MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-RESTU.....


__ADS_3

"Lho Rey, sebenarnya kita mau kemana?" Melihat ke sekeliling luar mobil.


"Apa kamu lupa tempat ini?" tanya Reyhan.


"Kamu kira aku ini bodoh apa. Ini jalan ke rumah paman masalahnya kita ngapain kemari?" Menatap bingung pada Reyhan.


"Hmmm aku ingin meminta restu saja. Minggu ini kita 'kan mau menikah jadi wajar bukan?" Meminggirkan mobilnya.


"Ta-tapi aku takut Rey. Suasana paman sedang tidak baik putar balik yuk!" Mengerutkan dahinya dan memelas.


"Maaf Lyra aku bukanlah seseorang yang pengecut seperti itu. Ayo kita turun." Membuka pintu mobil lalu turun.


"Rey, aku nggak yakin gimana kalau-"


"Percayakan saja padaku." Tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


Lyra membalas uluran tangannya melihat senyuman indah Reyhan mampu mengurangi ketakutannya itu.


Mereka pun berjalan menuju rumah paman Lyra yang pintunya masih tertutup.


Tok! Tok!


KLak!


Tampak Vanes dengan kedua kantung matanya yang bengkak serta kepala yang masih pusing dan oyong.


"Kakak," ujar Vanes pelan.


"Nes, mata kamu kenapa bengkak begitu. Kamu menangis semalaman ya." Memegangi kedua pipi Vanes.


Kamu begitu lembut pada mereka sedangkan padaku kamu seperti kebakaran jenggot. Bawaannya marah-marah terus setiap bertemu, Lyra kamu sungguh pilih kasih. Batin Reyhan sambil menatap serius pada adegan yang Lyra dan Vanes tampilkan tersebut.


"Oh astaga silahkan masuk Kak," ujar Vanes sambil menarik pelan tangan Lyra. Lyra dengan mimik wajah yang penuh keraguan hanya bisa pasrah menghadapi paman tercintanya itu.


"Mau minum apa teh, kopi, susu atau-"


"Air putih hangat saja." Lyra memotong perkataan Vanes.


"Kalau Kak Reyhan." Tersenyum menatap Reyhan.


"Sama air putih hangat juga." Mengalihkan pandangannya pada Lyra.


"Baiklah pagi-pagi sudah kompak ditunggu ya," ujar Vanes ramah.


"Nes paman dan tante kemana?" tanya Lyra tiba-tiba.


"Hmmm keluar Kak mau beli sarapan. Sebentar lagi juga balik kok." Tersenyum lalu beranjak ke dapur.


"Apa kamu takut?" tanya Reyhan.


"Ti-tidak cuma gugup saja," jawab Lyra menyela perkataan Reyhan.


"Apa bedanya takut dengan gugup. Sama-sama membuat jantungmu berdetak kencang, kan." Melirik Lyra.


"Ya, jelas bedalah kalau gugup itu tidak terlalu parah tapi kalau takut baru sangat parah, parah banget." Memelotot emosi.


Dan dia marah lagi, Reyhan kenapa kau tidak bisa sedikit baik dimata Lyra. Batin Reyhan.


"Ini minumannya, silahkan," ujar Vanes sambil menyuguhkan air putih hangat serta piring yang berisikan beberapa biskuit.


Lyra dan Reyhan pun serentak meminum dan memakan biskuit tersebut. Membuat Vanes tersenyum senang melihat tingkah laku mereka yang hampir sama.


Tok! Tok!


"Vanes, kami pulang!" Terdengar suara tante yang memanggil anaknya dengan lembut membuat Lyra berhenti mengunyah dan perasaan gugupnya pun kembali seperti semula.


Tante melambungkan senyumannya kepada Lyra dan Reyhan. Dan diikuti paman yang terus menunduk dari belakang.


"Lyra dan Reyhan sudah lama menunggu ya. Maaf kami lama datangnya." Tersenyum semringah.


"Vanes sajikan sarapannya ya," ujar paman pada Vanes.


"Oke deh," ujar Vanes sembari pergi ke dapur.


Lyra yang sudah biasa menyajikan makanan sewaktu tinggal bersama mereka pun mulai bangkit dari duduknya.


"Berhenti, Ra biar Vanes saja dia sudah mandiri kok," ujar tante sambil tersenyum.


Lyra menatap lekat pada wajah paman dan tantenya itu. Sama seperti Vanes mata mereka berdua juga bengkak terutama pada paman wajahnya yang mulai mengalami keriput itu terlihat jelas matanya tampak mengecil.


"Pasti sudah menunggu lama ya," ujar tante.


Lyra tersenyum canggung mulutnya terkunci membisu bahkan matanya tak berani menatap kedua orang tua yang sudah membesarkannya itu.

__ADS_1


"Ini karena paman kamu. Ia melihat mobil Reyhan jadi putar balik beli sarapan lagi untuk kalian berdua. Oh ya pasti belum sarapan, kan?" Tersenyum menatap Lyra dan Reyhan.


Lyra tak bisa berkata apa-apa lagi ia merasa bersalah karena telah membangkang terhadap pamannya, namun dibalas baik oleh pria paruh baya tersebut.


"Hmmm, jangan melebih-lebihkan seperti itu, aku cuma berpikir ada tamu ya harus dilayani." Kalimat yang keluar dari mulut paman berhasil membuat Lyra tersenyum.


Berbeda dengan Lyra yang terus menunduk, Reyhan justru menyilangkan kedua tangannya serta menatap datar ke arah mereka.


"Sarapan sudah siap!" seru Vanes sambil kembali ke dapur.


Paman langsung bangkit dari duduknya menuju ruang makan sederhana keluarga Lyra tersebut.


"Ayo Ra, Nak Reyhan kita makan dulu," ajak tante sambil tersenyum lalu diikuti oleh dua sejoli tersebut dari belakang.


Reyhan melihat ke sekeliling dapur tersebut tampak sederhana namun rapi. Terdapat foto masa kecil Lyra dan Vanes yang masih sangat imut dan lucu.


Dan kamu gadis yang memakai topi putih akan menjadi istriku. Tidak disangka di poto itu kamu tampak polos sedangkan kamu yang di sampingku.... Menatap pada Lyra.


"Ada apa?" Memelotot heran.


Tampak pemarah tapi bagaimanapun kamu telah mencuri hatiku, aku tidak akan melepaskanmu. Batin Reyhan.


"Nak Reyhan kamu makanlah ini. Enak banget ikannya masih segar tante pilihkan khusus sebelum dipanggang tadi." Menaruh daging utuh ikan gurame ke piring Reyhan.


"Dan kamu Lyra ini hati ayam yang paling kamu suka, pamanmu khusus membelikannya untukmu. Ayo makan yang banyak." Tersenyum semringah.


"Kau sangat cerewet sudah makan dulu. Jangan banyak bicara lagi," ujar paman canggung.


"Iya-iya, kamu terlihat imut saat sedang malu seperti itu," jawab tante menggoda paman.


Sarapan pagi pun berlangsung hening.


***


"Paman, maafkan Lyra tidak patuh lagi tadi malam-"


"Lyra tidak salah apapun, paman yang salah harusnya paman yang datang menemuimu dan meminta maaf padamu. Akan tetapi aku sebagai paman merasa terlalu malu," jawab paman.


"Ya, Lyra maafin paman kamu dia enggak bermaksud memisahkan kalian berdua. Sekarang dia sadar kalau hanya bersama Reyhan-lah kamu bisa bahagia," ujar tante.


Lyra menganggukkan kepalanya, air matanya keluar seiring dengan wajahnya yang memerah.


"Jadi, kapan Rencananya Nak Reyhan menikahi Lyra?" tanya Tante.


"Saya titip putri sulung saya, tolong dijaga dan tolong juga jika kelak dia membuat kesalahan cukup ditegur saja. Jangan sampai tangan yang bicara." Menatap serius pada Reyhan.


"Paman tenang saja, saya bukan orang yang seperti itu cinta saya pada Lyra nyata adanya jika sampai itu terjadi paman boleh memotong tangan saya." Melirik pada Lyra.


"Ehmm baiklah! Apa yang sudah kalian persiapkan untuk pernikahan ini?" tanya paman.


"Ka-kami hanya akan menikah sederhana saja, lagipula kami-"


"Tenang saja, Paman keluarga saya sudah mempersiapkan semuanya tanpa kurang apapun juga. Sekarang tinggal fitting baju saja," jawab Reyhan.


Lyra memelotot bingung karena setahunya Reyhan belum mempersiapkan apapun, sebab keputusan menikah pun baru saja diungkapkan Lyra tadi malam.


***


"Apa pemandangan di luar jendela mobil lebih menarik perhatianmu daripada aku?" Serius menyetir mobil.


"Apa kita akan pulang?" tanya Lyra sambil terus mengelus kaca jendela mobil.


"Tidak, seperti yang aku bilang. Sekarang juga kita memilih gaun untuk pernikahan kita." Menatap serius pada Lyra.


"Oh ya dari tadi aku merasa bingung. Kapan kamu mempersiapkan semuanya? Kenapa kamu nggak bilang apapun padaku?" tanya Lyra penasaran.


"Dari awal pacaran aku sudah merencanakannya karena aku yakin kita akan sampai ke tahap ini."


"Ah enggak mungkin pasti kamu bercanda. Kamu mana ada waktu untuk membuat hal romantis seperti itu." Menganggap Reyhan remeh.


"Jangan samakan aku dengan pria malas yang di sekitarmu. Selama kamu masuk dalam daftar hidupku aku akan terus mengutamakanmu." Menatap serius.


Lyra mengambil botol mineral di depannya lalu meminumnya.


"Jadi kenapa kamu tahu kalau aku mengajakmu menikah minggu ini dan-"


"Karena biarpun kamu menolakku seribu kali itu tidak akan membuatku gentar. Lyra kamu sudah mengikatku jadi, kemana pun kamu pergi aku akan terus ada. Ibarat magnet dan akulah sebagai logammu, hingga seribu abad yang akan datang kita akan tetap bersama. Bahkan jika kelak kita mengalami renkarnasi hanya akan ada Reyhan Almirza untuk Lyra." Menatap dalam pada Lyra.


"Fokuslah menyetir dan jangan banyak bicara." Mengalihkan pandangan merasa salah tingkah.


Kata-katanya bagaikan racun. Terdengar selalu manis tapi begitulah adanya. Menikah dengannya, kenapa bisa seberuntung ini sih? Batin Lyra sambil tersenyum.


***

__ADS_1


"Wah! Serius ini tempatnya." Memelotot di balik jendela mobil menatap sebuah butik mewah.


"Ini punya keluarga Erick, turunlah banyak yang sudah menunggu kita," ujar Reyhan sambil turun dari mobil.


"Rey ini pasti mahal banget. Kita cari ke tempat lain yuk lagian aku juga enggak pantas pakai barang mahal!" Menarik tangan Reyhan.


"Apa perlu aku menggendonmu," jawab Reyhan.


"Ti-tidak usah." Menggeleng dengan tatapan kosong.


""Jadi, mau menurut 'kan." Mengulur tangannya.


Lyra mengangguk lalu membalas uluran tangan Reyhan. Mereka pun tersenyum lalu masuk ke dalam butik pribadi keluarga Erick tersebut.


"Eh ini ya yang bernama Reyhan ya ampun gantengnya. Masuklah tuan muda Erick sudah menunggu di dalam." Seorang pria yang sudah belok dari takdirnya menyapa ramah pada Reyhan.


Reyhan tidak menanggapinya ia tetap berjalan masuk sambil terus menggandeng tangan Lyra. Pria itu hanya bisa menatap sinis pada Lyra.


"Hai Rey, lu udah datang hai Kak Lyra bagaimana kabarnya lama enggak ketemu?" sapa Erick sambil tersenyum pada Lyra.


"Selama denganku dia akan tetap sehat. Jadi, basa basinya kapan-kapan saja langsung tunjukkan gaunnya sekarang," jawab Reyhan sinis.


"Kamu kok gitu sih," ujar Lyra sambil mencubit pelan pada pergelangan tangan Reyhan.


"Hahaha Reyhan memang begitu Kak, orangnya paling hobby menindasku." Tertawa senang melihat wajah Reyhan yang sehabis dimarahi Lyra.


"Mana gaunnya," ujar Reyhan.


Erick pun memencet sebuah remot sebagai pembuka tirai yang ada di hadapan mereka. Tampaklah beberapa wanita serta sebuah gaun putih yang sangat mewah yang dipakaikan ke patung. Lyra melepaskan tangannya dari Reyhan ia menatap takjub pada gaun tersebut.


"Sepertinya kamu sangat menyukai gaun itu dari pada aku sampai-sampai kamu melepaskan gandenganku," bisik Reyhan.


"Bukan begitu? Gaunnya indah banget Rey." Terus menatap takjub ke arah gaun tersebut.


Lyra mendekatinya lalu mulai menyentuh gaun tersebut terlihat jelas ia merasa nyaman menyentuh lembutnya gaun itu.


"Ini Reyhan sendiri yang desain cantik bukan. Dari awal kalian pacaran dia sudah memberikan hasil desainnya kebetulan mama lagi di Paris jadi ini dijahit oleh desainer disana. Mereka sangat takjub namun tidak berani menjahit gaun yang sama karena Reyhan yang melarangnya, ini dikhususkan untuk Kakak." Menunjuk pada gaun tersebut.


Mendengar perkataan Erick tubuh Lyra spontan memeluk Reyhan. Dan tentu saja membuatnya terkejut. Seakan mengerti dengan situasi Erick mengajak karyawatinya keluar dari ruangan tersebut.


"Kamu enggak bohong, Rey terima kasih aku sangat hiks." Air mata pun jatuh.


"Kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak suka. Tunggu sebentar akan aku cari Erick." Melepas pelukan Lyra.


"Dasar bodoh, aku ini terlalu bahagia ini bagus banget. Kamu membuat aku seperti ratu *Aprhodi*th," ujar Lyra.


"Ratu Aprodhit siapa dia? Apa dia lebih cantik darimu?" tanya Reyhan.


"Sangat cantik 1000 kali lipat cantiknya." Menghapus air matanya.


"Dimana tempat tinggalnya? Akan aku bunuh dia?" Menatap serius.


"Dia seorang Dewi Yunani, Rey itu hanya mitos saja tahu." Tersenyum merasa lucu dengan ekspresi Reyhan yang serius.


"Makanya dari sekarang jangan katakan ada yang lebih cantik darimu. Aku akan mengirim orang itu ke neraka." Memegang pundak Lyra.


Lyra mengangguk lalu tersenyum, mereka pun memperhatikan setiap detail yang terdapat pada gaun tersebut.


"Kamu suka?" tanya Reyhan.


"Iya, sangat suka terima kasih Rey." Tersenyum senang.


"Ini akan menjadi milikmu selamanya." Mengelus kepala Lyra.


"Apa? Ini bukannya disewa ya?" Memelotot kaget.


"Tentu tidak, jadi begitu setiap tanggal dan bulan pernikahan kita tiba. Aku akan terus merayakannya dengan menikahimu lagi dan lagi." Tersenyum pada Lyra.


"Apa? Kenapa kamu berubah romantis seperti ini?" tanya Lyra.


"Ini bukan romantis tapi ini kewajiban. Selagi aku mampu akan ku berikan kebahagiaan yang aku punya untukmu dan itu belum seberapa dibandingkan kesetiaanmu padaku." Mencium kening Lyra.


ILUSTRASI GAUN PERNIKAHAN LYRA



ATAU



Sorry kalau norak beginilah tipe gaun pernikahan yang author syuka😉😉😉.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Jangan Lupa Hujatannya guys, Luv u Readers.


__ADS_2