
Lyra berjalan mendekati Reyhan namun dikarnakan lantai terlalu licin Lyra yang kepalanya masih pusing pun oleng Dan...
Brukkk!
Reyhan yang tadinya sedang duduk santai dikejutkan oleh Lyra yang tiba-tiba menubruk dirinya, kursi yang diduduki Reyhan dengan gampangnya ambruk ke belakang setelah disambar oleh Lyra, alhasil adegan tak terduga pun terjadi.
Mata saling memelotot kaget bibir saling menyatu serta nafas yang saling beradu. Lyra yang tersadar akan ulahnya pun segera bangkit, ia merapikan rambutnya dan dengan tergesa-gesa ia meninggalkan Reyhan yang masih berada di bawah alam sadarnya. Ya, Reyhan masih terdiam membisu dari sudut matanya terlihat jelas ia sedang linglung.
Ehm dan akhirnya pertahananku yang sudah ku ancang jauh-jauh hari pun roboh, dan aku hanya bisa menjadi seorang pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kekasihnya tapi ciuman tadi kenapa begitu terasa agak...Manis. Gumam Reyhan sambil mengusap bibirnya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Kamu kenapa? Neng tiba-tiba bengonglah, tiba-tiba mengoceh nggak jelas ada masalah sama Reyhan ya. Coba deh cerita siapa tahu aku bisa bantu." Duduk mendekati Lyra yang sedang dilanda galau.
"Begini, Sis sebenarnya ini permasalahan tadi malam, aku kan diajak menginap tante Marta di rumahnya dan-"
"Apa? Berarti tadi malam kamu menginap di rumahnya begitu." Menatap tajam.
"Ya rencananya sih begitu tapi karna aku yang bodoh ini tanpa sadar menyentuh dan meminumnya yang tadinya aku kira fanta eh ternyata wine."
"Hah jadi gimana dong?" Memelotot bingung.
"Nah itu, nggak usah dilanjutin deh cerita selanjutnya ngeri soalnya." Mengalihkan pandangan sedikit ragu-ragu.
"Kenapa? Apa wanita itu berbuat macam-macam padamu." Siska mulai menarik lengan pakaiannya.
"Nggak kok, kamu tahu tidak sebenarnya tante Marta itu baik hanya saja dia-
"Kenapa dia?"
"Dia sakit Sis."
"Sakit?"
"Ya, kanker paru-paru stadium akhir."
"Jadi apa hubungannya denganmu? Sudah jelas Reyhan bahagia sama kamu malah diganggu." Menahan kekesalannya.
"Hmmm sebagai seorang ibu yang baik dia ingin anaknya bahagia dengan cara sukses dan mandiri begitu juga dengan tante Marta, dia pastinya tidak mau anaknya akan melarat jika hidup berdampingan dengan wanita sepertiku yang tidak punya apa-apa."
"Iya sih tapi itukan pendapat dia, gimana dengan Reyhan? Otomatis berbedalah kalau tidak dia nggak bakal menentang tuh nenek lampir."
"Hush! sekarang sudah berbeda dia akan menerimaku sebagai menantu dengan syarat aku harus membuat Reyhan menerima hak waris yang memang seharusnya menjadi miliknya, dia harus menjalani perusahaan ayahnya yang berada di Amerika."
"Ya sudah sekarang saja kamu telepon dia dan suruh dia menerimanya, aku yakin dia pasti mau." Tersenyum percaya diri.
"Tapi? Sekarang nggak bisa Sis." Mengeryitkan dahi.
"Kenapa lagi? Jangan ditunda-tunda atuh Neng." Memelotot kesal.
"Anu itu, Sis kali ini aku nggak bisa cerita, ini terlalu rahasia."
"Apaan sih? Kalian melakukan itu ya atau jangan-jangan kamu hah? Lyra kamu hamil." Mencoba memancing Lyra.
"Kamu ini sekalian ngomongnya pake toa masjid saja."
"Ya habis kesal aja sama teman yang main rahasia-rahasiaan seolah tak percaya sama aku padahal curhatnya selain padaku sama siapa lagi?" Berpura-pura ngambek.
"Hmmm iya-iya jangan ngambek dong ntar cantiknya hilang lho, tadi malam aku kan nggak sengaja tuh minum wine pikiranku kacau Sis, padahal jelas-jelas aku melihat kamu sedang tidur eh ternyata aku salah kaprah."
"Jadi itu siapa?"
"Itu dia, Reyhan hah menceritakannya saja aku kayak trauma Sis, belum lagi tadi waktu sarapan aku nggak sengaja terpeleset dan menimpa tubuhnya."
"Hah serius? Jadi gimana?"
"Bukan itu inti ceritanya Sis, selain aku menimpa tubuhnya nggak sengaja bibirku yang nakal ini menyentuh bibir Reyhan, ah malu banget aku Sis sampai sekarang nggak kebayang kalau jumpa nanti." Mengusap-usap rambutnya.
"Berapa lama bibir kalian bersentuhan? Penasaran banget nih." Menggoyang-goyangkan tubuh Lyra.
"Sekitar 10 detik."
"Hahaha itu bukan musibah namanya tapi menikmati, cie-cie Lyra gimana rasanya enak nggak?"
__ADS_1
"Siska? Sudah kuduga ujung-ujungnya pasti kayak gini." Merasa kesal.
"Hahaha iya deh maaf Lyra cantik." Terkekeh sambil mencubit kedua pipi Lyra.
Hah sampai sekarang pun dia sama sekali nggak ngirim pesan, bodo ah siapa suruh menjailiku. Mengeryitkan bibirnya.
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Ra, besok udah boleh masuk selamat ya, tapi yayang Reyhan kan lagi libur kayaknya ntar ada yang galau nih," ledek Siska.
"Nggak ngaruh kali Sis." Menghela napas kesalnya.
Tok-tok
"Siapa tu?"
"Entah bukain gih."
"Nggak ah Ra, kamu aja siapa tau calon mertuamu."
Lyra memelototi Siska.
"Iya-iya sensinya Lyra hari ini." Berjalan menuju pintu.
Siska pun membuka pintu dan terkejutnya dia setelah melihat sosok di balik pintu.
"Siapa Sis?" tanya Lyra dari dalam rumah.
Siska menutup pintu kembali.
"Ra, itu."
"Siapa? Beneran tante Marta ya."
Siska menggelengkan kepalanya.
"Nggak ini anaknya," Menghela napas dalam-dalam.
Siska mengangguk.
"Cuma mau bilang nama Reyhan saja kok susah banget, jangan lebay deh." Menatap kesal.
"Dia ganteng banget Ra, pakai baju putih gitu makin ganteng rapi lagi huh." Menepuk-nepuk dadanya.
Lyra berjalan perlahan menuju pintu lalu membukanya.
Dan benar saja tampaklah Reyhan dengan setelan pakaian berwarna putih serta rambut yang baru saja dirapikan. Lyra tak bisa berkata apa-apa mulutnya seakan terkunci melihat paket komplit tampilan Reyhan.
"Lyra."
"Iya."
"Kamu ngences tuh."
"Ah dimana nggak ada kok." Mengusap-usap area bibirnya.
"Kita jalan yuk." Tersenyum senang.
"Tapi aku mau ganti baju dulu, tunggu sebentar." Berbalik.
"Tidak perlu." Menarik tangan Lyra.
"Kenapa? Aku nggak pede keluar kayak gini sedangkan kamu...." Kembali terpanah dengan fisik Reyhan.
"Bagiku itu cocok untukmu, rambut cikal, setelan baju-celana panda bulu, Lyra kamu terlihat seperti bayi panda sungguhan, terlihat lucu." Tersenyum licik.
"Kamu ini, mau memuji orang pun tetap terdengar kejam, nggak mau ah masa kamu rapi gitu sedangkan aku kayak kambing congek begini, nggak adil tau tunggulah disini aku gak akan lama."
"Apa perlu aku menggendongmu agar kamu menurut, Lyra hanya aku saja yang boleh melihat kecantikanmu yang lain tidak berhak sama sekali."
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Di dalam mobil.
__ADS_1
Huh akhirnya aku keluar dengan pakaian seperti ini, Reyhan, apa kau puas sekarang. Batin Lyra sambil memanyunkan bibirnya.
"Lyra."
"Ya."
"Ada yang mau kamu katakan padaku?"
"Hah, tidak ada."
"Apa ada yang mau kamu tanyakan?"
"Tidak ada juga."
"Kalau begitu dengarkan aku."
"Ya sudah bicara saja."
"Tidak sekarang tapi nanti."
"Apa gunanya kamu mengatakan itu sekarang?" Lyra mulai kesal.
"Baiklah kalau begitu akan aku tanyakan sesuatu padamu. kemarin kamu dengan wanita itu pergi lemana dan berbuat apa?" Menatap tajam.
Gila, aku harus jawab apa ini, kata tante Marta tidak boleh mengatakan rahasia penyakitnya, kenapa juga Reyhan ingat kejadian kemarin hah matilah aku. Batin Lyra.
"Aku menunggu jawabanmu, sekarang." Reyhan menghentikan mobilnya.
"Hmmm aku lagi malas untuk membicarakan hal itu," jawab Lyra.
"Lyra, bisa tidak kamu berpikir logis aku wajib tahu apa yang kamu bicarakan dengannya karna dia..., hmmm dia tidak baik."
Padahal tadi dia mau bilang sesuatu yang baik pasti tentang tante Marta tapi masih bisa mengelak dasar mahluk gengsian.
"Kenapa kamu masih diam?" Menatap tajam.
"Bisa tidak kamu singkirkan tatapanmu itu membuatku merasa ngeri tau."
Reyhan tidak menjawab, ia melajukan mobilnya dari wajahnya terlihat amarah memuncak yang berusaha ia tahan.
"Pelan-pelan Rey." memegang sisi pintu mobil.
Reyhan mengabaikan perkataan Lyra, dia terus melajukan mobilnya sekencang-kencangnya.
"Kalau kamu mau mati jangan bawa-bawa orang lain."
Mobil pun berhenti lalu terdengarlah nafas mereka yang tersenggal-senggal dan saling beradu.
"Aku mau turun saja." Melepaskan seat belt.
Reyhan menahan tangan Lyra.
"Maafkan aku, aku hanya berusaha menahan emosiku maafkan aku jujur aku tidak bisa mengasarimu karna kamu kelemahanku tapi tolong, dukung aku jangan sampai aku berbuat yang tidak-tidak padakmu."
Lyra menatap lekat air mata yang mengalir di pipi Reyhan, hidungnya memerah dan matanya terlihat sendu.
"Sebenarnya tante Marta datang ke rumahku hanya ingin bernegosiasi denganku aku harus bisa membuatmu menjadi pemimpin di perusahaan dan menerima hak waris itu dan aku akan diberi restu oleh tante Marta."
"Beraninya dia mengatur hidupku."
"Tapi bisa tidak kamu turunkan egomu terlebih dahulu, karna aku menyukaimu tentu saja aku terima bagaimana menurutmu?"
"Aku tidak butuh harta itu, dengan harta yang aku miliki sekarang, aku bisa menghidupimu sampai tujuh keturunan, jadi-"
"Kamu tahu tidak apa lagi yang ia bicarakan."
"Apa?"
Maaf tante Marta aku hanya ingin melihat kalian berdua damai. Batin Lyra.
"Dia...."
BERSAMBUNG.....
__ADS_1