
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa kamu dan ibumu sendiri tidak saling kenal?" Menatap kebingungan.
"Ah, itu sulit dijelaskan tapi apa kamu benar-benar ingin bertemu dengannya?" Melirik pelan ke arah Lyra.
Ternyata yang dikatakan bibi Sum itu benar, Reyhan tidak akur dengan ibunya. Tapi apakah itu penting sekarang, aku hanya ingin mengenal calon mertuaku sendiri, ibu yang telah melahirkan pangeran tampan yang di depanku saat ini. Batin Lyra.
"Kenapa diam? Apa kamu sangat ingin bertemu dengannya?" Berharap Lyra menjawab tidak.
"Bukannya menggurui coba kamu pikir apa kata orang kalau aku dan mertuaku tidak saling kenal bukankah itu kedengaran seperti seolah-olah aku menantu durhaka." Menatap serius pada Reyhan.
"Baiklah kalau kamu memang ingin bertemu dengannya. Tiba saatnya dia pulang nanti kalian akan bertemu." Berusaha menahan ego.
"Benarkah? Kamu tidak bohong 'kan?" tanya Lyra sambil melambungkan senyumannya.
Reyhan menggenggam tangan Lyra dan mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.
Di dalam mobil, Lyra tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari Reyhan.
Bahkan bentuk hidungnya begitu mancung dia ini seperti boneka dari kayangan dan anehnya dia menyukai aku yang seperti ini. Batinnya.
"Apa ada yang mau kamu katakan?"
"Ih copot, Rey kamu membuatku kaget tahu enggak." Menepuk bahu kiri Reyhan karena kesal.
"Apakah tadi siang Redro bertamu?" tanya Reyhan.
"Iya tapi dia berbicara empat mata dengan Siska di luar padahal aku sedikit penasaran, hihihi." Cekikikan sedikit malu.
"Sejak kapan kamu mulai kepo seperti ini?" Menatap tajam pada Lyra.
"Ah setiap cewek itu pasti memiliki jiwa khibah kecuali aku ini seorang cowok baru patut dipertanyakan." Membalas tatapan tajam Reyhan.
Reyhan tersenyum tipis. "Lakukan apa yang kamu mau, selama kamu suka aku akan mendukungnya."
Drrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrrrrrrrrt
Kak Fardan lagi, Reyhan bakalan marah ini kalau dia tahu. Batin Lyra.
"Kenapa teleponnya tidak diangkat?" Melirik ke arah Lyra.
"Ah, enggak penting juga." Berusaha tenang.
"Apa itu telepon dari Fardan?" tanya Reyhan.
Lyra mengangguk. "Tapi sebelumnya kami memang enggak pernah saling telepon kok, beneran." Mengacungkan dua telunjuk jarinya berharap Reyhan mempercayainya.
"Tapi apa pentingnya menyimpan kontak laki-laki lain di ponselmu?" Bertanya dengan sedikit menyindir.
"Aku takut kalau terjadi apa-apa padaku, aku bisa meminta tolong padanya. Jangan salah paham dengan masalah sepele seperti ini." Mencoba meyakinkan Reyhan.
"Apa aku kurang cukup untuk melindungimu? Atau memang dia sangat berarti." Wajah memerah dan terlihat aura kemarahan.
"Saat itu kan kita belum saling kenal jadi aku-"
"Tapi saat ini kita sudah saling mengenal bahkan sudah berpacaran dan kamu masih menyimpannya." Menghentikan mobil.
Dia terlihat sangat marah, memang salahku juga sih masih menyimpan nomor kak Fardan padahal aku tahu jelas Reyhan tidak menyukainya, Lyra kau ini sangat bodoh. Gumam batin Lyra.
"Jangan marah begitu dong lihat ini aku sudah menghapusnya kok. Tolong jangan marah lagi dong." Menunjukkan layar ponsel merengek agar kemarahan Reyhan reda.
"Siapa bilang aku marah?" Berpura-pura tenang namun di sisi lain ia diam-diam menyunggingkan senyumannya.
"Tapi ekspresimu tadi-"
"Ayo turun, kita sudah sampai." Membuka sabuk pengaman, lalu turun dari mobil.
"Ini dimana?" Melihat kanan-kiri dan turun dari mobil.
"Ini villa pribadiku, hadiah untukmu." Menunjuk ke arah sebuah villa minimalis namun mewah.
"Hadiah untukku? Apa enggak salah, dan atas dasar apa kamu memberiku hadiah seperti ini?" Menatap heran pada Reyhan.
__ADS_1
"Karena kamu memberikan aku hadiah menyelesaikan ujian, tentu saja aku membalasnya." Tersenyum melihat ekspresi Lyra.
"Tapi ini sangat berlebihan Rey, aku hanya memberimu sebuah pin murahan dan kamu-"
"Itu berharga bagiku, apapun yang kamu berikan tak peduli berapa nilainya bagiku sangatlah berharga." Menatap serius pada Lyra.
Lagi-lagi dia membuatku hanyut dalam kata-katanya yang seperti obat untuk kerapuhanku, Reyhan jangan menguji imanku seperti ini. Lama-lama aku bisa menyerangmu tanpa aku sadari. Batin Lyra menyeringai.
Reyhan menggenggam tangan Lyra berjalan masuk ke dalam pagar lalu menaiki tangga dan sampailah mereka tepat di depan pintu villa tersebut. Reyhan menekan jarinya pada sebuah mesin finger yang ia rancang sendiri.
Tiba-tiba mucul suara yang entah dari mana asalnya.
"Selamat datang kembali di rumah Den Reyhan yang tampan dan imut."
Reyhan terkejut begitu juga Lyra tak kalah terkejutnya.
"Ehm tidak ku sangka diam-diam kamu lumayan percaya diri juga." Menatap Reyhan menahan gelak tawa.
"Erick, sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu baik padamu." Menatap pintu dengan perasaan kacau dan kesal.
"Hahaha menurutku Erick malah yang terlalu baik karena membuat kata kunci seperti itu. Wah aku rasa dia sangat mengidolakanmu." Tertawa karena melihat raut wajah kesal Reyhan yang menurut Lyra terlihat sangat imut.
"Jangan memuji laki-laki lain di depanku." Mengerutkan dahi.
"Erick temanmu juga lho, Rey."
"Iya tapi tetap saja dia seorang laki-laki." Masuk ke dalam villa setelah pintu terbuka otomatis.
"Tapi Erick itu-"
"Sekali lagi kamu menyebut namanya akan aku ubah dia menjadi seorang wanita."
Lagi-lagi dia cemburu tanpa memandang siapapun, aduh Rey kamu itu sangat berlebihan. Batin Lyra.
Lyra mengikuti Reyhan yang berjalan ke arah belakang villa. Ia dibuat takjub dengan pemandangan alam yang berada disana.
"Itu, danau sungguhan. Oh ya ampun indah banget aku enggak pernah melihat pemandangan seindah ini." Melompat kecil mengekspresikan kegembiraannya.
"Kamu suka?" Tersenyum dan menatap lembut pada Lyra.
"Ini milikmu sekarang, dan aku hanyalah seorang tamu."
"Rey, kamu sudah terlalu baik padaku dan ini menurutku sangat-"
"Aku tidak ingin mendengarkan kata-kata penolakan." Menatap ke arah danau
"Baiklah, aku terima lain kali jangan seperti ini lagi ya." Menatap sedikit kesal.
"Maaf aku tak bisa jamin, semua yang aku miliki adalah milikmu juga. Jadi tolong jangan menolak apapun yang ku berikan dan terimalah dengan tulus."
"Baiklah terserahmu saja aku larang juga enggak akan berguna. Sudah ya jangan dibahas lagi, mending kita kesana yuk." Menarik Reyhan dengan riang.
"Wah ada sampan kita naik yuk," ujar Lyra sambil menunjuk sebuah perahu kayu berukuran kecil.
Dengan cepat Reyhan mengambil dua dayung yang berada di atas tanaman liar.
"Hore ayo kita naik sampan!" seru Lyra.
Mereka pun menaiki perahu kecil atau yang biasa disebut sampan tersebut. Reyhan mengambil alih mendayung, Lyra yang berada di hadapannya duduk dengan kedua tangan berlipat.
"Wah aku tidak menyangka seorang Reyhan bisa mendayung dengan baik!" Menatap kagum dan tersenyum.
"Aku sudah sering melakukannya." Membalas senyuman Lyra.
"Berarti kamu sering datang kemari?" tanya Lyra sambil memangku dagu dengan kedua tangan yang bertumpu pada kedua lututnya.
"Ya, aku sering datang kemari menaikinya sendiri dan menikmatinya sendiri." Reyhan menunduk sambil tersenyum tipis.
"Tapi sekarang kan sudah ada aku setiap kali kamu ingin kemari katakan saja dengan senang hati aku pasti akan menemanimu. Dan lagi pula aku 'kan sudah menjadi pemiliknya jadi jangan sungkan." Tersenyum senang mencoba menghibur Reyhan yang mulai gundah.
Reyhan tersenyum, ia pun mendayung hingga sampai ke tengah danau namun tiba-tiba.
__ADS_1
Hujan yang tidak disangka-sangka kedatangannya itu dengan cepat mengguyur tubuh mereka.
_____________
"Hujannya belum reda dan hanya ada pakaian ini saja di villa ini," gumam Lyra sambil menatap malu pada jas mandi yang ia pakai.
"Sinyal hilang, bensin pun habis dan hujan semakin deras." Menatap ke arah luar dari jendela.
Kilat dan petir pun seakan meneror mereka berdua.
"Rey kita pulang jam berapa? Ini sudah mulai senja?" tanya Lyra.
"Maaf Lyra gang akses untuk keluar sudah ditutup mau siapapun yang datang kemari sangat dilarang untuk keluar kemanapun." Memperlihatkan layar ponselnya.
"Jadi kita harus gimana? Serius aku ingin pulang." Merengek dan menggoyang-goyangkan tangan Reyhan.
"Tidakkah kamu lihat hujannya semakin deras disertai dengan kilat dan petir." Menatap serius pada Lyra
"Jadi solusinya gimana dong?" Wajah Lyra mulai memerah.
"Mau tidak mau dan suka tidak suka kita harus menginap disini," jawab Reyhan sambil duduk menyandarkan tubuhnya ke sisi kiri kursi.
"Apa?"
"Sudahlah untuk hari ini saja tidak akan ada lain kali." Berusaha meyakinkan Lyra.
Lyra berjalan mendekatinya.
"Rey, aku tidak bisa-"
Belum selesai Lyra berbicara dengan santainya lampu mati memotong perkataannya.
"Ah aku takut gelap!" teriak Lyra yang tidak sadar sudah berada di atas pangkuan Reyhan.
Seketika wajah Reyhan merona padam di kegelapan dengan adanya Lyra di atas pangkuannya, membuatnya kehabisan kata. Ia pun memeluk Lyra yang meronta-ronta ketakutan.
"Tenang kamu tak perlu takut ada aku disini." Memeluk Lyra sambil mengelus rambutnya dengan lembut.
Lyra terdiam dengan perlakuan lembut Reyhan terhadapnya ia terhanyut dalam pelukan hangat Reyhan.
Tanpa makan malam dan dengan pakaian seadanya mereka pun perlahan melupakan hal tersebut dan hanyut dalam pelukan yang masing-masing mereka lakukan tapi apakah hanya sebatas itu saja?
"Lyra, apa kamu sudah mengantuk?" bisik Reyhan.
Lyra mengangguk sesuatu seperti membungkam bibirnya untuk bicara ketika Reyhan tidak sengaja menghembuskan napasnya ke telinga Lyra.
"Baiklah, kamu berdirilah dulu aku akan membawamu ke kamar," ujar Reyhan.
Lyra berdiri. Reyhan pun menggenggam tangannya menyusuri ruangan gelap menuju arah ke dalam kamar.
Lyra membaringkan tubuhnya di sisi sebelah kanan tempat tidur, samar ia rasakan keberadaan Reyhan yang berbaring di sisi sebelah kiri.
"Rey apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Lyra.
"Katakanlah."
Apa aku terkesan murahan kalau aku minta pelukan tapi aku benar-benar takut dengan suasana gelap seperti ini. Gumam Lyra.
"Kenapa kamu diam?"
"Enggak jadi deh, aku-"
Belum selesai Lyra berbicara tiba-tiba Reyhan memeluknya dengan lembut sesekali Reyhan mengecup dahi Lyra itu memang pernah Reyhan lakukan sebelumnya tapi kali ini Lyra merasa merinding dibuatnya.
"Lyra apa kamu sudah tidur?" bisik Reyhan.
Reyhan jangan seperti itu lagi, aku takut tidak bisa menahannya. Gumam batin Lyra.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Lyra, Reyhan yang mengira Lyra sudah tidur pun mulai memejamkan matanya dan tetap masih memeluk Lyra. Malam itu seolah menjadi saksi dua insan yang menghabiskan malam dengan pelukan ditengah derasnya hujan dan gelapnya malam.
***BERSAMBUNG
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR JANGAN LUPA LIKE,KOMEN DAN VOTE HEHEHE***