
"Apa lagi!" Dengan suara meninggi menandakan Lyra benar-benar sangat marah. Dia merasa hari ini Reyhan mempermainkannya karena tak satupun belanjaan yang mereka pilih di mall tadi yang mereka bawa. Ya, mereka ke panti asuhan dengan tangan kosong.
"Apakah sifat kalian orang kaya bisanya menindas kami yang orang miskin? Bisakah kamu memikirkan perasaan mereka yang hidup di panti asuhan yang bahkan tidak bisa tidur nyenyak sepertimu yang memiliki kasur empuk. Tadinya aku berharap hatimu terbuka untuk orang-orang kecil seperti kami, oleh karena itu aku membawamu kemari tapi aku gagal tetap saja tidak ada gunanya aku membawamu." Menghela napas panjangnya dan dengan kasar menghentakan tangannya dari genggaman Reyhan.
"Lho Neng Lyra," ujar seorang wanita paruh baya.
"Bu Ardasih." Memelotot kaget.
"Iya, ya ampun sudah lama sekali kamu tidak kemari. Tubuhmu terlihat kurus sekarang apa kuliahnya benar-benar sulit ya." Ibu yang bernama Ardasih itu menepuk pundak Lyra.
"Lho ini siapa? Ganteng banget pacarmu ya?" tanya bu Ardasih.
"Dia-"
"Permisi Den." Sosok Redro tiba-tiba mendekati mereka.
"Redro, kenapa ada disini?" tanya Lyra memelotot kaget.
"Siang Nona Lyra," sapa Redro membungkukkan kepalanya.
"Nona? Dia orang bawahanmu ya Neng?" Bu Ardasih tak kalah terkejutnya.
"Dia pengawal pribadinya," jawab Lyra sambil menunjuk Reyhan.
Redro mengerti situasi yang terjadi pada suami istri tersebut.
"Kami sudah meninjau keseluruhan panti asuhan ini. Mereka hidup cukup miris bahkan seorang anak mengaku tidak mengganti baju selama seminggu karena bajunya sudah mulai kekecilan dan bahkan ada yang sudah robek pun tetap dipakai. Jadi beberapa dari mereka terkena penyakit gata-gatal kudis dan sebagainya," ujar Redro menjelaskan.
"Jadi mereka semua suruhan teman neng Lyra ya, sudah ganteng baik hati lagi MashaaAllah," puji bu Ardasih.
"Maaf boleh saya masuk sepertinya kita perlu membicarakan hal ini," ujar Reyhan sambil tersenyum canggung.
"Tentu saja boleh, ayo masuk." Berjalan masuk ke dalam panti asuhan lalu diikuti oleh Reyhan dari belakang.
Tinggallah Lyra dan Redro yang masih berdiri diam di luar pagar.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kamu ada disini?" tanya Lyra dengan raut wajah yang kebingungan bercampur penasaran.
"Tadi den Reyhan menelepon saya, dia bahkan memaki-maki saya karena tidak pernah membawanya datang kemari," jawab Redro.
"Maksud kamu apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti bicara yang jelas."
"Den Reyhan cukup aktif menyumbang ke berbagai panti asuhan dan syukurnya panti asuhan tidak pernah merasa kekurangan. Akan tetapi dia tidak pernah tahu ada panti asuhan yang sekecil ini begitu juga dengan saya. Jadi tadi dia menelepon saya datang kemari serta membawa keperluan anak-anak yang berada disini."
Lyra melihat ke arah tepi jalan betapa terkejutnya dia melihat beberapa mobil berjejeran. Sedari tadi dia tidak memperhatikannya karena merasa kesal pada Reyhan.
"Jadi barang-barangnya...."
__ADS_1
"Sudah kami kirim kemari terlebih dahulu, karena ancaman den Reyhan bukanlah hal yang bisa dianggap remeh."
Lyra tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia pun berjalan masuk tiba-tiba ia teringat perkataannya yang cukup kasar tadi. Perasaan bersalah maupun bingung menggerogotinya.
"Kak Lyra, ini Kak Lyra kan?" Seorang anak perempuan menghampirinya.
"Wah Dinda ya, kamu sudah besar sekarang." Mengusap kepala anak yang bernama Dinda tersebut.
"Iya Kak, hei teman-teman keluarlah kakak ini beneran kak Lyra!" teriak Dinda sehingga membuat teman-temannya keluar dari panti asuhan dan berlari menghampiri Lyra.
"Kak Lyra kenapa tidak pernah datang lagi?"
"Kak Lyra sama siapa?"
"Kak lihat ini aku belajar mewarnai bagus enggak?"
"Kak Lyra aku punya baju baru lho."
"Aku juga Kak."
"Aku juga."
Pertanyaan serta pernyataan polos anak-anak panti asuhan hanya dibalas senyuman oleh Lyra. Matanya berkaca-kaca dia begitu merindukan wajah-wajah malaikat kecil yang menggemaskan.
"Anak-anak waktunya makan siang!" Suara ibu Ardasih pun bergema membuat anak-anak itu bubar dan berlari menghampirinya.
Aah dan dia pun ngambek, hari ini bekerja keraslah Lyra sebelum suami berondongmu itu melampiaskannya kepada orang-orang bekerja padanya terlebih lagi Redro pacar Siska, sahabat kamu sendiri. Batin Lyra berjalan mendekati Reyhan dan dengan segera Reyhan berjalan menjauhinya.
Reyhan berjalan mendekati para pengawalnya yang sudah berbaris rapi menunggunya sedari tadi. Ada rasa resah dan gelisah yang terpancar dari wajah mereka bahkan ada yang berkeringat dingin.
"Kenapa tak seorang pun dari kalian yang tidak tahu tempat ini?" tanya Reyhan pelan. Ya begitulah Reyhan terhadap pengawalnya dia menghormati mereka dengan suara pelan tapi dibalik itu akan bertolak belakang dengan tindakannya dan inilah yang paling mereka takuti.
"Tidak ada yang menjawab ya, baiklah sepertinya si hitam yang akan membuat kalian bicara." Tersenyum sinis.
"Anu Den, tidak pernah ada informasi dari bakti sosial mengenai panti asuhan ini dan terlebih lagi tempatnya yang sangat jauh dari kota jadi kami tidak menjumpai panti asuhan yang bernama Cinta dan Kasih." Seorang pengawal memberanikan diri untuk menjawab.
Reyhan terdiam sejenak, ia merenungi jawaban dari pengawalnya tersebut.
"Baiklah, karena jawabanmu cukup valid kalian aku bebaskan."
"Ye!" Mereka bersorak kegirangan.
"Tapi, jangan senang dulu aku akan memeriksa daftar dari bakti sosial. Jika sampai aku menemukan panti asuhan ini terdaftar kau akan tanggung akibatnya bukan hanya kau tapi kalian semua."
"Den."
"Dan kau juga Redro tanpa terkecuali."
__ADS_1
"Baik Den," jawab Redro lalu menunduk pelan.
"Baiklah bubar semua," ujar Reyhan lalu melangkah pergi, bahkan tidak peduli ada Lyra disitu.
Para pengawal tersebut langsung ketakutan karena kalau sudah menyangkut Redro hukumannya akan bertambah mengerikan. Mereka bergumam-gumam tidak karuan.
"Maaf Redro, si hitam yang dimaksud Reyhan barusan itu bukan buaya peliharaannya kan?" tanya Lyra sedikit gugup.
"Bukan Nona," jawab Redro singkat.
"Alhamdulillah, syukurlah." Menghela napas rendah, merasa lega.
"Tapi itu sebuah cambukan besi yang dipanaskan," lanjut Redro lagi.
"Apa? Dia setega itu?" Memelotot kaget.
"Itulah cara den Reyhan mendisiplinkan kami, bicaranya lembut tapi tindakannya ya seperti itu," jawab Redro.
"Dia munafik sekali." Merasa marah.
"Bukan munafik Non, tapi keren sih cuma saat ini itu sangat mengerikan biasanya dia hanya akan memberi peringatan saja. Tapi kali ini apa yang membuatnya marah hingga mengancam kami dengan si hitam?" tanya si pengawal kebingungan.
"Apapun itu, saat ini bukan itu masalahnya, Nona Lyra tolonglah kami bujuk den Reyhan agar mengurungkan niatnya, itu sangat menakutkan sekali." Bersujud pada Lyra lalu diikuti oleh pengawal lainnya.
Ini salahku tentu saja aku harus menolong mereka tapi dengan apa? Ah aku tahu tapi apa iya berhasil kalau tidak itu hanya akan mempermalukan diriku dan mereka tetap dihukum tapi kalau belum mencoba gimana tahu hasilnya bukan. Semangat Lyra! Batin Lyra.
"Baiklah akan saya usahakan, saya pergi dulu mungkin dia sedang menunggu saya," jawab Lyra lalu berjalan pergi mencari Reyhan.
Lyra terus menelusuri ruangan namun tak satupun orang dan bahkan Reyhan ia temui. Ia semakin panik dan merasa Reyhan pulang tanpa membawanya.
Lyra pun berinisiatif menuju mobil namun tiba-tiba...
Prok! Prok! Prok!
Ia mendengar suara tepuk tangan dari sebuah ruangan yang paling besar di panti asuhan. Dan benar saja Reyhan beserta seluruh penghuni panti asuhan berada disana.
"Bu Ardasih," panggil Lyra pelan.
"Eh Neng Lyra, dari mana saja dari tadi ibu cariin kamu lho?" Menepuk pelan pundak Lyra.
"Ah itu aku-"
"Kamu ini ternyata sudah menikah ya, kenapa tidak bilang dari tadi, ibu kira kamu berakhir dengan nak Fardan tetapi justru dengan dia beruntungnya kamu Neng. Ganteng kaya lagi dan baik hati pula." Menggenggam erat tangan Lyra.
Ternyata Reyhan mengakui aku sebagai istrinya juga, aku kira tidak. Batin Lyra.
Reyhan melihat Lyra yang sedang berbincang dengan ibu Ardasih, sebenarnya ia ingin sekali memeluk istrinya tersebut. Akan tetapi mengingat perkataan kasar Lyra yang tadi membuat Reyhan berusaha menahannya.
__ADS_1