MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-


__ADS_3

"Berhenti menatapku, kalau sudah selesai kembali duduk dengan baik. Agar aku bisa menyetir." Dengan mata yang masih tertutup Reyhan tahu kalau Lyra sedang memandangi wajahnya.


Bahkan wajahnya jauh lebih mulus dibandingkan aku. Batin Lyra sambil mengelus dadanya lalu bergeser ke ujung kursi.


Mobil pun berjalan dengan santai, suasana hening menyelimuti mereka berdua. Karena merasa bosan Lyra memencet tombol radio mini.


"Selamat sore menjelang malam, kembali lagi bersama saya Adara si cantik dan baik hati di acara Curhat Dong Beib." Suara penyiar salah satu stasiun radio sedang membuka acara.


"Baiklah, kalian pada sudah tahu kan kalau ingin curhat hubungi 0822xxxxxxx, jangan lupa yel-yelnya apalagi kalau bukan Adara syantik ah." Ujar penyiar tersebut.


"Apa kamu mengenalnya?" tanya Reyhan dengan mimik wajah yang tidak suka.


"Tidak, tapi aku dan Siska suka mendengar acaranya semua orang akan meneleponnya dan mencurahkan isi hatinya tapi lewat pesan sih boleh, cuma agak jarang." Tersenyum menatap Reyhan.


"Dia terdengar seperti orang cacingan gaya bicaranya terlalu dipaksakan ganti yang lain saja." Hendak memencet tombol namun ditepis oleh Lyra.


"Aku sangat suka mendengarnya, please?" Memohon pada Reyhan.


"Eits penelepon pertama masuk, halo Curhat Dong Beib."


"Adara syantik ah."


"Ok baiklah dengan siapa dan dimana?"


"Nama saya Miss A dari Bogor, mau curhat Kak bagaimana caranya memberitahu orang tua kalau aku sudah tidak perawan."


DEG!


Lyra melirik ke arah Reyhan yang sedang serius mendengarkan.


"Memangnya berapa usiamu saat ini?" tanya si penyiar.


"15 tahun Kak, aku takut banget ini," jawab si penelepon.


"Ya ampun, aku yang sudah berusia 24 saja belum pernah melihat barang itu. Kamu yang masih berusia 15 tahun bahkan sudah merasakannya pikiranmu dimana Beib?" tanya si penyiar.


"Bukannya memberi saran malah mengejeknya. Salah kau sendiri yang terlalu jelek makanya tidak ada yang suka padamu," cibir Reyhan yang sudah terlanjur kesal pada penyiar radio tersebut.


Ti**it! Tiit!


"Wah sayang sekali panggilannya telah terputus, mungkin dia terlalu malu atau orang tuanya sedang mendengar siaran ini hanya dia dan Tuhan yang tahu."


"Kau yang terlalu bodoh," cibir Reyhan lagi.

__ADS_1


"Eh ternyata ada penelepon baru lagi pemirsa, memang ya kalau Adara yang bawa acara semua orang pada merapat hahaha iyalah Adara gitu lho."


"Ini sangat tidak bermutu lebih baik matikan saja." Reyhan merasa semakin kesal.


"Eh jangan dulu, mungkin tadi Adara tidak sengaja berkata seperti itu. Maklumi sajalah mungkin itu karena efek terlalu lama menjomblo." Menghentikan Reyhan.


"Halo dengan siapa dan dimana?"


"Saya Miss S dari bagian selatan, mau curhat dong Kak."


"Sepertinya aku kenal suara ini, suaranya enggak asing seperti suara. Eh tapi enggak mungkin untuk apa dia pakai menelepon acara ini segala," ujar Lyra sambil menggaruk pelan kepalanya.


"Silahkan cinta curhat saja waktunya mulai dari sekarang."


"Begini Kak saya 'kan baru putus dari pacar saya."


"Siapa nama pacar kamu?"


"Redro Aldwin."


Lyra dan Reyhan memelotot kaget karena pemilik suara yang mereka dengar dari radio saat ini adalah Siska.


"Jangan yang jelas seperti itu Beib, cukup yang singkat saja. Jutaan orang dengar nih nanti kalau ada yang kenal bagaimana?"


"Baiklah kalau begitu lanjutkan curhatannya."


"Begini ceritanya, kemarin 'kan aku putus dengan pacarku yang berinisial R itu. Jadi tadi siang tiba-tiba saja dia mengajakku balikan. Aku sangat ragu karena kemarin dia berbohong dia mengaku berpura-pura mengajakku pacaran tapi sekarang justru mengajakku balikan, aku harus bagaimana? Aku bingung banget."


"Intinya kamu ikuti kata hatimu saja kalau kamu masih punya perasaan padanya. Terima saja tapi kalau nggak tolak saja dan cari yang lain memangnya laki-laki cuma dia doang apa. Tapi jangan langsung ambil keputusan dulu ada baiknya juga kamu kasi kesempatan siapa tahu dia benar-benar berubah, iya 'kan. Kalau boleh tahu bagaimana saat isi hatimu padanya?"


"Jujur, aku sayang banget sama dia, apalagi tadi siang dia mencium bibirku, membuat aku sempat yakin kalau dia bersungguh-sungguh."


Lyra dan Reyhan memelotot kaget dan serius mendengar radio tersebut.


"Lebih baik jangan didengar lagi. Ini sangat tidak penting." Lyra berusaha memencet tombol tersebut namun Reyhan membalas perlakuan Lyra yang menepis tangannya tadi.


"Ini terdengar sangat unik. Apalagi menyangkut tentang pengawal terbaikku, Redro Aldwin." Tersenyum tipis.


"Oh siang-siang kalian berciuman jadi makin panas dong hahaha."


"Iya nih, padahal sebelumnya dia sangat pendiam tidak disangka gaya berciumnya sangat agresif."


"Wah dia sangat bernafsu sekali ternyata, memang laki-laki pendiam itu sangat berbahaya. Jika sekali bertindak seperti pacar sahabat kita yang satu ini, jadi siapa pun yang punya pacar pendiam hati-hati lho takutnya pas berduaan dia mulai meraba-raba."

__ADS_1


"Apa kau bilang?" Reyhan mengepalkan tangannya.


Lyra yang panik langsung mematikan radio tersebut lalu menghubungi Siska.


"Halo, itu siaran yang di radio tolong kamu hentikan Reyhan sudah mendengarnya." Melirik ke arah Reyhan lalu memutuskan teleponnya.


"Kan tadi sudah aku bilang jangan dilanjutkan kamu ngeyel sih?" Mengerutkan dahinya.


"Akan ku tutup acara sampah yang tak berguna itu coba kamu pikir jika ada anak yang dibawah umur mendengarnya bagaimana? Pakai ngatain orang pendiam lagi. Apa aku seperti itu?" Menahan emosi.


Lyra tersenyum melihat tingkah Reyhan yang semakin menggemaskan itu.


"Kenapa kamu tersenyum? Apa aku beneran terlihat seperti itu?" Memelotot heran namun dibalas Lyra dengan gelengan kepalanya.


"Jadi, kenapa kamu tersenyum?" tanya Reyhan lagi.


"Kamu terlihat sangat tampan dan menggemaskan kalau sedang marah." Mencubit pipi Reyhan.


"Aku pikir kamu setuju pada perempuan gila tadi." Menahan malu.


"Ya enggak mungkinlah, Reyhan Almirza yang aku kenal sangat menghargai kekasihnya. Jangan terlalu dipikirkan namanya juga jomblo jadi kalau ngomong itu suka asal-asalan enggak jelas gitu."


"Baiklah aku mengerti sekarang, sudah sampai." Menghentikan mobilnya.


"Apa? Ya ampun aku enggak sadar. Hahaha baiklah aku pamit ya, hati-hati di jalan." Mengusap kepala Reyhan lalu membuka pintu mobil hendak keluar.


"Tunggu sebentar, ini untukmu." Memberikan buket bunga tulip berwarna putih.


"Ya ampun cantik banget, harum lagi." Mencium bunga tersebut.


"Jangan menciumnya seperti itu, nanti dia akan layu mencium aroma napasmu." Menatap tajam.


Hah, bahkan sama bunga pun dia juga cemburu. Batin Lyra.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Reyhan.


Lyra mengangguk senang, ia tak sengaja melihat sebuah amplop mini berisikan surat yang terselip pada bunga tersebut.


"Itu, kamu baca di rumah saja aku pulang dulu ini sudah kemalaman." Menutup pintu mobil lalu melaju secepat mungkin.


Hahaha sampai segitu malunya dia, jadi penasaran sama isi suratnya, bacanya di rumah saja ah."


Batin Lyra sambil tersenyum lalu berjalan menuju ke dalam rumah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2