
"Kalian mau kemana?" Suara Lyra membuat langkah kaki Reyhan terhenti begitu juga dengan Redro, ia mendapati Siska juga ada di sana sibuk membawa masakan ke atas meja membantu Lyra menyajikan makanan untuk sarapan.
"Hai, Beb pasti belum sarapan kan tadi Lyra menjemputku ke rumah dia mengundangku untuk sarapan di sini. Aku pikir kamu tidak akan datang makanya aku kemari. Sureprise!" Menarik tangan Redro dan menuntunnya untuk duduk di atas kursi.
Reyhan pun berjalan menuju meja makan lalu duduk tepat di hadapan Redro. Ia menyunggingkan senyumannya, membuat Redro merasa semakin salah tingkah. Reyhan pun mengalihkan pandangannya ia terus memperhatikan Lyra hingga makanan selesai disajikan.
"Ayo makan!" seru Siska lalu mengambil beberapa sendok nasi ke atas piringnya, ia melihat Redro yang sama sekali tidak bergerak.
"Ada apa? Apa makanannya tidak sesuai dengan keinginanmu?" tanya Siska.
"Bukan begitu, aku tidak terbiasa sarapan pagi dengan nasi karena perutku agak sensitif tapi kalau roti itu cukup mengenyangkan bagiku," jawab Redro.
"Aduh Beb? Kalau roti kadar vitaminnya itu tidak terlalu banyak, cobalah untuk makan ini jangan langsung berpendapat yang belum dicoba." Menuangkan beberapa sendok nasi ke piring Redro.
Reyhan terus memperhatikan betapa kikuknya Redro di hadapan Siska, bukannya Redro takut pada Siska tetapi dia menghargai kekasihnya itu. Sementara itu, Lyra tersenyum bangga pada Siska yang begitu peduli pada Redro.
Tiba-tiba Reyhan dikejutkan dengan suara Lyra yang sedang menghisap sari lengkuas, ia pun begitu serius memandangi istrinya terutama bibirnya. Kejadian tadi malam seakan berkeliaran di sekitar otaknya.
"Apakah begitu enaknya lengkuas itu? Sedari tadi aku melihatmu terus mengeluarkan suara meringis." Meletakkan sendok dan garpunya.
"Ya dalam sebuah gulai yang ada lengkuasnya maka hanya lengkuas yang paling aku incar ini benaran enak Rey," jawab Lyra.
Dia tetap memanggilku dengan sebutan nama, apa dia lupa kalau aku suaminya? Harus berapa lama aku menunggu kata itu keluar dari bibirnya. Batin Reyhan.
Beberapa menit kemudian mereka berempat selesai makan, para bibi berdatangan untuk membereskan piring kotor di atas meja makan. Kini mereka telah berpindah tempat ke ruang keluarga yang dibaluti dengan nuansa putih.
"Minggu ini aku akan pergi ke Amerika bersama Redro, jadi baik-baiklah di sini," ujar Reyhan.
"Aku akan menunggumu di sini, kuharap kamu bisa secepatnya kembali," jawab Lyra lalu tersenyum.
"Akan tetapi kami belum tahu pastinya kapan akan kembali karena ini sangat rumit bisa saja setahun atau bahkan dua tahun." Menatap sendu pada Lyra.
"Ya mau bagaimana lagi, aku harus sabar menanti bukan." Tersenyum menanggapi perkataan Reyhan.
Reaksinya sangat datar sekali dan tidak seperti akan kehilangan. Setelah menikah dia ini kenapa berubah? Perasaannya yang kemarin sangat besar kenapa menjadi biasa saja? Batin Reyhan.
"Beb, kalau sudah sampai di sana jangan lupa mengirim pesan dan satu lagi selalu ingat untuk rutin makan, jangan roti mulu nggak baik untuk lambung, oke!" Siska berusaha menyemangati Redro.
Redro hanya bisa menyunggingkan senyum canggungnya. Bagaimana tidak ia sangat mengerti perasaan Reyhan saat mendengar jawaban Lyra yang menanggapi santai tentang kepergiannya.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Lyra duduk di atas kolam sambil meminum jus jeruk, sesekali bayangan wajah kesal Reyhan muncul dan itu membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Ah mungkin sekarang dia sedang berpikir kalau aku mulai mengabaikannya. Suamiku akan pergi siapa coba yang tidak sedih, tapi kalau aku mencegahnya itu hanya akan menimbulkan dampak buruk. Aku tidak mau menjadi penghalang. Itu perusahaan besar yang ayahnya bangun dengan susah payah sebagai keturunan satu-satunya sudah sepantasnya dibebankan untuknya," gumam Lyra lalu mengibas-ngibas air dengan kakinya.
__ADS_1
Sementara itu, Reyhan hanya memandangi Lyra dari dalam yang dipisahkan oleh pintu kaca yang lebar.
Dia sepertinya sangat menikmati sekali, apa dia tidak merasa kesal kalau aku pergi. Aku curiga kalau dia memiliki pria lain di hatinya. Tapi tidak mungkin, aku tampan dan kaya bagian mana lagi dariku yang kurang. Baiklah Reyhan berhentilah berpikir yang tidak-tidak dan temui dia sekarang. Batin Reyhan.
Reyhan pun melihat kembali ke arah kolam namun sosok Lyra tidak ada di sana, ia hanya melihat pakaian serta rok panjang yang Lyra kenakan barusan, tergeletak di pinggiran kolam. Reyhan berlari ke arah kolam dengan wajah panik dan...
BYURRRRR
Lyra mengibaskan rambutnya ke atas itu cukup membuat Reyhan terkejut sekalian takjub melihat kecantikan Lyra saat mandi. Dengan berbalut tank top dan hot pant Lyra kembali berenang hingga ke tepian dan lagi-lagi ia berteriak kegirangan. Reyhan membuka bajunya dan tetap memakai celana pendeknya lalu melompat berenang ke arah Lyra.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Reyhan setelah berdiri di samping Lyra.
"Tidak, aku cuma melihat tubuhmu tampak berkilauan di bawah matahari, aku yang seorang perempuan saja kalah," jawab Lyra sambil tersenyum malu.
"Tapi aku merasa kamu sangat cantik ketika sedang mandi, rambutmu terurai dan basah begitu alami," ujar Reyhan lalu mengusap rambut Lyra.
"Rey, kamu bahkan tidak punya tahi lalat dimanapun, apa kamu manusia sungguhan mulus sekali, aku saja punya beberapa di punggung." Menunjukkan punggungnya.
Dia ini sedang menggodaku ya. Batin Reyhan.
"Aku juga punya hanya saja tidak terlihat oleh mata." Mengalihkan pandangannya ke depan.
"Dimana?" tanya Lyra serius.
"Di area kelamin, apa kamu mau melihatnya?" tanya Reyhan balik.
Mendengar jawaban yang tak terduga dari Lyra membuat Reyhan salah tingkah. Ia tidak menyangka kalau Lyra malah mengiyakan begitu ia menanyakannya.
"Sudahlah nanti kamu pingsan, lagipula ini masih pagi," ujar Reyhan lalu berenang kembali, menghindari Lyra.
Kemarin malam aku tidak melihat jelas ada tahi lalat tapi itu mungkin karena gelap tapi aku sangat penasaran. Batin Lyra lalu berenang mengejar Reyhan ia ingin memastikan benar-tidaknya perkataan Reyhan tadi.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Minggu ini kamu akan pergi, dan besoknya aku mulai kuliah kembali cutiku sudah habis. Beb kau baik-baiklah di sana jangan nakal-nakal oke," ujar Siska menyunggingkan senyumannya.
Redro yang sedang fokus menyetir pun mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Siska.
"Oh ya, kemarin aku menemukan vitamin yang pas buat kamu. Ini, ambillah!" Memberikan botol berisi beberapa pil vitamin.
"Apa akhir-akhir ini aku terlihat sakit?" tanya Redro.
"Bukan begitu Beb, vitamin ini untuk seorang pekerja keras sepertimu, aku tahu kok kamu akan begadang di sana 24 jam di samping Reyhan, iya kan." Menatap sendu.
"Anggaplah ini sebagai diriku yang selalu mencerewetimu dengan menyuruh makan serta terus menjaga pola hidup sehat, oke." Menyentuh tangan kiri Redro.
__ADS_1
"Baiklah, akan aku simpan dan akan aku usahakan rutin meminumnya terima kasih," jawab Redro.
Hanya terima kasih doang, cincinnya mana pak, eh jangan cincin kasih ciuman atau pelukan kek. Batin Siska kemudian ia mengambil permen karet dari toples yang di depannya lalu mengunyahnya.
Redro meminggirkan mobilnya, lalu berusaha meraih sebuah bingkisan yang ada di kursi belakang.
"Ini untukmu," ujar Redro sambil memberikan bingkisan tersebut kepada Siska.
"Apa ini?" tanya Siska terheran-heran.
"Buka saja," jawab Redro lalu menyenderkan kepalanya ke sisi kursi mobil sambil terus memperhatikan Siska.
Dengan penuh semangat Siska membukanya, betapa terkejutnya dia mendapati satu set perhiasan berlian lengkap yang pernah Redro ceritakan padanya.
"Hah? Ini yang kamu bilang kemarin ya?" tanya Siska memastikan.
"Iya, coba kamu pakai cincinnya muat tidak," jawab Redro.
Dengan segera Siska pun memakainya dan ajaibnya cincin itu sangat pas sekali di jari manisnya.
"Kamu lihat! Ini cocok sekali terima kasih sudah membelikannya untukku," ucap Siska.
"Kamu suka?"
"Iya, lebih dari suka!" seru Siska.
Tiba-tiba hujan deras turun menyapu jalanan dan membuat Siska dan Redro tidak dapat kembali AC di dalam mobil pun seketika terasa dingin dan lebih sialnya lagi remotnya kehabisan baterai. Dingin, sudah pasti itu yang mereka rasakan Redro menatap Siska yang masih terlihat bahagia dengan pemberian Redro.
Berbeda dengan Redro yang seolah terjebak akan birahinya. Redro mendekati Siska mengambil kotak tersebut dan mendekati wajah Siska lalu ******* bibirnya, Siska yang terperojok perlahan melingkari tangannya ke leher Redro.
Merekapun berpindah ke belakang, Redro membuka jasnya serta dasinya lalu kembali ******* bibir Siska, tak lama kemudian ia berpindah ke leher Siska.
"Aaah!" teriak Siska mengagetkan Redro.
"Ada apa?" tanya Redro.
"A-aku a-aku."
Redro mengerti maksud teriakan Siska, sebenarnya Redro hanya sedang menguji Siska karena ia sempat curiga kalau Siska salah satu tipe perempuan yang liar tetapi melihat tingkah Siska barusan barulah Redro percaya kalau Siska adalah perempuan yang baik-baik.
"Pakailah ini, di dalam sini sangat dingin bukan," ujar Redro sambil memberikan jasnya.
"Tapi bagaimana denganmu? Pasti sangat dingin juga kan?" tanya Siska.
"Kamu mengkhawatirkan aku?"
__ADS_1
"Tentu saja kamu kan pacarku dan sebentar lagi akan menjadi suamiku, kemari mendekat ini kita pakai berdua, aku tidak mau melihatmu mati karena membeku," jawab Siska lalu menarik tangan Redro agar lebih dekat dengannya.
Merekapun tertidur dalam mobil di bawah guyuran derasnya hujan.