh paman. Tapi bagaimana aku bisa keluar dari sini?" Melirik kontak Reyhan lalu merenggut.
"Tolong, siapapun disana tolong aku, aku terkunci di dalam sini!" teriak Lyra sekuat mungkin berharap orang lain mendengarnya namun itu mustahil melihat ukuran pasar malam yang sangat luas.
Lyra pun mulai lelah ia terdiam lemas di atas sebuah kursi yang terletak di tengah-tengah pasar malam.
"Lyra." Seseorang memanggil namanya.
Lyra menoleh dan.....
BERSAMBUNG.....
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA MAAF UP NYA LAMA
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN HUJATANNYA. LUV U READERS
__ADS_1