
Reyhan sudah memakai setelan jas yang ia pesan kepada Redro. Ia memperhatikan detail pakaian yang sudah menutupi tubuhnya. Setelah memastikan semua rapi, ia pun keluar menuju ke ruang kerjanya yang hanya dipisahkan oleh pintu dengan kamar pribadinya.
Tok! Tok!
"Masuk!"
Vica pun masuk dengan berkas-berkas di tangannya.
"Permisi Tuan, ini berkas-berkas yang harus Tuan tanda tangan. Dan ini hasil pekerjaan kami yang Tuan perintahkan dua hari lalu." Meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja.
Reyhan menatap sekumpulan berkas yang di hadapannya, sedangkan Vica duduk sambil melipat kedua kaki jenjangnya. Kali ini ia memakai rok yang menunjukkan lekuk pahanya.
"Baik, tunggu waktu penentuannya besok. Semoga kau beruntung," ujar Reyhan sambil tersenyum.
Dia tersenyum, tidak salah aku memakai rok ini. Rey sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Batin Vica sambil tersenyum.
"Sudah saya tanda tangan. Tolong katakan pada Erika aku membutuhkan desain gaun yang indah untuk seseorang," ujar Reyhan.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu," jawab Vica sambil bangkit dari duduknya.
Ceklek!
"Sayang, apa kamu menyiapkan pakaian ganti untukku?" tanya Lyra dengan piyama serta rambut yang masih basah.
Langkah Vica terhenti, ia lalu menoleh ke sumber suara yang baru terdengar olehnya.
"Maaf, ada tamu ya. Maaf ganggu lanjutkan saja aku-
"Ini, baju gantinya. Apa perlu aku bantu memakaikannya," jawab Reyhan sambil tersenyum nakal.
"Sayang, kamu enggak tahu malu sama sekali," ujar Lyra lalu menutup pintunya setelah menerima pakaian yang diberikan Reyhan.
Vica masih berdiri tidak percaya apa yang ia lihat barusan. Reyhan berbicara lembut kepada perempuan lain bahkan sekamar.
"Kenapa belum pergi? Apa mau kenalan dengan istriku dulu ya?" tanya Reyhan.
"Ti-tidak! Saya permisi dulu." Vica pun beranjak pergi dari ruangan Reyhan.
Reyhan pun masuk ke dalam kamar, ia melihat Lyra sedang menyisir rambut panjangnya.
"Minta sisirnya, aku bantu merapikan rambutmu," ujar Reyhan.
"Tapi aku bisa sendiri," jawab Lyra.
"Sudah, jangan membantah." Merebut sisir tersebut dari tangan Lyra.
Reyhan pun membantu menyisir rambut Lyra dengan pelan, sesekali ia melirik ke cermin yang menunjukkan pantulan wajah istrinya.
"Yang tadi itu asisten kamu ya?" tanya Lyra.
"Memangnya kenapa?" tanya Reyhan balik.
"Cantik."
Reyhan tersenyum seolah mengerti bahwa istrinya itu sedang cemburu.
"Sudah selesai, kita keluar yuk," ajak Reyhan.
Lyra mengerutkan dahinya, ia merasa kesal.
"Asistenmu yang cantik tadi tidak diajak juga?" tanya Lyra.
"Aku bisa menghubunginya sekarang jika kamu mau," jawab Reyhan.
"Apa? Oke kamu makan bareng saja dengan dia. Aku mau pulang." Hendak beranjak keluar.
Dengan cepat Reyhan menahan tangannya lalu mendorong Lyra ke ranjang.
"Sepertinya kejadian tadi masih kurang." Reyhan membuka kancing bajunya satu persatu.
"Sayang, jangan aku tidak bermaksud untuk-
"Aku sudah memberikan seluruh milikku untukmu. Tolong berhenti mengatakan hal lain tentang kelebihan orang lain karena aku akan cemburu. Aku tidak suka kamu menyebutnya cantik, aku akan merasa iri karena hanya aku yang pantas mendapat pujian darimu," jawab Reyhan sambil menahan tubuh Lyra yang berada di bawah tubuhnya.
Dan penyatuan itu terjadi lagi. Kali ini Reyhan yang melakukannya dengan agresif sebagai hukuman untuk Lyra.
__ADS_1
***
Reyhan tersenyum melihat wajah Lyra yang sedari tadi mengerutkan dahinya karena kesal. Karena ulah Reyhan yang membuatnya lemas dan berjalan pelan.
"Makan siangnya enak," ujar Reyhan sambil menyunggingkan senyumannya.
Lyra bertambah menatap kesal kepadanya. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya.
"Apa makan malam akan selezat ini juga?" tanya Reyhan semakin menjadi-jadi.
"Sudah cepetan makannya, aku enggak betah berlama-lama disini," ujar Lyra.
"Kenapa? Takut aku melakukannya disini? Tenanglah tempat ini banyak CCTV jadi aku akan menahannya." Mengunyah dengan tempo cepat.
"Apa maksud kamu menahannya?"
"Menurutmu apa?"
"Reyhan kamu mesum sekali!"
"Aku tidak bilang apa-apa? Kenapa menuduhku mesum?"
"Berhenti menatapku seperti itu!"
"Salah siapa menjadi sexy?"
"Aku tidak sexy!"
"Aku perlu pembuktiannya? Nanti sampai rumah kita lihat sama-sama ya."
"Reyhan kamu laki-laki mesum dan gila!"
***
Siska menatap pintu kamar Redro yang sedari tadi tertutup rapat. Ia bolak-balik lewat dari depan kamar kekasihnya itu.
"Apa sih yang dia lakukan di dalam sana?" Siska bertanya-tanya.
"Diketuk takut dia marah tapi kalau diam-diaman begini enggak enak juga. Padahal tanggal pernikahan tinggal beberapa hari lagi justru terjadi masalah seperti ini. Ah jadi dilema." Menggaruk-garuk rambut kepalanya.
Akhirnya Siska memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Dan malam itu pun berakhir dengan perasaan gundah dua insan.
Lyra menatap hamparan pemandangan di sekitar apartemen yang terlihat sangat indah. Tiba-tiba ia melihat bayangan kedua orang tuanya yang sekilas terlihat seperti nyata. Tak lama kemudian bulir-bulir air matanya pun berjatuhan.
"Ayah, mama. Lyra rindu," ucapnya lirih.
Ia teringat bagaimana ibunya melindunginya dari kecelakaan yang menimpanya beserta keluarganya.
Sebenarnya setelah kecelakaan itu ia tidak ingat apapun. Akan tetapi, hari ini ia seolah-olah melihat kejadian itu tepat di depan matanya. Dan itu terasa seperti nyata.
Dan saat dilakukan evakuasi, samar-samar Lyra melihat seorang anak laki-laki berbaring tepat di hadapannya. Sesaat mereka saling berpandangan seolah kebingungan melanda mereka yang tidak tahu apa yang terjadi.
"Reyhan, apa itu kamu? Anak kecil. Apa kamu suamiku?" Lyra bertanya-tanya.
Hup!
Tiba-tiba Reyhan memeluk Lyra dari belakang. Dengan cepat Lyra menghapus air mata yang deras tadi.
"Aku mencarimu dari tadi, ternyata disini." Reyhan mencium bukit kepala istrinya itu.
"Kamu sudah bangun, lapar enggak?" tanya Lyra.
"Suaramu terdengar serak, aku sudah menduganya," jawab Reyhan.
Dia tahu aku menangis. Batin Lyra.
"Ini aku siapin teh hangat semoga kamu suka. Sebelumnya, aku tidak tahu takaran gulanya tapi sepertinya ini tidak buruk juga rasanya," ujar Reyhan sambil memberikan segelas teh hangat untuk Lyra.
"Terima kasih. Ini rasanya pas kok," jawab Lyra sambil tersenyum.
Reyhan mendekatkan wajahnya, lalu menunjukkan ke arah pipinya memberi isyarat untuk dicium.
"Hahaha, harus ada balasannya ya. Dasar kamu ini, aku kira tadi tulus," ujar Lyra.
Reyhan menyentuh pelipis Lyra yang masih basah.
__ADS_1
"Jangan pernah menangis lagi ya. Cukup ini yang terakhir, sabarlah sebentar lagi kita akan kembali ke Indonesia kita jenguk orang tua kita yang disana ya," ujar Reyhan menatap dalam ke arah Lyra.
"Tadi kamu dengar aku menangis ya, kok bisa sih. Maksudku rasanya enggak mungkin sama sekali kalau kamu-"
"Kamu ada disini, kamu sakit aku sakit. Kamu sedih aku juga sedih." Menunjuk ke arah jantungnya.
Air mata tak bisa lagi Lyra bendung. Isak tangisnya pun terdengar mengingat wajah polos anak kecil yang terbaring di hadapannya dulu menjelma menjadi lelaki yang dewasa dan selalu menjadi pelindungnya.
Reyhan mendekati istrinya itu lalu menariknya ke dalam pelukannya.
***
Siska membuka pintu kamarnya. Lapar melandanya. Tiba-tiba aroma masakan menyeruak di hidungnya yang mancung.
"Kamu sudah bangun?" tanya Siska.
"Iya, apa kamu lapar?" tanya Redro balik.
"Banget!"
"Duduklah, sebentar lagi masakannya selesai," jawab Redro sambil mengaduk-aduk masakannya.
Ada apa dengannya? Tiba-tiba berubah menjadi ramah. Apa dia amnesia? Batin Siska bertanya-tanya.
Tak lama kemudian, Redro pun selesai bertempur dengan masakannya. Semua sudah terhidang lezat di atas meja makan.
"Ini makanlah yang banyak," ujar Redro memberikan piring berisi nasi serta lauk di atasnya.
Siska mengangguk lalu memilih untuk tidak protes karena itu akan memperkeruh keadaan.
"Nanti malam aku akan menghadiri acara pertunangan temanku. Apa kamu mau ikut?" tanya Redro.
"Ah, enggak deh." Siska menolak karena baginya dengan kehadiran dirinya disana hanya akan membuat malu Redro. Karena bahasa Inggrisnya tidak bagus.
"Oh baiklah." Redro mengunyah habis sarapannya.
Sepertinya dia sibuk lagi. Baiklah Siska jangan diganggu dia butuh waktu sendiri. Batin Siska lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya.
***
Lyra terbangun dari tidurnya, ia tidak melihat sosok Reyhan di sampingnya.
"Ah sudah jam sembilan pagi. Dia enggak sarapan ya? Lyra kamu memang istri yang tidak tahu diri." Bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa menit, ia pun keluar hendak mengganti pakaiannya. Setela memastikan penampilannya rapi, Lyra pun keluar.
"Bau gosong? Serius ini bau gosong!" Berlari menuju dapur.
"Reyhan!" teriak Lyra.
Reyhan berbalik tampak bulir air mata membasahi pipinya.
"Kamu kenapa?" tanya Lyra mendekatinya.
"Aku benci jenis sayuran ini." Menunjukkan penampakan bawang merah yang ia iris hampir menyerupai dadu.
"Hahaha. Kenapa kamu melakukan ini? Awas biar aku yang gantikan sekarang cuci tangan kamu dulu sana. Nanti perihnya semakin menjadi-menjadi," ujar Lyra.
Reyhan menuruti ia pun beranjak pergi mencuci kedua tangannya. Sementara itu Lyra dibuat geleng kepala dengan penampilan telur yang Reyhan goreng. Warnanya cokelat hampir kehitaman terdapat pecahan cangkang telur yang menyatu dengan telur tersebut.
"Kenapa aku merasa ini sulit sekali, padahal kamu memasaknya sangat cepat. Apa kamu punya jampi-jampi khusus?" tanya Reyhan dengan wajah polosnya.
"Tidak, makanya lain kali perhatikan cara orang memasak. Jangan sok asal masak saja, untung tidak terjadi apa-apa," jawab Lyra.
"Cantik," jawab Reyhan singkat.
"Apa?"
"Iya kamu terlihat cantik setiap kali memasak," jawab Reyhan.
"Apa sih?" Wajah Lyra seketika memerah merasa sangat malu.
BERSAMBUNG.....
Terima kasih sudah membaca jangan lupa like, komen dan vote ya maaf up nya lama. Saya selaku author sedang tidak enak badan.
__ADS_1