MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Vica...


__ADS_3

Lyra menatap Marta yang duduk tepat di hadapannya yang sedang menyeruput segelas minuman. Sesekali Lyra melirik ke arah Siska yang juga sedang memperhatikan Marta.


Aduh bagaimana ini? Datang tanpa kabar. Lyra kamu ini memang menantu abal-abal. Batin Lyra sambil menundukkan kepalanya.


"Begitu aku tahu bahwa kamu datang. Aku sangat merasa senang." Kalimat yang keluar dari mulut Marta sontak membuat Lyra dan Siska memelotot kaget.


"Ja-jadi Mama enggak marah?" tanya Lyra gugup.


"Aku? Marah? Tentu tidak, ada hak apa aku untuk marah. Aku justru sangat senang karena Reyhan ada yang jaga." Tersenyum semringah.


Lyra menyunggingkan senyuman canggung, ia masih gugup setiap kali berhadapan dengan mertuanya itu.


"Lyra, bisakah aku minta satu hal padamu?" tanya Marta yang mulai serius.


"Boleh Ma, apa itu?" tanya Lyra.


"Tolong bersikap biasalah, hilangkan rasa canggungmu terhadapku. Karena biar bagaimanapun kita ini keluarga. Anggap aku ini benar-benar ibumu,"


"Baik Ma. Maaf kalau saya masih terlalu kaku." Menunduk dan tetap berbicara gugup.


Setelah mendengar pernyataan dari Marta Siska pum tersenyum lega.


"Siska, aku dengar Redro melamarmu dan berencana akan menikahimu secepatnya. Apakah kamu benar-benar menyukainya?" tanya Marta beralih pandangan ke arah Siska.


"Iya Tante, saya sangat menyukainya." Menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Redro adalah sosok yang hangat. Dari dulu sampai sekarang bawaannya memang dingin. Akan tetapi kalau kita dengan sabar mendekatinya dia akan berubah jauh dari penampilannya. Intinya kamu tidak boleh terlalu bersifat kekanakan. Dia akan ilfil." Tersenyum pada Siska.


Apa tante Marta menyindirku? Tapi apakah aku kekanakkan? Sepertinya enggak tuh, tapi kadang iya juga sih. Aah benar-benar bingung aku. Batin Siska meracau.


***


Di ruang rapat Reyhan terlihat serius memandangi tumpukan berkas yang ada di hadapannya. Sedangkan para staf bagian desain terus menatapnya sambil tersenyum, sebagian dari mereka tampak salah tingkah.


"Den, bisa kita mulai," bisik Redro membuat Reyhan bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Salam, saya rasa perkenalan tentang saya sudah tidak penting lagi, bukan?" Memperhatikan para staf yang membalas pernyataannya dengan anggukan.


"Baiklah, disini siapa yang bernama Erika?" tanya Reyhan.


"Saya, Pak eh Tuan." Mengangkat tangan yang bergetar karena gugup.


"Saya dengar kamu handal di bidang desain jaket. Akan tetapi ada laporan yang mengatakan bahwa desain milikmu adalah hasil plagiat. Bisakah kamu menjelaskannya secara jujur?" Menatap Erika, salah satu staf desain yang terbilang senior.


"Sa-saya saya...."


"Saya tidak suka pekerja yang lembek. Jika itu benar mengakulah, tapi jika itu tidak benar menyangkallah. Saya butuh jawabannya sekarang." Memasang tatapan tajam.


"Saya tidak pernah melakukan hal hina seperti itu Pak, hanya saja saya...." Rasa takut dan gugup bercampur aduk.


"Saya rasa sepertinya kamu tidak perlu lagi menginjakkan kaki di perusahaan ini. Saya kecewa ada staf yang tidak sinkron seperti kamu bertele- tele dan membuang waktu percuma," ujar Reyhan.


"Maaf Pak sebenarnya saudara saya lah yang melakukannya. Dia menjual hasil karya saya kepada orang dalam perusahaan lain. Saya tidak bisa membela diri." Mulai mengeluarkan bulir bening.


"Apakah itu benar?" Reyhan menatapnya dengan semakin tajam.


"Baiklah, Redro! Aku rasa kau tahu apa yang harus kamu lakukan." Tetap menatap ke arah Erika.


"Iya Den, hasilnya akan dikirimkan siang ini juga," jawab Redro.


"Apa kamu tidak keberatan jika kakak kamu ikut dihukum karena hal ini? Kalau dia terbukti bersalah."


"Iya Pak, saya justru bisa bernapas sekarang karena ulahnya, saya harus menanggung malu," jawab Erika.


Reyhan kembali ke tempat duduknya semula, ia mulai memperhatikan tumpukan berkas yang berserakan di depannya.


Ah sial, kenapa aku jadi teringat pada Lyra. Lagi-lagi kata-kata datang bulan itu membuatku depresi. Batin Reyhan yang mulai kesal.


"Baiklah, rapat akan kita mulai sekarang, Redro tunjukkan grafik Quality bulan ini." Redro langsung menghidupkan layar laptopnya yang langsung terpantul dengan white board di belakang Reyhan hingga mulai terlihat semakin jelas.


"Saya rasa semua cukup bisa mengerti dengan maksud yang tergambar pada grafik di depan. Disini saya cuma bertanya, kenapa kualitas tahun 2019 dengan tahun yang 2020 tidak menunjukkan adanya perubahan?" tanya Reyhan.

__ADS_1


Salah satu dari para staf menunjuk tangannya, dengan sedikit gugup ia berusaha menjawab pertanyaan Reyhan barusan.


"Menurut saya pribadi, itu disebabkan skandal tentang plagiat yang dituduhkan pada Erika Pak jadi-"


"Siapa nama kamu?" tanya Reyhan memotong penjelasan wanita tersebut.


"Saya Belinda Pak," jawabnya.


"Baiklah Belinda. Saya mengerti maksud kamu, tapi melihat kondisi yang dialami Erika saat ini. Kamu tidak punya alasan seperti itu. Intinya cari inspirasi lain, cari model pakaian lain. Perubahan itu perlu, karena zaman juga memiliki new fase setiap tahunnya. Bukannya tetap stay disitu terus dan kalau tidak meningkat salah si anu siapalah itu. Tidak! Ingat kita dibayar untuk apa dan bekerja untuk apa? Bidang kita itu apa?"


"Saya punya ide untuk meluncurkan sebuah produk yang berbeda dari yang biasanya Pak," ujar Vica sambil mengangkat tangan kanannya.


"Apa kamu sudah mendiskusikannya dengan tim mu?" tanya Reyhan dingin.


"Apa itu perlu?" tanya Vica bingung.


"Kau bekerja dengan tim, jika tim mu saja tidak tahu jadi apa perlu kerja sama?"


Sontak perkataan Reyhan barusan membuatnya cukup terkejut karena Reyhan pernah mengatakannya sewaktu mereka duduk di kursi SMP. Hanya saja saat itu Reyhan begitu lembut padanya.


"Temui tim mu dan diskusikanlah. Buat para staf perlihatkan padaku perubahan apa yang akan kalian tunjukan, saya tunggu tiga hari dari besok. Kumpulkan desain kalian dan saya harap tidak ada yang sama dengan desain fashion sebelumnya." Mulai bangkit dari duduknya.


"Tapi Pak?"


"1000 dolar menanti." Jawaban Reyhan sontak membuat mereka memelotot kaget.


"Per orang," tambah Reyhan.


"Yeay!" teriak mereka merasa kegirangan dengan perkataan Reyhan.


"Rapat selesai, silahkan masing-masing tim bersainglah secara sehat, selamat siang." Beranjak keluar dan diikuti Redro dari belakang.


Sampai kapan kau mengabaikan aku Rey. Aku datang kemari tidak mengharapkan apapun selain dirimu. Batin Vica menatap kosong di tengah gumaman para staf yang lain saking senangnya mendengar pernyataan Reyhan tadi.


__ADS_1



__ADS_2