
Pagi pun tiba, Reyhan terbangun dari mimpi indahnya, dengan pelan ia menggerakkan tangannya meraba sosok istri yang tidur bersamanya. Akan tetapi tubuh mungil tersebut tak kunjung tersentuh tangan Reyhan.
Reyhan pun bangkit mata yang masih menyipit karena pusing di kepalanya masih tersisa akibat tidur lelapnya tadi malam.
"Mungkin dia sedang menyiapkan sarapan, sebaiknya aku mandi dulu." Beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa menit lamanya Reyhan pun keluar dari kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin sambil menyentuh lembut rambutnya.
"Bola mata yang super hitam, hidung mancung dan bibirku lumayan cukup menggoda. Setiap aku bertemu dengan para wanita mereka selalu menoleh kagum padaku. Akan tetapi, Lyra tidak seperti mereka. Aku bahkan sempat ditolak pada pernyataan cinta yang pertama, meskipun akhirnya diterima tapi tetap saja itu cukup memalukan." Sambil menyemprotkan parfume paforitenya.
"Ah apa yang aku pikirkan. Apa karena ini efek Lyra datang bulan? Datang bulan kau musuhku sekarang! Ah sangat menyebalkan." Mengusap rambutnya dengan kasar.
Setelah memastikan memakai setelan jas dan penampilan yang rapi, Reyhan pun keluar dari kamar hendak menemui istri tercintanya.
"Sepertinya di dapur ada orang lain selain Lyra." Berjalan menuju dapur.
"Suprise!" Dan benar saja Reyhan didatangi tamu yang tak diundang. Disana tampak Erick, Siska dan Redro.
"Pagi Den, jadwal hari ini ada rapat penting pukul sembilan pagi dengan para amstaf desain," ujar Redro sambil menunduk.
"Hemmm, tadinya aku ingin menghubungi setelah sarapan. Tidak disangka kau malah sudah berada disini. Tanpa kabar apapun, perubahan sikapmu lumayan juga." Tatapan tajam Reyhan membuat Erick merinding melihatnya. Sementara itu, Redro hanya bisa menunduk dan tidak menjawab apapun.
"Rey, kamu melarang kami datang ya?" Siska yang tak terima pacarnya diperlakukan semena-mena pun angkat bicara.
"Sayang, kenapa kamu mengatakan hal kasar seperti itu di pagi hari?" Dengan wajah cemas Lyra berusaha membuat Reyhan setenang mungkin karena sifatnya mengubah suasana riang menjadi mencekam.
"Tidak, aku tida ada maksud seperti itu, aku hanya memperingatkan Redro untuk tidak terlalu sering bergaul dengan kecoa tengil itu." Melirik ke arah Erick. Mendengar jawaban Reyhan membuat Lyra dan Siska menghembuskan napas lega dan suasana kembali tenang.
"Hei gua bawa kak Lyra kemari, agar lu enggak kesepian. Ini ya balasannya." Erick yang tidak terima karena disalahkan pun protes.
"Aku tidak pernah menyuruhmu melakukannya. Dan lagipula aku tahu ini hanya taktikmu saja karena sebenarnya kaulah yang ingin datang kemari, iya kan?"
"Iya sih, tapi wajarlah namanya sahabat yang tidak pernah lagi bertemu tentulah gua kangen," jawab Erick tersipu malu.
"Kau mau sampai kapan terus menunduk, duduklah malu dilihat sama kak Siska." Menatap Redro.
"Beb, duduk. Sudah jangan takut ada aku," ujar Siska sambil menarik tangan Redro untuk duduk di dekatnya. Redro menuruti, ia pun duduk.
"Sayang duduklah! Hari ini aku sudah buatin sup ikan untukmu." Lyra menggeser sebuah kursi ke belakang mengisyaratkan agar Reyhan duduk di kursi tersebut.
"Sup ikan buatan Lyra memang enak banget dari dulu sampai sekarang enggak pernah berubah. Ah jadi ingat impian kita dulu Ra. buka rumah makan dengan menu utama sup ikan." Terkekeh.
"Iya, itu kamu sendiri yang punya ide. Eh tak tahunya sampai sekarang enggak kesampaian, hahaha," jawab Lyra sambil tertawa pelan.
"Tapi takdir malah berkata lain kamu justru menjadi Nona Almirza." Menatap dalam pada Lyra.
"Tapi, itu jauh lebih baik. Karena kamu enggak perlu repot-repot melayani banyak orang, cukup satu mahluk saja. Yaitu Reyhan hahaha!" seru Siska.
"Kak Lyra mau satu mangkuk lagi dong," ujar Erick sambil menyerahkan mangkuk sup yang ia pakai.
"Ya ampun Rick, kau sudah makan sup itu sebanyak tiga mangkuk lho. Kalau untuk kamu terus bisa-bisa Reyhan enggak kebagian." Memelotot pada Erick.
__ADS_1
"Enggak apa-apa kok aku bisa buatin lagi untuk Reyhan. Lagipula jarang-jarang kita berkumpul seperti ini, iya kan sayang." Menepuk pundak Reyhan dengan pelan seraya memberi semangkuk sup ikan berukuran sedang ke depan Reyhan. Ia tahu suami kecilnya tersebut sedang menahan emosi terhadap Erick.
"Hah, itu terserahmu saja. Yang penting tetap jaga kesehatanmu. Aku tidak mau kamu terlalu lelah melayani orang lain terutama Erick." Menatap tajam pada Erick.
"Aduh potek hati adek bang." Erick menyentuh bagian luar arah hatinya membuat Lyra dan Siska terkekeh.
Merekapun melanjutkan makan. Reyhan menyentuh pangkal paha Lyra dari bawah meja lalu mengelusnya sontak membuat gadis itu terkejut dan tersedak.
"Ada apa?" tanya Siska.
"Enggak, aku rasa tersedak karena merica." Menutup mulut dengan kesua tangannya.
"Minum dulu, padahal menurutku mericanya pas dan enggak begitu banyak juga," ujar Siska.
"Aku mau ke toilet sebentar kalian lanjutkanlah sarapannya," jawab Lyra lalu beranjak dari duduknya.
"Rey, mau kemana lu?" tanya Erick yang melihat Reyhan ikut bangkit dari duduknya.
"Aku mau mengambil dasi, apa kau mau ikut juga?" tanya Reyhan.
"Ah lu kira gua apaan?" Mengerutkan dahinya.
"Makanya berhenti bertanya konyol." Beranjak pergi.
"Busyet dah, gua teman dia kok nada bicaranya ke gua super jutek begitu sih. Redro gua salut sama lu yang tahan dengan tingkah majikan lu yang seperti itu," ujar Erick.
"Maaf Tuan Erick ada baiknya tidak membicarakan orang dari belakang terutama sahabat sendiri," jawab Redro sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
Lyra menepuk bagian luar jantungnya, berkali-kali batuk kecil keluar dari mulutnya.
Reyhan kenapa sih tangannya mesum seperti itu, padahal ada banyak orang lho. Dia masih remaja berusia delapan belas tahun tapi nafsunya sudah termasuk level atas. Batin Lyra lalu mencuci wajah serta menyikat giginya. Ia pun keluar.
"Lho kenapa kamu disini? Sarapannya-"
Belum selesai Lyra berbicara Reyhan menarik tangannya hingga terperojok di atas tempat tidur dan dengan cepat Reyhan mengunci tubuh Lyra dengan tubuhnya di atas. Mata mereka pun saling beradu pandangan. Reyhan mendekatkan bibirnya ke bibir Lyra dengan tempo lama. Lyra berusaha melepaskannya.
"Sayang, ada tamu diluar tidak baik kalau ditinggal," ujar Lyra.
"Tapi kamu sudah melayani mereka dengan cukup baik tapi kamu melupakan aku," jawab Reyhan sambil mengusap lembut rambut Lyra.
"Bukankah aku melayanimu setiap hari. Sayang kita jarang-jarang lho kedatangan tamu. Tolong dalam hal ini jangan cemburu ya dan jangan diperpanjang lagi. Oke!" Tersenyum manis melihat wajah Reyhan yang sudah mengeluarkan kerutan di dahinya.
"Baiklah! Aku akan mengalah tapi untuk hari ini saja. Lain hari nanti tidak boleh seperti ini." Bangkit dari tubuh Lyra.
Lyra memperhatikan Reyhan yang langsung beranjak ke lemari dan terus melotot pada laci.
"Kamu mencari apa?" tanya Lyra.
"Dasi." Jawaban singkat Reyhan membuat Lyra tersenyum gemas karena ia tahu lagi-lagi suami kecilnya itu mengambek.
Lyra pun berjalan mendekati Reyhan yang mengacak isi laci berukuran besar tersebut. Lalu Lyra mengambil sebuah dasi berwarna hitam bercorak garis-garis biru tua.
__ADS_1
"Ini cocok untuk Reyhan suami tampanku." Mengarahkan dasi tersebut ke depan wajah Reyhan.
Sial, ternyata aku benar-benar tidak bisa marah. Batin Reyhan.
"Kemarilah, akan aku pasangkan," ujar Lyra.
"Tidak, aku bisa sendiri." Menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa lebih baik melayani tamu diluar. Sayang aku pergi dulu ya." Mulai beranjak dari kamar.
"Tunggu, aku rasa aku mulai lupa cara pakai dasi," ujar Reyhan.
Mau mengabaikan aku, Reyhan kamu memang suamiku yang menggemaskan. Batin Lyra sambil tersenyum.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Lyra sambil memasangkan dasi Reyhan.
"Aku merasa istriku kian hari bertambah cantik." Menundukkan punggungnya.
Lyra tersipu malu dengan jawaban Reyhan yang apa adanya itu.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Reyhan.
"Tentu saja, sayang." Merapikan dasi Reyhan dengan serius.
"Apakah kamu akan memperlakukan aku seperti ini bahkan jika kita sudah memiliki banyak anak nanti?" tanya Reyhan lagi.
"Aku tidak bisa janji tapi ingatlah bagaimanapun diriku kelak. Jangan pernah berpikir cintaku berubah hanya saja mungkin aku tidak selalu bisa menunjukkannya," jawab Lyra sambil membantu Reyhan memakai jasnya.
"Tapi tunggu dulu, barusan aku dengar kamu bilang banyak anak. Memangnya kamu berniat punya anak berapa?" tanya Lyra.
"Hemmm tadinya aku berpikir tiga saja sudah cukup. Tapi karena melihat wajahmu aku langsung berubah pikiran sepertinya delapan lebih tidak masalah karena aku seorang laki-laki yang cukup sehat begitu juga kamu, sayang." Senyuman nakal Reyhan sontak membuat Lyra tak mampu berkata-kata.
"Melahirkan satu saja belum mau minta delapan itupun lebih pula." Menggelengkan kepalanya.
"Kapan masa suburmu berakhir?" tanya Reyhan dengan pandangan serius.
"Memangnya kenapa?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja kita harus melakukan itu. Kan mau punya anak." Mendekatkan wajahnya ke wajah Lyra sambil terukir segaris senyuman di wajahnya.
"Kamu ini, sepertinya harus buru-buru ke kantor nanti kamu telat." Bicara terbata-bata, salah tingkah dengan sikap Reyhan.
"Bagiku tidak ada kata telat, karena aku bosnya." Tetap melukiskan segaris senyuman di wajahnya.
"Begitu aku memastikan masa suburmu selesai. Ingatlah setiap lima jam sekali aku akan menghajarmu." Mengelus bokong Lyra lalu beranjak keluar.
"Apa?"
BERSAMBUNG...
__ADS_1