MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Kangen....


__ADS_3

Pagi pun tiba, Reyhan bangun dari tidurnya ia menatap lekat wajah istrinya yang masih terlelap dihanyut mimpi.


"Maaf aku pergi tidak pamit, aku tidak mau melihat air mata sedihmu, dari dalam lubuk hatiku aku mencintaimu. Tunggu aku pulang." Mencium kening Lyra, lalu bangun dari tidurnya dan bergegas keluar kamar.


"Den, semua barang-barang sudah ada di mobil," ujar Redro sambil menunduk.


"Oh baiklah kita berangkat sekarang, bagaimana dengan bik Na?" tanya Reyhan mencari sosok bik Na.


"Saya sudah siap Den," jawab bik Na sambil membawa barang-barangnya.


"Teruntuk para bibi tolong jaga istriku ya jangan biarkan dia memakan makanan luar dan juga tolong hibur dia agar tidak kesepian. Bik Sum perlakukan dia melebihi aku," tutur Reyhan kepada para bibi yang tinggal.


"Baik Den, hati-hati di jalan. Na, jaga den Reyhan baik-baik ya ingat sekarang Amerika sedang dilanda musim dingin," ujar bik Sum kepada bik Na.


"Inggih Mbok aku berangkat dulu yo," jawab bik Na memeluk para bibi yang tinggal di rumah.


Merekapun pergi keluar menuju mobil yang sudah terparkir bersama pak Mat sang supir pribadi. Alasan Reyhan membawa bik Na dikarenakan Reyhan yang tidak bisa memakan makanan luar.


Mobil pun mulai berjalan pelan, Reyhan melihat ke arah rumahnya, tiba-tiba bayangan Lyra yang sedang terlelap muncul di pikirannya.


Aku akan merindukanmu, tiba saatnya aku pulang nanti aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Batin Reyhan sambil terus menatap rumahnya hingga tidak terlihat lagi.


Jam dinding menunjukkan pukul 05.00 Lyra pun terbangun dari tidurnya. Ia langsung bangkit dari tidurnya, bergegas keluar kamar mencari Reyhan.


"Bik, apa Reyhan sudah berangkat?" tanya Lyra dengan wajah panik bukan kepalang.


"I-iya Nona, mereka berangkat pukul tiga pagi tadi," jawab bik Sum merasa tidak tega.


"Apa? Reyhan sengaja tidak membangunkan aku." Mengusap rambutnya kasar, merasa sedikit frustasi.


"Lalu, dimana bik Na?" tanya Lyra lagi.


"Bik Na dibawa serta Non, karena den Reyhan tidak bisa makan sembarangan," jawab bik Sum lagi.


"Oh, apa Reyhan menitipkan pesan untukku?" tanya Lyra penuh harap.


"Tidak Nona," jawab bik Sum.


"Benarkah?"


"Tapi dia menyuruh bibi menjaga Nona dengan baik." Tambah bik Sum lagi.


Ah ternyata begini rasanya kalau ditinggal suami, menyiksa sekali. Padahal baru beberapa jam berpisah tapi kangennya minta ampun. Bisa gila aku. Batin Lyra sambil terus mengusap-usap rambutnya.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Kenapa lagi, dari tadi manyun mulu belum ada kabar dari Reyhan ya?" tanya Siska sambil memakan keripik singkong yang dibawakan Lyra untuknya.


"Enggak Sis, kecapekan kali ya, aku kangen banget nih," jawab Lyra memasang wajah sedih.


"Kamu ini ya, dekat berantam mulu jauh kangen."


"Memangnya kamu enggak kangen sama Redro?" tanya Lyra.


"Gila, ya kangenlah."


"Yeee sama dong, ngatain orang mulu bisanya," cibir Lyra lalu merebut toples keripik singkong dari tangan Siska.


"Iya tapi enggak se-lebay kamu." Tak mau kalah.


"Eh wajar kali kami kan sudah menikah dan?"

__ADS_1


"Dan apa? Hayo?"


"Dan sudah halal sedangkan kamu sama Redro."


"Sebentar lagi akan halal," jawab Siska lalu menjulurkan lidahnya.


"Tapi sudah dicium duluan kan, hahaha," ejek Lyra lalu tertawa kencang.


"Kamu juga sebelum menikah tetapi sudah pernah tidur bareng kan, parahan siapa coba?" Bertambah semangat mencibir Lyra.


Lyra terdiam, tiba-tiba bayangan wajah-wajah Reyhan yang sering ia perhatikan sewaktu tertidur muncul dipikirannya, ia semakin sedih dan bulir air matanya pun jatuh, ia sangat merindukan Reyhan.


"Neng, kok nangis sih. Iya-iya parahan aku, Redro juga tidur di sini kok selama dua hari berturut-turut," ujar Siska keceplosan.


"Apa?"


"Ehehehe, kamu sudah enggak nangis lagi, kamu menjebakku ya?" Memelotot pada Lyra, merasa dikerjai.


"Tidak, aku kangen suamiku Sis, kemarin kami berantam hebat tapi sebenarnya karena salah paham sih aku-"


"Aku sudah tahu kok, tadi malam Redro cerita panjang lebar, apa kamu tahu suamimu itu menggertak pacarku kemarin siang melalui telepon karena panti asuhan Cinta dan Kasih."


"Beneran digertak ya?" tanya Lyra memelotot kaget.


"Iya, Redro langsung bergegas meninggalkan makan siangnya, tapi aku salut pada Reyhan. Kudengar dari Redro dia seorang donatur yang aktif tidak heran rezekinya ngalir terus. Kamu beruntung lho, Ra," jawab Siska serta memberikan pujian teruntuk Reyhan.


"Ya kamu benar. Tapi mengenai Redro bermalam di sini. Apa saja yang kalian lakukan?" tanya Lyra sambil memasang tatapan tajamnya.


"Eh santai-santai kami enggak ngapa-ngapain kok, dia cuma ingin menghiburku yang kesepian karena ditinggal olehmu."


"Menghibur apa diatas tempat tidur?" Berjalan mendekati Siska.


"Enggak! Kamu salah paham Ra, jangan! Geli ahahaha tolong! Ampun! Ra! Tolong." Menahan geli pada tubuhnya yang dikelitiki oleh Lyra.


AMERIKA SERIKAT


Washington DC, 22.00 PM


"Apartemen ini sudah lama sekali tidak ditempati padahal ini sangat mewah. Papamu sangat berusaha keras mendapatkannya tapi ujung-ujungnya malah kamu menempatinya," ujar Marta pada Reyhan yang berada di hadapannya. Mereka berbincang-bincang di bawah terangnya bulan.


"Bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?" tanya Reyhan lalu menyeruput minumannya.


"Ya seperti yang kamu lihat, aku sehat-sehat saja. Apa kamu menghawatirkan aku?" tanya Marta.


"Teruslah sehat, aku permisi dulu, ada hal penting yang harus aku kerjakan," ujar Reyhan lalu bangkit beranjak meninggalkan Marta.


Ya hal itu adalah Lyra. Ah aku juga merindukannya. Batin Marta sambil terus menggenggam minumannya.


Reyhan masuk ke dalam kamar, segera ia ambil laptop hendak menghubungi Lyra melalui video call.


"Halo," ujar Lyra yang melambaikan tangannya melalui laptop Reyhan.


"Hai, sedang apa?" tanya Reyhan salah tingkah melihat senyuman istrinya itu.


"Aku mengunjungi Siska, dia sedang ada di hadapanku sekarang," jawab Lyra sambil terus tersenyum.


"Apa kamu merindukanku?" tanya Reyhan malu-malu.


"Menurutmu?" tanya Lyra balik.


"Hmmm, sepertinya tidak," jawab Reyhan menebak isi hati Lyra.

__ADS_1


"Rey! Istrimu baru saja menangis katanya kangen berat sama kamu!" teriak Siska.


"Hush! Jangan ikut campur ya ini urusan kami. Mana etikamu?" Menatap Siska tajam.


"Memang benar kok," jawab Siska.


Reyhan tersenyum melihat wajah malu istrinya yang menggemaskan itu.


"Tunggu sebentar ya, aku pindah dulu Siska rese banget nih," kata Lyra sambil beranjak ke kamar lalu berbaring di atas ranjang miliknya dulu.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Reyhan sambil terus tersenyum.


"Sudah, lihat ini perutku sudah membuncit dan hampir meledak," jawab Lyra sambil menepuk-nepuk perutnya.


"Jangan ditepuk seperti itu. Kasihan yang di dalam sana," ujar Reyhan.


"Apa? Maksud kamu cacing ya? Hahaha Rey-Rey kamu ada-ada saja." Tertawa terpingkal-pingkal.


"Kamu sepertinya bahagia, aku jadi lega dan tidak perlu khawatir lagi." Perkataan Reyhan sontak membuat Lyra berhenti tertawa.


"Apa bagimu aku terlihat bahagia?"


"Ya, aku hanya menebaknya saja."


"Istri mana yang bahagia ditinggal jauh oleh suaminya, aku masih waras Rey."


"Jadi yang dikatakan kak Siska tadi benar ya. Kamu beneran menangis."


"Sudahlah tidak usah dibahas lagi, lagipula kita jauh begini jadi enggak ada gunanya juga aku cerita."


"Memangnya kalau dekat kamu mau apa?"


"Apa sih pertanyaannya kok ke sana sih? Enggak nyambung tahu."


"Baiklah, karena di sini sudah jam sepuluh malam aku mau istirahat dulu. Kamu baik-baiklah di sana dan jangan pulang kemalaman ya."


"Tunggu dulu."


"Kenapa?"


"Iya aku mengaku, aku kangen kamu sebenarnya aku kesal sama kamu. Kenapa coba perginya diam-diam enggak pamit, kan jahat."


Kenapa dia bertingkah imut begitu, membuat salah tingkah saja. Batin Reyhan.


"Kenapa wajahmu memerah kamu sakit ya, udara di sana enggak bagus ya?"


Kamu yang buat aku begini. Batin Reyhan.


"Boleh aku minta sesuatu padamu?"


"Jangankan satu banyak juga boleh kok."


"Berikan aku kecupan." Sedikit gugup.


"Hah, baiklah emmuach untuk keningnya emmuach pipi kanannya emmuach pipi kirinya dan emmuach emmuach emmuach bibirnya." Mendekatkan bibirnya ke ponselnya hingga terlihat jelas di monitor laptop Reyhan.


Reyhan semakin salah tingkah, ia langsung memutuskan panggilan tersebut.


"Ah sial kenapa malah bangun sih." Beranjak berlari menuju toilet.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Terima kasih sudah baca šŸ˜šŸ˜šŸ˜



__ADS_2