
"Rey, mereka bilang sepertinya Lyra memang tidak ada disini," ujar Erick.
"Tidak mungkin, Feronica katakan padaku dimana kau menyembunyikannya!" teriak Reyhan dengan wajah yang merah padam.
Kalau aku katakan bisa-bisa keselamatan kak Fero terancam, itu tidak boleh terjadi papa pasti akan membunuhku karena semua ini ulahku. Batin Feronica.
"Aku tidak tahu Rey, aku bahkan tidak mengenalnya," jawab Feronica meyakinkan Reyhan.
"Bohong! Sudah jelas Lyra pergi dengan Vanes tadi siang dan sekarang Vanes ada disini. Hei! Bocah ingusan jangan anggap kami semua anak SD yang bisa kau bohongi dengan mudah!" teriak Siska.
"Itu pertanyaanku yang terakhir tapi kalau aku tahu ini perbuatanmu, bukan hanya kau tapi seluruh keluargamu akan ku hancurkan bagaimanapun caranya!" teriak Reyhan.
Feronica tak berani berkutik seluruh tubuhnya bergetar dan terasa kaku. Kepalanya hanya menunduk lemah.
"Hah! Kau takut kan. Itu hukuman dari Reyhan. Begitu aku tahu kau menyekap Lyra. Kau lihat saja bagaimana aku menghukummu nanti," ujar Siska sambil tersenyum sinis.
"Permisi Den sepertinya saya tahu dimana dia," jawab Redro.
Reyhan mengangkat tangannya pertanda mengerti.
"Aku tahu apa yang kau maksud ayo kita kesana,"
ajak Reyhan.
Diam-diam Feronica mengirim pesan kepada seluruh pengawalnya yang belum sampai dilokasi.
***
"Saat kau tidur seperti ini kau terlihat sangat cantik dan menggoda," gumam Fero sambil mengelus rambut Lyra.
Fero memandangi wajah Lyra yang tak sadarkan diri di dekatnya. Ia mulai menyentuh kening, mata dan bibirnya.
"Aku sudah tidak bisa menahannya maaf Reyhan, kau sudah terlambat," kata Fero sambil membuka bajunya sendiri.
Akan tetapi, tiba-tiba...
Bruk!!!
Suara dobrakan pintu mengejutkan Fero. Tampak Reyhan yang berlari dengan cepat ke arahnya dan...
Bagh!!! Bugh!!!
Baku hantam dari Reyhan tepat di bagian wajah Fero hingga membuatnya tersungkur hebat.
Reyhan menatap Lyra yang terbaring dan masih tak sadarkan diri. Dengan amarah yang semakin memuncak Reyhan berjalan menghampiri Fero lagi.
Bagh!!!
Reyhan melayangkan tinjuan yang cukup kuat tepat di bagian perut Fero.
"Apa yang kau lakukan padanya hah!" teriak Reyhan yang semakin menjadi-jadi.
"Issh, hah bagaimana rasanya kalau orang yqng kita cinta justru dekat dengan orang lain bahkan sahabat kita sendiri ? Ayo jawab!" Fero membalas teriakan Reyhan.
Reyhan terdiam ia menarik nafasnya yang sedari tadi terengah-engah.
__ADS_1
"Kau diam Rey, ayo jawab gimana rasanya Hah!" teriak Fero sambil mencengkram lengan Reyhan.
"Dari dulu sampai sekarang kau memang ditakdirkan selalu kalah dariku. Ah tidak yang sekarang kau bertambah rendah, kau memang tidak pantas untuk dijadikan teman," jawab Reyhan dengan santai.
"Apa maksudmu?!" tanya Fero dengan suara meninggi.
"Bertahun-tahun kau menaruh dendam padaku hanya karena satu alasan yaitu Vica," jawab Reyhan.
Fero menjatuhkan tubuhnya ke lantai tak berdaya mendengar jawaban Reyhan. Sesekali ia meringis kesakitan akibat tinjuan dahsyat Reyhan tadi.
"Dengan gampangnya kau menganiaya anak orang lain yang mendekatiku hanya karena aku menolak Feronica adikmu sendiri. Sekarang kau ikut terlibat menyekap orang terdekatku, katakan apa lagi yang kau mau hah!" teriak Reyhan.
"Hahahaha kau lihatkan tadi aku hampir saja menidurinya tapi sayang kau datang disaat yang tidak tepat. Aku mau kau serahkan dia padaku," jawab Fero dengan wajah yang sinis.
Reyhan memelotot terkejut urat di lehernya seketika terlihat. Ia benar-benar dibuat marah oleh Fero.
Bagh!!! Bugh!!!
Tendangan Reyhan tepat di bagian wajah Fero hingga menyemburkan darah dari mulutnya.
"Perlu kau ketahui Vica juga menyukaimu tapi dia tidak bisa menerimamu karena saat ini kondisinya sangat menyedihkan," jawab Reyhan.
"Apa?"
"Kanker otak stadium akhir dia mengidapnya dari kecil dan selalu berusaha bertahan. Dari sejak pertama bertemu denganmu dia sangat menyukaimu dan dia sering menanyakan kabarmu," jelas Reyhan.
"Lalu kenapa kau baru bilang sekarang?" tanya Fero sambil menyeka darah di mulutnya.
"Karena dia temanku dia menyuruhku diam aku akan diam dan aku terpaksa mengatakannya karena aku sudah mulai muak. Apa kau tahu dimana kedua orang tuamu saat ini? Akan ku beritahu, mereka melakukan pencucian uang terhadap pabrik rokok di Batam, Fero kau sudah tidak punya apa-apa lagi," jawab Reyhan lagi.
"Kau pasti bohong, mereka tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti itu? Mereka sangat profesional!" teriak Fero.
"Kalian semua bawa dia!" perintah Erick menunjuk ke arah Lyra.
"Tunggu! Jangan sentuh dia, biar aku saja yang membawanya," jawab Reyhan berjalan ke arah Lyra lalu menggendongnya.
"Ayo Erick kita sudah tidak ada urusan lagi disini," jawab Reyhan.
"Kakak " teriak Feronica.
"Dan karena kau berani membohongiku, sekarang kalian tanggung akibatnya jika berani bermain-main denganku," ujar Reyhan dengan lantang pada Feronica.
Tiba-tiba....
"Ah!" teriak Feronica menahan kesakitan.
"Sakitkan rasakan ini! Dengan gampangnya kau mencambuk orang lain tanpa rasa belas kasih. Ini rasakan lagi!" teriak Siska sambil menambah cambukan ke punggung Feronica.
"Tolong jangan dicambuk lagi aku mohon." Rintihan Feronica.
"Sudah Kak jangan buang tenaga untuk orang seperti mereka, lebih baik kita antar kak Lyra kerumah sakit," kata Erick sambil merebut cambuk itu dari tangan Siska.
Merekapun berlalu kecuali Fero dan Feronica.
Fero berusaha bangkit meraih tangan Feronica yang sudah tidak berdaya.
__ADS_1
"Kak papa dan mama dipenjara Kak," kata Feronica sambil menangis.
"Apa?" Tubuh Fero seketika terkulai lemas.
Reyhan menggendong Lyra menuju mobil yang dibawa oleh pak Mat. Di dalam mobil ia terus mengusap rambut Lyra berharap wanita itu segera bangun. Rasa bersalah dan cemas bercampur aduk.
"Kita ke rumah sakit sekarang," perintah Reyhan.
"Baik Den," jawab pak Mat lalu menyetir mobil.
***
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Reyhan dengan wajah cemas.
"Untungnya dia baik-baik saja. Hanya saja karena dia meminum wine dalam keadaan perut kosong memicu asam lambungnya naik serta kadar alkohol membuat kepalanya terasa sakit hingga pingsan. Satu lagi luka bekas cambukkan itu perlu dirawat insetif kalau bisa untuk sementara saat ini hindari air dulu," jawab Dokter tersebut.
"Saya boleh masuk, Dok?" tanya Reyhan.
"Tentu saja silahkan masuk, kalau begitu saya permisi dulu ya," jawab dokter.
Reyhan mengangguk sembari masuk ke dalam kamar pasien. Diraihnya tangan Lyra. Ditatapnya lekat wajah wanita yang sangat ia cintai tersebut.
"Lyra? Andai kamu tahu aku sangat menyukai semua apa yang kamu miliki kesederhanaan, keceriaan dan bahkan cerewetmu. Tapi sepertinya aku memang tidak pantas untuk disayangi karena akulah penyebab kamu mengalami semua ini," gumam Reyhan.
"Siapa bilang?" jawab Lyra pelan.
"Hah kamu sudah sadar? Sebentar aku panggil dokter dulu!" seru Reyhan dengan rona bahagia tampak di wajahnya.
"Tidak perlu, dokter tahu aku sudah sadar aku yang menyuruhnya untuk tidak memberitahumu," jawab Lyra.
"Kamu sudah mulai bisa ya main drama denganku," kata Reyhan.
Lyra memaksakan bangkit dari tidurnya dengan sigap Reyhan membantunya.
"Aw ah lumayan perih juga," rintih Lyra.
"Kata dokter beberapa hari ini kamu dilarang mandi karena luka di punggungmu itu mengalami infeksi," jelas Reyhan.
"Ya aku tahu itu, tapi coba kamu pikir kalau aku tidak mandi betapa baunya aku. Jadi aku putuskan untuk harus tetap mandi," jawab Lyra sambil tersenyum.
"Dengarkan kata dokter mereka sudah berusaha untuk kesembuhanmu. Tolong menurutlah," kata Reyhan.
"Kamu kan tahu pasti nanti aku bau keringat, apek bahkan bau busuk. Siapa yang mau dekat denganku?" Lyra memelas.
"Jika ada yang berani menjauhimu, Kookie ( buaya Reyhan) dengan senang hati akan menyantapnya,"
kata Reyhan.
"Sudah, hentikan hal semacam itu dengan mudah mempermainkan nyawa orang lain," jawab Lyra.
"Aku melakukannya untukmu, tidak lebih tidak juga kurang tidak boleh satu orang pun menyakitimu termasuk aku sendiri," jawab Reyhan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir jangan Lupa like,komen ya
šššš