
Reyhan menatap Erika yang sedari tadi menunduk sambil berurai air mata. Wanita itu merasa sedih melihat wajah kakaknya babak belur. Sedangkan tepat di hadapannya Reyhan dengan wajah yang merah padam terus memandang marah ke arah kakak Erika.
"Algio Nicholas nama asli Sutedjo Prakasa. Pengangguran selama lima tahun terakhir. Kau jauh-jauh datang kemari hanya ingin menyusahkan adikmu, dasar sampah!" Menatap tajam kepada pria yang meringis kesakitan tersebut.
"Siapa kau? Apa hakmu mengaturku!" teriak pria tersebut.
"Stop! Lower your voice."
(Berhenti! Pelankan suaramu)." Seorang polisi mengacungkan pistolnya ke atas kepala Algio, membuat pria itu memelotot ketakutan.
"Erika, to-tolong lepaskan aku. Aku ini mas mu lho. Apa kata bapak dan ibu di kampung, mereka akan marah besar sama kamu," ujar Algio pelan.
"Tenang saja orang tuamu lah yang justru semangat mendengar kau ditangkap kalau tidak salah dia bahkan mengatakan agar kau mendekam seumur hidup di penjara," timpal Redro sambil menunjukkan isi pesan kedua orang tua Algio/Sutedjo.
"Enggak-enggak mungkin." Sutedjo mulai gontai, tidak percaya orang tuanya akan menyetujui hal itu.
"Lima tahun."
"Apa?"
"Selama lima tahun, kau membuatku menjerit ketakutan. Kau selalu memukuliku, mencuri uangku. Kau bukanlah seorang kakak, bagiku kau monster!" teriak Erika mengeluarkan isak tangis yang selama ini ia tahan.
"Aku janji enggak bakal melakukannya lagi, tolong Erika lepaskan aku. Tolong." Sutedjo menatap sendu kepada adiknya yang sudah lelah dengan air mata yang sedari tadi menderas di pipinya.
"Cukup! Setelah sekian lama aku menunggu akhirnya hari ini tiba juga. Tuan Reyhan terima kasih, saya permisi dulu." Erika bangkit dari duduknya, lalu beranjak pergi.
Mas, maaf aku sudah lelah diperlakukan tidak manusiawi olehmu. Aku harap ini akan menyadarkanmu. Batin Erika seraya berlari kecil.
"Furthermore, it is your duty to punish him. I'll excuse me first."
(Selanjutnya, tugas kalian menghukumnya. Saya permisi dulu)." Reyhan pun bangkit dari duduknya masih dengan tatapan tajamnya.
"Yes Sir. Thank you for your cooperation."
(Baik Tuan. Terima kasih atas kerjasamanya)." Saling berjabat tangan dengan Reyhan.
"Tidak! Jangan. Hei! Tolong saya, tolong saya!" teriak Algio ketakutan dikala melihat Reyhan dan Redro melangkah pergi tanpa mempedulikannya.
***
Lyra memperhatikan layar ponselnya, ditatapnya pesan Reyhan yang tidak ia balas sama sekali.
Ah pulsa pakai habis segala lagi. Pasti ngambek banget, aku bingung banget. Gimana nih? Batin Lyra.
"Kenapa Neng? Ada masalah ya?" tanya Siska sambil memegangi minumannya.
"Ini Sis, Reyhan mengirimi aku pesan tapi pulsaku habis. Pasti dia ngambek banget nih," jawab Lyra.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa enggak bilang dari tadi? Ini pakai ponselku saja, pulsanya full." Mengeluarkan ponsel dari tasnya.
"Aku lupa Sis, terima kasih ya." Dengan cepat Lyra mengotak-atik ponsel Siska berniat menghubungi Reyhan, akan tetapi nomor yang ia hubungi justru tidak aktif.
"Kenapa lagi?" tanya Siska.
"Enggak aktif Sis, lagi sibuk kali ya." Mengembalikan ponsel Siska.
"Bisa jadi, kamu enggak kirim pesan gitu? Nanti kalau aktif 'kan diterima juga sama dia," tanya Siska.
"Enggak deh! Sebentar lagi dia pulang kok. Katanya sore sudah sampai di apartemen." Menyeruput minumannya.
"Hei! Can I join?"
"(Apakah saya boleh ikut bergabung)?" Tampak Cecilia Rudolf dengan senyuman tipis di wajahnya mendekati Lyra dan Siska.
"Of course," jawab Lyra.
"Kenapa lagi sih dia? Ganggu mulu dari tadi dasar muka tembok." Menatap tidak suka ke arah Cecilia.
"Why isn't Reyhan coming?"
"(Kenapa Reyhan enggak ikut)?" tanya Cecilia.
"Oh, he is very busy," jawab Lyra sambil melambungkan senyumannya ke arah Cecilia.
"Sis, sudah jangan bicara lagi, cuma buang tenaga saja. Toh dia enggak ngerti juga kamu bilang apa," tegur Lyra sambil menepuk pundak Siska.
"Hah, kesal aku. Seandainya bahasa Inggrisku lancar ingin ku maki bocah bule ini. Bikin emosiku meluap-luap terus," jawab Siska.
"You really are Reyhan's wife?"
"(Kamu benaran istri Reyhan)?" tanya Cecilia.
"Yes, so what?" tanya Lyra.
Cecilia terdiam sejenak, ia terus memandangi Lyra dari segi wajah hingga pakaian yang Lyra kenakan.
"You are not beautiful. I mean, you are not very beautiful. How come, Reyhan likes you."
(Kamu tidak cantik. Maksudku, kamu tidak terlalu cantik. Kok bisa ya, Reyhan suka sama kamu)." Sambil tersenyum Cecilia secara terang-terangan mengejek Lyra.
Lyra terdiam pandangannya beralih pada Siska yang hendak melayangkan tamparannya. Lyra mengelus pundak sahabatnya itu, mencoba untuk menenangkannya.
"Aku tahu dia bilang apa. Aku enggak bodoh-bodoh amat, Ra. Kamu juga, bisa enggak sih jangan terlalu lembek?" Menatap kesal.
Lyra tersenyum, ia mengerti Siska kesal padanya yang sedari tadi tidak melawan.
__ADS_1
"Kalau mau mengusir setan pakai cara lembut Sis, kalau kasar berarti kita setan juga seperti dia," jawab Lyra pelan.
"Maksud kamu?"
"Diam dan lihatlah," jawab Lyra.
Cecilia hanya menatap dua sahabat yang sedang bercengkerama dengan bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Do you think you are quite beautiful?"
"(Apa menurutmu kamu cukup cantik)?" tanya Lyra sambil tersenyum.
"What do you mean?" tanya Cecilia memelotot pada Lyra.
"Hmmm, Reyhan is very handsome. He must like beautiful women. But you say I'm not beautiful. Isn't that funny?"
"(Reyhan sangat tampan. Dia pasti menyukai wanita yang cantik. Akan tetapi kau mengatakan aku tidak cantik. Bukankah itu lucu)?" Tersenyum manis ke arah Cecilia.
"You mean, you are prettier than me?"
"(Maksudmu, kamu lebih cantik daripada aku)?" tanya Cecilia, dengan wajah yang mulai terserundut emosi.
"The point is, he doesn't like ugly women. You know what I mean?"
"(Intinya, dia tidak suka wanita yang jelek. Kamu tahukan apa maksudku)?" Lyra melayangkan senyuman manisnya di depan Cecilia yang matanya sudah membola itu.
"You!" teriak Cecilia mengundang para tamu menatap ke arah mereka.
"Something that is already mine, don't hope that other people can grab it. Including you dear."
"(Sesuatu yang sudah menjadi milikku jangan harap bisa direbut orang lain. Termasuk kamu sayang)." Menyentuh pipi Cecilia dengan lembut.
Tiba-tiba Marta datang, ia melihat pandangan para tamu sedang memperhatikan Lyra. Dengan rasa khawatir, ia berjalan cepat mendekati mereka.
"Lyra, sayang. Ada apa ini? Kok kayaknya heboh banget?" tanya Marta.
"Tidak apa-apa Ma, Lyra cuma mau mengajarkan adik ini untuk mengaca terlebih dahulu sebelum mengatai orang lain," jawab Lyra santai.
"Sorry. I don't know you so please don't ever bother my daughter or you and your family I will destroy."
(Maaf. Saya tidak mengenalmu jadi tolong jangan pernah mengusik putriku atau kau dan keluargamu akan saya hancurkan)." Menunjuk kasar ke arah Cecilia, membuat gadis itu seketika menunduk malu.
"Sudahlah Tante, lebih baik kita pulang daripada mengurusi bocah ingusan ini," ujar Siska sambil menyentuh pundak Marta.
"Ayo sayang kita pulang." Menarik tangan Lyra.
Mereka bertiga pun berjalan beranjak keluar tinggallah Cecilia dengan wajah yang campur aduk.
__ADS_1