MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Bertemu Seseorang.....


__ADS_3

"Pinggang istriku nyeri, tadi malam dia jatuh di kamar mandi. Itu salahku sih karena mengagetkannya, apa diantara bibi berdua ada yang bisa memijat?" tanya Reyhan.


"Bik Sum Den, ia sangat lihai dalam hal memijat," jawab salah satu dari mereka.


"Baiklah tolong panggilkan bik Sum ya." Tersenyum sambil mengaduk-aduk buburnya.


"Baik Den, kalau begitu kami permisi dulu." Menunduk lalu perlahan berjalan keluar.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Hahaha, ternyata karena jatuh dari kamar mandi toh, kita sudah salah paham nih," ujar bibi.


"Iya, eh itu bik Sum. Bik den Reyhan minta tolong pijitin nona Lyra, pinggangnya nyeri karena jatuh di kamar mandi." Menjelaskan tentang sakit pinggang Lyra kepada bik Sum.


"Dan itu juga sudah membuat kalian salah paham iya kan? Lain kali jangan langsung berpikiran kotor," ujar bik Sum.


"Oke deh Bik, kami ke kamar dulu ya lumayan pegal juga nih, karena pesta kemarin tamu nggak berhenti-hentinya datang." Menggerakkan pelan tubuhnya.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Tok! Tok!


"Eh Redro, ada apa kemari?" tanya Siska setelah membuka pintu.


"Tidak, hanya berkunjung saja, apa kamu senggang?" Masuk ke dalam rumah berjalan mengikuti Siska dari belakang.


"Apa Lyra yang menyuruhmu datang kemari?" tanya Siska.


"Tidak, ini kemauanku sendiri kamu kan pacarku. Sudah sepantasnya aku mendatangimu." Menyangkal perkataan Siska.


"Hanya sebatas pacar belum bisa disebut pantas juga. Tetapi kalau sudah menikah baru wajib," sindir Siska sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Menikah? Apa kamu baru saja menyinggung pernikahan?" tanya Redro.


"Ah sudahlah lupakan saja, aku sedang tidak-"


"Jika aku mengajakmu menikah, apa kamu bersedia? Maaf, aku sengaja tidak menceritakannya padamu, saat den Reyhan sedang memilihkan cincin untuk nona Lyra. Ada 1 cincin yang menarik perhatianku. Dia sebuah cincin berlian berwarna biru namanya fatamorgana galaksi," ujar Redro memotong perkataan Siska.


"Berlian? Kamu membelikannya untukku?" Memelotot tak percaya dengan yang ia dengar.


"Iya, tapi...."

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Aku tidak membawanya," jawab Redro.


"Hah, leganya aku tidak apa-apa kok Beb, lain kali saja ngasihnya." Tersenyum senang.


Cincin berlian? Aku kira cuma Lyra saja yang hidup bak di negeri dongeng ternyata aku juga ikutan, bersyukurnya aku hidup di abad ini. Batin Siska.


"Siska, aku ingin menceritakan sepenggal kehidupanku, apa kamu bersedia mendengarnya?" tanya Redro, dengan wajah serius.


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku mau, mendengarkan cerita orang termasuk salah satu hobi ku tahu. Jangan kamu kira perempuan itu sukanya gosip saja," jawab Siska sambil memeluk bantal mini.


"Aku tidak tahu siapa orang tuaku, apakah mereka masih hidup ataukah sudah tiada, aku hidup sebatang kara, apa kamu ingat Desa Margamulya? Tempat nona Lyra yang disekap oleh Fero," tanya Redro pelan.


"Iya, tentu saja itu pertama kalinya Lyra diculik dan itu pertama kalinya kita bertemu." Memandangi wajah tampan Redro.


"Ditempat itulah pertama kalinya aku berjumpa den Reyhan, bisa dibilang hari itu adalah hari kelahiranku sebagai Redro Aldwin," pungkas Redro sambil menunduk.


"Hah? Maksud kamu? Aku nggak ngerti." Mengerutkan dahinya merasa bingung.


"Dulu, aku hanyalah seorang bocah tanpa nama aku tidak pernah bicara pada siapapun hingga aku bertemu dengan den Reyhan. Senyum sinisnya serta tatapan tajamnya membuatku yakin akan merasa aman jika hidup di bawah naungannya." Terus menjelaskan kisahnya.


"Harusnya, Reyhan yang merasa aman karena kamu pengawalnya pastilah jauh lebih jago dari dia apalagi tubuhmu ini." Menyentuh bahu kiri Redro.


"Ada ya manusia seperti itu?" tanya Siska tidak percaya.


"Dialah orangnya," jawab Redro.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Nyeri nona Lyra sih biasa saja tapi kok sampai biru begini ya? Seperti habis ditonjok," ujar bik Sum keheranan melihat bekas memar pada pinggang Lyra.


Pernyataan yang dilontarkan bik Sum membuat kedua mata Lyra spontan menatap tajam ke arah Reyhan yang sedang duduk di atas kursi.


"Jangan menatapku seperti itu, itu sangat menakutkan," ujar Reyhan.


"Kamu lebih menakutkan sudah membuatku seperti ini ditambah lagi pijatanmu yang mematikan tadi pagi. Reyhan kamu sangat keterlaluan." Menatap tajam.


"Baiklah sudah selesai, untuk selanjutnya jangan banyak bergerak dulu perbanyak minum air putih agar peredaran darahnya lancar," ujar bik Sum pelan.


"Baik, terima kasih Bik," jawab Lyra.

__ADS_1


"Permisi Non, Den." Mengangguk lalu keluar.


Lyra yang setengah telanjang karena seluruh tubuhnya dipijat pun mulai merasa risih ditambah lagi Reyhan yang selalu menatapnya tanpa berkedip.


Dia menatapku seperti orang yang tak pernah melihat manusia, tolong dong matanya dikondisikan. Batin Lyra.


Reyhan pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Lyra yang hendak memakai pakaiannya.


"Ada apa?" tanya Lyra yang terkejut setelah tangan Reyhan merayap ke punggungnya.


"Jangan salah paham, aku hanya ingin membantumu saja meski aku sangat ingin melakukannya. Tetapi aku tidak akan menyentuh orang sakit." Membantu Lyra membalikkan tubuhnya yang semula tengkurap.


"Tapi kalau aku ingin bagaimana?" tanya Lyra bermaksud menggoda Reyhan.


"Aku tetap akan menolaknya. Cukup sudah kejadian tadi malam yang penuh drama," jawab Reyhan sambil mengalihkan pandangannya.


Lyra tersenyum melihat tingkah Reyhan yang memasang wajah polos tersebut. Lyra menepuk tempat tidur yang di sebelahnya bermaksud untuk menyuruh Reyhan duduk disitu. Dan benar saja Reyhan yang mengerti langsung duduk, dengan cepat Lyra menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Reyhan.


"Maaf ya malam kemarin benar-benar sakit jadi kita tidak sampai menuntaskannya hingga selesai," kata Lyra yang tidak kalah polosnya.


Apa dia sedang mengejekku? Aku akui tadi malam sangat terasa begitu menggairahkan. Batin Reyhan.


"Oh ya aku ingin mengenalkanmu pada seseorang, apa kamu mau?" tanya Reyhan bersungguh-sungguh.


"Hmmm, cewek atau cowok?" tanya Lyra tanpa menjawab langsung pertanyaan Reyhan.


"Pria, kamu mau apa nggak?" tanya Reyhan lagi.


"Apa kamu tidak takut cemburu secara gitu kamu-"


"Tidak akan, karena dia sudah tiada," jawab Reyhan sendu.


Mengerti akan tatapan Reyhan yang benar-benar sedih, Lyra hanya menebak siapa orang yang dimaksud Reyhan di dalam hati.


"Baiklah kapan kita akan menemuinya? Aku sudah tidak sabar, banyak yang ingin aku ceritakan padanya," tanya Lyra.


"Sekarang jika kamu bersedia, akan aku bawa kamu ke sana," jawab Reyhan.


"Baiklah, aku bersiap-siap dulu bertemu dengannya harus tampil berbeda bukan," ujar Lyra kemudian berjalan menuju lemari berisikan pakaian baru yang disiapkan oleh Marta untuknya.


"Kenapa aku merasa dia lebih spesial dihatimu dibandingkan aku?" tanya Reyhan mendekati Lyra yang sedang mengacak-acak lemari.

__ADS_1


Lihatlah pada seseorang yang sudah tiada pun kamu cemburu, jawabanmu yang tadi ternyata hanya hoaks belaka. Batin Lyra berpura-pura tidak mendengar perkataan Reyhan yang berada di sampingnya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2