
Lyra akhir-akhir ini kamu selalu menggodaku dengan penampilanmu yang sexy dan aku tidak bisa menolaknya. Batin Reyhan sambil terus memandangi Lyra dalam balutan selimut putih. Beberapa jam yang lalu mereka melakukan hubungan yang membuat tubuh mereka dibanjiri keringat.
"Sayang bangunlah, aku ingin melihat wajah bengismu yang mengejarku tadi," bisik Reyhan sambil mengangkat dagu Lyra pelan.
FLASH BACK
"Rey, aku serius mau melihatnya kenapa kamu harus lari sekencang itu, aku ini istrimu seluruh tubuhmu sudah menjadi milikku!" teriak Lyra sambil menggedor-gedor pintu kaca yang ditutup oleh Reyhan dari dalam.
Aku menyesali perkataanku tadi, aku sangat memalukan harus menunjukkannya meskipun Lyra sudah menjadi istriku. Batin Reyhan yang terus memandangi Lyra yang berteriak seperti zombie yang hendak mendapatkan mangsanya.
Lyra pun lelah, ia kembali ke kolam lalu berenang kembali. Tetapi ternyata ia punya rencana lain untuk menarik perhatian Reyhan, Lyra membuka tank top hitam yang ia kenakan lalu melemparnya ke tepi kolam ia berpura-pura tidak melihat ke arah Reyhan.
"Apa dia sedang merayuku?" Di dalam sana Reyhan hanya bisa bergumam sendiri memperhatikan gerak-gerik istrinya.
Aku mau lihat sampai kapan kamu bisa tahan. Batin Lyra. Namun tiba-tiba kaki Lyra justru mengalami kram ia pun langsung tenggelam dan tak bisa berdiri. Hanya lambaian tangannya yang terlihat, Reyhan panik ia berlari lalu lompat ke kolam dan ia menemukan Lyra yang sudah tidak sadarkan diri karena menelan air kolam.
Ia menekan arah jantung Lyra lalu sesekali memberi napas buatan. Dari wajah terlihat jelas Reyhan sangat menyesali perbuatannya tadi, yang memilih menolak keinginan Lyra. Ia terus menekan arah jantung Lyra. Selang beberapa menit kemudian Lyra pun terbatuk napasnya sesak membuat Reyhan menghela napas lega.
"Hah, hah tadi aku hampir saja mati, terima kasih sudah menolongku," ucap Lyra dengan napas yang tersenggal-senggal.
"Bodoh, aku hampir saja gila mulai sekarang tanpa aku di sampingmu kamu dilarang keras berenang di kolam itu, tidak maksudku di kolam manapun itu, mengerti!" tegas Reyhan.
"Kamu marah ya? Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir aku juga tidak menyangka kalau-"
Pelukan Reyhan yang tiba-tiba menyerang membuat Lyra berhenti berbicara. Pelukan yang sangat erat bahkan detak jantungnya pun terasa jelas di tubuh Lyra.
"Kamu tidak salah, berhentilah meminta maaf tapi tolong kali ini menurutlah! Jangan berenang sendirian tanpa aku, meskipun ada orang lain di sisimu tetap saja kamu tidak boleh berenang." Menenggelamkan Lyra di pelukannya.
Dia begitu mengkhawatirkanku hah tangannya sampai gemetaran. Batin Lyra.
"Baiklah, akan aku usahakan jangan dibahas lagi ya yang penting kan aku tidak apa-apa, nih lihat aku masih sangat sehat," jawab Lyra lalu melepaskan pelukannya dari Reyhan.
"Tapi jawabanmu sepertinya akan bertolak belakang, aku ingatkan Lyra patuhilah aku, karena...."
"Karena apa?"
"Karena aku suamimu, jadi buktikanlah kalau kamu benar-benar seorang istri dari Reyhan Almirza." Menatap dalam pada Lyra.
Dia selalu mengunakan alasan suami suami dan suami. Jadi ketika dia pergi ke Amerika nanti aku harus menahan diriku untuk tidak berenang. Ini sangat keterlaluan sekali. Batin Lyra.
__ADS_1
Reyhan pun bangkit dari duduknya, ia hendak berjalan masuk ke dalam kamar.
"Hei, tunggu sebentar!" teriak Lyra sambil mengejar Reyhan namun dikarenakan lantai licin, Lyra pun terjatuh ia tak sengaja menarik celana boxer yang Reyhan kenakan. Reyhan yang terkejut tak berkutik ia tetap diam dalam posisi yang masih berdiri.
"Ah aku tidak sengaja, serius Rey tadi aku hanya-"
"Apa kamu sedang menggodaku?" tanya Reyhan sambil berjalan mendekati Lyra. Ia melepaskan celana dalam yang ia kenakan.
Wah ternyata Reyhan tidak berbohong, memang ada tahi lalatnya di situ, itu berarti nafsu Reyhan gede dong, ihh ngeri juga sifat pendiam tapi sangat menghanyutkan. Batin Lyra sambil memelototi Reyhan yang mulai mendekatinya.
"Rey, turunkan aku hanya ingin mandi bukan menggodamu kamu yang terlalu sensitif!" teriak Lyra yang tubuhnya sudah berada dalam gendongan Reyhan.
"Turunkan aku Rey!" teriak Lyra lagi sambil menggerakkan kakinya.
"Semakin kamu menolak semakin lama permainan selesai, maka dari itu kusarankan untuk diam dan menerimanya." Menindih tubuh Lyra.
Dan mereka pun melakukannya lagi.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Wajahmu pucat apa kamu tidak enak badan?" tanya Reyhan sambil menatap ke arah Lyra yang sedang makan.
Tanyakan itu pada dirimu sendiri, kakiku kram dan aku hampir mati bukannya prihatin kamu malah menambahnya lagi dengan menindihku. Batin Lyra sambil menusuk daging cumi dengan menggunakan garpu.
Kenapa kamu melemparkan kesalahanmu kepada para bibi. Aku lebih tidak nyaman jika harus berdua denganmu bisa-bisa kamu melakukannya di sini, tahi lalatmu terletak di sana habislah aku dilahap kapanpun kamu mau. Batin Lyra sambil menunduk dan terus mengunyah makanannya.
"Baik Den, kami permisi dulu." Bik Sum ART tertua membawa empat ART lainnya pergi meninggalkan Lyra dan Reyhan yang sedang makan malam.
Reyhan menatap ke arah Lyra yang melanjutkan makannya dan terus menunduk hingga ia tak sadar Reyhan yang semula duduk jauh di depannya telah berpindah tepat di sampingnya.
"Kenapa kamu duduk disini?" tanya Lyra memelotot kaget.
"Aku sudah selesai makan, cepat habiskan makananmu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Tersenyum sambil memangku wajah dengan kedua tangannya.
"Bilang dulu mau kemana? Baru aku bisa putuskan mau atau tidaknya," jawab Lyra sambil terus melahap makanannya hingga tak tersisa.
"Apa keputusanmu sekarang penting, aku bilang ikut ya ikut bagiku kamu tidak berhak menolaknya itu tidak berlaku." Mengelus punggung tangan Lyra.
Lyra menghela napas panjang, ia memandang ke arah Reyhan yang sedang melemparnya dengan senyuman nakal. Lyra menyenderkan tubuhnya pada sisi kursi, ia mengelus perut kecilnya yang sedikit membuncit.
__ADS_1
"Rey, coba kamu tebak kira-kira perut sebesar ini kalau aku hamil sudah berapa usia kandungannya?" tanya Lyra sambil tersenyum malu.
"Tiga minggu," jawab Reyhan sambil melihat tingkah Lyra yang terus-terusan mengelus perutnya.
"Kok kamu bisa tahu sih? Calon ayah memang kamu ini Rey," jawab Lyra sambil tertawa.
"Kenapa kamu terus-terusan memanggil namaku seperti itu?" tanya Reyhan.
"Memangnya aku menyebut namamu dengan kasar ya, bagiku itu tidak berlebihan Rey." Bingung dengan pertanyaan Reyhan.
"Kita sudah menikah, aku imam mu sekarang aku pemimpin di keluarga kita, meskipun kamu lebih tua dariku tapi bukankah sangat keterlaluan jika kamu memanggilku dengan sebutan nama? Apa kata orang-orang nanti pasti kamu akan dianggap istri yang tidak tahu etika terhadap suami atau kamu akan dicap sebagai istri durhaka," jelas Reyhan.
"Ah maaf, aku sudah pernah ingin memanggilmu dengan panggilan sopan tapi aku sudah kebiasaan Rey, bibirku sangat kaku sekali ini pahamilah aku, aku akan melakukannya pelan-pelan aku janji," jawab Lyra lalu tersenyum canggung.
"Sudah jangan dibahas lagi, sudah waktunya aku membawamu ke sana bersiaplah! Aku akan menunggumu di depan." Bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar.
Pasti dia marah aaah kenapa begitu sulit bibirku ini untuk memanggilnya sesuai keinginannya sih. Dasar Lyra kau bodoh sekali. Batin Lyra lalu mengacak-mengacak rambutnya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Apa kamu ingat tempat ini?" tanya Reyhan sambil melirik ke arah Lyra yang tercengang takjub melihat pemandangan yang di hadapannya.
"Tentu saja, aku yang membawamu kemari di hari pertama kita kencan," jawab Lyra pelan. Matanya terus dimanjakan pada penampilan indah kembang api yang menyapu langit dengan begitu indah.
"Sekarang ini milikmu," ujar Reyhan sambil tersenyum.
"Hah, apa? Tadi kamu bilang apa?" tanya Lyra memelotot kaget.
"Aku sudah membelinya sehari sebelum kita menikah, ini tempat paling bersejarah bagiku karena saat itu pertama kalinya aku berpacaran dan itu juga pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya kencan." Menggenggam tangan Lyra.
"Iya tapi apa perlu kamu membelinya, kita kan bisa juga datang kemari setiap hari dan juga-"
"Seluruh tempat yang menyisahkan antara kita berdua akan menjadi milikku, Lyra kamu perlu belajar untuk memahamiku." Mempererat genggamannya.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh penampilan kembang api yang bertuliskan LYRA I LOVE U. Lyra menarik napas panjang sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia menatap pada Reyhan yang berada di sampingnya. Mata mereka saling beradu dan tubuh mereka diam dan membatu.
Reyhan mendekati wajah Lyra, perlahan tapi pasti ia meraih bibir Lyra lalu mengecupnya pelan. Lyra melingkarkan tangannya ke leher Reyhan yang sedang mengulum bibirnya tak lupa juga mereka saling menutup mata menikmati permainan yang mereka ciptakan pada bibir mereka masing-masing.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca jangan lupa like dan hujatannya Vote terus kalau ada poinnya Luv u Readers qššš