MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-SAH....


__ADS_3

Di sebuah gedung mewah tempat acara pernikahan Reyhan dan Lyra diselenggarakan. Para tamu dibuat takjub begitu mereka melangkahkan kaki ke dalam gedung tersebut. Akan tetapi, kedua mempelai tak kunjung terlihat karena menjalankan momen akad nikah terlebih dahulu. Untuk memanfaatkan waktu yang ada sebagian tamu tak lupa mengabadikan potret diri mereka, ada sebagian yang membuat vlog dan sebagian melakukan siaran langsung menikmati setiap detail gedung yang interiornya berdesain Eropa.


DI SISI LAIN...


"Lu gugup nggak Rey?" tanya Erick memperhatikan Reyhan yang memakai setelan kemeja berwarna putih susu dengan serius.


"Gugup pasti ada Rick, tetapi bukan itu yang aku khawatirkan sekarang." Memasang wajah yang gundah dan gelisah.


"Khawatir kenapa lagi sih Rey? Bukannya impian yang lu idam-idamkan sudah tercapai, perempuan pujaan lu sebentar lagi akan menjadi milik lu selamanya. Jadi, jangan banyak cincong lagi deh hidup lu sudah sangat sempurna dibandingkan gua yang belum ada apa-apanya." Mengerutkan dahinya merasa kesal dengan ucapan Reyhan.


"Aku bingung untuk melakukan itu (hubungan suami-istri)?" Sedang berpikir keras.


"Hmmm, masalah itu kan sudah selesai Rey. Jangan bilang kalau lu nggak nonton video yang gua kirim kemarin ke email lu." Menatap serius kepada Reyhan.


"Video? Video yang mana?" Menatap bingung.


"Itu lho Rey, gua ngirim video bokep ke email lu. Sudah gua duga lu nggak bakal mau nonton. Jadi, terserah lu lah mau gimana gua bantu malah lu sia-siain." Mulai ngambek.


"Email yang mana?" Manatap bertambah bingung.


"Email yang mana lagi, itu laptop lu yang berwarna silver kalau yang hitam kan pribadi lu Rey. Mana gua tahu lah."


"Oh laptop yang itu sudah seminggu ada pada Lyra," jawab Reyhan santai.


"What? Serius lu Rey, ja-jadi kak Lyra-"


"Kau tenang saja dia tidak akan menonton film kotor seperti itu." Menatap pada cermin, merapikan pakaiannya.


"Apanya yang nggak nonton, lu tahu nggak waktu kita lagi mengatur strategi untuk mencari kak Lyra. Pandangan kak Siska itu terlihat sangat tajam Rey dia kayak mau bunuh gua gitu, sekarang gua ngerti maksud pandangan itu. Rey mau ditaruh kemana muka gua ini!" teriak Erick, sambil menunjuk wajahnya.


"Itu salah kamu sendiri. Sudahlah jangan dipikirkan lagi, dan jangan menambah beban pikiranku dulu, sebentar lagi aku akan melakukan ijab kabul. Konsenterasiku harus ekstra," ujar Reyhan.


Erick duduk termangu, diambilnya jus orange pesanannya yang sedari tadi belum diminum sama sekali.


"Lu benar Rey, bodo amatlah lagipula mereka jauh lebih dewasa daripada kita. Sudah sepantasnya mereka nonton itu, yang gua khawatirin itu lu bro. Gua takut kak Lyra nggak akan bertahan lama hidup dengan lu." Menepuk pundak Reyhan.


"Apa?"


"Permisi, Den pak penghulunya akan segera datang, Aden disuruh untuk keluar terlebih dahulu," ujar Redro yang tiba-tiba datang.


"Baiklah aku akan segera keluar," jawab Reyhan.


"Hei Redro, kapan lu dan kak Siska menikah jangan lama-lama kasihan kak Siskanya," ejek Erick.


"Den Erick masih jomblo Den?" Tersenyum membalas ejekan Erick.

__ADS_1


"Redro lu ini-"


"Erick tadi aku bilang apa?" Tatapan tajam Reyhan membungkam mulut Erick.


"Iya-iya ayo kita keluar." Erick yang tadinya tampak kesal seketika berubah menjadi seperti anak kucing yang imut.


***


"Neng cantik amat jadi kepengin nikah juga." Menyentuh lembut selendang yang menutupi kepala Lyra.


"Menikahlah Sis, nggak ada yang larang juga kan. Mengingat usia kalian yang sekarang memang sudah pantas," sahut tante Lyra, sambil membantu merapikan kebaya yang Lyra pakai.


"Eh iya sih Tante, tapi si kawan sampai sekarang belum pernah menyinggung hal itu sih. Hahaha beda dengan Reyhan yang selalu ngajak setiap hari ya nggak, Ra," jawab Siska malu.


"Nah, apalagi sudah ada jodohnya tunggu apa lagi atuh. Zaman sekarang nggak harus cowok yang ajak duluan cewek mah boleh Sis," ujar tante.


"Iya sih Tante tapi aku gengsilah masa aku yang ajak kan nggak lucu. Aku itu kayak cewek yang kegatalan gitu ntar dia mikir lagi kalau aku perempuan yang ga bener." Bercermin merapikan riasannya.


"Siska, kalau dia sayang sama kamu pasti dia akan berpikir untuk menikahi kamu secepatnya. Usia 25 tahun itu memang sudah seharusnya menikah, apa perlu tante yang menanyakan padanya langsung? Katakan pada tante siapa orangnya?" Mengusap rambut Siska.


Siska, kamu nggak tahu kalau Redro juga akan segera meminangmu. Aku jadi penasaran melihat wajah girangmu begitu melihat cincin mahal yang Redro belikan. Sebenarnya aku juga mau cincin yang itu sih tapi warna putih lebih menggoda kesannya terlihat lebih elegan. Batin Lyra, tersenyum mengingat cincin yang akan dipakaikan Reyhan di jemarinya nanti.


"Permisi, Lyra putriku sudah selesai sayang? Pak penghulunya sudah di depan lho." Marta dengan gelagat yang sedikit centil memeluk pelan calon menantunya itu.


"Ah nggak apa-apa Jeng, sudah seharusnya tamu diperlakukan ramah seperti itu. Sekarang mah jarang dapat tetangga ramah kayak Jeng ini. Kemarin tetangga saya anaknya menikah eh wajah kedua orang tuanya dari awal kecut mulu. Siapa pun nggak ada yang betah belum selesai ijab kabul orang sudah pada pulang lho Jeng." Memelotot dan bicara serius.


"Ih Mama, akad sudah mau dimulai sempat-sempatnya menggosip kasihan tuh kak Lyra nya. Sudah lelah dari tadi diam mulu di depan cermin," ujar Vanes menatap kesal pada mamanya.


"Eh hahaha iya mama terbawa suasana Nak, sudah lama nggak pernah mengobrol. Lyra ayo sayang biar kami iringi keluar." Tertawa malu, lalu menarik Lyra dengan pelan di sebelah kanan Marta dan sebelah kiri tantenya lalu diikuti oleh Vanes dan Siska dari belakang.


Tante dan tante Marta kenapa terlihat sangat dekat sekali, mereka begitu akrab dan seperti sudah kenal lama. Batin Lyra sambil tersenyum dan diselingi rasa bingung.


Di luar tepatnya di ruang tengah telah dihadiri banyak tamu yang entah dari mana asalnya. Sebagian tampak menatap tajam lalu berbisik dan sebagian tersenyum senang. Di tempat duduk paling depan tampak Reyhan yang sedang duduk memunggungi para tetamu dan menanti Lyra sang calon istri yang sedang berjalan ke arahnya.


Dengan pelan, tante dan Marta menuntun Lyra untuk duduk di sebelah Reyhan lalu memakaikan selendang putih sutra di atas kepala mereka. Di samping Lyra, tampak paman yang sangat dicintainya. Sedangkan di samping kanan Reyhan terlihat pak Mat dengan wajah yang sudah keriput dan rambut memutih. Serta Redro yang tetap setia pada setelan jas yang selalu terbalut rapi di tubuhnya.


"Bagaimana semua apa bisa kita mulai sekarang?" tanya bapak penghulu.


"Iya monggo Pak," jawab para tamu serempak.


"Nak Reyhan bagaimana bisa dimulai sekarang?" tanya pak penghulu lembut.


"Iya Pak." Sambil tersenyum dan mengangguk pelan.


"Baiklah Bismillahirrohmanirrohim saya nikahkan dan kawin kan engkau. Saudara Reyhan Almirza bin almarhum Reygan Almirza dengan ananda Lyra Nayra binti almarhum Mustafa Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan cincin putih murni dibayar tunai." Saling mengulur tangan dengan Reyhan.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya Lyra Nayra binti almarhum Mustafa Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dengan suara lantang Reyhan memantapkan diri untuk menyebutkan nama kekasihnya itu beserta nama almarhum calon mertuanya.


"Bagaimana saksi-saksi sah." Melepaskan uluran tangan Reyhan.


"Sah." Menghela napas yang tadi tertahan, para tamu dengan serempak menyatakan kalimat yang berarti bahwa Reyhan dan Lyra sudah terikat hubungan yang halal.


"Alhamdulillahirrobbil Alamin." Pak penghulu beserta para tamu yang lainnya mengusap wajah mengucap syukur akan sahnya kedua mempelai menjadi hubungan suami-istri.


"Nak tunggu apa lagi, salam nak Reyhan dia sudah sah menjadi suamimu," ujar paman Lyra dengan suara yang sendu serta air mata haru yang sudah mengalir di pelupuk matanya.


Lyra yang sedari tadi tertunduk lama pun mengangkat kepalanya ditatapnya Reyhan yang berada di sampingnya, mereka cukup lama saling bertatapan terlihat seperti saling melempar tanya.


"Ehmm." Terdengar suara Siska yang membuat kedua mempelai tersebut tersadar dari keheningan yang diciptakan oleh pandangan mata yang sedang beradu tadi.


Lyra meraih tangan Reyhan lalu menciumnya. Ya hal ini belum pernah ia lakukan sebelumnya selama mereka masih berstatus pacaran. Reyhan mengusap kepala Lyra dengan lembut. Dia memang sudah sering melakukannya namun kali ini terasa sangat berbeda karena status Lyra sudah menjadi istrinya, pendamping hidupnya kini.


Semua orang bertepuk tangan tak sedikit dari mereka yang terbawa perasaan apalagi mengingat sosok Reyhan yang terkenal tampan dan kaya raya. Hanya saja mereka belum tahu sisi lain Reyhan yang tidak bisa dipandang remeh.


Sedikit demi sedikit pergelaran acara akad segera selesai dimulai dari bertukar pemasangan cincin, berdoa, sungkeman kepada kedua orang tua yang diiringi oleh kalimat-kalimat yang siapapun mendengarnya pasti akan menitikan air mata. Lalu bersalaman dengan para tamu yang sudah bersedia datang ke acara tersebut, tidak lupa mereka dimanjakan dengan makanan mewah nan melimpah.


Rumah Reyhan memang terletak cukup jauh dari rumah masyarakat lainnya. Itu dikarenakan rumah Reyhan memang memiliki keluasan yang sangat berbeda dengan rumah lainnya belum lagi halaman belakangnya yang memiliki 4 kolam yang berbeda kedalamannya, serta 1 kolam buaya yang terpisah jauh ke belakang.


Meskipun begitu image Reyhan tidak akan pernah luntur karena para pengawal Reyhan yang secara suka rela akan terjun ke lapangan jika dilakukan gotong royong atau kegiatan lainnya. Ya, meskipun Reyhan sendiri tidak pernah turun tangan langsung karena mereka pikir dengan usia Reyhan itu memang sudah seharusnya disibukkan dengan masa belajar keras.


"Baiklah semua, saya selaku MC akan mengambil alih pembicaraan ya dan untuk acara selanjutnya akan diadakan di gedung A di bagian Jakarta Utara. Bagi siapapun yang ke sana dengan segala hormat kami persilahkan untuk datang, jadi tentukan pilihan kalian ya." Suara seorang MC yang lumayan terkenal pun membuat para tetamu semakin senang.


"Lyra, ayo kita menuju ke sana." Siska menyentuh lembut pundak Lyra.


"Kenapa dia tidak bersamaku?" tanya Reyhan terlihat bingung.


"Kak Reyhan, ini cuma sebentar saja kok. Nanti juga ketemu saat kak Lyra sudah berganti pakaian dan riasan," timpal Vanes sambil tersenyum.


"Apa? Memangnya ada peraturan seperti itu." Memelotot gusar.


"Sudahlah Rey, jangan buat kegaduhan yang tidak penting," ujar Lyra, lalu tersenyum menatap Reyhan.


"Tapi, aku-"


"Aku pergi dulu ya." Berjalan pelan bersama Siska dan Vanes.


Reyhan hanya bisa menatap kesal pada kepergian Lyra yang memilih pergi dengan Siska dan Vanes.


BERSAMBUNG...


__ADS_1


__ADS_2