MY BERONDONG

MY BERONDONG
PRAHARA SAKiT PINGGANG....


__ADS_3

Lyra terbangun begitu telinganys mendengar kicauan burung yang sedang bertengger tepat di depan pintu belakang kamar mereka. Dengan pelan ia memindahkan tangan Reyhan yang semula berada di atas tubuhnya, lebih tepatnya di bagian dada.


Ia pun duduk, menatap wajah suaminya yang masih hanyut di dalam mimpi itu dengan lekat.


"Selamat pagi, suami tampanku," bisiknya pelan, namun tak kunjung membuat Reyhan terbangun.


Lyra pun beranjak ke kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya hingga terasa begitu menyegarkan. Lalu memakai baju yang sudah tersedia di dalam lemari. Kemudian ia merapikan rambut panjangnya. Tak lupa juga ia memakai make up tipis untuk menambah kesan fresh untuk wajah cantiknya.


"Baiklah cukup pakai lip balm saja, Lyra kau sudah terlihat cukup cantik. Aaah! Sejak kapan aku jadi centil begini," ujar Lyra pada pantulan wajahnya di cermin.


"Baiklah, mumpung Reyhan sedang tidur. Aku mau turun dulu membuat sarapan untuknya di pagi hari ini. Ah kenapa aku jadi gugup begini ya, padahal sebelumnya aku sudah pernah melakukannya. Lyra semangatlah! Berusahalah untuk membuat Reyhan bahagia karena dia sangat mencintaimu," gumam Lyra lalu beranjak dari kamar.


Lyra berjalan menuruni anak tangga dengan pelan dan hati-hati sambil terus memegangi pinggang dengan tangan kanannya.


Hah? Kenapa pinggangku belum sembuh juga ya, berjalan membuatku terlihat seperti nenek-nenek. Batin Lyra merengek kesakitan.


"Pagi Bik Sum, pagi Bibi-Bibi semua," sapa Lyra dengan lembut.


"Pagi Nona ayu, manis," jawab bik Sum tak kalah lembutnya.


"Lho kok nona sih Bik. Saya lebih suka dengar kata neng daripada itu kesannya nggak pantas banget denganku," ujar Lyra.


"Bukan begitu, Nona Lyra kan sudah jadi istri den Reyhan. Jadi, sudah sepantasnya kami memanggil sebutan nona pada Nona Lyra agar terdengar serasi dan seimbang," jawab bik Na menjelaskan.


"Ahh iya baiklah kalau itu membuat Bibi semua bahagia, saya bisa apa lagi," ujar Lyra pasrah.


Para bibi pun tersenyum melihat keramahan Lyra, Lyra berjalan ke tempat bagian masak. Ia melihat bubur dengan bumbu rempah kesukaan Reyhan. Ia tetap memegangi pinggangnya, para bibi hanya menatap kebingungan lalu senyum-senyum tak berarah.


"Sepertinya den Reyhan yang perkasa itu punya stamina yang cukup kuat," bisik bibi yang paling muda.


"Iya, sampai-sampai pinggang nona Lyra jadi nyeri begitu, hahaha kok aku jadi sangat senang ya. Mungkin mereka sedang program agar cepat memiliki bayi," jawab bibi yang 1 lagi dengan berbisik tentunya.


"Nona, minta kami buatkan apa?" tanya bik Sum.


"Ah, itu Bik tolong buatin nasi goreng ya saya nggak biasa makan bubur," jawab Lyra, lalu mendekati bibi-bibi yang sedang berbisik tadi, sebagian dari mereka sedang mengiris bawang, lalu menghaluskan cabai serta memotong sayuran.


"Apa Reyhan suka kangkung?" tanya Lyra dengan ramah.


"Sebenarnya baru-baru ini Non, kalau tidak salah awalnya dia bilang seperti ini. *Ke*marin aku ke rumah Lyra memakan sayuran kangkung sekarang aku ingin, cobalah untuk memasaknya 2 kali seminggu, begitu Non," jawab bibi tersebut.


"Oh begitu ya, baiklah saya mau duduk dulu semangat ya kerjanya," tutur Lyra sambil bangkit dan berjalan menuju meja makan.


"Iya Nona," jawab mereka serempak.


"Pinggang Nona kenapa? Apakah kelelahan? Atau keseleo?" tanya bik Na sedikit khawatir, lalu menyuguhkan segelas susu pada Lyra.


"Ahhh, ini karena ulah Reyhan," jawab Lyra spontan membuat para bibi langsung menoleh padanya.


"Saya mengerti," jawab bik Na sambil tersenyum nakal.

__ADS_1


Ah aku kesakitan seperti ini kok malah mereka senyam-senyum nggak jelas, aneh sekali. Batin Lyra sambil menatap heran pada para bibi.


"Istriku, kamu sudah bangun?" tanya Reyhan yang sudah berada di anak tangga terakhir.


"Hmmm, apa kamu sangat lelah, aku lihat tadi kamu tidurnya nyenyak sekali ya walaupun tidak mendengkur sih," jawab Lyra.


"Tidak sedikit pun, ayo kita ke atas, biar para bibi mengantar sarapannya ke atas saja." Berjalan menghampiri Lyra lalu mulai menarik tangannya.


"Ahhh, Rey pinggangku masih sakit ini!" teriak Lyra.


"Kenapa belum sembuh juga? Apa perlu aku panggilkan dokter saja?" tanya Reyhan.


"Tidak, ini hanya butuh pijitan saja ini semua karna kamu sih." Menatap kesal pada Reyhan.


"Maaf, aku terlalu semangat waktu itu. Jadi, tidak tahu kalau kamu begitu kaget," jawab Reyhan.


"Hah, tuh kan den Reyhan bilang dia terlalu semangat, ternyata tadi malam memang dihajar habis-habisan ya," bisik salah satu bibi.


"Iya kan tadi aku mikirnya begitu, kira-kira berapa ronde ya? Hihihi aku jadi berpikiran kotor nih mungkin karena sudah lama nggak dibelai kali ya" bisik bibi yang satu lagi.


"Kamu kan janda pasti sudah pernah, lah gimana aku yang jomblo ini. Pacaran saja belum pernah apalagi uwu-uwu." Menjawab bisikan temannya itu.


"Bik Na nanti suruh mereka antar sarapan ke atas ya," ujar Reyhan dengan lembut.


"Baik Den," jawab bik Na sambil tersenyum.


Reyhan meraih tangan Lyra yang sudah bertengger di atas meja, dengan terpaksa Lyra pun bangkit dari duduknya, Tiba-tiba...


"Bik Na saya ke atas dulu, permisi." Tersenyum sambil menggendong Lyra. Sementara itu, Lyra menutupi wajahnya dengan tangan sebelah kirinya.


Reyhan menaiki anak tangga, ia terus tersenyum melihat tingkah Lyra yang membuang muka karena malu.


"Lyra," panggil Reyhan pelan.


"Hemmm." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Lyra.


"Aku ini suamimu, kenapa kamu harus malu begitu?" tanya Reyhan.


Lyra pun menepikan tangannya dan terlihatlah wajahnya yang berusaha normal. Ia menghela napasnya serta matanya memandangi langit-langit rumah.


"Aku baru sadar ternyata langi-langit rumah ini bercorak seperti langit sungguhan," ujarnya menatap kagum.


"Apa dia lebih menarik perhatianmu dibandingkan aku?" tanya Reyhan.


Lyra memandangi Reyhan yang sedang memasang tatapan tajam. Cemburu?


"Tentu saja tidak, suamiku jauh lebih menarik perhatianku," pujinya sambil tersenyum manja.


"Benarkah? Tetapi tadi kamu-"

__ADS_1


Cup!


Kecupan Lyra mendarat di pipi Reyhan. Reyhan yang memelotot kaget akan serangan halus istrinya itu pun tampak salah tingkah membuat Lyra tertawa kecil.


Aduh imutnya suamiku dicium begitu saja langsung salah tingkah. Padahal tadi malam dia seperti kerasukan begitu aku memancingnya. Batin Lyra sambil menatap wajah Reyhan yang memerah.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Hati-hati bawanya, ini bubur spesial yang bik Sum masak sendiri, biasanya kan dia enggan melakukannya. Kandungan rempah kali ini bisa dibilang sebagai obat kuat," ujar salah satu bibi.


"Ah tiba-tiba aku membayangkan bagaimana unggulnya bibit dari den Reyhan," jawab bibi yang salah satu lagi.


"Sudah sampai, kamu ketuk pintunya." Berdiri tepat di depan kamar Lyra dan Reyhan.


Salah satu dari mereka pun mengangkat tangannya mulai mengetuk, Namun tiba-tiba...


"Aw pelan-pelan Rey, kamu ingin membunuhku ya!" teriak Lyra dari dalam kamar.


"Tenanglah, aku sudah melakukannya dengan lembut." Terdengar balasan dari Reyhan.


"Pelan kepalamu! Aku hampir mati ini, menyingkir sana. Kamu menindihku seperti ini, sakit banget Rey!" teriak Lyra lagi.


"Memang begini kan gayanya, aku sudah biasa melihatnya tahu." Suara Reyhan menjawab teriakan Lyra.


GLUK


"Mereka sedang apa sih? Ini kan masih pagi, apa yang tadi malam masih kurang," kata bibi yang hampir mengetuk pintu tadi.


"Iya, den Reyhan kelewatan juga kasihan nona Lyra pinggangnya masih sakit pun masih dihajar," jawab bibi yang 1 lagi.


"Sedang apa kalian?" Terdengar suara Redro yang mengejutkan mereka.


"I-ini tadi den Reyhan pesan sarapannya dibawa ke atas tapi, sepertinya waktunya tidak tepat," jawab bibi tersebut.


Redro pun berjalan mendekati 2 bibi tersebut dan mengetuk pintu sebanyak 3 kali.


"Masuk!" Suara Reyhan dari dalam kamar.


Redro pun membuka pintu, terlihatlah Lyra dan Reyhan yang sedang duduk di kursi jepara yang terdapat di sudut kamar.


"Ini sarapannya Den, silahkan dimakan kami permisi dulu," ujar salah satu bibi, setelah meletakkan sarapan tersebut. Mereka pun berjalan keluar.


"Tunggu sebentar," ujar Reyhan.


"I-iya Den." Dengan bibir yang sedikit bergetar.


"Apa diantara kalian ada yang bisa memijat?" tanya Reyhan.


"Apa?"

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2