MY BERONDONG

MY BERONDONG
SISKA VS REDRO....


__ADS_3

"Maaf bolekah saya berteduh sebentar?" tanya Redro.


Siska terkejut lalu menoleh ke arah Redro yang tepat di belakangnya.


"Apa?"


"Sepertinya saya sedikit lelah. Bolekah saya mampir sebentar?" tanya Redro lagi.


"Tentu saja! Silahkan masuk. Mau minum apa?" tanya Siska.


"Apa saja boleh," jawab Redro kemudian duduk di kursi ruang tamu.


"Oke ditunggu!" seru Siska sambil berjalan ke dapur menyiapkan minuman untuk Redro.


Redro memperhatikan ke sekeliling rumah yang yang di tinggali Lyra dan Siska itu, pandangannya tertuju pada sebuah poto berukuran sedang yang terpajang tepat di belakangnya, ia pun menempelkan sebuah benda kecil tepat di bagian mata poto Siska. Tak sampai disitu Redro juga menempelkan benda kecil tersebut di bagian sandaran kursi.


"Kamu sedang apa?" tanya Siska, mengagetkan Redro.


"Ah, tadi sepertinya aku melihat kecoa melintas," jawab Redro sedikit terkejut.


"Hah, kecoa? Gimana nih aku takut banget sama kecoa bisa tidak kita menunggu sampai Lyra pulang, please?" tanya Siska penuh harap.


Redro sedikit mengerutkan dahinya dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih! Oh ya ini teh nya diminum nanti keburu dingin lho!" Menyodorkan minuman di atas meja.


Redro meminumnya dengan antusias akan tetapi wajahnya seketika langsung berubah.


"Oh ya! Boleh tidak aku bertanya sedikit tentang pendidikanmu di Amerika?" tanya Siska.


Lagi-lagi Redro mengangguk pelan.


"Gimana sih kamu kok bisa kuliah disana? Dari dulu aku belum pernah ke luar negeri sama sekali dan aku penasaran dengan keadaan disana?" tanya Siska.


Redro yang minumannya masih berada di bagian mulutnya perlahan menelannya dan membuat wajahnya semakin menjadi-jadi dan matanya mulai berkaca-kaca tak menentu.


"Cerita tentang pendidikan di Amerika, saya mendapat beasiswa. Sebelum kesana saya bukanlah apa-apa den Reyhan yang bersusah payah agar saya bisa sekolah disana. Saya tidak pintar akan tetapi kerja keras saya dalam belajar selalu berada dalam pengawasan den Reyhan sekitar 7 orang guru les yang mengajari saya. Dan tentang pemandangan di Amerika saya tidak bisa cerita karena saya tidak pernah pergi kemana pun karena tujuan saya hanya belajar dan belajar," jelas Redro dengan wajah yang masih acak.


"Wow kamu sangat berpendirian tetap, kalau itu aku pasti sampai lorong-lorong di Amerika pun akan aku telusuri hahaha," kata Siska dihampiri dengan suara tawanya yang menggelegar, tangannya pun meraih gelas berisi teh yang satu lagi, Redro sempat akan mencegahnya namun tangan Siska lebih cepat bergerak dan....


Byur!


Siska menyemburkan air yang diminumnya tepat mengenai wajah Redro.


Rasa panik dan takut Redro marah merasuki Siska dia mendekati Redro dan langsung mengelap wajah Redro dengan tisu. Sementara itu, Redro hanya terdiam setelah diperlakukan dengan tidak adil oleh Siska.


"Sudah tidak apa-apa," kata Redro sambil menghentikan tangan Siska.


"A-aku benar-benar tidak sengaja dan aku lupa kalau kami kehabisan gula, kenapa tadi kamu tidak bilang?" gerutu Siska sedikit memelas.


Redro tersenyum membuat Siska terkejut karena itu pertama kalinya Redro tersenyum.


"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja aku-

__ADS_1


"Saya bilang tidak apa-apa," jawab Redro memotong omongan Siska.


"Siska, kamu sudah pulang," ujar Lyra, matanya terbelalak melihat Redro dan Siska duduk bersebelahan dengan jarak yang sangat dekat.


"Eh Lyra, kamu sudah pulang ya," jawab Siska sedikit gugup.


Reyhan yang melangkah tidak jauh dibelakang Lyra terhenti, wajah panik Lyra membuatnya curiga.


"Ada apa?" tanya Reyhan.


"Ah aku rasa cuacanya sangat panas ya," jawab Lyra berusaha mengalihkan pandangan Reyhan.


"Sebenarnya kamu mau bicara apa?" tanya Reyhan heran.


"Kamu kenapa kemari bukannya mau pulang ya?" tanya Lyra balik.


"Redro boleh kemari, apa aku tidak boleh?" tanya Reyhan sambil mendekatkan wajahnya.


"Ah itu dia karena-


Reyhan langsung berjalan masuk didalam terlihat Redro dan Siska duduk berhadapan. Reyhan pun masuk dan ikut duduk tepat didekat Redro.


Pemandangan apa ini? Dua orang tampan duduk bersebelahan tepat di hadapanku. Siapapun itu tolong aku enggak kuat, rasanya aku ingin menjadi seorang tuan putri yang akan mereka layani setiap hari. Batin Siska berandai-andai.


"Sis, gimana keadaan sekolah hari ini?" tanya Lyra, memecahkan khayalan indah Siska yang terlalu tinggi tadi.


"Oh lancar kok, Reyhan senin nanti UAN akan dimulai ingat untuk hadir," kata Siska.


Reyhan hanya mengangguk kepalanya lalu melirik heran pada Redro yang disebelahnya.


Reyhan hanya terdiam dan menyandarkan tubuhnya sambil melipat kedua tangannya memandangi Redro.


Sementara itu, Lyra menatap heran pada kedua lelaki yang duduk bersebelahan tanpa ada saling sapa sama sekali padahal hubungan mereka terbilang cukup dekat.


"Karena kalian berada disini jangan harap untuk pulang sebelum makan, tunggu 15 menit kami akan memasakan makanan untuk kalian." Lyra menghentikan Redro yang baru saja akan bangkit dari duduknya.


"Seperti yang kamu dengar kita harus makan disini sebelum pulang. Bukankah itu ide yang bagus, Redro?"


Nada bicara Reyhan sedikit lembut namun terdengar tegas membuat Redro tak bergeming selain mengangguk pelan dan duduk dengan tegap seperti semula.


Lyra menarik Siska yang sedari tadi hanya terdiam duduk sambil memperhatikan interaksi dua lelaki di depannya.


"Baiklah apa yang akan kita masak hari ini ?" tanya Siska.


"Memasak apa yang ada di dalam sini," jawab Lyra sambil mengacak-acak kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan masakan.


"Gila, mana mau mereka makan yang beginian, orang yang biasa makan makanan mewah dikasih makanan orang kayak kita nggak kebayang deh," ujar Siska.


"Belum dicoba kamu sudah menyimpulkan hal-hal yang tidak penting seperti itu, dari mana kamu tahu mereka akan menolak memakan ini ?" Lyra mengupas beberapa kentang lalu memotongnya.


"Tentu saja aku tahu, Redro kemarin pernah membawaku makan siang bersama di restoran mewah," jawab Siska.


"Sudah jangan protes cepat kemari bantu aku," kata Lyra.

__ADS_1


Siska menghampiri Lyra dan membantunya.


"Ehm, apa ada yang mau kau katakan?" tanya Reyhan pada Redro.


"Saya hanya menjemput nona Siska berusaha menjauhinya dari Fardan Den," jawab Redro pelan.


"Baiklah, lebih cepat lebih baik 5 hari dari sekarang berikan aku kesimpulannya. Beberapa hari ini aku merasa ada yang sedang berusaha mengikutiku, kau bekerjalah lebih cepat." Reyhan menatap tajam dan melipat kedua kakinya.


"Saya merasa pernah berjumpa dengannya, tapi ingatan saya kabur Den," kata Redro.


"Jangan bicara hal yang setengah-setengah denganku. Kau tahu dengan jelas aku tidak suka itu," ujar Reyhan.


Lagi-lagi Redro menganggukkan kepalanya matanya sama sekali tidak melirik ke arah Reyhan sedikit pun.


15 menit berlalu Lyra dan Siska kembali menemui Reyhan dan Redro dengan membawa makanan.


"Makanan sudah siap!" seru Siska.


Reyhan dan Redro saling menatap bingung dengan makanan yang Lyra dan Siska sajikan di atas meja.


"Redro ini nasi kamu untuk lauknya ambil sendiri ya," ujar Lyra sambil memberikan piring berisi nasi pada Redro.


Reyhan memelotot tidak senang pada Redro dan tetap tidak bergerak menunggu Lyra melayaninya lebih dari Redro. Lyra yang tidak sadar justru dengan santainya mengambilkan minuman untuk Redro dan membuat Reyhan semakin memelotot. Siska menyentuh tangan Lyra dengan pelan memberi kode untuk melihat ke arah Reyhan. Lyra melihat ke arah Reyhan yang langsung mengalihkan pandangannya berpura-pura biasa.


"Rey, kamu mau makan apa?" tanya Lyra.


"Aku kira, aku sudah tidak dianggap sama sekali," sindir Reyhan membuat Redro berhenti mengunyah makanannya.


Lyra menarik napas panjang, diambilnya piring diisi dengan nasi dan mencampurkan sedikit lauk ke dalamnya.


"Bukannya tidak dianggap, tapi biasanya yang terakhir itu yang paling spesial." Jawaban konyol Lyra spontan membuat Reyhan tersenyum bangga.


"Maaf Nona, ini sayur apa ya?" tanya Redro.


"Oh ini daun singkong yang ditumbuk halus lalu dicampur dengan udang kering, kenapa nggak suka ya?" tanya Lyra.


"Bukan begitu Non, bentuknya aneh tapi rasanya enak," jawab Redro sedikit canggung.


"Oh ya Siska sambalnya enggak kamu taruh gula ya?" tanya Lyra.


"Gula kita kan habis, aku lupa beli soalnya," jawab Siska.


"Lho waktu kamu buatin teh untuk Redro pakai apa dong?" tanya Lyra bingung.


Redro tersedak.


"Apa jangan-jangan cuma teh celup doang atau kamu taruh garam?" tanya Lyra.


Dan kali ini Reyhan yang tersedak.


Siska menggaruk pelan kepalanya, mimik wajahnya terlihat linglung dan malu.


"Itu, aku?"

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


MAKASIH SUDAH MAMPIR.


__ADS_2