
"Permisi, penghulu serta bos Fardan sudah menunggu di bawah, kami akan membawamu turun akad nikah akan dimulai." Salah satu anak buah Fardan masuk dan di hampiri yang satunya lagi.
"Lho kok kayaknya orangnya beda ya?" tanya yang satunya lagi.
"Iya lu bukan wanita yang tadi kan?" tanya pria tersebut.
"Ini aku, tapi Make Up ku dibuat tebal agar terlihat pangling, karena itu request dari kak Fardan sendiri." Mengubah suaranya menjadi lembut.
"Hah si Bos aneh ya sukanya sama perempuan yang riasannya kayak ondel-ondel." Tertawa melihat riasan Rania.
"Dimana tu cewek yang merias lu tadi? Gua mau bayar riasannya," tanya pria tersebut.
"Dia lagi di toilet," jawab Rania.
Mereka pun mulai mendekat berniat mengintip.
"Jangan dia sedang buang air besar katanya tadi dia makan rendang jengkol banyak banget aku saja hampir pingsan menahan bau napasnya." Mencoba meyakinkan kedua pria itu.
"Ih jorok banget, woi ini bayaran lu ada di atas ranjang. Lu cepat keluar dan cepat juga tinggalkan tempat ini jangan sampai gua lihat lu di sekitar sini." Pria itu memukul kuat pintu toilet.
"Ayo kita bawa dia keluar nanti bos marah lagi, bisa-bisa nyawa kita melayang." Kedua pria itupun memegangi kedua tangan Rania.
Mereka pun turun, wajah Rania sengaja ditutupi dengan selendang agar Fardan tidak curiga. Rania sempat mengintip di sekitar ruangan yang hanya terdiri seorang penghulu serta beberapa anak buah Fardan. Ya benar, semua yang hadir berjenis kelamin laki-laki.
Gila, gimana mau kabur ini. Batin Rania.
"Kenapa wajahnya di tutupi seperti itu?" tanya Fardan sedikit curiga.
"Jangan Bos, mungkin biar terlihat seperti taaruf 'kan bagus tuh, iya nggak Pak Penghulu," cegah anak buah Fardan.
"Baiklah lepaskan tangannya, berikan padaku." Menarik lembut tangan Rania.
Lyra mengendap-endap keluar dari kamar namun hanya jalan buntu yang ia temukan. Selain ruangan tempat pernikahan tak ada lagi jalan keluar. Ia melewati sebuah ruangan kecil yang menarik perhatiannya, ia pun masuk tampaklah sekumpulan poto-poto Reyhan yang dibuat menjadi poto mengerikan. Di setiap potonya terdapat bercak merah Lyra melihat ke sebelah kanannya tampak cermin berukuran sedang yang bertuliskan I WILL KILL YOU.
Langkah Lyra melemah setelah melihat potret Reyhan yang diperlakukan dengan keji.
::::::::::::::::::::::::::::::::
"Tulis nama lengkap serta nama kedua orang tua dan dimana wali dari mempelai wanitanya?" tanya Penghulu tersebut.
"Dia tidak punya wali." Jawaban lantang Fardan.
"Oh tidak bisa menikah kalau begitu, saya tidak mau ambil resiko." Penghulu mulai bangkit dari duduknya.
Alih-alih mau pergi sang penghulu justru dihadang dengan senjata api yang di genggam para anak buah Fardan.
"Melawan berarti pilih mati, menurut pulang dengan selamat," ujar Fardan.
"I-iya sa-saya tidak melawan." Tubuhnya bergetar ia pun kembali duduk.
"Maaf kenapa nama kedua orang tuanya kosong, itu mesti harus ditulis bagaimana nanti mau cetak buku nikah?" tanya penghulu tersebut.
"Lyra isilah dengan lengkap, badanku sudah sangat lelah seharian menunggu saat-saat indah ini," ujar Fardan lembut.
Namun Rania yang tidak tahu nama lengkap Lyra dan kedua orang tuanya pun tak kunjung menulis kelengkapan data tersebut.
Fardan memperhatikan tangan wanita yang berada di sebelahnya dan merasa ada yang janggal, berbeda dari tangan Lyra yang terlihat lebih putih dari wanita itu. Dengan cepat Fardan membuka selendang yang menutupi kepala dan sebagian wajah wanita itu. Dan Fardan dibuat terkejut dengan wajah dibalik selendang yang ternyata Rania.
"Kau! Beraninya kau menipuku katakan dimana Lyra!" teriak Fardan sambil mencengkram leher Rania.
"Dia sudah pu-pulang dia ti-tidak ada disini." Dengan suara tersendat-sendat Rania mencoba menjelaskan.
"Hahaha...,kamu pikir aku percaya hah!" teriak Fardan lalu menampar telak wajah Rania.
"Bos tenang saja, kami akan menyeretnya kemari," ujar salah satu anak buahnya.
"Tidak usah biarkan dia sendiri yang datang kemari, Lyra kamu sendiri yang minta ini," ujar Fardan.
"Lyra aku tahu kamu berada di atas keluar atau aku bunuh perempuan ini!" teriak Fardan.
"Jangan Kak, jangan pikirkan aku," ujar Rania.
"Lyra jangan bodoh, kamu kabur juga percuma karena tidak akan ada jalan lain yang akan menuntunmu keluar. Jadi, selagi aku bicara baik-baik keluarlah!" teriak Fardan.
"Baiklah tidak mau keluar juga ya ini kamu yang menginginkannya Lyra."
Dorr
Suara tembakan pertama membuat Lyra berlari menghampiri Fardan.
"Hentikan!" teriaknya.
"Hahaha lihatlah Lyra kamu hanya akan menambah siksa untuk dirimu saja. Dan itu sama sekali tidak berarti apa-apa."
"Lepaskan mereka Kak, mereka tidak bersalah aku mohon kalau mau marah lampiaskan saja padaku ingat dosa Kak." Lyra memohon sambil berjalan pelan menghampiri Fardan.
__ADS_1
"Dosa itu belakangan, sekarang waktunya untuk bersenang-senang dan membalaskan dendam hahaha! Selain itu, aku nggak butuh apa-apa lagi."
"Lepaskan mereka aku akan menurut padamu Kak. Apa pun yang akan kamu lakukan aku terima, aku janji." Menurunkan pistol dari tangan Fardan.
"Setelah aku lepaskan, mereka akan langsung melaporkanku kepada polisi dan lalu apa yang akan aku dapatkan! Hidupku akan berakhir di dalam penjara selamanya. Tidak Lyra aku tidak sebodoh itu, berhentilah membodohiku!" teriak Fardan lalu menembak kepala penghulu sebanyak tiga kali.
"Tidak Kak berhenti dia sudah mati Kak tolong berhenti Kak aku mohon jangan seperti ini Kak. Tolong dengarkan aku sekali ini saja!" teriak Lyra dengan tubuh yang semakin lemah setelah melihat darah yang berceceran di lantai serta tubuh yang telah kaku dan mata yang memelotot.
"Dan sekarang giliran kamu!" teriak Fardan sambil mengarahkan pistolnya pada Rania.
"Tembak aku juga." Lyra menutupi tubuh Rania.
"Menyingkirlah Lyra aku tidak ingin menyakitimu," ujar Fardan.
"Apa? Setelah semua yang Kakak lakukan hari ini Kakak bilang tidak mau menyakitiku. Kakak salah aku sudah merasa lebih dari sakit." Menatap tajam pada Fardan.
"Tembak saja Bos jadi cewek kok jual mahal." Salah satu anak buah Fardan mulai memprovokasi.
Dorrr!
"Itu untuk orang yang sudah seenaknya memerintahku!" teriak Fardan yang sudah menembak kening anak buahnya tadi.
"Lyra sayang, tolong menyingkirlah biarkan aku menghabisinya." Menodongkan pistol ke arah Lyra.
"Lakukan Kak, aku sudah siap. Tidak ada gunanya aku hidup jika aku harus menikah denganmu itu mimpi buruk bagiku. Tidak akan aku biarkan kau menyentuhku dengan tangan kotormu itu." Memancing amarah Fardan.
"Apa katamu!" teriak Fardan dengan suara yang meninggi.
Brak!!!
Dorr Dorr Dorr
Akhirnya pintu pun terbuka, tampak rombongan Reyhan.
Dorr Dorr Dorr
Dengan skill menembak yang cukup profesional Redro mampu membuat anak buah Fardan perlahan tapi pasti habis begitu saja.
Rumah yang tadinya terlihat rapi dan lumayan megah sekejap mata berubah menjadi lautan berdarah. Fardan hanya fokus mencari sosok Reyhan di sela-sela banyaknya pengawal Reyhan.
"Cih Reyhan kau keluarlah hadapi aku, jangan cemen dasar banci beraninya main keroyokan!" teriaknya bak orang keserupan.
"Hahaha kau lucu sekali, kalau den Reyhan tidak datang kau mau apa?" tanya Redro meremehkan.
"Dan kau seperti anak kecil yang masih mengharapkan pistol itu dapat membantumu. Ternyata kau sangat manja sekali." Menatap remeh pada Fardan.
"Apa kau bilang? Aku manja, jangan menyesalinya Bung."
"Nona kemarilah," panggil Redro.
"Jangan bergerak bahkan lebih dari setengah inci!" tegas Fardan.
Lyra yang tadinya sudah melangkah dengan gerak cepat pun hanya bisa berhenti menuruti arahan Fardan.
Dari kejauhan Reyhan melihat Lyra yang diperlakukan kejam oleh Fardan mulai emosi. Tangannya bergetar, ia pun berjalan menghampiri Fardan.
"Kau akhirnya muncul juga bocah tengik, rasakan ini." Menodongkan pistolnya.
Reyhan mengabaikan perkataan Fardan, ia terus berjalan mendekati Fardan hingga berhadapan wajah.
"Fardan Handoko hah, di dalam darahmu mengalir darah kotor hasil rampasan ayahmu. Setelah menipu orang banyak, tak heran jika kau bersikap konyol seperti ini, kau berlagak baik dan ramah karena tujuanmu hanya satu membalas dendam padaku. Kau menyedihkan." Tersenyum sinis.
Tangan Fardan bergetar, ia tak kunjung menembak Reyhan yang selama ini ia nantikan kehadirannya.
"Hahaha kau selalu memujiku di setiap waktu kita bertemu. Apa kau kira aku tersanjung? Tidak pernah karena dari awal aku berjumpa padamu, aku sudah tahu rencana bulusmu. Hanya saja aku mengulur waktu membiarkanmu bermain petak umpet terlebih dahulu. Akan tetapi, karena kau sudah diluar batas dengan membawa orang lain ikut dalam permainan bodohmu ini. Bukankah seharusnya aku datang untuk menunjukkan siapa orang yang sedang kau lawan saat ini?"
"Diam kau bocah tengik, aku akan menembakmu sekarang aku ingin lihat apa kau bisa sombong!" teriak Fardan.
"Tunggu dulu. caramu memegang pistol itu salah." Reyhan dengan santainya merebut pistol tersebut dari tangan Fardan.
"Kau menipuku hah!" teriak Fardan lagi.
Reyhan melemparkan pistol tersebut yang langsung ditangkap oleh Erick.
"Hmmm kau tidak punya mainan lainnya. Maaf aku terpaksa menyingkirkan pistol itu, karena aku bosan dengan permainan seperti itu. Bagaimana kalau kau pukul saja aku tanpa mainan apapun ditanganmu."
Merasa sudah aman, Rania mendekati Lyra mereka berjalan keluar dengan perlahan.
"Lyra! Jangan pernah kabur selangkah pun dari rumah ini!" teriak Fardan.
"Kak Fardan to-tolong lepaskan aku." Dengan suara yang sudah mulai hilang Lyra memaksa mulutnya untuk bicara.
"Beraninya kau memerintahnya!" Amarah Reyhan meledak menyaksikan kekasihnya dibentak.
Phakk...Bugh...Phakk.
__ADS_1
Fardan tersungkur hingga ke anak tangga, darah segar mengalir dari hidungnya, napasnya pun tersenggal-senggal hingga membuatnya tak berdaya.
"Bunuh saja aku, bukankah itu yang kau mau!" teriak Fardan.
"Sayangnya aku tidak suka membunuh kecoa gila sepertimu kau terlalu menjijikan. Dimana tenaga yang kau kumpulkan selama ini! Tunjukkan padaku." Menarik kerah pakaian Fardan.
Fardan tidak menjawab hanya semburan darah merah yang terus mengalir dari mulutnya tubuhnya bergetar lemah.
"Redro bawa dia ke markas A suruh orang yang bertugas memeriksanya tanpa ada yang tersisa termasuk jiwanya," perintah Reyhan lalu berbalik dari Fardan.
Fardan diam-diam mengambil pistol milik anak buahnya yang sudah tewas tertembak.
"Berhenti melanjutkan permainan bodoh itu, kau bukan tandinganku." Menunjuk Fardan.
Redro beserta para pengawal berjalan menuju Fardan, mereka pun membawanya sesuai perintah Reyhan.
"Rey, berakhir begitu saja. Ah gua kira bakalan seru ternyata yang kita hadapi adalah psikopat gila seperti itu, melayaninya pun sama saja punya kelainan jiwa," ujar Erick.
"Sudah kau diam saja, lebih baik urus dia." Menunjuk ke arah Rania.
"Eh lu kok dandanannya seperti itu. Jangan-jangan lu mau nikah ya sama orang gila itu. Eh lu korban tipuannya dia, kasihan." Menatap Rania.
"Jangan sok tahu." Berjalan melewati Erick.
"Kenapa bengong, pergi sana antar dia pulang." Menatap marah pada Erick.
"Iya-iya busyet dah ternyata gua dibutuhkan cuma untuk ini." Berjalan keluar menghampiri Rania.
"Apa dia menyakitimu." Memeriksa tubuh Lyra.
Lyra menggelengkan kepala dia hanya menatap wajah panik Reyhan. Air matanya mengalir deras membuat Reyhan semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku terlalu lama datang kemari." Memegang kedua pipi Lyra.
Lyra langsung memeluk tubuh Reyhan.
"Aku mencintaimu Rey, aku benar-benar cinta kamu." Memeluk erat tubuh Reyhan.
"Lyra. Lyra tenanglah dia sudah pergi. Katakan padaku apa yang dia lakukan padamu." Mencoba menenangkan Lyra.
"Kenapa kamu tidak membunuhnya Rey, dia kejam dia sangat kejam dia memajang potomu di dinding dan ada bercak merah di setiap potomu Rey, dia mengerikan sangat mengerikan."
"Lyra dia hanya manusia yang memiliki kelainan jiwa. Biarkan dokter yang menanganinya, aku juga baru dapat pemberitahuan dari pihak rumah sakit bahwa dalam sebulan terakhir lalu dia salah satu pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa. Jadi, apa kamu tidak memikirkan image ku yang dijuluki sangat tampan ini tiba-tiba membunuh orang seperti dia." Mengelus pelan rambut Lyra.
"Aku merindukanmu Rey, setiap detik napasku aku selalu berdoa agar keajaiban datang, Rey ayo kita menikah." Menatap wajah Reyhan.
"Iya 'kan pernikahan kita sudah ditentukan." Tersenyum melihat tingkah Lyra yang meminta pernikahan.
Lyra mendekatkan wajahnya pada Reyhan, ia hendak meraih bibirnya.
"Anu permisi Den kita boleh jalan sekarang." Pak Mat tiba-tiba datang.
Dengan cepat Lyra menjauhkan tubuhnya dari dekapan Reyhan. Reyhan semakin tersenyum melihat wajah malu Lyra.
Aku tidak tahu akhir-akhir ini dia terihat sangat agresif. Apa aku perlu menyelidikanya? Entahlah tapi melihatnya seperti itu aku menyukainya tapi sekaligus takut tidak bisa menahannya. Batin Reyhan.
Mereka pun berjalan menuju mobil, saling berpandangan dan saling melemparkan senyuman.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa like, komen dan vote kalau ada poinnya.
SEASON PERTAMA SUDAH BERAKHIR WELCOME TO SEASON KEDUA YA.... SEMANGAT !!!
REYHAN ALMIRZA
LYRA NAYRA
REDRO ALDWIN
SISKA RAHMA
ERICK ROJALI
ASRANIA
__ADS_1