
"Lyra kok kamu bengong? Ada masalah ya?" tanya Siska yang sedari tadi menatap Lyra dengan penuh kebingungan.
"Tidak, aku tidak apa-apa hanya saja tadi aku merasa bersalah pada Reyhan." Menyenderkan tubuhnya ke kursi yang tersedia di rumah sakit. Kemudian memijat kepalanya yang mulai pusing.
"Ada apa lagi? Cerita dong."
"Ya, sepele sih, tadi waktu aku sedang bersiap-siap Reyhan meneleponku, dia melihatku dandan bukannya memuji tapi malah protes pakai ngambek segala lagi. Kan kesal Sis," jawab Lyra.
"Hmmm, ini menurutku ya Ra, kamu kan nggak pernah pakai make up seperti ini ketika bersama Reyhan. Jadi, wajar dia protes. Yang masih sebatas pacaran saja bisa protes apalagi status Reyhan yang sudah menjadi suami kamu. Aku pernah dengar ceramah tentang rumah tangga termasuk ya seperti yang kalian alami sekarang. Saranku lebih baik kamu minta maaf deh sama Reyhan jangan sampai ditikung wanita lain alias pelakor lho."
"Jangan menakut-nakuti aku seperti itu. Nggak lucu tahu."
"Siapa yang menakut-nakuti kamu, orang memang lagi buming kok tentang pelakor. Mereka berbeda dengan kita, mereka akan melakukan segala cara untuk yang mereka mau. Apalagi kalau mangsanya kayak Reyhan sudah ganteng, penyayang, tajir lagi, idaman sejuta wanita. Kamu nggak takut ya, awas lho." Memasang wajah yang serius.
Lyra terdiam, ia memandangi langit-langit rumah sakit. Bayangan Reyhan muncul di sela-sela lamunannya, wajah tampannya, perhatian serta kekuasaan yang dimiliki Reyhan membuat Lyra berpikir keras.
Siska benar, aku lupa akan ada yang namanya pelakor. Aku tidak akan pernah rela, aku harus tetap ada di sisinya. Batin Lyra lalu menormalkan cara duduknya yang semula sedikit acak menjadi setenang mungkin.
"Permisi, pasien Tika Rahmawati sudah bisa dijenguk silahkan masuk Mbak." Suara seorang suster spontan membuat Lyra dan Siska langsung bangkit dari duduknya.
"Baik Sus, terima kasih ya," jawab Siska sambil menyunggingkan senyumannya.
"Baiklah saya permisi dulu." Mengangguk lalu bergegas pergi.
"Lyra kita masuk yuk, bawa tuh oleh-olehnya." Menunjuk ke arah beberapa bingkisan yang berisi berbagai perlengkapan bayi serta buah dan lain-lain.
Lyra mengambil bingkisan tersebut lalu berjalan masuk ke kamar pasien bersama Siska.
"Hei, gimana perasaannya sekarang. Pasti lega ya yang biasanya kemana-mana bawa perut berisi baby," ujar Siska dengan celotehnya yang heboh.
"Hmmm, lumayan juga lagipula waktu hamil biasa saja nggak manja kok, maklumlah anak keempat. Setelah melahirkan anak perempuan akhirnya dapat anak laki-laki. Beruntungnya aku, lengkaplah sudah," jawab Tika dengan rona bahagia di wajahnya.
"Sudah utuh ya Tika, kalau aku boro-boro hahaha." Tawa Lyra yang sedikit canggung muncul, ia berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan kegalauannya yang tingkat tinggi. Pikirannya dipenuhi rasa bersalah mengingat wajah Reyhan tadi pagi.
"Semoga cepat menyusul ya, sabar Ra. Aku saja satu tahun lebih baru dapat anak. Oh ya lakimu kemana Ra? Sibuk atau...."
"Permisi semua, dedeknya mau nyusu." Suara Hadi membuat pertanyaan Tika terpotong.
"Lyra, cantiknya euy dan Siska seperti biasa dengan make up yang selalu stay ya hahaha."
"Dari dulu sampai sekarang hobby mu mengejek terus ya Hadi, sabar banget si Tika hadapi kamu," cibir Siska.
"Lho Ra, suamimu yang tampan itu kok nggak ikut datang?" Menatap ke sekeliling mencari sosok Reyhan.
"Dia kerja Di, makanya nggak bisa ikut," jawab Lyra sambil mengelus kepala bayi yang sudah disusui Tika.
"Kalau kamu Sis, mana tuh cowok lu yang badannya super macho itu. Jangan bilang kalian sudah putus. Ingat Sis, umur sudah berapa jangan main-main lagi, Lihat tuh si Lyra," ujar Hadi.
"Iya-iya aku tahu, tenang saja sebentar lagi undangan akan mendatangimu hahaha. Jangan lupa menyiapkan kado ya," jawab Siska.
__ADS_1
"Siiip kalau bisa bikin pesta yang meriah kayak Lyra. Sumpah Ra, lu cantik banget ditambah lagi suami lu yang tampannya wow itu. Kalian buat pasangan lain iri termasuk si Tika, dari awal sampai akhir mandang mulu ke laki lu. Sampai-sampai gua diabaikan ternistakan banget kan hidup gua."
"Sudah jangan dengarkan Hadi, tahulah kalau dia ngomong itu kayak apa, lebay banget ditambah lagi mulutnya yang ember bin lemes," sahut Tika.
"Heleh gini-gini juga lu cinta kan, apalagi sudah ngasih lu empat anak," jawab Hadi sambil terkekeh.
"Iya-iya makasih ya suamiku tercinta."
Lyra terdiam ia teringat pada Reyhan yang sedang merajuk padanya. Adegan barusan cukup membuatnya tersadar bahwa asalkan berusaha membuat pasangan bahagia rumah tangga juga akan bahagia.
****
Washington DC. AMERIKA SERIKAT
07.50 AM
Reyhan membuka ponselnya dan melihat beberapa panggilan dari Lyra yang sengaja ia abaikan, sebenarnya ia juga sangat ingin melihat wajah istrinya yang selalu menjadi penyemangat hari-harinya. Namun, mengingat perlakuan Lyra yang menurutnya tidak adil, ia pun mencoba menahan kerinduannya. Ya, saat ini si berondong Reyhan merasa gengsi tingkat tinggi.
"Den, ini laporan keuangan perusahaan," ujar Redro lalu meletakkan susunan berkas-berkas yang ia bawa.
Reyhan memperhatikan setiap detail yang tertulis di dalam berkas tersebut. Ia mengerutkan dahinya merasa beberapa penulisan yang tertera tidak sinkron dengan yang diperoleh.
"Katakan kepada para staf atas untuk rapat sekarang juga," ujar Reyhan dengan sorot mata tajamnya.
"Baik Den, saya permisi dulu," jawab Redro lalu berjalan keluar menjalankan perintah Reyhan.
****
"Siska, kamu sudah menyiapkan barang-barangmu?" tanya Lyra sambil menyantap makan malamnya.
"Sudah dong, dari kemarin malam, memangnya kenapa? Kan kita berangkatnya lusa Ra, kok kamu bahasnya sekarang?" tanya Siska kebingungan.
"Kita berangkat besok pagi Sis, aku sudah bilang sama Erick dan dia langsung setuju," jawab Lyra dengan tatapan sendu.
"Kenapa tiba-tiba? Cie-cie..., yang mulai kangen, atau jangan-jangan kamu panik ya tentang pelakor. Hahaha...." Mengolok-olok Lyra.
Reyhan tidak menjawab teleponku, aku takut dia melakukan hal aneh di sana. Apalagi mengingat wajah bule yang cantik beserta pakaian seksi yang melekat di tubuh mereka. Aku tidak mau kehilangan Reyhan, meski aku tahu dia mencintaiku tapi dia tetaplah manusia yang akan ada masa khilafnya. Batin Lyra.
"Baiklah kita akan berangkat besok, ayo kita jauhkan aset berharga kita itu dari para pelakor!" seru Siska lalu menancapkan garpunya ke sossis yang masih utuh kemudian mengunyahnya dengan ganas.
****
Reyhan yang baru menduduki ruang rapat menatap tajam ke arah para staf atas yang masih memandang remeh ke arahnya.
"Maaf terlambat," ujar Vica dengan napas yang tersenggal-senggal.
"Silahkan masuk," jawab Redro yang sedari tadi berdiri di arah kanan Reyhan. Ia selalu berada di samping Reyhan karena selain pengawal Redro memiliki peranan komplit untuk Reyhan termasuk, asisten serta sekretarisnya. Ya, Reyhan bukanlah tipe yang gampang percaya dengan orang lain.
"Saya tidak mau basa-basi lagi, di sini siapa yang bernama Naros Adrew?" Suara lantang Reyhan bertanya dengan mata yang mulai sendu.
__ADS_1
"Saya, Tuan," jawab seorang pria dewasa yang berkumis tipis dengan tak kalah lantangnya dengan Reyhan.
"Kau bagian laporan keuangan, katakan padaku kau apakan sisa pengeluaran yang diberikan perusahaan padamu?" tanya Reyhan dengan sorot mata yang mulai tajam. Dalam hal ini, ia tidak memikirkan letak sopan santun kepada orang yang berkhianat pada perusahaan yang susah payah di pimpin Marta.
"Maksud Tuan Muda apa?" tanya Naros Adrew merasa bahwa remaja yang bertanya padanya itu tidak mungkin tahu tentang kelakuannya yang sudah menggelapkan sejumlah uang perusahaan.
"Saya paling tidak suka dengan kepura-puraan, sebelum aku mengungkapkan semuanya lebih baik kau mengaku saja. Akan aku pertimbangkan untuk meringankan bebanmu," ujar Reyhan.
"Tapi saya tidak tahu Tuan, selama ini saya menjalankan perusahaan dengan lancar dan tanpa kendala itu sudah di akui nyonya Marta sendiri Tuan. Tolong jangan membuat jelek nama saya Tuan. Saya bisa menuntut Tuan karena ini sangat memalukan," jawab Naros dengan berusaha tenang.
"Baiklah, Redro ini bagianmu sekarang."
"Baik Den," jawab Redro sambil memasang sebuah video yang terpantul langsung ke papan white board yang biasa digunakan untuk persentase.
"Benang beserta bakal yang dipakai oleh perusahaan sekarang tidak sesuai dengan yang biasa dipakai perusahaan sebelumnya." Redro menunjuk ke arah video yang ia jeda beberapa kali sambil menjelaskan maksud dari video tersebut.
"A-apa yang-"
"Kami menelusuri langsung ke perusahaan Silk Material yang biasanya bekerja sama dengan grup Almirza Fashion, mereka mengatakan tidak adanya transaksi dalam lima tahun terakhir bahkan mereka mengaku kalau akses kontak mereka juga sudah di blokir dengan tidak hormat," lanjut Redro lagi.
Semua mata menoleh pada Naros Adrew, tatapan kebencian beserta kemarahan tidak menyangka ia bermain belakang masalah keuangan mengingat keramahan yang ditampilkan oleh Naros Adrew.
"Tidak! Itu semua bohong! Semua merk bahan pakaian yang kita pakai dari mereka."
"Dan semua itu palsu atau kw, toko kecil langganan Anda sudah diperiksa dan tadi pagi sudah dinyatakan menjadi tersangka dan kemungkinan Anda akan diperiksa karena menurut pemilik toko, Anda lah yang menyuruh mereka untuk meniru merk bahan pakaian milik perusahaan Silk Material. Mereka menuntut toko ilegal tersebut termasuk Anda sebagai otak di balik peristiwa ini," jelas Redro lagi.
"Saya minta maaf tolong maafkan saya. Tolong! Saya tidak mau dipenjara anak dan istri saya makan apa Tuan. Tolong saya Tuan." Bersimpuh di kaki Reyhan.
"Aku sudah memperingatimu tapi kau tetap saja tidak mau mengaku. Maaf aku bukanlah orang yang mudah berbelas kasih kepada orang yang bersikap kejam sepertimu. Tega memakan uang yang seharusnya menjadi milik para karyawan bawah karena kerja keras mereka lah yang pantas dihargai mahal meskipun mereka tidak berpendidikan tinggi sepertimu tapi mereka lah yang sudah memberi makan sampah sepertimu," jawab Reyhan lalu menghentakkan kakinya menyingkirkan Naros hingga tersungkur ke dinding.
Tok!!! Tok!!!
Segerombolan pria berseragam polisi Amerika masuk.
"You can take him now." Tanpa mendengar aba-aba dari polisi.
"Thank you for your cooperation," jawab polisi tersebut memberi hormat lalu berjalan keluar membawa Naros Adrew yang sudah dipakaikan borgol tersebut.
"Katakan padaku apa yang terjadi pada Naros Adrew selanjutnya," ujar Reyhan pada Redro.
"Semua harta Adrew disita dan dia tidak akan diterima dimanapun dia melamar pekerjaan," jawab Redro.
"Semua sudah dengarkan, jika ingin bernasib seperti Naros, ikutilah jejaknya, dengan senang hati saya akan mengabulkannya." Berdiri dengan tatapan tajam.
Reyhan sorot mata itu, aku sangat merindukannya. Aku akan mendapatkannya cinta dan kasih sayangmu. Semuanya akan menjadi milikku. Batin Vica sambil tersenyum.
****
__ADS_1