MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Perlakuan Manis Di Pagi Hari.....


__ADS_3

Dahulu aku hanya seorang anak perempuan yang menjalani hidup hanya sebatang kara, meskipun dibesarkan oleh keluarga paman tetapi tetap saja akan ada perbandingannya dengan keluarga sendiri terlebih lagi saat itu tante dan putrinya atau lebih tepatnya sepupuku yang sangat membenciku. Aku tidak tahu setelah bertemu denganmu hidupku jauh lebih bermakna dengan sikap dinginmu itu kamu membuat aku merasa jatuh cinta setiap hari. Terima kasih Rey, kamu suami yang sangat aku impikan. Baiknya Tuhan mengirimkan sosokmu padaku. Aku sangat bersyukur hingga kini kamu tetap sama. Aku mohon jangan pernah berubah. Batin Lyra sambil memejamkan matanya menerima serangan Reyhan terhadap bibirnya.


Reyhan menghentikan ciuman yang cukup terbilang lama, ia pandangi wajah Lyra yang sendu dan dalam keadaan mata tertutup. Ia mendekatkan tubuhnya lalu menenggelamkan tubuh Lyra dalam pelukannya. Lyra membuka matanya ia pun melingkarkan tangannya ke pinggang Reyhan ia tersenyum sambil menikmati kehangatan dari tubuh Reyhan.


"Tiga hari lagi," ujar Reyhan membuat Lyra melepaskan pelukannya.


"Tiga hari lagi, aku akan ke Amerika, aku harap jangan terlalu merindukanku, oke!" tambah Reyhan sambil menyunggingkan senyumannya.


"Baiklah, aku akan menunggumu sampai kapanpun maaf tidak bisa menemanimu, aku hanya berpikir akan lebih baik kalau aku tetap di sini. Aku tidak mau mengganggu konsentrasimu. Ada ratusan ribu orang yang harus kamu pimpin mereka semua ada di pundakmu. Aku hanya berharap kamu kembali sebagai pria yang dewasa dan pemimpin yang sejati," jawab Lyra sambil menepuk lembut pundak Reyhan. Ia pun melipat kedua tangannya lalu tersenyum lembut menatap dalam pada suaminya itu.


"Tunggu pembuktian dariku, tapi kalau waktunya setahun bagaimana? Apa kamu tetap tidak akan datang menemuiku?" tanya Reyhan sambil menatap serius.


"Itu tidak akan terjadi karena...." Menatap Reyhan.


"Karena apa?" tanya Reyhan penasaran.


Karena kamu Reyhan Almirza, tidak ada hal yang bagimu sulit.


"Tidak ada, aku hanya asal bicara saja, baiklah sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Lyra melangkahkan kakinya ke depan sambil menatap langit yang dipenuhi dengan kembang api.


Reyhan mendekatinya, ia melingkarkan pelukannya dari belakang sesekali ia mencium semerbak yang dikeluarkan oleh rambut Lyra.


"Aku sangat senang wanita yang akhirnya menjadi istriku itu adalah kamu, ramah dan baik hati." Tersenyum tetap dalam memeluk Lyra dari belakang.


Lyra melirik Reyhan, lalu kembali lagi menatap ke arah langit.


"Aku kira, aku akan berakhir dengan mencintai diriku sendiri tetapi waktu melihatmu sedang menuntun motor yang mati membuat duniaku seakan terhenti, awalnya aku ingin mengabaikanmu dan menganggapmu sebagai orang lewat saja. Akan tetapi, justru itu menjadi awal keajaiban hidup yang datang bertubi-tubi kepadaku," ujar Reyhan mengenang pertemuan antara dirinya dengan Lyra yang kedua.


"Hahaha aku malu Rey, mungkin saat itu aku seperti orang bodoh kan, jujur ya saat aku melihatmu itu sempat menahan malu. Terlebih lagi dengan sifatmu yang pendiam menambah canggung saja, kamu hanya akan mengeluarkan suara di saat-saat yang perlu saja. Tanpa basa-basi sedikit pun, aku tidak tahu justru itulah yang membuat aku menerimamu. Meskipun sempat ragu tapi aku berusaha percaya bahwa kamu bisa menjaga kesetiaanmu apalagi mengingat sifatmu yang terbilang cukup dingin," jawab Lyra mengingat situasi yang Reyhan singgung.


Reyhan tersenyum, ia semakin memeluk erat tubuh Lyra di bawah langit yang dihiasi kembang api.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Hatciu!!!


"Badanmu besar begini tapi kenapa justru lemah dibandingkan aku yang kurus kering?" tanya Siska sambil memberikan wedang jahe kepada Redro, yang menggigil karena beberapa jam yang lalu mereka tertidur di dalam mobil yang terjebak derasnya hujan.

__ADS_1


"Ini baru saja terjadi, biasanya tidak pernah sistem imunku rendah aku kurang istirahat. Apa malam ini aku boleh menginap di sini? Aku tidak punya daya untuk menyetir kepalaku sangat pusing," ujar Redro dengan mata yang sayu dan juga lemah. Ia menghela napas yang sedikit sesak membuat Siska tak tega untuk menolaknya.


"Tapi, kamu harus berobat dulu, ini sangat serius aku tidak mau semakin parah, tunggulah di sini aku ambil jaket dulu," ujar Siska lalu mulai beranjak masuk kamar saat ia hendak keluar betapa terkejutnya dia mendapati Redro sudah berbaring di atas ranjang miliknya serta memakai selimut yang menutupi seluruh tubuhnya terkecuali bagian wajah.


"Aku hanya butuh istirahat, aku akan tidur di sini hingga terbit matahari, tanpa ada dokter dan juga suntik," jawab Redro dengan mata yang terpejam.


Ternyata dia takut suntik juga, hah dalam hal ini kami sama, cukup mengejutkan juga. Batin Siska, lalu berjalan keluar mengunci pintu serta jendela setelah memastikan semua aman. Ia pun berjalan masuk ke dalam kamar kembali.


Siska melihat wajah Redro yang sudah tertidur pulas, ia mengecup keningnya, lalu mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur single yang sebelumnya milik Lyra, letaknya tepat berhadapan dengan tempat tidur miliknya yang saat ini dipakai oleh Redro.


Dan malam itu sebagai saksi bisu bagaimana kedua pasangan itu menjalankan kisah mereka masing-masing. Hari ini akan segera berakhir, besok adalah lembaran baru yang akan dijalani meskipun belum tentu berakhir mulus seperti hari-hari sebelumnya.


_________________________________


Hoammmm!!!


"Ah leherku, semakin lama semakin gampang pegal aku benar-benar sudah tua," gumam Lyra, lalu menggerak-gerakkan lehernya ke kanan-kiri lalu menghentakkan kedua tangannya secara bergantian.


Tiba-tiba tangan Reyhan menghentikan aktifitas kecil yang Lyra lakukan di pagi hari itu. Ia menarik Lyra kembali terbaring di sampingnya. Lalu menahan tubuh Lyra dengan tangannya karena ia tahu Lyra akan menggeliat mencoba bangkit dan benar saja itu terjadi. Lyra menggeliat berusaha melepaskan dirinya dari Reyhan yang menahan tubuhnya.


"Rey, lepaskan aku ini sudah pagi, tidak baik terus-terusan berbaring. Ayo kita olahraga pagi." Menolak kuat tangan Reyhan yang terus menahan tubuhnya.


"Eh eh bukan ini yang aku maksud itu lari pagi. Mengeluarkan keringat sehat begitu Rey." Mulai bangkit dari tempat tidur namun ternyata tangan Reyhan lebih cepat dibandingkan pergerakannya.


"Kita akan sama-sama mengeluarkan keringat, diam ini tidak akan lama aku akan melakukannya lembut," ujar Reyhan sambil tersenyum nakal. Reyhan menahan kedua tangan Lyra dengan kedua tangannya. Kemudian menciumi tubuh Lyra yang menggeliat berusaha melepaskan diri namun perlahan mulai menerima serta menikmatinya.


Dan lagi kami melakukannya, setelah dia ke Amerika nanti aku akan sangat merindukan momen ini yang entah kapan terulang kembali. Batin Lyra yang menatap Reyhan yang sudah terbaring lemas sambil memeluknya dengan bulir keringat mereka yang saling menyatu dan mengalir begitu derasnya. Napas mereka terdengar seperti kejar-kejaran dan tersenggal-senggal karena kali ini Reyhan melakukannya penuh gairah.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Rey pelan-pelan nanti kulitku terluka!" teriak Lyra.


"Iya aku tahu, jangan cerewet aku sedang berusaha lembut," jawab Reyhan menggosok punggung Lyra dengan spons serta sabun.


"Kapan selesainya kalau kamu menggosoknya seperti itu?" tanya Lyra lalu berdiri menjauhi tubuh Reyhan yang semula ada di belakangnya. Ya, mereka mandi bersama di dalam bak mandi. Dan tentu saja itu ide dari Reyhan.


"Kita sudah melakukannya pagi ini, tapi kalau kamu berdiri seperti itu tepat di depanku, apa kamu sedang menggodaku? Aku tidak keberatan melakukannya lagi." Menyenderkan tubuhnya sambil tersenyum nakal.

__ADS_1


"Kamu mesum Rey." Kalimat singkat yang keluar dari mulut Lyra sebelum meninggalkan Reyhan di dalam bak mandi dan menuju shower yang hanya dipisahkan pintu kaca.


Aku tidak tahu kapan itu dimulai, aku merasa setiap kamu berada di sekitarku gairahku naik seratus derajat. Aku tidak tahu bisakah aku menahannya saat kita berjauhan nanti. Batin Reyhan sambil menatap bayangan Lyra yang menikmati air yang mengalir dari shower.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Ah akhirnya pagi juga," gumam Siska setelah mendengar suara ayam berkokok yang selalu nyaring.


"Redro, dimana dia? Sudah pulang ya?" Bertanya pada diri sendiri setelah tidak menemukan Redro di sekitarnya.


Tak tak tak


"Eh suara apa itu?" Beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati tempat suara itu berasal yaitu dapur.


"Redro? Kamu sedang apa?" tanya Siska setelah melihat sosok Redro yang sedang mencincang halus daging di atas pemotongan. Tangannya begitu lihai dan cepat apalagi saat mengiris bawang tanpa takut terkena pisau.


"Wah! Kamu ternyata sangat hebat seperti chef-chef yang terkenal itu." Berjalan mendekati Redro.


"Karena ini masih pagi pujianmu aku terima," jawab Redro berusaha menahan malu.


Ya ampun rambutnya yang biasa berponi tiba-tiba terlihat rapi ia sangat berkarismatik sekali, dewasanya jadi lebih terlihat. Batin Siska menatap kagum dengan penampilan Redro di pagi hari.


"Anggap saja ini sebagai balasan pelayananmu tadi malam, wedang jahenya cukup manjur," ujar Redro sambil terus bertempur dengan masakannya.


"Hmmm baiklah, aku tidak akan pernah mengungkitnya tapi kamu sedang memasak apa?" tanya Siska lalu memeluk tubuh Redro dari belakang.


"Aku sebutin namanya kamu juga bakalan tidak mengerti karena ini khas dari Amerika, apa kamu ingat saat pertama kalinya aku membawamu ke restoran? Aku sedang berusaha semaksimal mungkin memasaknya untukmu karena waktu itu kamu sangat menyukainya," jawab Redro.


"Benarkah? Pantas aku menciumnya seperti tidak asing. Kamu benar aku sangat suka sampai-sampai aku berniat mau mentraktir Lyra tapi akhirnya aku mengurungkannya karena harganya yang sangat mahal, hahaha jadi malu." Melepaskan pelukannya dari tubuh Redro dan menggaruk kepalanya pelan karena malu.


"Mulai sekarang kapanpun kamu menginginkannya jangan memendamnya ada aku yang bisa kamu andalkan." Menatap dalam pada Siska.


"Baiklah, aku akui di kehidupanku saat ini keberuntungan perlahan-lahan menghampiriku terima kasih sudah hadir untukku. Meskipun sempat tidak mempedulikanku sekarang aku sangat yakin di dalam hatimu ada namaku," jawab Siska dengan bangga. Ia menyunggingkan senyumannya.


Tiba-tiba Redro mengecup bibirnya, Siska terkejut dan lagi-lagi Redro meminta maaf karena melakukannya secara mendadak.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1




__ADS_2