MY BERONDONG

MY BERONDONG
S2-Bertemu Seseorang 2.....


__ADS_3

Lihatlah pada seseorang yang sudah tiada pun kamu cemburu, jawabanmu yang tadi ternyata hanya hoaks belaka. Batin Lyra berpura-pura tidak mendengar perkataan Reyhan yang berada di sampingnya.


***


Reyhan dan Lyra berjalan menyusuri pemakaman yang terbesar di Jakarta. Sesekali Lyra melirik pada Reyhan yang memilih memakai baju hitam sedangkan dia sendiri putih.


Dari segi berpakaian saja kita sudah berbeda, sebenarnya banyak hal lain juga yang beda tapi kita saling menyukai dan hingga sekarang aku hanya bisa bertanya-tanya kenapa kamu begitu menyukaiku? Takdir sangat baik kepadaku. Batin Lyra sambil tersenyum.


Reyhan pun berhenti di depan pemakaman yang paling depan dan tampak berbeda dari pemakaman lainnya. Ya, ditumbuhi rumput hijau dan beberapa bunga geranium mengelilinginya. Mereka pun dikejutkan buket bunga yang masih baru serta taburan


kelopak-kelopak bunga mawar di atasnya.


"Kenapa Rey, kok bengong?" tanya Lyra.


"Sepertinya ada yang baru datang, dilihat dari kelopak serta buket bunga ini sepertinya baru kemarin," jawab Reyhan sambil memegang buket bunga tersebut.


"Hmmm mama kali yang datang, tidak mungkin orang lain yang datang kecuali kerabat dekat lainnya." Duduk sambil mengusap-usap batu nisan pada makam.


"Mama? Tidak mungkin karena dia alergi dengan bunga," jawab Reyhan.


Pantas saja di rumahmu satu pun tidak ada bunga, ah mama Marta kenapalah harus alergi pada mahluk hidup yang indah itu. Batin Lyra.


"Hai, maaf baru mengunjungimu hari ini. Oh ya, saya lupa saat pertemuan pertama bukankah pengenalan sangat dibutuhkan? Nama saya Lyra Nayra teman hidup Reyhan Almirza anak Bapak, saya harap Bapak memberikan restu dari atas sana." Mengusap pinggiran foto yang terdapat pada batu nisan serta bernamakan Reygan Almirza.


Reyhan tertegun melihat kelembutan yang Lyra lakukan pada makam ayahnya. Sebelumnya Reyhan sering mendatangi makam tanpa siapapun yang menemani dan melihat Lyra yang bertingkah seperti itu cukup membuatnya merasa bahagia. Karena sebelumnya Reyhan tidak ingin ada orang yang melihatnya menangis yang disebabkan rasa bersalahnya yang tidak pernah pudar.


Papa, seandainya hidup masih berpihak padamu aku sangat ingin melihat kau bercengkerama dengan istriku dia sangat hebat dalam hal itu. Dia begitu lembut dan baik hati dan satu lagi dia sangat cantik bukankah itu cukup menjadi tipe menantu yang kau katakan padaku dulu. Batin Reyhan sambil terus menatap Lyra yang tiada henti-hentinya bicara pada batu nisan Reygan.


"Papa, anda tampan sekali sekarang saya tahu dari mana asalnya ketampanan Reyhan. Papa tenang saja saya akan menjadi istri yang baik karena walau bagaimanapun sifatnya saya sangat mencintainya. Dia sangat hangat dan selalu ada setiap kali saya membutuhkannya Reyhan yang mungkin dulunya nakal kini sangat dewasa, dia orang yang pertama kali saya andalkan." Lyra menatap Reyhan yang di hadapannya, lalu Lyra menunduk dan tersenyum karena Reyhan juga terus menatapnya dengan dalam.

__ADS_1


"Saya terus mengoceh seperti ini mungkin Papa sudah lelah mendengarnya. Baiklah lain hari kita akan bertemu lagi, tenanglah di sana kami yang di sini sangat mencintaimu." Mengusap lembut batu nisan lalu menabur kelopak mawar di atas tumpukan makam.


Merekapun berdoa untuk keselamatan dan pengampunan dosa untuk ayah Reyhan. Lyra dan Reyhan pun kembali berjalan menuju makam kedua orang tua Lyra yang berada di seberang jalan.


"Permisi, tuan muda Reyhan datang lagi?" tanya penjaga makam.


Reyhan mengangguk lalu tersenyum berbeda dengan Lyra yang merasa heran.


"Kebetulan makamnya baru saya bersihkan juga, Tuan selalu datang tiap minggu itu sangat langka pada orang lain," ujar penjaga makam.


"Saya hanya kebetulan lewat saja jadi sekalian mampir," jawab Reyhan.


"Lho bukannya rumah Tuan muda ada di Selatan, sedangkan ini kawasan Barat?" tanya penjaga makam.


"Sudah jangan diperpanjang lagi kami sudah tidak banyak waktu, ini untuk Bapak dan-"


"Jangan Tuan, minggu yang lalu sudah terlalu banyak itu lebih dari cukup, tiga juta setiap minggunya sangat mustahil bagi saya yang hanya penjaga makam." Menolak pelan uang yang hendak diberikan Reyhan.


"Ini dari saya, karena itu makam kedua orang tua saya. Sebelumnya saya minta maaf karena tidak pernah memberikan sepersen pun sama Bapak karena hidup saya yang pas-pasan. Ini anggap saja saya memberikan lima puluh ribu setiap tahunnya, saya harap Bapak menerimanya." Memberikan uang tersebut ke tangan bapak penjaga makam.


"Nona sangat bijak sekali jodoh yang baik seperti ini sangat jarang saya temui. Terima kasih dan tetaplah menjadi orang baik dan bijak semoga Allah selalu melindungi." Menengadahkan tangan seraya berdoa.


"Aamin." Lyra dan Reyhan serentak.


"Kalau begitu kami permisi dulu, hari mendung takutnya hujan deras turun Pak," ujar Lyra lembut.


"Iya Nona dan Tuan sekali lagi terima kasih." Meminggirkan tubuhnya membiarkan Lyra dan Reyhan berjalan melewatinya.


"Ah sampai juga," ujar Lyra dengan napas tersenggal-senggal karena makam kedua orang tuanya berada paling ujung.

__ADS_1


"Ini minumlah dulu." Memberikan botol yang berisi mineral.


Lyra berjongkok lalu meminumnya, begitu juga Reyhan yang langsung mengusap makam kedua orang tua Lyra yang berdampingan.


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


"Sudah jangan menangis lagi, tidak baik meratapinya lama-lama," ujar Reyhan sambil terus memberikan tisu ke sekian kalinya.


"Ini karena kamu yang tidak pernah memberitahuku kalau kamu sering mendatangi kedua orang tuaku," jawab Lyra sambil terus mengucek matanya yang tidak habisnya mengeluarkan bulir bening.


"Baiklah lain kali aku akan mengatakannya begitu aku mendatangi mereka," jawab Reyhan sambil terus mengusap wajah Lyra.


"Sudah berapa lama kamu menemui mereka?" tanya Lyra.


"Ah itu ketika aku kelas 6 SD menuju SMP, itu sebelum aku tahu kalau mereka itu kedua orang tuamu tetapi setelah aku tahu kalau kamu itu Rara yang aku cari aku mulai berpikir bahwa kita benar-benar telah berjodoh." Memberikan Lyra minuman.


"Kenapa kamu sebaik itu?" tanya Lyra yang mulai tenang.


"Itu bukanlah kebaikan tapi itu sebuah kewajiban, aku telah menyisahkan kesedihan di hatimu selama bertahun-tahun. Dan aku rasa itu belum setimpal jadi aku mulai berpikir pertemuan dan perasaan kita bukanlah sebuah kebetulan itu sudah diatur sama Yang Maha Kuasa. Jadi jangan berpikir untuk kabur dariku karena kita sudah terikat menjadi satu." Menyenderkan tubuhnya pada sisi kursi mobil.


"Aku tidak suka mengumbar janji tapi akan ku buktikan kalau aku-"


CUP


Lyra menghentikan perkataan Reyhan dan langsung menyumpalnya dengan bibirnya. Ia duduk bertumpu pada kedua paha Reyhan. Dan bagaimana dengan Reyhan? Terkejut pastinya tapi itu sangat membuatnya senang ia menutup kedua matanya menikmati serangan tiba-tiba dari istrinya itu yang ke sekian kalinya membuatnya terkejut. Lyra memang cukup lihai melakukannya karena ia sering menonton adegan tersebut di dalam drama berbeda dengan Reyhan yang memang masih polos.


"Kita pulang yuk," bisik Lyra ke telinga Reyhan.


Seketika Reyhan mendadak merinding, nafsunya tiba-tiba seperti memburu hanya saja bisa ia sembunyikan karena mengingat pinggang Lyra yang masih sakit, tidak memungkinkan mereka melakukannya di dalam mobil.

__ADS_1


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


__ADS_2