MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Kejadian di pesta...


__ADS_3

Redro menatap ponselnya yang sedari tadi bergetar dan tentu saja itu dari calon istrinya, Siska Rahma.


Lagi apa?


Sudah makan?


Beb semangat, i Love u.


Redro tersenyum menanggapi rentetan pesan Siska.


"Ehm, aku kira kau lupa bagaimana cara tersenyum. Tapi yang barusan itu terlihat cukup lumayan juga," ujar Reyhan sambil memakan bekalnya.


Redro terdiam, ia tidak menjawab perkataan Reyhan yang menyindirnya.


"Apa kau sudah siap menikah?" tanya Reyhan lalu mengusap bibirnya dengan tisu lembut.


Tanpa ragu, Redro mengangguk mengiyakan perkataan Reyhan.


"Tidak kusangka kak Siska bisa juga membuatmu mencair setelah lama melajang. Padahal aku sempat berpikir kau akan menjadi kakek tua yang akan menemaniku membesarkan buah hatiku nanti." Tersenyum tipis menatap Redro yang langsung menghapus senyum simpulnya tadi.


"Saya akan menikah," ujar Redro setelah memastikan Reyhan berhenti melahap habis makan siangnya.


Reyhan menyenderkan tubuhnya menatap langit-langit ruangan tersebut. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk berkesiap tidak menunjukkan patah hati karena akan ditinggal menikah oleh Redro, pengawal yang memiliki berbagai peranan penting di dalam hidupnya itu.


"Lalu, kau akan meninggalkanku dan akan menjalankan bisnis baru. Begitu 'kan?" Meskipun masih terdengar dingin sebenarnya jauh dari dalam lubuk hati ia merasa lirih.


Redro terdiam ditatapnya dalam-dalam wajah yang selalu ia temani hari-harinya tersebut. Berbagai ekspresi Reyhan terukir abadi di ingatannya. Ia ingat sekali di saat SMA dulu Redro harus terbang dari Amerika menuju Indonesia begitu tahu bos kecilnya itu masuk rumah sakit. Dia bisa dibilang kakak laki-laki sekaligus ayah Reyhan yang selalu berusaha ada untuk lelaki remaja tersebut.


"Selamat ya," ujar Reyhan menyunggingkan senyumannya.


Redro hanya diam karena sebenarnya ia sedang menyiapkan kejutan untuk Reyhan nanti.


***


Lyra dan Siska saling berpandangan, kebingungan menatap para bule yang berhamburan di hadapan mereka. Memamerkan bentuk tubuh yang terbilang sangat sexy dan ramping bahkan ada yang kurusnya lumayan parah.


"Ra, bule yang duduk di sana itu kayak tengkorak berjalan ya. Aku yakin kalau tiba-tiba datang sedikit angin saja dia pasti sudah terbang." Memberi kode dengan matanya membuat Lyra menatap gadis bule yang Siska maksud.


"Hush! Kamu ini ya bisanya mengatai orang. Enggak baik tahu," jawab Lyra dengan tatapan tajam.


"Tante Marta kemana ya? Kok lama banget baliknya." Mengalihkan pembicaraan.


Tring!!!


Satu pesan masuk ke ponsel Lyra dan tentu saja itu dari suami tercintanya.


Kemana saja?


Ya ampun aku kok bisa lupa mengabari suamiku. Batin Lyra memelototi pesan tersebut.


Tring!!! Tring!!! Tring!!!


Apa segitu sibuknya ya?


Lyra, aku marah sekarang.


Aku tidak butuh alasan datang bulan lagi.


What? Apa lagi sih maksudnya ini. Enggak mungkin yang itu' kan? Batin Lyra mulai frustasi dengan tingkah suaminya.


"Sayang maafin mama ya, tadi di sana ada teman yang lumayan rempong jadi ya, mau tidak mau mama harus meladeninya," ujar Marta yang tiba-tiba datang dan menepuk pundak Lyra dengan pelan.


"Iya enggak apa-apa Ma," jawab Lyra sambil tersenyum.

__ADS_1


Aku aman kok Ma, tapi anakmu yang nakal itu Ma sedang mengatur hukuman untukku Ma. Batin Lyra.


"Tante, kita makan yuk, laper nih," ujar Siska sambil mengelus perutnya.


"Hahaha Siska lapar rupanya. Ya ampun, baru sadar kita belum makan siang. Ayo kita ke sana," ajak Marta sambil memegangi kedua pinggang wanita yang sudah ia anggap sebagai putri itu.


Ternyata begini rasanya punya putri, bisa diajak kemana-mana. Aku sangat bersyukur bisa merasakannya sekarang. Meskipun usia ku tidak muda lagi paling tidak ini lebih dari cukup bukan. Batin Marta.


Tiba-tiba suara gemuruh terdengar heboh dikala seorang pria paruh baya menggandeng putrinya. Lyra terkejut begitu ia menoleh ke arah mereka, dia mengenalnya bahkan putrinya tersebut. Mereka adalah Mr.Rudolf dan Cecilia Rudolf.


"Siapa sih? Artis ya?" tanya Siska menatap kesal kepada mereka yang heboh dengan kehadiran yang sangat menggemparkan tersebut.


"Sayang, kita pergi yuk! Enggak penting juga, mama enggak kenal sama mereka." Marta kembali memboyong Lyra dan Siska untuk menjauhi tempat tersebut.


"Lyra!" panggil Mr.Rudolf yang membuat mereka bertiga menoleh ke arahnya lagi.


Mr.Rudolf dan Cecilia Rudolf mendekati mereka, orang-orang yang heboh tadi seketika menjauh.


"Wow, you are here. Very beautifull." Melemparkan senyuman nakalnya kepada Lyra.


Apaan sih kakek tua udah bau tanah juga, dan ini lagi perempuan tatapannya kayak mau membunuh saja. Macamlah cantik make-up saja sudah kayak pantat panci. Menor banget. Batin Siska menatap kesal.


"Oh, hai Mr.Rudolf. Nice to meet you, again." Menyentuh jemari Marta karena merasa gugup.


"Memangnya ini siapa?" bisik Marta.


"Rekan kerja Reyhan Ma," jawab Lyra pelan.


"Hai, im Rudolf. You know Reyhan Almirza, iam his friend." Mengulurkan tangannya.


"I'm Siska nice to meet you uncle." Siska menepis tangan Rudolf yang berniat menyentuh punggung tangan Marta.


"I'm Marta Arnelita and i'm Reyhan mother," ujar Marta sambil memaksakan senyumannya di depan pria tua mesum itu yang sedari tadi menatapnya dengan nakal dan tanpa mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


(Wow, kau masih terlihat sangat muda).Cecilia langsung merebut gandengan tangan Marta dari Lyra.


"Ups sorry, i did not mean it."


(Ups maaf, aku tidak sengaja). Tersenyum sinis kepada Lyra yang hampir saja jatuh ke belakang.


Bisa ku tebak ni betina pasti tidak suka pada Lyra atau jangan-jangan dia suka sama Reyhan. Secara kan pesonanya selalu menyebar kemana-mana. Tidak bisa dibiarkan ini memperlakukan sahabatku seperti itu. Batin Siska melirik jijik ke arah Cecilia.


"Mom, I'm realy hungry. Let's eat."


(Ma, aku lapar. Kita makan yuk). Mempererat gandengannya pada Marta.


"Of course honey. I'm so sorry Mr.Rudolf. I have to take my two daughters to eat. They are very hungry."


(Tentu saja sayang. Aku minta maaf Mr.Rudolf. Aku harus membawa kedua putriku pergi makan. Mereka sangat lapar). Melepaskan tangan Cecilia yang menggandengnya dengan manja.


"Bye Mr.Rudolf." Siska melambaikan tangannya bermaksud memberi ejekan kekalahan pada Cicilia yang membalasnya dengan tatapan marah.


"Daddy. I really want Reyhan."


(Ayah. Aku sangat menginginkan Reyhan). Menyenderkan kepalanya di pundak ayahnya.


"Calm down dear, you will have it later."


(Tenang sayang, kamu akan memilikinya nanti). Mengepalkan tangannya hingga terlihat urat-urat biru yang menyembul jelas.


***


Lyra melirik Siska yang sedari tadi tersenyum tidak jelas ke arahnya. Dia mengerutkan dahinya merasa heran ada apa dengan sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? Keserupan ya?" tanya Lyra polos dan jengkel.


Bukannya menjawab Siska malah tertawa melihat ekspresi heran Lyra.


"Kamu lihat wajah gadis tadi, aneh enggak sih. Gaun ungu, lipstik ungu hahaha norak banget," ujar Siska mengudang Marta ikut tersenyum.


"Kamu ini bisanya mengejek terus ya," jawab Lyra.


"Biarin, orang kayak gitu mah memang enaknya diberi pelajaran, iya enggak Tante." Menatap riang ke arah Marta.


"Kamu ini ada-ada saja Sis. Dimakan dulu tuh makanan kamu baru bicara yang jelas," jawab Marta menatap geli ke arah Siska.


"Sebenarnya apa yang terjadi, mama merasa anak gadis Mr.Rudolf itu tidak suka sama kamu?" tanya Marta dengan lembut.


"Itu Ma, kemarin 'kan dia mengadakan pesta ulang tahun yang sangat mewah jadi Reyhan membawa Lyra ikut hadir di sana. Singkat cerita putri mr.Rudolf itu ternyata jatuh hati padanya dan berusaha menjauhkan Lyra dari Reyhan. Salah satunya mengajak Reyhan berdansa. Ya, Lyra larang dong jadi mungkin dia masih kesal kali sama Lyra."


Mendengar sepenggal cerita kemarin cukup membuat Marta terkekeh, ia tidak tahu sosok Lyra benar-benar polos membuatnya semakin menyukai menantunya itu.


"Sayang, akan lebih banyak lagi wanita lain yang akan mengincar Reyhan. Bukan hanya karena fisiknya yang rupawan tapi tahta yang ia miliki sangat berpengaruh besar. Jadi, mama mohon Lyra harus tetap berada di sampingnya, meskipun mama yakin Reyhan sangat mencintaimu tapi dia tetaplah seorang manusia biasa. Yang kita tidak bisa menebak kapan goyahnya." Menyentuh jemari Lyra dengan lembut.


"Iya Ma, Lyra mengerti. Lyra akan menjaganya dengan ketat." Tersenyum kepada Marta.


"Ehm, sebentar lagi aku akan menikah," ujar Siska tiba-tiba.


"Apa?" Kedua mata Lyra dan Marta membulat seketika membuat Siska terkekeh, terharu akan kekompakan mertua dan menantu itu.


"Serius kamu?" tanya Lyra.


"Iya, mungkin minggu ini. Karena Redro merasa tidak nyaman dengan status kami, apalagi kami tinggal serumah 'kan ganggu banget. Jadi ya, dia bilang mau menikah modal KUA pun jadilah yang penting sah. Masalah resepsi itu bisa diadakan kapan saja," jelas Siska.


"Ah, akhirnya kamu akan menjadi nyonya Aldwin. Senangnya!" Bangkit dari duduknya dan memeluk Siska dari belakang.


"Tapi, apakah Redro akan berniat meninggalkan Reyhan. Kalau itu terjadi, dia pasti sangat sedih." Menatap sendu pada Siska membuat Lyra menjauhkan diri darinya.


"Enggak kok Tante, Redro bilang ia tetap saja akan menjadi orang belakang Reyhan. Dia sangat menyayangi bocah ajaib itu." Tersenyum pada Marta.


"Benarkah? Apa Redro tidak memfokuskan diri denganmu," tanya Lyra.


"Enggak gitu juga, di lain sisi Redro sudah menganggap Reyhan sebagai adik kecilnya dan di sisi lain juga kamu sahabatku jadi kami pikir ada baiknya jika kita bersama-sama selamanya, bukankah begitu Tante?" Marta tersenyum dengan perkataan Siska yang terdengar bijak barusan.


"Ah Siska, aku terharu ini. Kamu harus tanggung jawab." Memeluk Siska kembali.


"Kamunya saja yang cengeng hahaha." Mereka pun terkekeh.


***


Reyhan menatap kosong ke arah jendela luar ruangannya itu. Tampak begitu indah, tapi bukan itu yang sedang ia pikirkan sekarang. Redro dan Lyra, ya nama dua orang ini seperti sedang menginjak-injak kepalanya hingga merasa pusing tidak menentu. Yang satu akan resign dan yang satu tidak ada kabar.


"Benar-benar hari yang sempurna." Tersenyum sinis, berusaha menahan amarah yang sangat ingin ia lampiaskan. Akan tetapi kepada siapa?


Tok! Tok! Tok!


Tampak Vica berjalan sambil membawa berkas.


"Saya sudah berusaha mencari Redro, akan tetapi saya tidak melihatnya. Ini hasil bahan desain kami. Tuan bisa melihatnya sendiri," ujar Vica lalu berjalan berbalik hendak keluar.


"Maaf. Apakah kau ada waktu? Setelah pulang kerja aku ingin bicara padamu," ujar Reyhan membuat langkah Vica berhenti.


"Apa?"



__ADS_1


__ADS_2