
Pintu gudang terbuka terlihat seorang laki-laki masuk dan beberapa orang lainnya.
Dan dia adalah Fero Ringga saudara laki-laki Feronica lebih tepatnya mantan sahabat Reyhan.
"Berhenti! Apa yang akan kau lakukan lagi sekarang?
Berhentilah bermain-main hal yang tidak penting!" teriak Fero.
"Kakak, bagaimana kau bisa tahu aku disini?" tanya Feronica.
"Apa kau tidak punya pertanyaan lain?" tanya Fero balik.
Fero berjalan mendekati Lyra dan mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk.
"Ternyata itu kau? Benar kata orang dunia ini memang kecil. Sayang sekali kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini," kata Fero.
"Kakak mengenalnya?" tanya Feronica heran.
"Harusnya aku yang bertanya bagaimana bisa kau mengenalnya? Bahkan membuatnya seperti ini adikku sayang?" tanya Fero balik.
"Itu? Karena dia-" Feronica gugup.
"Karena aku pacar Reyhan," jawab Lyra lantang.
"Apa? Reyhan lagi ? Kenapa bisa kau mengganggunya lagi, bukankah sudah aku peringatkan untuk menjauhinya hah!" teriak Fero.
"Aku sudah berusaha Kak tapi tidak bisa, dia begitu membuatku tergila-gila kak," jawab Feronica.
"Omong kosong apa ini, benar kata papa aku terlalu memanjakanmu kau bahkan berani membohongi aku. Kau tentunya sudah tahu aku benci dibohongi," kata Fero dengan mata melotot.
"Itu karena Kakak tidak pernah merasakan jatuh cinta, Kakak kesepian semenjak kak Vica menolak dan memilih memendam rasa pada Reyhan. Kakak tidak pernah suka pada orang lain kakak pengecut!"
teriak Feronica.
Plak!!!
Tamparan keras Fero mendarat di pipi Feronica.
"Tutup mulutmu jangan pernah mengungkit masalah itu di depanku," jawab Fero.
"Maafkan kecerobohanku Kak, aku menyesalinya," rengek Feronica sambil bersimpuh di hadapan Fero.
"Sekarang kau menculik kekasihnya. Menurutmu apa yang akan dilakukan Reyhan padamu?" tanya Fero.
"Ini tempat terpencil Kak dan jauh dari Kota besar, dia tidak akan tahu tempat ini," jawab Feronica sambil mengusap air matanya.
"Heh, dia tidak sebodoh yang kamu fikirkan. Dengan gampang dia akan menemukan tempat ini aku rasa dia sudah berada di jalan dengan wajah yang penuh amarah," jawab Fero.
"Tolong bantu aku Kak, aku tidak mau mati di tempat ini kak." Feronica menangis tersedu-sedu.
"Hentikan tangisanmu yang sudah tidak berarti itu. Biarkan saja dia datang aku juga sudah lama tidak melihat wajahnya," jawab Fero sambil melangkah ke arah Lyra. Ditepikannya rambut yang menutupi wajah Lyra.
"Kalau diperhatikan kau cantik juga ternyata. Tidak heran Reyhan menyukaimu, aku jadi penasaran bagaimana kalian bisa menjadi sepasang kekasih," sindir Fero.
"Cih aku juga penasaran bagaimana ekspresimu waktu perempuan yang bernama Vica itu menolakmu," jawab Lyra sinis.
Mendengar perkataan Lyra membuat amarah Fero memuncak.
__ADS_1
"Sayangnya aku bukan banci yang suka memukul wanita. Jadi ku harap kau bisa membungkam mulutmu,"
jawab Fero.
"Hahaha menurutmu membawa pengawal kemana-mana sebagai pelindung itu bukan banci ya namanya. Kau lucu sekali sangat lucu," jawab Lyra sinis.
"Kau mirip dengannya, benar kata orang kalau sepasang kekasih itu lama kelamaan akan mirip dari segi wajah bahkan tingkah lakunya. Hmmm coba aku tebak judul sinetron yang pantas untuk kalian itu Pahlawanku pacarku atau Malaikat hatiku," sindir Fero.
"Kau dan Adikmu juga sama-sama ditolak orang lain dengan mentah-mentah menurutmu judul apa yang cocok untuk kalian?" tanya Lyra.
"Melihat tingkahmu yang seperti ini membuatku semakin menyukaimu. Sekarang aku akan bernego padamu tinggalkan Reyhan dan ikutlah denganku. Aku akan memperlakukanmu dengan baik dan akan membahagiakanmu bagaimana?" tawar Fero.
"Hahaha kau benar-benar tidak tahu malu bahkan aku akan merasa bahagia 1000 kali lipat kalau bersama dengan Reyhan. Mimpimu sangat ketinggian bocah," jawab Lyra.
"Baiklah kau berani menolak tawaranku, akan ku perlihatkan bagaimana caraku menghabisinya nanti," jawab Fero dengan wajah yang angkuh.
Vanes melihat ke arah Lyra yang menahan kesakitan. Bekas cambukkan rotan terlihat sangat di bajunya dengan iba tak terasa air matanya menetes.
Aku memperlakukannya dengan sangat buruk selama ini tapi dia justru mencegah Feronica untuk mencambukku tadi. Aku begitu sangat jahat terhadapnya bahkan ini semua ulahku harusnya aku yang pantas mendapatkan hukuman itu. Batin Vanes menyesali perbuatannya.
"Hei kalian berdua berikan mereka minum," perintah Fero kepada Akum dan Akim.
"Baik Bos," jawab mereka seraya memberikan memberikan Lyra dan Vanes minum.
Tak lama kemudian Lyra dan Vanes merasa mual dan akhirnya muntah.
"Minuman apa yang kalian berikan? Kenapa mereka bisa muntah seperti itu?" tanya Fero dengan kasar.
"Anu Bos ini wine," jawab Akum.
"******! Kenapa kalian berikan itu pada mereka, itu dosisnya tinggi kalau bisa mati bagaimana!" teriak Fero.
"Aku tidak pernah berkata seperti itu. Selain bodoh kalian berani berbohong," sela Feronica.
Lyra dan Vanes pun jatuh tersungkur bersamaan dengan kursi yang diikat pada tubuh mereka.
Fero mendekati Lyra dan membuka tali tersebut lalu membawanya ke sebuah ruangan didalam gudang tersebut.
"Apa yang akan Kakak lakukan?" tanya Feronica.
"Ini biar aku yang urus. Kalian buka tali di tubuhnya jangan sampai dia mati karena darahnya tidak berjalan normal," perintah Fero.
"Baik Bos," jawab mereka sambil membuka tali di tubuh Vanes.
Tidak mungkinkan kak Fero akan memperkosanya kalau itu benar terjadi Reyhan pasti akan-* Batin Feronica.
Tiba-tiba...
Bagh!!! Bugh!!! Phak!!!
Suara dentuman dari luar.
"Suara apa itu?" tanya Feronica.
Tiba-tiba salah satu pengawal Fero menghampiri Feronica lalu membisikkan sesuatu padanya.
"Apa? Reyhan sudah disini, tunggu apalagi hajar mereka!" teriak Feronica.
__ADS_1
"Tidak segampang itu, Feronica," sahut Erick sambil menyeret pengawalnya.
"Kak Erick," Feronica terkejut.
"Dimana kau sembunyikan Lyra hah!" teriak Siska.
"Bukankah sudah kau lihat dia tidak ada disini," jawab Feronica santai.
Siska yang sudah sangat marah berjalan cepat mendekati Feronica.
Plak!!! Plak!!!
Tamparan bertubi-tubi dari Siska mendarat ke wajah Feronica hingga meninggalkan bekas. Mereka semua mulai adu jontos kembali dan semua pengawal Fero tersungkur dibuat suruhan Erick.
"Aku tanya sekali lagi dimana Lyra?" tanya Siska memelotot marah.
"Mau berapa kali pun kau bertanya jawabannya tetap sama, aku tidak tahu dia dimana dan aku bahkan tidak mengenalnya l!" teriak Feronica.
"Kalian semua geledah tempat ini," perintah Erick.
"Vanes bangun, ini aku Siska Vanes!" teriak Siska berusaha membangunkan Vanes yang tidak sadarkan diri.
Erick datang mendekat.
"Wine, mereka memberikannya minuman alkohol berdosis tinggi membuatnya tak sadarkan diri, kalian segera bawa dia ke rumah sakit!" teriak Erick. Beberapa pengawal pun langsung menggendong tubuh Vanes yang tidak sadarkan diri tersebut.
"Katakan padaku dimana Lyra sekarang!"
teriak Siska.
Feronica tetap tidak menjawab hingga Reyhan masuk.
"Dimana Lyra?" tanya Reyhan pelan menahan amarahnya.
"Reyhan kau datang kemari untuknya dan tanpa menatapku sedikit pun disini," jawab Feronica memelas.
"Aku menahan diriku diluar agar tidak melihat wajahmu. Tapi karena sudah cukup lama aku menunggu aku sudah tidak tahan lagi. Dimana kau menyembunyikannya?" tanya Reyhan dengan mata tajamnya.
Seorang Pengawal Erick berbisik padanya.
"Rey, mereka bilang sepertinya Lyra memang tidak ada disini," ujar Erick.
"Tidak mungkin!" š”š
FERO RINGGA
FERONICA RINGGA
VANES NURID
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir jangan lupa like komen dan Vote ya ......Semangat dan sehat slalu .