MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Makan Bersama.....


__ADS_3

Lyra memperhatikan Siska yang tersenyum nakal ke arahnya. Lyra menanggapi tingkah temannya itu dengan tatapan aneh dan tidak karuan.


"Sudah kangen-kangenannya," ujar Siska sambil menggoyang-goyangkan kakinya.


"Kamu sendiri."


"Sudah dong, dia lelah tahu lah posisinya suruhan suamimu," jawab Siska sedikit menyindir sambil terus tersenyum.


"Apa sih dari tadi nyengir terus enggak takut apa tu bibir makin doer," ujar Lyra semakin kesal.


"Emmuach-emmuach gitu ya hahhaha." Tertawa terpingkal-pingkal.


"Apa sih? Siska kamu menguping ya." Wajah mulai memerah menahan malu.


"Suara kamu itu lho Neng terlalu bergema sekalian pakai toa sana biar satu kompleks dengar."


"Sampai segitu kuatnya ya, hahaha maaf deh besok-besok teleponannya bisik-bisik aja." Tersenyum malu.


"Hmmm, kamu enggak pulang ya, sebentar lagi sore lho?" tanya Siska sambil melihat dari luar jendela.


"Sis, kamu menginap di tempatku yuk," ajak Lyra sambil menarik tangan Siska.


"Beneran boleh?" tanya Siska memelotot riang.


"Pertanyaan bodoh apa itu? Ayo siap-siap sana sebentar lagi pak Mat datang." Menepis tangan Siska.


Dengan segera Siska bangkit dan berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap bertandang ke rumah yang ditempati Lyra.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Siska menggandeng tangan Lyra ia terlalu riang saat menginjakkan kaki ke dalam rumah mewah tersebut.


Seluruh para pengawal yang bekerja turut mengangguk memberi hormat kepada istri majikan mereka itu.


"Tunggu sebentar, aku ingat ruangan ini. Di pojok sana tempat kalian akad kan. Hahaha sulit dipercaya kalian sudah menikah. Dan wow itu foto besar banget Ra, MashaaAllah tampannya Reyhan." Menunjuk foto pernikahan Lyra dan Reyhan yang terpampang besar di dekat foto pernikahan kedua orang tua Reyhan.


"Haha iya Sis." Tertawa kecil melihat kehebohan temannya yang sedikit kolot itu.


"Lho itu siapa?" Menunjuk ke foto di sebelah foto pernikahan mereka.


"Itu papa Reygan dan mama Marta, mertuaku Sis." Dengan penuh sabar Lyra menjawab pertanyaan Siska.


"Hmmm perasaan kemarin-kemarin enggak ada," kata Siska sambil mencoba mengingat-ingat keadaan rumah tersebut.


"Baru tadi pagi aku suruh ditaruh di sana, ya sudah jangan dibahas ayo masuk kalau di sini terus enggak bakal habis ceritanya." Menarik tangan Siska.


"Iya deh iya." Pasrah.


"Selamat sore Nona Lyra, apa Nona lapar?" sapa para bibi yang sibuk di dapur.


"Bagaimana dengan Bibi?" tanya Lyra balik sambil duduk di kursi yang sudah digeser salah satu bibi.


"Ah Nona, kenapa menanyakan kami," jawab bik Sum sedikit canggung.


"Baiklah Bik Sum kemarilah." Melambaikan tangannya lalu menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.


"A-ada apa ini Non saya-"


"Menurutlah Bik, Siska ayo bantu aku di dapur dan juga bibi bertiga tolong bantu siapkan bahan-bahannya juga." Bangkit dari duduknya yang diikuti oleh Siska.


Mereka pun menuruti perintah Lyra, dengan segera menyiapkan bahan dan bertempur dengan dapur. Tak lupa juga mereka saling bercengkerama cerita lucu yang menciptakan hiburan-hiburan agar tidak bosan.

__ADS_1


"Baiklah para Bibi, duduk kemari ayo kita makan bersama." Menunjukkan ke arah kursi kosong paling pojok.


"Ta-tapi Nona kami-"


"Duduklah Bik, jangan menolak permintaan saya. Saya akan sedih." Mencuci tangan kanannya.


Para bibi pun duduk meskipun sedikit canggung dan ada raut ketakutan dari wajah mereka.


"Tolong mulai sekarang kita makan bersama seperti ini. Jangan pernah menolak atau menghindar. Perlakukan aku seperti anak atau saudara karena majikan bibi semua bukan aku tapi Reyhan. Kita berasal dari kalangan yang sama. Tolong jangan canggung terhadap saya karena saya tidak akan nyaman," ujar Lyra dengan suara yang penuh keseriusan.


"I-iya Non." Mereka serempak meskipun tetap canggung.


"Baiklah ayo kita makan!" seru Siska memecah keheningan yang sedikit menegangkan.


Merekapun makan, kecanggungan para bibi pun berubah menjadi kegembiraan mereka begitu menikmatinya.


"Wah masakan Nona Lyra sangat enak bumbu rempahnya pas," puji salah satu bibi.


"Iya sampai-sampai kamu ambil tiga paha ayam sekaligus," sahut bibi lainnya yang mengundang gelak tawa Lyra dan yang lainnya.


"Maaf, habisnya enak banget sih." Memanyunkan bibirnya menahan malu.


"Lyra memang pintar masak, selama aku se-kos dengannya urusan dapur dia jauh lebih handal kalau aku mah masih cetek hahaha. Tahu makan saja," ujar Siska sambil tertawa senang.


"Kalau di sini bik Sum seniornya, makanya kalau urusan masak memasak den Reyhan selalu mengandalkannya. Pernah sekali bik Sum sakit den Reyhan enggak makan sama sekali sampailah bik Na datang. Iya, kan Bik."


"Iya, hahaha den Reyhan dulu itu anaknya manja, kalau dalam urusan makan dia sangat pemilih tapi syukurnya dia menyukai masakan saya. Bik Na itu keluarga jauh tapi kami cukup terbilang dekat sama seperti saya yang hidupnya ditinggal suami dan tanpa anak saya pun mengajaknya kemari. Untuk jaga-jaga kalau terjadi sesuatu pada saya ada bik Na yang menggantikan," jawab bik Sum.


"Ah bik Sum kok bicaranya seperti itu? Saya sedih ini," ujar Lyra sambil mengusap-usap punggung bik Sum.


"Maafkan saya Nona, tapi umur memang tidak bisa ditebak apalagi saya yang sudah senja." Menyeruput minumannya.


Suasana hening kembali begitu sedih mendengar cerita bik Sum yang memang benar adanya itu. Tapi tetap saja jika siapapun menyinggung usia apalagi yang sudah mulai senja pasti akan turut bersedih bukan.


"Saya pertama kali bekerja itu tahun berapa ya? Saya lupa tapi saya ingat saat itu usia saya sudah tiga puluh tujuh tahun. Waktu itu tuan Reygan mencari pembantu dari penyalur. Saat itu nyonya Marta sedang hamil besar, tapi malam itu hujan sangat lebat ditambah petir yang menyambar membuat kami tidak bisa keluar rumah."


Mereka begitu antusias mendengarkannya terutama Lyra karena yang diceritakan bik Sum sebagian besar tentang suaminya.


"Saya menatap nyonya Marta yang menahan kesakitan sambil terus mengelus perutnya. Waktu itu hidup mereka tidak semewah saat ini. Tuan Reygan kesana kemari mencari klien ia tidak henti-hentinya melakukan promosi. Kembali ke cerita, nyonya Marta terus memanggil-manggil saya dengan rintihan, karena tidak tega saya pun memberanikan diri membantunya bersalin, saya ikuti intruksi dokter yang saya lihat sewaktu sepupu saya melahirkan. Dan...."


"Dan Reyhan lahir?" tanya Siska mulai tegang.


"Belum, tidak secepat itu."


"Lalu, bagaimana?" tanya salah satu bibi.


"Dia sama sekali belum keluar cukup terbilang susah sekali. Saya tidak mau menyerah saya kerahkan semampu saya dan akhirnya dia keluar."


"Alhamdulillah." Mereka pun turut lega dan mengucap syukur dengan serempak.


"Kenapa Bibi menangis?" tanya Lyra lalu mengusap air mata bik Sum.


"Saat itu, den Reyhan den Reyhan...."


"Den Reyhan kenapa Bik?"


"Dia tidak bersuara matanya pun terpejam saya juga tidak melihat tanda-tanda adanya bernapas. Saya sangat yakin saat itu dia benar-benar tidak bernyawa." Terus mengusap air matanya.


"A-apa?"


"Ya, bahkan pak Mat yang turut mengumandangkan adzan pun melihatnya dengan jelas. Tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali dalam diri den Reyhan."

__ADS_1


"Ta-tapi kenapa bisa dia...." Lyra pun turut mengeluarkan air matanya.


"Lalu gimana Bik?"


"Hush kamu ini lho langsung nanya terus. Kasih bik Sum bernapas dulu dong."


"Nyonya Marta yang lemah ingin melihat den Reyhan, senyuman di wajahnya seketika menghilang begitu melihat raut wajah saya dan pak Mat. Perlahan air matanya keluar dia tahu maksud dari raut wajah kami. Dia tetap mengulurkan kedua tangannya ingin melihat den Reyhan, dengan perasaan yang sangat tidak tega kami pun memberikan den Reyhan yang sudah dimandikan dan di balut kain layaknya bayi segar dia saya kasih bedak dan telon."


"Ini Bibi minum dulu." Siska memberikan gelas yang berisi minuman sementara itu Lyra seperti hanyut membayangkan suaminya.


"Lalu bagaimana den Reyhan bisa hidup kembali?"


Flash back


"Nak buka matamu sayang ini mama Nak. Anak mama yang cakep tolong Nak ini mama Nak jangan buat mama resah sayang," ujar Marta sambil terus mengeluarkan air mata tanpa tempo sedikitpun.


Sementara itu pak Mat serta bik Sum terlihat tak kuasa menahan air mata mereka turut mengiringi kesedihan Marta.


"Nak bangunlah mama mohon, jangan tinggalin mama Nak, bawa mama ikut serta. Tidak ada juga gunanya mama hidup tanpa kamu jangan tinggalin mama." Sambil terus menciumi tubuh mungil Reyhan kecil yang tubuhnya sama sekali sudah sangat kaku itu.


"Nyonya, su-sudah Nyonya dia-"


"Bik bilang sama dia untuk bangun Bik, saya mohon Bik suruh dia bangun." Marta tak kuasa menahan tangisnya.


Bik Sum terdiam dia juga sangat merasa kehilangan majikan kecil yang ia bantu jaga selama dia di dalam kandungan. Bahkan bik Sum yang belum digaji itu mengorbankan tabungannya untuk membeli keperluan seperti susu, buah serta makanan bergizi untuknya.


"Nak bukan cuma mama kok yang sayang sama kamu, ada papa, ada bik Sum pak Mat juga sayang sama kamu. Walaupun papa enggak di sini dia sedang mencari klien untuk keluarga ini. Keluarga kita Nak, jadi tolong jangan pergi mama mohon."


KLAKKK


"Mas."


"Marta syukurlah Tuhan, bagaimana anak kita." Menghamburkan pelukannya ke tubuh Marta.


"Mas, anak kita dia...."


Dengan tangan yang bergetar Reygan menyentuh tubuh mungil anaknya yang terbujur kaku di dalam balutan kain bermotif batik. Dengan perasaan yang berusaha setenang mungkin ia duduk di samping istrinya. Ia mengarahkan tubuh mungil Reyhan kecil ke kiblat, dengan penuh getaran ia mengumandangkan adzan ke telinga Reyhan yang disambut isak tangis orang-orang yang berada di sana.


"Ya, Allah segala sesuatu akan kembali pada-Mu. Tapi biarkanlah kami melepaskannya dengan penuh keikhlasan," ucap Reygan menggendong lalu mencium kening Reyhan sambil terus mengulangi perkataannya berulang kali.


Bik Sum menjatuhkan tubuhnya ke lantai, tubuhnya bergetar isak tangisnya semakin terdengar begitu juga Marta yang sampai menggigit selimut tipis.


"Nak, maafkan papa ya, datangnya telat tadi macet mobil papa juga bocor di sana bengkel tutup semua karena hujan deras. Jangan nakal-nakal ya di sana." Mencium kening anaknya tersebut dan dialiri air mata Reygan yang berusaha ikhlas.


Tiba-tiba Reygan merasa ada pergerakan dari balik kain yang membaluti tubuh anaknya. Segera Reygan memperhatikannya dan benar saja bayi tersebut menggerakkan mulutnya lalu....


Neh.... Eaaak....Eaaak


Semua terkejut isak yang tadinya bergema diganti dengan tangisan bayi mungil yang sangat kencang hingga tak memberi ruang untuk suara lain.


"Sayang, anak kita..."


"Mas, kemarikan dia Mas, di-dia haus Mas." Marta memelotot kaget dengan segera ia menyusui anaknya yang ditutupi selimut.


Selain Tuhan dan Reygan hanya Marta, bik Sum serta pak Mat lah yang melihat langsung akan keajaiban yang terjadi malam itu.


OH YA ADA YANG BILANG INGIN MELIHAT MELIHAT VISUAL ORTU REYHAN YAITU REYGAN DAN MARTA ALL RIGHT.....TA-DA INI DIA......MENURUT AUTHOR YA!



Bersambung......

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca i luv u readers q...


__ADS_2