MY BERONDONG

MY BERONDONG
Berkunjung...


__ADS_3

Lyra merebahkan tubuhnya ke ranjang yang sangat ia rindukan. Lelah dan lega ia rasakan bersamaan. Reyhan tersenyum nakal ketika perempuan itu melebarkan senyumannya. Niatan menjaili sang istri tentunya.


"Ouch, sayang lepaskan aku," pekik Lyra, ketika tubuhnya tervenam di pelukan Reyhan.


Bukannya menjawab, Reyhan dengan santainya memejamkan mata. Menikmati gerakan Lyra yang berusaha memberontak.


"Aku ingin berenang, sudah lama tidak berenang." Lyra sekuat tenaga mengatakan keinginannya.


Tetap diam, tidak menghiraukan rengekan sang istri. Reyhan semakin mengeratkan pelukannya.


"Diam dan tenanglah. Atau aku akan menggigitmu." Ucapan Reyhan membuat mata Lyra membulat.


Pasrah, Lyra lakukan. Dia kikuk sekarang, diam dan berusaha tenang. Barulah Reyhan membuka kedua matanya dan beradu dengan manik sang istri.


Reyhan mendesah pelan, tangannya membelai dahi Lyra lembut. Membuat wanita itu memejamkan mata seolah menikmati sentuhan manja itu.


"Kamu berhutang padaku. Aku akan menagihnya sekarang," ujar Reyhan.


"Lagi?" Lyra mendongak kaget.


"Hmmm...janji adalah janji. Yang di pesawat, tidak termasuk hitungan." Menyunggingkan senyuman yang membuat Lyra mendelik kesal tentunya. "Ada apa denganmu? Aku menuruti Erick atas saranmu yang tentunya kamu harus membayarnya, bukan. Istriku sayang."


Lyra tersenyum simpul, bukan karena senang. Itu ekspresi kekesalan yang tak bisa ia bendung lagi. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Mau tak mau, yang dikatakan Reyhan itu benar. Janji tetaplah Janji.


"Tapi sayang, aku ingin mandi. Sangat gerah jika aku yang bau bawang busuk ini kamu sentuh sekarang," jawab Lyra, bergulat manja berharap dilepaskan.


Senyum nakal Reyhan semakin menjadi-jadi. Ada kelicikan di sana. Lyra tidak menyerah, yang ia inginkan hanyalah berenang membersihkan tubuh sekaligus bermain dengan air yang sudah menjadi kesukaannya sejak kecil.


Reyhan melonggarkan pelukannya, tangannya kini memangku kepalanya menghadap sang istri. "Pergilah, kutunggu minggu ini. Anggap aku menyerah. Tapi, kali ini saja, tidak ada lain kali tentunya," ujarnya, membalikkan tubuh membelakangi Lyra.


Bukannya senang, Lyra justru merasa keanehan dengan sikap Reyhan yang tak biasa. Karena setiap Reyhan menginginkannya, Reyhan tetap mendapatkannya.


Segera ia tepis pikiran buruk itu, segera Lyra mengganti pakaiannya. Hamparan kolam seolah melambai membuatnya semakin bersemangat.


Dilihatnya Reyhan yang sudah lelap. Kalimat Reyhan tadi melayang di pikirannya. "Sayang, mimpikan aku," ucapnya, disingkirkannya rambut yang menutupi dahi Reyhan. Membuat wajah yang putih nan tampan itu semakin terpancar.


Aku bisa gila kalau terus menatapnya. Semakin hari semakin tampan saja. Reyhan, kamu penggoda yang hebat


***


Di apartemen yang baru saja ditempati.


"Padahal kontrakan kemarin, nggak terlalu kecil. Ada 2 kamar dan juga ruang tamu. Kamar mandi dan toiletnya juga tidak buruk. Untuk apa menginap di tempat beginian lagi?" Siska mengerutkan dahinya ketika kedua kakinya memasuki apartemen, tempat ia dan Redro tinggal.


Redro tak menjawab, pandangannya justru terfokus pada bokong Siska yang sedikit menungging.


Pikiran apa ini? Redro, sadarlah. Tunggu napasnya stabil.


"Beb, kok malah bengong? Pasti kepiran sama pramugari centil itu ya. Dia cantik sih, tapi lidahnya melet-melet gitu kayak orang cacingan. Menyebalkan, tahu." Siska mengepalkan tangannya, menunjukkan betapa kesalnya dia.


Redro masih diam, tubuhnya tak memberikan respon apa pun. Masih setia dengan curahan hati sang istri.


Siska menghembuskan napasnya kasar. Sebenarnya, wanita itu kelelahan. Tapi, rasa kesalnya yang memuncak membuatnya enggan untuk diam.


"Belum lagi, Reyhan dan Lyra yang melarikan diri dari kita." Barulah terdengar cekikan dari Redro. Pria itu membuat Siska yang menggerutu tercengang. "Kamu ketawa begitu, ya?" Menyentuh kedua pipi Redro yg seketika memerah.


"Apa kamu lapar? Aku akan membelikannya untukmu," jawab Redro, mengalihkan pertanyaan Siska.


"Beb, kamu macho banget deh." Menangkap wajah Redro yang berusaha menghindar.


Redro kebingungan, apalagi ketika tangan Siska menjalar ke kancing kemeja yang ia kenakan.


Hahaha...wajahnya seperti ini lucu banget. Bebeb tampanku ingin rasanya aku memperkosamu. Tapi, sayangnya aku kelelahan. Siska membatin sambil tersenyum nakal.


"Hmmm, sepertinya dingin begini lebih baik makan sup daging ditambah sambal terasi deh," ujar Siska sembari melepaskan pegangan tangannya pada wajah Redro. Wanita itu pun beralih ke sofa.


Redro masih di sana, hanyut dalam kebingungan. Sebelumnya ia mengira Siska akan terus menahannya dan bergelut manja seperti biasa.


Apa dia tidak menyukaiku lagi. Dia seperti bunglon berubah begitu cepat. Atau dia bosan menghadapi aku yang kaku. Batin Redro.


Siska tertawa ketika membaca pesan dari Lyra masuk ke ponselnya. Redro terus menatapnya tanpa berkedip sedetik pun.


"Apa kamu mau ikut?" tanya Redro yang langsung dijawab Siska dengan gelengan kepalanya.


Penasaran dengan isi pesan tersebut membuat Redro mendekati Siska. Namun, segera ditutupi oleh Siska.


"Nggak jadi beli nya, aku sudah lapar ini?" tanya Siska.


Redro tampak kebingungan dengan dirinya sendiri. Ia pun memilih beranjak keluar.


"Dia kenapa sih?" Siska menatap punggung Redro yang perlahan hilang ditelan pintu.


***


Reyhan mengamati hamparan bintang yang berkelap kelip bersama Lyra yang bertengger di dadanya. Sesekali ia membelai dan mencium dahi sang istri.


Ada satu bintang yang tengah mencuri perhatian Lyra. Bintang itu memiliki cahaya nya perlahan redup. "Aku itu kayak dia, ya?" Menunjuk ke arah bintang.


"Memangnya dia kenapa?" tanya Reyhan di sela-sela mengecup puncak kepala Lyra.


"Yang itu kamu." Bukannya menjawab Lyra justru menunjukkan bintang yang paling terang dan berdalih bahwa itu adalah Reyhan.


"Sebenarnya kamu mau bilang apa?" tanya Reyhan sambil menyentuh pipi Lyra.

__ADS_1


Lyra menatap wajah Reyhan dengan seksama. Suami istri itu beradu pandang. "Ya, hidupku seperti bintang itu sebelum bertemu kamu yang bersinar membuat kesilauan orang-orang yang melihatmu," jawab Lyra.


"Kamu yakin persamaannya seperti itu?"


Lyra bangkit dari duduknya, ia berpindah ke tepian kolam dan mengibas-ngibaskan kedua kakinya. "Ya tentu saja, begitu. Memangnya menurut kamu bagaimana?"


"Menurutku, aku lah bintang yang redup itu. Di mana hidupku yang hampa dan selalu menghindar dari kumpulan orang-orang. Sedangkan kamu, selalu berada di kumpulan orang ramai." Mata Lyra seolah berkaca-kaca mendengar penuturan Reyhan. Dilihatnya kembali bintang-bintang tersebut, kemudian menatap Reyhan yang tersenyum semringah.


"Dan setelah mengenalmu, aku tak lagi jadi bintang itu justru berubah menjadi bulan yang cahaya nya lebih terang dibandingkan hiasan langit lainnya."


Reyhan, kenapa kamu selalu saja berusaha memberiku sanjungan. Bisakah kamu lebih angkuh sendiri dan menyudutku sekali saja. Aku semakin sesak mendengar pujian yang kamu jabarkan. Aku benar-benar sangat malu sekarang, batin Lyra.


"Aku merasa ngantuk banget. Aku tidur duluan ya," ujar Lyra sambil bangkit dan beranjak masuk.


Reyhan berdehem, membyat langkah Lyra terhenti. "Bisakah lima ronde nya dimulai dari sekarang?" Menyunggingkan senyuman dengan kedua mata menyipit.


Lyra menoleh ke arah Reyhan. "Aku akan berbaik hati untuk tidak melakukannya sekaligus malam ini. Ya, aku akan membiarkanmu menyicilnya," lanjut Reyhan.


"Apa?" Kedua mata Lyra memelotot kaget.


****


Pagi itu, cahaya mentari berhasil menembus pintu kaca transparan hingga membuat Lyra silau. Dengan berat, perempuan itu, membuka matanya. Reyhan yang biasanya masih dipelukan tak ia temui.


"Ah, tumben jam segini dia sudah nggak ada. Kemana ya?" Menggumam sambil kedua matanya menyapu isi ruangan.


Dengan sedikit tertatih, Lyra beranjak masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, Lyra kembali dan mengacak lemari memilih pakaian yang akan ia kenakan.


Setengah jam berlalu, Lyra telah selesai memakai setelan dan merias wajahnya. Ia beranjak keluar ketika cacing di perutnya mulai protes minta makan.


Lyra menghentikan langkah kakinya ketika dia melihat senyuman nakal Reyhan. Lyra menghembuskan napasnya, wajahnya terlihat ilfil.


Kini mereka sudah berada di ruang makan. Lyra yang enggan dekat Reyhan memilih duduk di kursi jauh dari suaminya itu.


Lihatlah senyumannya itu, seperti bisa ular. Mematikan! Aku hampir saja mati dibuatnya. Dari mana dia belajar gaya itu? Membalas senyuman semringah Reyhan dengan tatapan tajamnya.


"Aku ada urusan sebentar, tunggu aku. Kita akan menemui orang tua kita. Oh ya, bik Sum tolong ramuan yang saya pesan diberikan sekarang ya."


"Inggih Den," jawab bik Sum sambil cekikan.


Reyhan mencium dahi Lyra, lalu beranjak pergi. Lyra menatap Reyhan yang terburu-buru, seperti ingin berlama-lama dengan suaminya itu.


"Memangnya ramuan apa yang dipesan Reyhan, Bik?" tanya Lyra sembari meminum minumannya.


"Jamu kuat, Non," jawab bik Sum.


Gluk!


Lyra pun tersedak.


***


Redro menatap Reyhan dengan serius. Berkali-kali ia merasa salah tingkah dikala majikan kecilnya itu menatapnya balik.


"Apa ada yang salah dengan wajahku? Kau menatapku berulang kali, katakan ada apa?" tanya Reyhan sambil menatap hamparan tanah kosong di hadapannya.


Redro menggeleng, tetapi Reyhan orang yang tidak mau kalah dan dia harus memaksa Redro untuk jujur.


Flash Back On


Redro terbangun dari tidurnya kala itu pukul tiga dini hari. Perlahan, ia menyingkirkan tangan Siska yang melingkar di pinggangnya.


Ponsel Siska yang terletak di atas nakas, ia ambil. Sebenarnya, Redro penasaran dengan isi chat yang membuat Siska tertawa hingga tengah malam.


"Apa ini?" Kedua mata Redro memelotot ketika mengetahui isi chat tersebut.


Flash Back Of


Redro tertunduk merasa bersalah. Sementara itu, tampak Reyhan yang berusaha menyembunyikan wajah malu di hadapan sang pengawal.


"Ehm, pastikan villa ini selesai secepatnya. Aku ingin segera menyerahkannya pada putraku nanti," ujar Reyhan, dengan wajah angkuh yang dibuat-buat.


"Baik, Den," jawab Redro.


"Ehm, kenapa kau terus menundukkan wajahmu?" tanya Reyhan.


Redro tidak menjawab. Ia terus menunduk.


"Aku tidak ingin memperpanjang isi chat itu. Lupakan tentang itu, dan fokuskan dirimu pada tugas yang kuberikan," ujar Reyhan lagi.


"Apa nona Lyra sudah hamil, Den?" tanya Redro.


"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Reyhan balik.


"Kenapa, Aden mempersiapkan villa untuk seseorang yang belum lahir?"


Reyhan terkekeh, ia melangkah ke arah tanah kosong itu diekori Redro dari belakang. "Firasatku mungkin ada saatnya aku tidak bisa bertemu putraku nanti. Kemungkinan terbesar bisa saja, aku akan sibuk menghadapi perusahaan di Amerika."


Redro tertegun mendengar ucapan Reyhan. Majikan kecilnya itu memang memiliki pemikiran yang dewasa. Tak ada yang bisa menebak betapa hebatnya pola pikir orang yang ada di hadapannya itu.


"Aku merasa akan diberikan dua orang putra dan seorang putri. Bagaimana menurutmu?" tanya Reyhan.


"Apakah itu yang ada di mimpi Aden?"

__ADS_1


Reyhan menggeleng, "itu hanya instingku saja," jawabnya.


Mereka pun beranjak dari sana.


***


Reyhan dan Lyra menaburi kelopak mawar merah dan putih di pemakaman kedua orang tua Lyra. Hampir satu jam di sana membuat kerinduan Lyra terbayar lunas.


"Ayo," ajak Lyra sambil memegangi pundak Reyhan yang masih berjongkok di sana.


"Tidak! Tunggu sebentar," jawab Reyhan membuat Lyra kembali berjongkok di dekat Reyhan.


"Sejauh ini, saya masih bisa menjaga Lyra. Saya harap Bapak dan Ibu tidak usah khawatir karena saya akan buktikan kalau saya bisa membahagiakannya. Maafkan saya yang egois hingga membuatnya tak bisa mengunjungi Bapak dan Ibu. Saya hanya ingin membuat perusahaan yang ayah saya titipkan tetap aman terkendali. Hanya itu yang ingin saya sampaikan, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum." Reyhan bangkit, diikuti Lyra dari belakang.


Seandainya mereka masih hidup. Aku yakin, mereka akan lebih menyangimu dibandingkan aku putri mereka sendiri. Lyra membatin sambil terus menyemaikan senyuman di bibirnya.


Kini mereka telah berada di pemakaman papa Reyhan. Pemakaman dengan ditumbuhi beberapa aglaonema merah yang sengaja ditanam Marta.


Tak ada kalimat yang bisa diungkapkan Reyhan. Rangkaian kata yang seharusnya ia ucapkan tertahan di batinnya. Lyra tahu, suaminya itu tidak akan mengoceh seperti di pemakaman orang tua nya tadi.


"Hai, Papa. Kita bertemu lagi setelah lumayan lama berpisah negara. Tapi saya percaya kalau Papa tetap memperhatikan kami dari sana. Oh ya, Pa sekarang tidak usah mengkhawatirkan perusahaan lagi ya. Karena sekarang Reyhan dan mama Marta sudah berhasil membuat perusahaan yang Papa bangun tetap di posisi nomor satu," ucap Lyra sambil menatap Reyhan.


"Hahaha...Reyhan hebat banget lho Pa. Dia juga sangat terkenal di sana sebagai pengusaha termuda dan dia juga berani melawan klien yang licik. Dan satu lagi, dia banyak banget yang incar Pa. Pokoknya cowok-cowok bule itu nggak ada apa-apa nya dibandingkan dengan Reyhan. Tapi, walaupun begitu saya tetap percaya kalau Reyhan tidak akan berpaling hati dari saya. Ntah lah Pa, saya janji sampai kapan pun saya tidak akan rela kalau dia jatuh ke pelukan perempuan lain. Terima kasih, telah menjaganya untuk saya walaupun dalam waktu yang singkat." Kini air mata Lyra terjatuh terbayang akan kata-kata Reyhan tadi malam.


Saya serius Pa, sejak kepergian Papa Reyhan adalah sosok yang pendiam dan menyendiri. Izinkan saya menjaganya hingga akhir hayat saya.


Lyra terus memandangi Reyhan yang fokus menyetir. Semenjak dari pemakaman Reygan, Reyhan terus bungkam.


"Sayang, apa aku ada salah padamu?" tanya Lyra dengan suara hati-hati.


Reyhan menggeleng, lalu diam kembali membuat Lyra bertanya-tanya.


"Tapi, kenapa kamu diam terus?" tanya Lyra lagi.


Reyhan tidak menjawab, membuat Lyra merasa panas hati dan menggerutu kesal.


Keheningan pun terjadi lumayan lama. Reyhan menghentikan mobilnya membuat Lyra semakin kesal.


"Kamu tahu, apa yang aku pikirkan sekarang?" tanya Reyhan.


"Tidak, dan tidak mau tahu," jawab Lyra singkat.


Reyhan tersenyum, "aku cuma heran mengapa istriku ini bicara nya lembut sekali pada papa dibandingkan dengan aku yang suaminya sendiri," tutur Reyhan.


"Apa sih, dasar nggak jelas?"


"Tentu saja jelas dan satu lagi kamu ini tipe menantu yang manis di depan busuk di belakang. Kamu memuji-muji aku di depan papa tapi kalau di belakang, kamu selalu mengintimidasi aku," lanjut Reyhan.


Kedua mata Lyra semakin membulat menunjukkan betapa marahnya dia sekarang.


"Aku bukan menantu yang seperti itu ya. Reyhan Almirza aku tekankan bahwa aku selalu berusaha menjadi istri terbaik dan aku tidak pernah mengintimidasimu."


"Bisa kamu pegang kata-kata itu?" tanya Reyhan sambil tersenyum licik.


"Ya, tentu saja." Menjawab dengan keyakinan penuh.


"Baiklah, malam ini cicilan kedua."


"Apa?"


Reyhan menyetir kembali mobilnya tanpa mempedulikan Lyra yang tercengang.


Dia memang ga pernah ada habisnya membuatku jatuh ke lubang yang sama. Dan anehnya aku, begitu gampang dibodohi. Batin Lyra kesal.


"Lho, ini kan bukan jalan ke rumah?" tanya Lyra, setelah menyadari jalan yang mereka lewati berbeda dengan jalan ke arah rumah.


"Aku kira kamu tidak akan sadar," jawab Reyhan, dan lagi-lagi dengan senyuman tentunya. Lyra semakin tersadar bahwa mereka sedang menuju ke rumah paman.


"Tapi, Rey kita nggak bawa apa pun lho," ujar Lyra semakin panik.


"Aku sudah mengurusnya," jawab Reyhan.


"Apa maksudmu?"


"Nanti kamu akan mengetahuinya, ayo turun! Kita sudah sampai." Membuka pintu mobil.


"Tapi, Rey. kita-"


"Kakak!" teriak Vanes yang langsung menghampiri Lyra yang masih di dalam mobil.


BERSAMBUNG...


Hai-hai semuanya!!!


Maaf ya updatenya udah kayak jelangkung


Hahaha... Semoga nggak ada yang terkejut dengan kehadiran saya. Ntahlah saya memang suka membuat kejutan. Ya, walaupun nggak pentingπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Oh ya, di sini aku juga pengen promosikan novel q yang lainnya. Di aplikasi dream yang berjudul MAHLIGAI CINTA DOKTER KEN, jangan lupa mampir ya. Gratis kokπŸ˜…


Terima kasih sudah baca😍😍😍


Sekarang IG q udah ganti karena yang 1 lagi lupa sandinya. Jangan lupa difollow ya \=) @dianaanggraini5861. Makanya yang DM maaf bukannya sombong tapi karena iG nya sudah ganti karena ada masalah.

__ADS_1




__ADS_2