MY BERONDONG

MY BERONDONG
REYHAN VS REDRO


__ADS_3

Lyra membuka paksa matanya ketika sinar mentari berhasil masuk dan mengenai tepat di wajahnya. Wanita itu menguap sangat panjang. Di atas nakas, segelas air hangat dan secarik kertas menarik perhatiannya.


Selamat pagi sayang, aku dan Redro ada di ruang kerja. Jangan terlalu merindukanku. Aku mencintaimu.


Lyra tersenyum, segera ia menegak air hangat itu hingga tandas. "Papamu memang paling mengerti kita ya Nak!" Mengelus lembut perutnya.


Ia pun bangkit, ke luar kamar sembari membawa gelas yang telah kosong itu ke lantai bawah. Di bawah terdengar para bibik yang tengah sibuk pada pekerjaannya masing-masing.


Langkah Lyra sejenak terhenti, mendaki suara yang sangat akrab sekaligus sangat ia rindukan. Segera, ia percepat langkahnya kemudian ia pun berlari kecil ketika memijakkan kakinya ke lantai satu.


"Siska," panggil Lyra.


Benar, suara yang ia dengar itu adalah suara Siska.


"Eh, rindu ya... Sampai sebegitunya," ujar Siska sembari memeluk Lyra.


Lyra tersenyum, kedua matanya tengah berbinar-binar menunjukkan kebahagiaannya sekarang.


"Padahal rumah kita masih berada di tanah yang sama kan tinggal telepon bisa jumpa,"ujar Siska.


Lyra tergelak tawanya, "ayo! Aku ingin menunjukkan sesuatu." Menarik Siska ke lantai atas. tepatnya ke kamar tidurnya.


Kedua mata Siska memelotot seolah-seolah bertanya sekaligus penasaran.


Siska duduk di kursi ketika mereka sudah berada di dalam kamar sementara itu, Lyra mengambil sesuatu dari lacinya lalu menyembunyikan di belakangnya.


"Tutup mata dong," ujar Lyra.


Siska terlihat menyelidik serta menebak-nebak benda yang Lyra sembunyikan itu.


"Ah... Aku nyerah deh, kamu tahu kan aku nggak terlalu pintar dan benci menebak begini," ujar Siska.


"Ye... nggak seru, ih!" Mengambil tangan Siska lalu memberikan benda tersebut.


Awalnya Siska tidak mengerti benda apa yang di tangannya itu. Ia mengerutkan dahi, tapi tetap tidak tahu. "Pregnant? Siapa yang hamil?" tanyanya, benar-benar tidak mengerti.


Lyra mendesah, Siska mana pernah lihat benda itu. Akan tetapi, masa iya zaman sekarang Siska tidak pernah melihatnya? Bukankah, dia hobby menonton sinetron?


"Siska, dia di sini?" Mengelus perutnya.


"Dia? Eh, siapa? Bayi, eh Lyra kamu hamil?" Siska sudah tidak bisa menyusun kalimatnya begitu berhasil menebak benda itu.


Lyra mengangguk, dan tiba-tiba kamar itu dipenuhi suara jeritan Siska yang menggema. Mereka pun berpelukan, Siska menangis haru begitu tahu statusnya yang kini menjadi seorang tante.


"Sudah jangan menangis lagi, ntar pilek lho. Kasihan Redro, kerjaannya bertambah." Mengusap bulir air mata Siska.


Siska menyentuh perut Lyra, lalu mengusapnya dengan lembut.


"Sekarang, usianya sudah 7 minggu." Lyra tersenyum, begitu juga dengan Siska.


Lyra melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. "Turun yuk! Kasihan para bibik menunggu kita untuk sarapan pagi."


Siska tersenyum, ia pun melangkah mengikuti Lyra. "Nyonya yang baik."


Lyra menoleh, "aku hanya pendatang, bukan nyonya sungguhan."

__ADS_1


Siska terkekeh, "selalu saja merendahkan diri." Kali ini, Lyra tidak membalas ocehan Siska.


"Nak, ketika kamu lahir nanti aku akan menceritakan kisah si gadis yang baik hati dan pangeran berkuda putih yang tampan. Aku sudah menulis kisah itu, tinggal menunggu kamu lahir, aku akan menceritakannya." Siska pun berjalan ke luar melewati Lyra.


Klak!


Siska dan Lyra terkejut melihat Redro dan Reyhan yang berada di seberang sana. Mereka sama-sama baru ke luar juga dari ruang kerja.


Reyhan berjalan menghampiri Lyra, setiap langkahnya menciptakan degupan di jantung Lyra.


"Kenapa nggak langsung turun saja? Kami kan juga cepat menyusul," tanya Lyra.


Reyhan tersenyum, ia menatap Redro yang masih berdiam diri di sana. kedua matanya, bergerak seolah memberi tahu untuk memanggil Siska. Akan tetapi, Redro tidak menggubris dia memilih tetap diam.


"Ayo." Reyhan menggenggam tangan Lyra kemudian melangkah lalu menuruni tangga. Tak sekalipun Reyhan melepaskan tangan istrinya itu.


Nak, putri baik hati dan pangeran berkuda putih itu yang tante tulis itu adalah kedua orang tuamu. Siska membatin, ia pun menatap Redro yang menggandengnya. Mereka saling melemparkan senyuman sembari ikut menuruni tangga.


"Wah! Dua pasangan yang enak dipandang ya," ujar Aty.


Bik Sum tersenyum, Den Reyhan tak henti-hentinya aku bersyukur bisa melayanimu hingga masa tuaku ini. Dari dulu hingga sekarang, tak pernah sekalipun aku tidak bangga padamu. Kamu sungguh membuatku enggan meninggalkan dunia ini. Rasanya, tidak ikhlas, namun melihat Neng Lyra di sampingmu aku merasa lega. Bik Sum membatin.


Kedua pasangan itu pun memulai sarapan mereka. Akan tetapi, entah kenapa Lyra ingin memakan roti dengan olesan cokelat yang banyak.


"Maaf, Bibi apa ada roti dengan cokelat? Saya tidak tahu kenapa pagi ini saya nggak selera makan nasi," tanya Lyra.


"Ada, Non sebentar saya ambil dulu." Bik Aty berjalan menuju kulkas.


Siska menatap Lyra, "cie-cie ngidam nie...."


Wanita itu menggelengkan kepalanya, "ini bawaan bayi nya jadi tidak apa-apa."


"Nona Lyra persis banget persis banget dengan nyonya Marta waktu hamil Den Reyhan. Benar kan Bik Sum, waktu itu Bik Sum pernah cerita. Nyonya Marta suka banget makan cokelat. Pokoknya sama yang manis-manis deh makanya, Den Reyhan tampan sekaligus manis! Ups, maafkan saya," ujar Bik Sumi yang menutup mulutnya karena telah banyak bicara .


Lyra dan Siska terkekeh melihat tingkah Bik Sumi yang lucu.


Akan tetapi, saat Bik Aty membuka kulkas tiba-tiba...


"Hoek....!" Lyra dan Reyhan merasakan mual sekaligus pusing. Keduanya hampir muntah.


"Eh, morning sick!" Bik Maya berseru sembari menepuk tangannya.


Bik Aty terkejut, ia pun berkali-kali membuka tutup kulkas. Baik Lyra dan Reyhan mereka mual hingga keempat kalinya.


"Hentikan!" teriak Bik Sum membuat Bik Aty ketakutan dan segera menutup kulkas.


Kini, terdengar suara Reyhan dan Lyra tersengal-sengal. Redro segera bangkit, marah akan kejadian yang menimpa tuan mudanya itu. Akan tetapi, Lyra segera menghentikannya.


"Ayo semua makan, nanti makanannya dingin. Bik Aty apa coklatnya ada?" Lyra mencoba mencairkan suasana yang tadinya tegang.


"Eh i, iya ini ada Non," jawab Bik Aty sedikit salah tingkah, merasa bersalah.


"Terima kasih Bik," ucap Lyra sembari tersenyum.


"Maafkan saya Nona." Raut wajah Bik Aty menunjukkan rasa penyesalan yang dalam.

__ADS_1


Lyra tersenyum, "nggak apa-apa malah seru kok. Itu berarti, saya dan Den Reyhan itu berjodoh, iya kan Redro," jawab Lyra sembari melirik Redro.


Redro mengangguk lalu tak sengaja menangkap sorot mata Reyhan yang tajam.


"Wah, ini enak banget Beb cobain deh." Siska ikut menimpali, ia memasukkan sepotong ayam goreng ke mulut Redro, sadar akan tatapan Reyhan yang cemburu karena Lyra menyebut nama Redro.


Sarapan pagi itu pun berlangsung canggung.


***


Di dalam mobil, sesekali Pak Mat melirik Reyhan yang duduk di belakang dengan wajah kusut begitu juga Redro yang enggan mengeluarkan suara dan sibuk memainkan ponselnya.


"Apa sama sekali tidak ada kabar dengan cecunguk itu?" tanya Reyhan yang tiba-tiba mengeluarkan suara.


"Tidak Den, dia-"


"Bagaimana kau bekerja? Apa hanya sebatas ini? Aku membesarkanmu bukan untuk ini? Kau terlalu santai." Perkataan sinis yang Reyhan lontarkan benar-benar seperti ditusuk-tusuk berulang kali.


Apa yang telah Redro lakukan kali ini? Hanya ada satu, sudah pasti menyangkut dengan Neng Lyra.


"Apa kau menceritakan sesuatu tentang masalah ini pada Siska?" Terdengar lagi suara Reyhan, entah perkataan kasar apa lagi yang akan dilontarkannya. Yang pasti, dia akan meruntuhkan Redro.


"Tidak Den," jawab Redro singkat. Ia tahu, bukan saatnya untuk berbicara lebih banyak, cukup sekenanya saja.


Tring!


Sebuah pesan mendarat ke ponsel Reyhan.


Sayang, jangan menyalahkan Redro ya. Dia nggak salah.


Apa ini? Kenapa malah membelanya?


"Bisa-bisanya sudah setahun tidak ada kabar. Apa yang dikerjakan para anak buah itu sih? Aku memang terlalu baik ya!" Lagi-lagi Reyhan mengeluarkan kalimat sinisnya.


"Baik Den nanti-"


Tring!


Papa, jangan marah lagi ya? Mama sayang Papa.


Melihat pesan dari Lyra mendadak wajah Reyhan bersemu merah. Lelaki itu luar biasa salah tingkahnya.


Tiba-tiba tanpa sadar, lelaki itu tergelak kuat, memenuhi mobil bahkan menjadi tontonan para kendaraan lain yang melintas, untung saja sosok yang tertawa kuat itu tak terlihat.


"Ada apa dengan Den Reyhan?" bisik pak Mat kebingungan. Pasalnya baru kali ini dia melihat sang tuan muda tertawa selebar itu.


"Hanya ada satu orang saja yang membuat dia menggila. Tak perlu saya beritahu, Bapak sendiri pasti tahu," jawab Redro, sembari bersantai dengan ponselnya.


Sementara di seberang sana...


"Gimana, Ra?" Terlihat wajah Siska yang memohon semoga suami sahabatnya itu tidak mencecar suaminya dengan kalimat kasar.


Aku sudah merayunya dengan semampuku. Sepertinya, sudah nggak apa-apa kan?


Lyra tersenyum, menepuk pundak Siska memberi kode untuk tidak lagi panik. Semarah-marahnya Reyhan, dia sudah menganggap Redro sebagai saudaranya. Dia tahu batasannya.

__ADS_1


__ADS_2